*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonance 1 - Debat Konyol para Amatir
Napas kami tersengal-sengal, berat dan kasar, lebih mirip dengkuran Sapi Mederi yang sekarat daripada tarikan napas manusia.
Setiap otot di kakiku terasa seperti terbakar asam, dan paru-paruku menjerit meminta jeda yang tak kunjung datang. Namun, di depanku, Darius—dengan sisa tenaga terakhirnya—berhasil menancapkan tiang bendera kain berwarna oranye kusam ke dalam gundukan tanah di puncak bukit.
Angin pegunungan langsung menyambar kain itu, membuatnya berkibar gagah. Ini adalah tanda kalau kelompok kami berempat telah menyelesaikan Ujian seleksi tahap dua Organisasi Tarker.
Kami berhasil, dengan sisa waktu yang mungkin tak lebih dari beberapa tarikan napas sebelum lonceng penanda akhir ujian dibunyikan di kejauhan.
Aku langsung merebahkan diri di atas rumput yang lembap, tidak peduli lagi dengan lumpur yang meresap ke pakaianku. Di sampingku, Fiora melakukan hal yang sama sambil tertawa lega, sementara anggota keempat kami, seorang pemuda pendiam dari Ravnia bernama Faris, hanya terduduk diam dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya, bahunya naik-turun dengan cepat.
Seorang penguji Tarker yang berwajah lelah menghampiri. Ia tampak sama sekali tidak terkesan dengan pencapaian kami. Ia memeriksa bendera itu sekilas, mencatat sesuatu di papan tulisnya, lalu menunjuk ke arah tenda perbekalan di kaki bukit dengan dagunya.
"Lapor ke sana. Ada air dan biskuit. Pengumuman dilakukan saat semua sudah berkumpul, jangan mati dulu," katanya dengan nada datar, seolah baru saja menyaksikan sekelompok anak desa berlomba memanjat pohon.
Kami berempat berjalan gontai menuruni bukit, terlalu lelah untuk bersorak merayakan kemenangan kami yang nyaris gagal.
Fiora, dengan tenaga yang seolah tak ada habisnya, langsung mengambil empat kantong air dari petugas di tenda dan melemparnya pada kami. Aku meneguknya hingga habis dalam sekali teguk. Air dingin itu mengalir di tenggorokanku yang kering, sebuah lega yang tak ternilai setelah dua hari hanya mengandalkan air sungai yang kami murnikan seadanya.
"Kalau saja kita mengikuti analisaku dari awal, kita tidak akan hampir kehabisan waktu karena tersesat di punggungan bukit itu," gerutu Darius sambil menghempaskan tubuhnya di atas sebuah tunggul kayu, memecah keheningan kami. Ia membentangkan peta lecek di atas pahanya.
"Lihat ini," gerutunya sambil menunjuk sebuah garis kontur. "Peta ini pasti cacat. Seharusnya ada jalur landai di sebelah sini, bukan tebing curam. Siapa yang memverifikasi data ini? Amatiran."
Rasa lelahku seketika berganti dengan kejengkelan. Aku menyeka mulutku dengan punggung tangan.
"Analisamu yang menyuruh kita ke sana karena kau terlalu memuja kertas itu," sahutku ketus. "Kalau saja kau mau sedikit menurunkan egomu dan percaya pada instingku, pola jejak Rusa Tanduk Perak jelas-jelas mengarah ke lembah. Kita tidak akan membuang waktu setengah hari!"
Pengalamanku memang masih minim, tapi aku tahu tanda-tanda alam lebih baik darinya. "Aku lebih percaya pada rusa yang tahu di mana harus mencari makan daripada peta yang mungkin dibuat lima tahun lalu. Boleh jadi petanya sengaja diberikan untuk melihat kemampuan kita di lapangan"
"Insting?" cibir Darius. Ia menatapku dengan tatapan meremehkan yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Ia bangga dengan latar belakang pendidikannya, di Sentinel Corps, meskipun akhirnya ia tidak melanjutkan ia mundur sebelum dilantik menjadi Aegis Legion.
