Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAKRAWALA KEHAMPAAN DAN RUNTUHNYA SANG LELUHUR
Aula Cakrawala Suci berdiri dengan keangkuhan yang memuakkan di puncak tertinggi Pegunungan Awan Langit. Dinding-dindingnya dilapisi emas murni, dan atapnya dihiasi permata yang mampu memantulkan cahaya bintang. Namun, saat kaki Arkan menginjak lantai marmer aula tersebut, kemegahan itu seolah kehilangan warnanya. Kehadiran Arkan membawa semacam "kematian visual"—semua warna di sekitarnya tersedot masuk ke dalam aura hitam yang menyelimuti tubuhnya, menyisakan dunia monokrom yang mencekam.
Di ujung aula, di atas singgasana yang terbuat dari tulang naga purba, duduklah Leluhur Yun-Tian. Pria itu tampak berusia lima puluh tahun dengan janggut putih yang rapi, mengenakan jubah sutra yang memancarkan aura lima elemen yang sangat stabil. Di belakangnya, lima bola energi—Tanah, Air, Api, Angin, dan Petir—berputar perlahan, menciptakan harmoni alam yang sempurna.
"Kau menghancurkan rumahku, Arkan," suara Yun-Tian terdengar seperti guntur yang tertahan di balik awan. "Kau membantai murid-muridku, menghancurkan gerbang suci, dan membawa kehampaan ke tempat yang seharusnya penuh dengan cahaya. Apakah ini cara seorang murid berterima kasih pada gurunya?"
Arkan berhenti tepat di tengah aula. Jarak mereka kini hanya tiga puluh langkah. Di belakang Arkan, Cici, Liem, dan Srikandi membentuk barisan pertahanan, namun Arkan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap di tempat.
"Guru?" Arkan tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Seorang guru memberikan jalan, bukan memberikan racun. Seorang guru membangun sayap, bukan mematahkan tulang hanya untuk melihat apakah muridnya bisa merangkak di dasar jurang. Kau bukan guruku, Yun-Tian. Kau hanyalah parasit yang menunggu wadahmu matang untuk kau hisap esensinya."
Wajah Yun-Tian yang tadinya tenang perlahan berubah. Sudut matanya berkedut, dan aura di sekelilingnya mendadak meledak, menghancurkan kursi singgasananya menjadi serpihan.
"Cerdas. Kau selalu lebih cerdas dari yang lain," ucap Yun-Tian dingin. "Ya, Black Hole di tubuhmu itu... itu adalah kelainan genetika yang hanya muncul sekali dalam sejuta tahun. Aku membutuhkanmu untuk mencapai ranah Dewa Sejati. Aku membuangmu agar kau menderita, karena hanya dalam penderitaanlah Black Hole itu akan mekar sempurna. Dan lihatlah... kau tumbuh dengan sangat indah."
[Teknik Terlarang: Formasi Lima Elemen Penyegel Dewa]
Tanpa peringatan, Yun-Tian menghentakkan kakinya. Lima bola energi di belakangnya melesat ke lima arah, mengurung Arkan dalam sebuah pentagram cahaya yang masif.
Tanah mengunci kaki Arkan, mengubah lantai marmer menjadi gravitasi yang menekan seberat gunung.
Air berubah menjadi rantai-rantai es yang melilit tangan Arkan.
Api menciptakan kubah panas yang membakar oksigen.
Angin membentuk pisau-pisau mikroskopis yang menyayat kulit.
Petir menyambar dari atas, menargetkan setiap saraf di tubuh Arkan.
"Matilah dalam keputusasaan yang kedua kalinya!" teriak Yun-Tian.
Namun, di tengah badai elemen itu, Arkan tetap berdiri tegak. Matanya perlahan berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan, tanpa putih mata sama sekali. Ia tidak berteriak kesakitan. Ia justru menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ia sedang menghirup seluruh serangan itu seperti udara segar.
"Kau bicara soal hukum alam, Yun-Tian?" Arkan bergumam. "Biar kutunjukkan padamu apa yang terjadi saat hukum alam bertemu dengan akhir dari segalanya."
[Teknik Kosmik: Singularitas Pembalik Takdir]
Tiba-tiba, tarikan gravitasi di tengah pentagram itu berubah arah. Bukannya menekan Arkan, semua energi elemen itu justru mulai tertarik masuk ke dalam pusat dada Arkan. Rantai es menguap, pilar tanah hancur berkeping-keping, dan petir-petir itu seolah-olah dipaksa tunduk, mengalir masuk ke dalam nadi Arkan bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menjadi nutrisi.
"Tidak mungkin! Formasi ini bisa menyegel naga sekalipun!" Yun-Tian terbelalak.
"Naga memiliki bentuk. Elemen memiliki massa," Arkan melangkah maju, satu langkah yang meretakkan seluruh fondasi aula. "Tapi kehampaan... kehampaan tidak memiliki batas. Kau mencoba membendung samudra dengan jaring ikan, Yun-Tian."
Arkan menghilang. Di detik berikutnya, ia muncul tepat di hadapan Yun-Tian. Tangan kirinya yang diselimuti aura hitam pekat mencengkeram wajah sang Leluhur.
BUMMMMM!
Tubuh Yun-Tian menghantam dinding aula dengan kekuatan yang sanggup meratakan sebuah kota kecil. Namun, sebagai kultivator tingkat puncak, Yun-Tian tidak mati semudah itu. Ia memuntahkan darah emas, lalu berteriak histeris.
