Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Dua anak, Dua Dunia
Hari ke-1.000. Delapan bulan sudah Budi lahir ke dunia. Risma sekarang 3 tahun 4 bulan.
Aryo bangun pagi itu dengan perasaan campur aduk. Di luar, matahari baru naik. Semburat jingga di ufuk timur. Ayam berkokok dari kandang tetangga. Suara itu mengingatkannya pada kampung halaman. Pada tiga tahun lalu, saat ia masih duduk di kursi reyot, memegang tangan Dewi yang dingin, dan berdoa pada Tuhan yang tak kunjung menjawab.
Sekarang? Tuhan menjawab dengan cara-Nya sendiri.
Aryo menoleh ke dipan. Dewi masih tidur. Rambutnya panjang sebahu. Wajahnya tenang. Di sampingnya, Budi. Bayi mungil itu tumbuh sehat. Gemuk. Pipinya chuby. Menangis keras kalau lapar. Tawa renyah yang bisa mencairkan semua kepenatan.
Dan di sisi lain, Risma.
Risma 3 tahun 4 bulan. Masih terbaring seperti biasa. Tak bisa tengkurap. Tak bisa merangkak. Tak bisa duduk. Tubuhnya kecil untuk usianya. Tangan dan kakinya kurus, kaku. Tapi matanya... matanya makin hidup. Hitam, bulat, dan selalu mengikuti ke mana pun Budi bergerak.
Aryo sering hanya duduk, memandangi kedua anaknya. Budi yang bergerak lincah. Risma yang diam terbaring. Dua dunia berbeda dalam satu kamar sederhana.
"Mas, udah bangun?"
Dewi buka mata. Suaranya masih serak kantuk. Tapi senyumnya langsung merekah begitu lihat Aryo.
"Iya, Ri. Nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
Aryo pindah duduk ke pinggir dipan. Pegang tangan Dewi. Tangannya hangat. Kasar karena kerja. Tapi lembut saat menyentuhnya.
"Mikir, Ri. Mikirin mereka berdua."
Dewi ikut duduk. Pandangi Risma dan Budi yang masih tidur. Budi ngorok kecil. Lucu. Risma tidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Mas, kamu khawatir?"
Aryo menghela napas. "Iya. Lihat Budi. Dia bisa semua. Risma... diam aja."
"Tapi Risma sayang Budi, Mas. Itu udah cukup."
Aryo mengangguk. Tapi dalam hati, ia bertanya. Akankah Risma iri? Melihat adiknya bisa semua, sementara ia tak bisa apa-apa? Akankah suatu hari Risma merasa berbeda?
Ia tak tahu. Dan itu yang membuatnya takut.
Pagi itu, Budi bangun lebih dulu. Matanya langsung mencari Risma.
"Kak... kak..." celotehnya.
Ia merangkak ke arah Risma. Tangan mungilnya meraih tangan Risma. Tangan kaku itu. Budi tertawa. Geli sendiri.
Risma buka mata. Lihat Budi. Matanya... matanya berbinar.
"Mas, lihat!" Dewi bangun. "Risma senang lihat Budi!"
Aryo lihat dari pintu. Hatinya hangat. "Dia sayang adiknya, Ri."
Budi terus main dengan tangan Risma. Digoyang-goyang. Diajak bicara dengan bahasa bayi yang tak jelas. Risma diam, tapi matanya... matanya bahagia.
Mbah Kar masuk bawa sarapan. Lihat pemandangan itu. Tersenyum.
"Itu namanya saudara, Mas. Nggak perlu kata-kata."
Hari-hari berlalu. Budi tumbuh cepat.
Hari ke-1.010. Budi 8,5 bulan. Sudah bisa duduk sendiri. Tegak. Mainan berserakan di sekitarnya.
Risma di samping. Terbaring. Matanya mengikuti setiap gerakan Budi. Saat Budi jatuh terduduk, Risma seperti ikut terkejut. Saat Budi tertawa, Risma tersenyum.
Suatu sore, Budi merangkak ke arah Risma. Ia pegang tangan Risma. Ditarik. Seperti mengajak main.
"Kak... ayo... main..."
Risma tak bisa bergerak. Tapi matanya berbinar.
Dewi lihat dari dapur. Air matanya jatuh.
"Mas, lihat. Budi ajak Risma main."
Aryo memeluknya. "Iya, Ri. Mereka punya dunia sendiri."
Tapi tidak semua momen indah.
Hari ke-1.030. Budi 9 bulan lebih. Ia mulai belajar berdiri. Pegang kursi. Lalu lepas. Berdiri sendiri. Beberapa detik. Lalu jatuh. Bangkit lagi.
Aryo tepuk tangan. "Pintar, Nak! Hebat!"
Budi tertawa. Bangga. Mencoba lagi.
Aryo lihat Risma. Risma diam. Matanya ke Budi. Lalu ke bawah. Ke tubuhnya sendiri yang kaku.
Aryo tahu. Risma sedih.
Ia duduk di samping Risma. "Nak, kamu lihat adik ya? Adik lagi belajar."
Risma diam. Tapi matanya berkaca. Basah.
"Kamu juga hebat, Nak. Kamu hebat dengan cara kamu sendiri."
Risma tak bergerak. Tapi air matanya jatuh. Satu tetes.
Aryo pegang tangannya. "Bapak sayang kamu, Nak. Sama seperti Bapak sayang Budi. Nggak kurang. Nggak akan pernah kurang."
Risma diam. Tapi genggamannya menguat. Gerakan tak terkontrol. Tapi Aryo tahu, itu caranya bilang, "Aku tahu, Bapak."
Malamnya, saat Budi tidur, Aryo cerita ke Dewi.
"Ri, aku khawatir. Risma sedih lihat Budi bisa."
Dewi menghela napas. "Aku juga lihat, Mas. Tadi matanya... kayak ada sesuatu."
"Kita harus lebih perhatian ke Risma. Jangan sampai dia merasa... merasa nggak berguna."
"Tapi kita sudah sayang dia, Mas."
"Bukan itu. Dia perlu merasa berarti. Bahwa dia juga punya tempat. Bahwa dia juga penting."
Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, mungkin kita bisa ajak dia ngobrol lebih sering. Cerita tentang apa yang kita rasakan. Meski dia nggak jawab, mungkin dia dengar."
Aryo mengangguk. "Iya. Kita coba."
Mereka sepakat. Setiap kali Budi dapat pujian, mereka juga puji Risma.
"Pintar, Budi! Hebat!" lalu mereka menengok Risma. "Risma juga pintar. Dia kakak yang baik. Dia selalu jagain adiknya."
Risma diam. Tapi matanya... matanya seperti mengerti.
Hari ke-1.050. Usia Risma 3 tahun 5 bulan. Budi 9,5 bulan.
Aryo putuskan cari terapi untuk Risma. Di kota ada klinik tumbuh kembang.
Ia tanya Mbah Kar. "Mbah, tahu klinik terapi yang bagus?"
Mbah Kar mengangguk. "Tahu, Mas. Di dekat pasar baru. Tapi mahal."
"Berapa, Mbah?"
"700 ribu per bulan."
Aryo diam. 700 ribu. Tapi ia lihat Risma. Anaknya terbaring. Matanya menatapnya.
"Bisa, Nak. Bapak usahakan."
Ia daftarkan Risma. Terapi seminggu sekali. Bukan untuk bisa jalan atau duduk. Tapi untuk stimulasi. Untuk menjaga ototnya tetap elastis. Untuk kesehatannya.
Hari pertama di klinik, terapisnya, Mbak Wulan, ramah.
"Pak, kondisi Risma cukup berat. Tapi kita bisa lakukan terapi pasif. Stimulasi. Pijat. Gerakan lembut. Agar ototnya nggak kaku total."
Aryo mengangguk. "Iya, Mbak. Yang penting dia sehat."
Bulan pertama. Bulan kedua. Bulan ketiga.
Risma tidak bisa tengkurap. Tidak bisa duduk. Tidak ada kemajuan motorik. Tapi ada perubahan lain.
Matanya makin hidup. Lebih sering tersenyum. Lebih responsif saat diajak bicara.
Suatu hari, Mbak Wulan bilang, "Pak, Risma menunjukkan respons emosional yang bagus. Dia bisa membedakan orang. Dia senang lihat Budi. Dia tenang saat Bapak atau Ibu pegang."
Aryo senang. "Jadi, Mbak?"
"Jadi, meski motoriknya tak berkembang, emosinya tumbuh. Dia bisa merasa. Dia bisa sayang. Itu luar biasa."
Aryo pulang dengan hati hangat.
Hari ke-1.080. Budi 1 tahun. Ulang tahun.
Aryo beli kue kecil. Lilin satu. Mereka nyanyi. Budi bingung, tapi senang. Matanya lihat lilin. Ingin pegang.
Risma di kursi. Matanya ke kue. Ke lilin. Ada sesuatu di matanya. Kagum? Ingin tahu?
"Nak, ini adikmu ulang tahun. Doain adik ya."
Risma diam. Tapi tangannya bergerak tak terkontrol. Meraih ke arah kue.
Aryo bantu. Jari Risma sentuh kue. Risma rasakan. Lalu... ia masukkan jarinya ke mulut.
Mencicipi.
Matanya membelalak. Manis.
Lalu ia tersenyum. Senyum lebar.
Budi lihat. Ia ikut mencelupkan jari. Makan kue. Berantakan. Kuah di mana-mana.
Mereka tertawa. Risma senyum. Bahagia.
Mbah Kar foto. "Ini kenang-kenangan."
Tapi malam itu, saat semua tidur, Aryo dengar suara. Suara isak. Pelan.
Ia bangun. Cari sumber suara. Risma.