"Insting tidak bisa diukur, Zane. Insting tidak bisa diverifikasi. Peta adalah data. Data melahirkan analisa!"
"Analisa yang membuat kita memanjat tebing yang salah selama tiga jam!" balasku, suaraku mulai meninggi. Faris, si pemuda Ravnia, tampak semakin tidak nyaman, ia bergeser menjauh.
"CUKUP!"
Suara Fiora yang tegas, meskipun tidak keras, langsung memotong perdebatan kami. Ia berdiri di antara kami, tangannya berkacak pinggang, namun senyum geli masih tersisa di bibirnya.
"Kalian berdua hentikan ini. Kita berhasil, kan? Kita berhasil sebagai tim. Analisis Darius menyelamatkan kita dari para Pelari Beling. Insting Zane menemukan sumber air saat kita hampir kering kehabisan. Kita saling melengkapi. Itu poin ujian ini, bukan kemampuan individu."
Aku dan Darius saling buang muka, mendengus kesal, namun kami berdua tahu Fiora ada benarnya. Keheningan yang canggung namun hangat menyelimuti kami, hanya dipecah oleh suara angin yang berdesir di pepohonan pinus.
Masa depan terasa cerah. Tak lama kami akan menjadi Tarker. Menjelajahi zona luar.
Saat itulah, dari dekat tenda utama para penguji, seorang Tarker wanita senior yang mengenakan rompi dengan lambang organisasi memindai kelompok peserta, lalu berhenti pada kami. memanggil nama Fiora.
"Fiora Crestfall?" Suaranya tidak keras, namun nadanya aneh. Terlalu serius untuk sebuah ucapan selamat.
Kami semua menoleh. Fiora tampak sedikit bingung, lalu menepuk debu di celananya dan berjalan menghampiri wanita itu.
Dari jarak kami, sekitar dua puluh meter, kami tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tapi aku bisa membaca cerita dari bahasa tubuh mereka. Aku melihat perubahannya. Detik demi detik.
Aku melihat wanita senior itu berbicara dengan ekspresi yang simpatik namun serius. Aku melihat bagaimana bahu Fiora yang tadinya tegap perlahan merosot. Tangannya naik untuk menutup mulutnya, seolah menahan sesuatu agar tidak keluar.
Ekspresi kelegaan dan kebahagiaannya setelah menyelesaikan ujian langsung lenyap, berganti dengan oleh terkejut bercampur horor yang pucat. Matanya yang cokelat madu membelalak, dan kilau di dalamnya meredup seolah sebuah lampu baru saja dipadamkan.
Ia tampak oleng, dan si Tarker senior dengan cepat memegang lengannya untuk menenangkannya. Fiora menggelengkan kepalanya pelan, sekali, dua kali, menolak kebenaran.
Dan kemudian, air mata yang menggenang di pelupuk matanya mengalir deras di pipinya. Darius tampak sama bingungnya denganku, gumaman "Ada apa?"-nya hilang ditelan angin.
Tanpa berucap apapun pada kami, tanpa menoleh ke belakang, Fiora berbalik dan berlari. Berlari seperti seseorang yang hancur, tersandung akar-akar pohon, menjauh dari kamp utama seolah sedang dikejar oleh hantu.
Tarker senior itu hanya menatapnya pergi dengan ekspresi sedih, dan ikut berlari mencoba mengejarnya.
Aku dan Darius tak lagi mengeluarkan suara. Argumen kami beberapa menit yang lalu kini terasa begitu konyol, begitu tidak berarti. Sesuatu yang nyata dan menyakitkan baru saja terjadi, dan kami berdua, dengan segala teori dan insting kami, hanya terdiam menatap punggung Fiora yang semakin mengecil ditelan jarak...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu