NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: TIGA PULUH LELAKI

Tiga puluh lelaki berkumpul di hutan tanpa satu pun menyebut nama.

Hitam menyelimuti mereka. Bukan hanya malam—tapi pakaian yang mereka kenakan. Hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan di wajah mereka, topeng.

Bukan topeng biasa. Topeng khas tari Topeng Barong—wajah merah dengan mata melotot, taring tajam, rambut dari serabut kelapa. Di gelap hutan, dengan hanya cahaya bulan yang menerobos celah bambu, tiga puluh topeng itu tampak seperti barisan roh penjaga.

Tidak ada yang bicara. Hanya suara jangkrik dan desir bambu tertiup angin. Tiga puluh pasang mata menyala dari balik topeng—mata yang datang dari berbagai kampung, berbagai latar, tapi satu tujuan.

Di tengah mereka, Datuk Maringgih berdiri.

Topeng di wajahnya sama—Barong merah dengan taring menjulur. Tapi di balik topeng itu, matanya berbeda. Bukan marah. Bukan takut. Tapi tenang. Tenang seperti air di telaga yang tidak pernah bergerak.

Tidak ada destar sutra malam ini. Tidak ada baju bagus. Ia memakai kain hitam lusuh, lengan digulung, tanpa cincin di jari. Di balik topeng Barong, ia hanya satu dari mereka—lelaki yang marah pada ketidakadilan.

Seseorang menggerakkan kaki. Daun kering berdesir.

"Jangan bergerak." Bisik Maringgih. Suaranya pelan, tapi tegas. "Kita belum mulai."

Tiga puluh lelaki itu diam. Patung di antara bambu.

---

Maringgih menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah di balik topeng yang ia kenal—meski tidak bisa melihat, ia tahu.

Dullah. Laki-laki yang anaknya berdarah. Di balik topeng Barong, matanya menyala.

Petani tua yang bilang mati jalan keluar. Malam ini matanya tidak kosong—ada api. Ada harapan yang hampir padam, tapi dinyalakan lagi.

Laki-laki muda dengan parang di pinggang—yang kemarin hampir bunuh diri karena putus asa. Malam ini parangnya ada, tapi ia berjanji tidak akan gunakan untuk membunuh.

Tiga puluh lelaki. Tiga puluh nyawa yang ia bawa ke dalam risiko terbesar.

Angin berdesir lagi. Lebih kencang. Bambu-bambu berderit seperti tulang bergesekan.

Maringgih mengangkat tangan. Tiga puluh pasang mata mengikuti.

"Ini hutan," bisiknya. Suaranya terdengar dalam dari balik topeng. "Di sini, tidak ada nama. Tidak ada kampung. Tidak ada siapa kalian di luar sana. Yang ada hanya topeng ini—topeng Barong. Kalau nanti kita berhasil, kita pulang, kita diam. Kalau kita gagal..." Ia menjeda. "Kita tidak pernah bertemu."

Hening.

Dullah mengangkat tangan. Maringgih mengangguk.

"Datuk..." Dullah berhenti. "Maaf. Di sini tidak boleh panggil nama. Tapi... saya harus tanya. Kenapa Tuan lakukan ini? Tuan punya kebun sendiri. Punya gudang. Tidak butuh rempah VOC. Kenapa?"

Semua mata tertuju ke Maringgih.

Ia diam sebentar. Menarik napas dalam-dalam. Udara malam masuk—bau tanah basah, bambu, dan keringat. Topeng di wajahnya terasa berat, tapi justru membuatnya lebih leluasa bicara.

"Kemarin," ia memulai, suaranya pelan, "saya lihat anak kau, Dullah. Kepala berdarah. Saya lihat istri kau, matanya kosong. Saya lihat dapur kosong di kampung-kampung. Saya lihat petani tua bilang 'mati jalan keluar'."

Ia menatap mereka satu per satu dari balik topeng.

"Saya punya kebun. Saya kaya. Tapi kekayaan tidak berarti kalau di luar sana anak-anak kelaparan." Suaranya bergetar—sedikit, tapi cukup. "Saya tidak bisa tidur nyenyak kalau tahu tetangga saya menangis. Dan saya juga tidak bisa tidur nyenyak kalau tahu kawan lama saya—Sulaiman—jadi algojo."

Hening lagi.

Laki-laki muda dengan parang di pinggang berkata lirih, "Saya pikir Tuan cuma saudagar dingin."

"Saya juga pikir begitu." Maringgih tersenyum getir di balik topeng. "Tapi ternyata... saya tidak setegar itu."

---

Rapat dimulai.

Maringgih mengeluarkan selembar kulit kayu. Di atasnya, goresan arang—peta sederhana gudang VOC. Ia meletakkannya di tengah lingkaran. Tiga puluh topeng merapat, membentuk lingkaran di sekeliling peta.

