Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERASNYA KEHIDUPAN
Hafiz meninju batang pohon mangga di sampingnya, membuat beberapa daun kering berguguran menimpa kepalanya.
Ia menoleh ke arah bangunan kayu itu, mendengarkan suara riuh rendah anak-anak yang mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan nada yang lucu.
"Al-ladzii ja’ala lakumul ardha mihaadaa..." suara Zahra terdengar memimpin di depan, begitu tenang dan fasih.
Hafiz tertegun, ia ingat ibunya dulu sering membacakan ayat yang sama saat ia masih kecil dan belum mengenal uang.
Dulu, ia merasa ayat itu indah. Sekarang, ia merasa ayat itu seperti hakim yang sedang membacakan vonis kesalahannya.
Ia bangkit berdiri, debu menempel di celana kain mahalnya yang kini sudah tidak layak disebut pakaian manusia.
Hafiz berjalan mendekati jendela bangunan kayu itu, bersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja agar bisa melihat ke dalam.
Di sana, Zahra sedang tersenyum lebar sambil membelai kepala seorang anak yang berhasil menghafal ayat dengan benar.
Senyum itu... Hafiz belum pernah melihat senyum seperti itu pada wanita manapun yang pernah ia kencani.
Wanita-wanita di klub malam atau rekan bisnisnya punya senyum yang "berharga", senyum yang punya label harga di baliknya.
Tapi senyum Zahra... itu adalah senyum yang muncul dari hati yang tidak memiliki beban dunia seberat milik Hafiz.
Hafiz merasa semakin asing, semakin merasa bahwa ia adalah makhluk dari planet lain yang tersesat di tanah suci.
Ia menyentuh dinding kayu bangunan itu, jemarinya yang kasar merasakan tekstur kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
"Gue nggak pantes ada di sini," bisik Hafiz, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia berbalik, berniat meninggalkan tempat itu dan kembali ke jalanan raya yang bising, tempat yang lebih cocok untuk jiwa yang kotor.
Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya mendidih kembali.
Di ujung jalan, tiga orang pemuda dengan rambut dicat warna-warni dan pakaian yang urakan sedang berdiri sambil menghisap rokok.
Mereka menatap ke arah bangunan TPA milik Zahra dengan pandangan yang tidak menyenangkan, penuh niat jahat.
"Tuh, tempatnya. Katanya sih banyak sumbangan masuk minggu ini buat perbaikan atap," bisik salah satu pemuda yang bertindik di hidungnya.
"Sikat aja ntar malem. Ustadzah-nya juga bening tuh, lumayan buat hiburan," sahut pemuda yang lain sambil tertawa mesum.
Hafiz mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, amarahnya yang tadi sempat padam kini menyala lebih hebat.
Ia memang bangkrut, ia memang kotor, tapi mendengar wanita yang memberinya makan dihina seperti itu, egonya sebagai pria tercabik.
Hafiz berhenti melangkah, ia berbalik dan menatap ketiga preman itu dengan tatapan predator yang masih tersisa dari masa jayanya.
"Heh! Kalian bilang apa tadi?" tanya Hafiz dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Ketiga pemuda itu menoleh serentak, mereka terkejut melihat pria dengan baju robek-robek tapi punya aura yang menyeramkan.
"Apa lo lihat-lihat, gembel? Mau minta sedekah? Sana ke pasar!" bentak pemuda yang paling tinggi.
Hafiz tidak bergerak, ia justru melangkah maju mendekati mereka, mengabaikan kakinya yang berdarah.
"Jangan pernah kalian berani sentuh tempat ini, atau kalian bakal tahu akibatnya," ucap Hafiz tepat di depan wajah si pemuda tinggi.
Pemuda itu tertawa, lalu mendorong bahu Hafiz dengan kasar hingga Hafiz terhuyung ke belakang.
"Wuih, jagoan baru nih? Dengar ya, gembel. Ini wilayah kita. Jangan sok pahlawan kalau nyawa lo cuma seharga nasi bungkus!"
Hafiz tidak membalas dengan kata-kata, ia hanya menatap mereka satu per satu, mencoba menghafal wajah mereka.
"Mas. Mas!"
Suara Zahra memanggil dari arah pagar kayu, ia sepertinya mendengar keributan di depan gangnya.
Ketiga preman itu segera mematikan rokok mereka dan memasang wajah sok akrab, pura-pura tidak ada apa-apa.
"Eh, Ustadzah Zahra. Lagi ngajar ya? Cantik banget sore ini," goda si pemuda bertindik dengan nada yang dibuat-buat sopan.