Risma nangis. Bukan nangis keras. Tapi isak. Pelan. Tertahan.
"Risma, Nak... kenapa?"
Risma nggak jawab. Tak bisa.
Aryo gendong. Jalan keliling kamar. "Udah, Nak... udah... Bapak di sini..."
Risma tenang. Perlahan. Tapi masih sesekali terisak.
"Kenapa dia nangis, Mas?" tanya Dewi yang bangun.
"Nggak tahu. Mungkin mimpi buruk."
Atau mungkin... Risma sedih. Sadar dirinya berbeda. Sadar tak bisa seperti Budi yang ulang tahun dengan meriah. Sadar tak bisa makan kue sendiri.
Aryo nggak tahu. Tapi ia tahu satu hal: Risma butuh cinta. Butuh perhatian. Butuh merasa berarti.
"Ibu di sini, Nak." Dewi ikut duduk. Pegang tangan Risma.
Mereka bertiga. Malam itu. Berpelukan. Risma di tengah.
Budi tidur. Tak tahu apa-apa.
Tapi di luar, bulan purnama. Terang.
Hari ke-1.100. Risma 3 tahun 7 bulan. Budi 1 tahun 1 bulan.
Risma makin sering tersenyum. Matanya makin hidup. Setiap kali Budi main di dekatnya, ia lihat dengan antusias. Sesekali tangannya bergerak tak terkontrol. Seperti ingin ikut main.
Budi, tanpa sadar, jadi penghibur Risma.
Suatu sore, Budi main cilukba di depan Risma.
"Kak... ciluk... ba!"
Risma lihat. Matanya berbinar. Lalu... ia tersenyum. Senyum lebar.
Dewi lihat. "Mas, lihat. Budi bikin Risma senang."
Aryo tersenyum. "Iya, Ri. Mereka saling melengkapi."
Mbah Kar tambah, "Budi mungkin nggak tahu. Tapi dia jadi semangat buat Risma."
Hari ke-1.150. Risma 3 tahun 8 bulan. Budi 1 tahun 3 bulan.
Aryo hitung tabungan. 7 juta. Cukup banyak.
"Ri, kita beli becak lagi yuk. Biar bisa narik sampingan."
Dewi setuju. "Boleh, Mas. Tapi jangan lupa, Risma butuh terapi terus. Jangan sampai berhenti."
"Iya, Ri. Aku nggak akan berhenti. Buat Risma. Buat Budi. Buat kita."
Mereka beli becak bekas. 800 ribu. Lumayan.
Aryo narik malam minggu. Libur pasar. Dapat tambahan.
Hidup mulai mapan. Tenang. Bahagia.
Tapi Aryo tahu, perjuangan belum selesai. Risma masih butuh banyak. Budi butuh sekolah nanti. Tapi ia siap.
Untuk mereka. Untuk keluarganya.
Malam itu, mereka tidur berempat. Aryo, Dewi, Risma, Budi. Berdesakan. Tapi hangat.
Risma di tengah. Budi di sampingnya. Tangan Budi memegang tangan Risma.
"Kak... tidur... uda... malam..." celoteh Budi.
Risma diam. Tapi matanya menatap Budi. Lembut.
"Nak, kalian tidur ya. Besok Bapak kerja. Cari uang buat kalian."
Risma lihat Aryo. Matanya berkata, "Bapak, aku sayang Bapak."
Aryo tahu. Ia tahu.
Budi sudah tidur. Nyenyak. Ngorok kecil.
Aryo pandangi mereka. Air matanya jatuh.
"Makasih, Tuhan... makasih udah kasih aku keluarga ini. Risma, Budi, Dewi... mereka segalanya buat aku."
Dewi pegang tangannya. "Mas, kita beruntung."
"Iya, Ri. Kita beruntung punya satu sama lain. Punya Risma. Punya Budi. Punya Mbah Kar."
Dari kamar sebelah, Mbah Kar tersenyum. Ia dengar. Ia tahu. Ia bersyukur.
Di luar, suara jangkrik. Malam tenang. Bulan purnama di atas.
Tapi Aryo tahu, besok adalah hari baru. Dengan tantangan baru. Dengan harapan baru.
Risma tak akan pernah bisa jalan. Risma tak akan pernah bisa duduk. Tapi Risma punya cinta. Cinta dari Bapak, Ibu, adik, dan kakek.
Dan itu lebih dari cukup.
Aryo pegang tangan Risma. Risma pegang jarinya. Gerakan tak terkontrol. Tapi erat.
"Selamat malam, Nak. Bapak sayang kamu."
Risma tidur. Nyenyak. Tenang. Mungkin ia mimpi. Mimpi melihat Budi tertawa. Mimpi mendengar suara Bapak dan Ibu. Mimpi merasa hangat dalam pelukan keluarga.
Tapi mimpi atau nyata, ia tetap anak mereka. Dan mereka tetap orang tuanya.
Sampai kapan pun.
[BERSAMBUNG KE BAB 17]