"Ini gudang." Ia menunjuk. "Dua lantai. Depan dijaga empat serdadu malam hari. Samping kiri tembok bata, susah dipanjat. Samping kanan ada pintu kecil—biasanya untuk karyawan. Belakang ada jendela berjeruji."

Seorang lelaki bertanya, "Informasi dari mana?"

"Dari kalian." Maringgih menatap mereka. "Kalian yang punya saudara kerja di sana. Kalian yang tahu jadwal. Kalian yang lihat sendiri setiap hari."

Dullah mengangguk. "Saya punya ipar kerja di dapur gudang. Katanya, malam Kamis, setengah penjaga mabuk. Mereka dapat minuman keras dari kaptennya."

"Jumat malam?" tanya Maringgih.

"Jumat malam, mereka sholat Jumat dulu. Pulang jam sembilan. Baru jaga jam sepuluh. Ada satu jam kosong."

Maringgih mencatat di ingatan. Tidak boleh ada tulisan. Tidak boleh ada bukti.

Laki-laki muda dengan parang berkata, "Saya kenal tukang kuda di sana. Katanya, pintu samping itu tidak pernah dikunci dari dalam. Hanya digeser."

"Kau yakin?"

"Dia yang buka setiap pagi. Katanya, serdadu malas bangun. Jadi pintu itu cuma ditutup rapat, tidak digembok."

Maringgih mengangguk pelan. Informasi berharga.

Petani tua menambahkan, "Jendela belakang. Jerujinya sudah karatan. Saya lihat sendiri minggu lalu, waktu lewat beli kayu. Dua batang besi sudah lepas."

"Ini penting." Maringgih menunjuk titik itu di peta. "Kalau jendela bisa dibuka, kita tidak perlu masuk lewat pintu depan."

Tiga puluh lelaki diam, mencerna.

---

"Pembagian peran." Maringgih mulai menjelaskan. "Empat orang di depan. Tugas: mengawasi serdadu. Kalau mereka bergerak, kasih kode."

"Kode apa?"

"Suara burung malam. Tiga kali." Maringgih mencontohkan—peluit kecil mirip suara pungguk. "Ingat. Tiga kali. Kalau dengar, semua berhenti. Bersembunyi. Tunggu aman."

Mereka mengangguk.

"Enam orang di samping kanan. Tugas: buka pintu kecil. Diam-diam. Jangan berisik. Kalau pintu terbuka, kalian masuk duluan—pastikan di dalam kosong."

"Di dalam pasti kosong, Tuan?" tanya seseorang.

"Jumat malam, jam setengah sepuluh, mereka semua di pos jaga depan. Main kartu. Minum. Tidak akan ke belakang."

"Bagaimana kalau ada yang ke belakang?"

Maringgih diam sejenak.

"Kalau ada yang ke belakang... kalian sembunyi. Jangan lawan. Jangan bunuh. Ingat—tidak boleh ada korban jiwa."

Laki-laki muda dengan parang menggerutu. "Tapi mereka layak mati."

"Tidak." Suara Maringgih tegas. "Dengar baik-baik. Kita bukan pembunuh. Kita bukan perampok. Kita hanya mengambil apa yang menjadi hak rakyat. Kalau ada darah tumpah, kita jadi sama seperti mereka. Tidak ada bedanya."

Hening.

Dullah berkata pelan, "Tuan benar. Saya mau anak saya lihat bapaknya berjuang, bukan bapaknya membunuh."

Laki-laki muda itu menunduk di balik topeng. Tidak bicara lagi.

---

Maringgih melanjutkan. "Sepuluh orang di belakang. Tugas: buka jendela, masuk, ambil rempah. Bawa karung kosong—setiap orang bawa dua karung. Isi penuh, serahkan ke regu berikutnya."

"Regu berikutnya?"

"Lima orang di tengah. Tugas: bawa karung dari belakang ke luar. Bawa ke hutan. Di sana sudah ada kuda-kuda."

"Kuda?" Dullah terkejut. "Tuan siapkan kuda?"

Maringgih mengangguk. "Empat kuda dari kebunku. Bisa bawa banyak karung sekaligus."

Petani tua bersiul pelan. "Tuan sudah pikirkan semuanya."

"Sudah lama." Maringgih menarik napas. "Sejak lihat anak Dullah berdarah. Sejak dengar kalian bilang 'hutang turun-temurun'. Sejak lihat ibu-ibu di dapur kosong."

Ia menatap mereka.

"Sisa lima orang—cadangan. Kalau ada yang terluka, mereka gantikan. Kalau ada yang tertangkap, mereka kabarkan ke yang lain. Tapi semoga tidak."

---

"Larangan membunuh."

Maringgih mengulanginya. Sekarang suaranya lebih keras. Lebih tegas.

"Aku ulangi. Tidak boleh membunuh. Siapa pun yang membunuh, dia bukan bagian dari kita. Dia musuh. Paham?"