Zahra tidak menanggapi godaan itu, ia berjalan mendekat ke arah Hafiz dengan wajah yang sangat khawatir.
"Mas, ada apa? Kenapa Mas berdiri di sini?" tanya Zahra, ia menatap baju Hafiz yang semakin kotor.
Hafiz menoleh ke arah Zahra, dan saat matanya bertemu dengan mata Zahra yang bening, kemarahannya mendadak luluh.
Ia merasa sangat malu terlihat sedang berurusan dengan preman pasar di depan wanita seperti Zahra.
"Nggak ada apa-apa. Cuma... cuma tanya jalan," bohong Hafiz, ia membuang muka ke arah lain.
"Oh, kirain ada masalah. Mas... ini ada sedikit uang buat Mas naik angkot. Tolong diterima ya," Zahra menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan yang sudah lecek.
Hafiz menatap uang itu, lalu menatap ketiga preman yang kini sedang menyeringai mengejek di belakang Zahra.
"Gue nggak butuh uang lo!" sentak Hafiz, ia menepis tangan Zahra hingga uang itu jatuh ke tanah yang berdebu.
Zahra terkejut, matanya membelalak kaget melihat reaksi keras pria yang baru saja ia beri makan itu.
Hafiz segera menyadari kesalahannya, ia melihat binar luka di mata Zahra, namun egonya yang setinggi langit mencegahnya untuk meminta maaf.
"Ambil uang lo! Gue bukan pengemis!" teriak Hafiz sebelum ia berlari menjauh meninggalkan gang itu secepat mungkin.
Ia terus berlari tanpa menoleh, mengabaikan teriakan Zahra yang memanggil berkali-kali.
Hafiz sampai di jalan raya, napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah baru saja dihantam batu besar.
"Goblok! Goblok! Kenapa gue bentak dia?!" maki Hafiz pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya berkali-kali.
Ia terduduk di trotoar, menatap tangannya yang tadi menepis tangan Zahra. Tangan yang sudah memberi kehangatan, ia balas dengan duri.
Malam mulai turun menyelimuti Surabaya, membawa hawa dingin yang mulai menusuk jas kasmir Hafiz yang basah oleh keringat.
Ia berjalan tak tentu arah, melewati lampu-lampu kota yang kini terasa sangat asing dan dingin baginya.
Tujuannya tidak jelas, namun kakinya seolah menuntunnya kembali ke area perumahan kumuh di dekat TPA Zahra tadi.
Ia bersembunyi di sebuah warung remang-remang yang sudah tutup, duduk di atas bangku kayu yang reyot sambil memperhatikan arah gang Zahra.
Pikirannya terus tertuju pada kata-kata preman tadi. Mereka berencana melakukan sesuatu malam ini.
"Gue nggak boleh biarin mereka sentuh dia," bisik Hafiz, sebuah tekad muncul di tengah keputusasaannya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah belakang warung, disusul suara botol kaca yang dipecahkan.
Hafiz menegang, ia melihat bayangan tiga orang pria besar sedang berjalan menuju ke arahnya dengan membawa balok kayu.
Bukan preman kecil yang tadi sore, mereka terlihat jauh lebih profesional dan berbahaya.
"Nah, ini dia tikusnya. Capek juga ya nyari lo muter-muter Jakarta, Hafiz," ucap salah satu pria itu dengan nada dingin.
Hafiz bangkit berdiri, ia terkepung di antara tembok warung dan ketiga pria itu.
"Kalian siapa lagi? Suruhan Pak Suno? Atau Robi?" tanya Hafiz, mencoba tetap terlihat tenang meski lututnya gemetar.
"Nggak perlu tahu kita siapa. Yang jelas, bos kita mau lo menghilang selamanya biar kasus penggelapan itu selesai tanpa saksi."
Pria yang paling depan mengayunkan balok kayunya, memukul meja warung hingga hancur berkeping-keping di depan mata Hafiz.
Hafiz menelan ludah, ia sadar ia tidak bisa berkelahi, ia tidak pernah memukul orang selain dengan kata-kata atau uang.
Tepat saat pria itu hendak mengayunkan balok ke arah kepala Hafiz, sebuah teriakan terdengar dari ujung jalan.
"Woi! Jangan bikin ribut di wilayah gue!"
Suara itu adalah suara preman bertindik yang tadi sore berurusan dengan Hafiz, ia datang bersama kawan-kawannya yang lebih banyak.
Hafiz terjepit di antara dua kelompok predator yang kini saling tatap dengan penuh kebencian, dan ia adalah mangsa di tengah-tengahnya.