"AKU ADALAH LELUHUR AWAN LANGIT! AKU TIDAK AKAN KALAH OLEH SAMPAH SEPERTIMU!"
[Puncak Elemen: Inkarnasi Dewa Lima Warna]
Tubuh Yun-Tian mulai membesar, kulitnya berubah menjadi logam (Tanah), rambutnya menjadi api biru (Api), dan matanya memancarkan listrik murni (Petir). Ia menggabungkan kelima elemennya menjadi satu serangan tunggal—sebuah tombak cahaya pelangi yang bergetar dengan frekuensi kehancuran.
"Mati kau!"
Tombak itu melesat, membelah ruang di aula tersebut hingga menciptakan retakan dimensi. Arkan tidak menghindar. Cici di belakang hampir saja berteriak, namun ia melihat punggung Arkan yang begitu tenang.
Arkan mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, muncul sebuah titik hitam kecil yang begitu gelap hingga cahaya di sekelilingnya terlihat melengkung. Itulah Event Horizon (Ufuk Peristiwa).
"Telan," bisik Arkan pelan.
Saat tombak pelangi itu menyentuh titik hitam di tangan Arkan, tidak ada ledakan. Yang ada hanyalah suara seperti kertas yang disobek. Tombak raksasa yang mengandung seluruh kultivasi ratusan tahun Yun-Tian itu mulai tersedot, melintir, dan menghilang ke dalam titik hitam tersebut. Titik itu tidak bertambah besar, namun tekanannya membuat seluruh Pegunungan Awan Langit mulai amblas beberapa meter ke dalam bumi.
Wajah Yun-Tian kini tidak lagi dipenuhi amarah, melainkan ketakutan yang murni. Ia mencoba menarik kembali energinya, namun ia menyadari bahwa ia tidak bisa melepaskan diri. Tangannya, lengannya, dan perlahan seluruh tubuhnya mulai tertarik ke arah Arkan.
"Arkan! Berhenti! Aku akan memberimu takhta ini! Aku akan menjadimu budakmu! Tolong!" ratap Yun-Tian.
Arkan menatap mata Yun-Tian untuk terakhir kalinya. "Takhta? Aku sudah memiliki kehampaan, untuk apa aku menginginkan kursi kayu yang lapuk ini? Kau ingin menjadi budakku? Maaf, kehampaanku tidak butuh pelayan. Ia hanya butuh mangsa."
[Ekstraksi Origin Akhir: Penghapusan Eksistensi]
Arkan mengepalkan tangannya. Titik hitam itu meledak secara internal. Tubuh Yun-Tian mulai terurai menjadi partikel-partikel cahaya. Rohnya, jiwanya, dan memorinya semuanya dihisap habis, disaring oleh kekuatan Black Hole Arkan, dan sisa energi murninya diledakkan keluar ke seluruh ruangan.
BOOOOOOOOOOOM!
Gelombang energi murni berwarna putih menyapu seluruh aula. Cici, Liem, dan Srikandi merasakan aliran tenaga yang luar biasa masuk ke dalam tubuh mereka—sisa-sisa kultivasi Yun-Tian yang telah "dibersihkan" oleh Arkan dibagikan kepada mereka sebagai hadiah kemenangan.
Saat debu mereda, aula itu sudah hancur total. Langit terbuka lebar, memperlihatkan bintang-bintang di siang hari—sebuah anomali yang hanya terjadi saat seseorang melampaui batas dunia ini.
Arkan berdiri sendirian di tempat Yun-Tian tadi berada. Ia memegang sebuah kristal kecil transparan di tangannya—inti dari 5 elemen yang sudah dimurnikan. Ia berbalik, menatap Cici yang masih tertegun.
"Sudah selesai, Cici," ucap Arkan. Suaranya kini terdengar lebih jernih, lebih dalam, seolah-olah ia berbicara dari dimensi yang berbeda.
Cici berlari dan memeluk Arkan, menangis di dadanya. "Kita bebas, Kak. Kita benar-benar bebas."
Arkan mengusap rambut Cici, namun matanya menatap ke arah langit yang lebih tinggi, jauh melampaui awan. "Dunia ini hanyalah sebuah penjara kecil, Cici. Yun-Tian hanyalah penjaganya. Di atas sana... ada mereka yang merasa bisa memainkan takdir kita seperti catur."
Arkan mengepalkan kristal 5 elemen itu hingga hancur, menyerap seluruh esensinya ke dalam tubuh. Auranya kini tidak lagi hanya hitam, tapi berkerlip seperti galaksi yang baru lahir.
"Siapkan senjata kalian," Arkan menatap Liem dan Srikandi yang berlutut dengan setia. "Sekte Awan Langit hanyalah awal. Kita akan mendaki sampai ke singgasana para Dewa, dan kita akan melihat apakah mereka masih berani menertawakan kita saat kehampaan datang menjemput mereka."
Liem-Banyu mengangkat pedangnya. Srikandi-Tan menghantamkan tinjunya ke telapak tangan. Cici berdiri di samping Arkan, matanya menyala dengan api ungu yang tak akan pernah padam.
Di bawah kaki mereka, reruntuhan sekte yang dulunya agung itu menjadi bukti: bahwa di bawah langit ini, tidak ada hukum yang lebih kuat daripada tekad seseorang yang sudah kehilangan segalanya dan bangkit dari kegelapan yang paling dalam.