"Paham," jawab tiga puluh lelaki serempak—pelan, tapi bulat.

"Kita hanya ambil rempah. Serdadu mungkin teriak, mungkin lawan—tapi kita hindari. Kalau terpaksa, lumpuhkan. Pukul. Ikat. Jangan bunuh."

Laki-laki muda itu mengangkat tangan.

"Tapi Tuan... kalau mereka tembak?"

"Hindari." Maringgih menatapnya tajam dari balik topeng. "Kita sudah petakan semua. Kita tahu jadwal. Kita tahu posisi. Jumat malam, jam setengah sepuluh sampai sepuluh, mereka lengah. Tidak ada yang tembak. Tapi kalau—Allahualam—ada yang nekat, kita lari. Lebih baik lari daripada jadi pembunuh."

"Rempahnya?"

"Rempah bisa diambil lagi lain kali. Nyawa tidak bisa kembali."

Hening. Tiga puluh lelaki meresapi.

Dullah berkata lirih, "Tuan benar. Saya... saya tidak mau jadi pembunuh di mata anak saya."

---

"Waktu serangan."

Maringgih menunjuk peta. "Jumat malam. Jam setengah sepuluh malam. Tepat saat serdadu sholat Jumat—yang tidak sholat, mereka main kartu. Pos jaga depan ramai, belakang kosong."

"Jumat malam besok?" tanya seseorang.

"Jumat malam lusa. Kita punya dua hari untuk siap."

"Kenapa tidak besok?"

"Besok masih terlalu cepat. Kita perlu pastikan semua siap. Karung kosong, kuda, jalur aman." Maringgih menatap mereka. "Dua hari lagi. Sabar."

Petani tua mengangguk. "Sabar sudah lama, Tuan. Dua hari bukan apa-apa."

---

Sesi terakhir.

Maringgih berdiri di tengah lingkaran. Tiga puluh lelaki mengelilinginya. Di atas, bulan hampir tenggelam di balik gunung. Sebentar lagi subuh. Mereka harus bubar.

"Sebelum pulang." Suara Maringgih pelan. "Satu hal lagi. Sumpah."

Tiga puluh lelaki diam.

"Kita tidak pakai nama. Kita tidak pakai kampung. Yang kita pakai cuma topeng ini—topeng Barong. Di luar sana, kalian boleh kenal aku, aku boleh kenal kalian. Tapi soal malam ini... tidak pernah ada."

Ia mengangkat tangan kanan. Tiga puluh lelaki mengikuti.

"Aku bersumpah," bisik Maringgih.

"Atas nama Tuhan Yang Satu," jawab tiga puluh suara pelan.

"Aku tidak akan sebut nama."

"Aku tidak akan sebut nama."

"Aku tidak akan khianati perjuangan."

"Aku tidak akan khianati perjuangan."

"Aku akan lindungi yang lemah."

"Aku akan lindungi yang lemah."

Suara mereka menyatu dengan desir bambu. Bulan semakin redup. Gelap malam semakin pekat.

"Aku bersumpah." Maringgih menutup.

"Atas nama Tuhan Yang Satu." Tiga puluh lelaki mengakhiri.

Hening.

Topeng-topeng Barong itu menatap satu sama lain. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Mereka sudah satu.

---

Maringgih mengangkat tangan. Memberi isyarat bubar.

Satu per satu, tiga puluh lelaki itu beringsut mundur, masuk ke dalam gelap hutan. Hitam menyatu dengan hitam. Topeng-topeng menghilang seperti roh kembali ke alam lain.

Hanya Maringgih dan Dullah yang tersisa.

"Kau tidak pulang?" bisik Maringgih.

"Nanti, Tuan." Dullah menatap ke arah timur—gunung mulai terang. "Sebentar lagi subuh. Saya mau sholat dulu di sini."

Maringgih mengangguk. "Aku juga."

Mereka berdiri di antara bambu. Menunggu fajar.

Tapi di kejauhan, dari arah kampung, terlihat cahaya. Bergerak. Mendekat.

Obor.

Maringgih menegang. Tangannya meraih lengan Dullah.

"Lihat itu."

Dullah menoleh. Matanya membesar.

Obor itu bergerak perlahan. Satu. Dua. Tiga. Tiga titik cahaya di kejauhan. Arahnya... ke hutan.

"Serdadu?" bisik Dullah.

Maringgih tidak menjawab. Ia menghitung jarak. Masih jauh. Tapi mendekat. Perlahan tapi pasti.

"Kita harus pergi."

"Tapi—"

"Sekarang."

Mereka beringsut mundur, masuk lebih dalam ke hutan. Topeng masih di wajah. Hitam masih menyelimuti.

Obor-obor itu terus bergerak. Mendekat.

Dari kejauhan, suara lolongan anjing terdengar. Anjing pelacak.

Darah Maringgih membeku.

---

[Bersambung...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!