NovelToon NovelToon
Sang Legenda: Naga Langit

Sang Legenda: Naga Langit

Status: tamat
Genre:Misteri / Fantasi Timur / Balas Dendam / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:8.1M
Nilai: 4.5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Xiao Chen selalu dianggap murid terlemah di Klan Xiao.

Tidak punya bakat, selalu gagal dalam ujian, dan menjadi bahan ejekan seluruh murid.
Namun tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya bahwa tubuhnya menyembunyikan darah naga purba yang tersegel sejak lahir.

Segalanya berubah saat Ritual Penerimaan Roh Penjaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Naga Tidak Berlutut

Paviliun Danau Giok adalah tempat paling mewah di Kota Awan Putih. Dibangun di tengah danau buatan yang dipenuhi bunga teratai, tempat ini biasanya dipenuhi oleh gelak tawa para bangsawan dan denting gelas arak. Namun hari ini, lantai teratas paviliun itu sunyi senyap, diselimuti ketegangan yang menyesakkan.

Xiao Chen menaiki tangga kayu cendana itu sendirian. Langkahnya tenang, teratur, dan berat. Tidak ada keraguan di wajahnya, meskipun ia tahu ia sedang berjalan masuk ke dalam kandang harimau.

Di ruangan utama, tiga orang sudah menunggu.

Duduk di kursi utama adalah Su Yang, ayah Qingyue sekaligus Kepala Keluarga Su. Di sebelahnya duduk seorang pria tua berjanggut putih dengan mata tajam seperti elang Tetua Agung Keluarga Su, Su Ming.

Dan di sudut ruangan, berdiri Su Qingyue. Wajahnya pucat, dan matanya memerah seolah habis menangis. Saat melihat Xiao Chen masuk, dia hendak berlari mendekat, namun bentakan tajam dari kakeknya menghentikannya.

"Diam di tempatmu, Qingyue! Jangan permalukan keluargamu lebih jauh lagi."

Qingyue menggigit bibirnya, menatap Xiao Chen dengan pandangan memohon maaf. Xiao Chen memberinya senyum tipis, sebuah isyarat kecil untuk menenangkannya, sebelum menoleh ke arah dua pria berkuasa di hadapannya.

"Duduk," perintah Su Yang dingin, menunjuk sebuah kursi kayu keras di hadapan mereka.

Xiao Chen duduk. Punggungnya tegak. Dia tidak menunduk, tidak gemetar.

"Kalian memanggilku untuk menandatangani ini, bukan?" Xiao Chen menunjuk gulungan kertas di atas meja. Dokumen Pemutusan Pertunangan.

Su Yang mengangguk. "Bagus kalau kau sadar diri. Xiao Chen, aku akan jujur padamu. Kami menyukaimu sebagai pribadi. Tapi dunia kultivasi adalah tentang kekuatan. Qingyue telah diterima sebagai murid inti Sekte Pedang Giok. Masa depannya cerah. Sementara kau..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan keheningan yang menghina itu menggantung.

"Sementara aku adalah sampah yang akan menjadi noda dalam riwayat hidupnya," lanjut Xiao Chen dengan tenang.

"Tepat," sela Tetua Agung Su Ming dengan kasar. Dia melempar kantong berat ke atas meja. Denting logam mulia terdengar jelas. "Di sini ada 500 koin emas. Cukup untuk membeli tanah pertanian dan hidup nyaman sampai tua. Tanda tangani kertas itu, ambil uangnya, dan jangan pernah temui Qingyue lagi."

Xiao Chen menatap kantong emas itu, lalu menatap Su Ming.

"Apakah harga diri putri kalian hanya senilai 500 koin emas di mata kalian?"

Su Ming menyipitkan matanya. "Bocah, jangan kurang ajar. Kami memberimu wajah karena hubungan masa lalu kakekmu. Jangan paksa kami menggunakan cara kasar."

"Ayah, Kakek! Hentikan!" Qingyue akhirnya tidak tahan lagi. Dia melangkah maju. "Aku tidak akan membiarkan kalian membelinya! Jika kalian memaksa Xiao Chen, aku akan mencoret namaku sendiri dari silsilah keluarga!"

"Lancang!" Su Ming membentak. Dia mengibaskan lengan bajunya.

BAM!

Sebuah tekanan tak kasat mata Tekanan Roh dari seorang kultivator Alam Pembentukan Fondasi meledak di ruangan itu.

Targetnya bukan Qingyue, tapi Xiao Chen.

Su Ming ingin memaksa Xiao Chen berlutut. Bagi kultivator lemah di Alam Pengumpulan Qi tingkat 3 seperti Xiao Chen, tekanan ini seharusnya terasa seperti gunung yang jatuh di pundaknya. Tulangnya seharusnya remuk, dan dia seharusnya merangkak di lantai memohon ampun.

"Berlututlah dan sadari posisimu, Sampah!" teriak Su Ming.

Kursi kayu yang diduduki Xiao Chen hancur berantakan menjadi serpihan di bawah tekanan itu.

Namun... Xiao Chen tidak jatuh.

Dia berdiri.

Lututnya sedikit menekuk menahan beban, urat-urat di lehernya menonjol, dan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tapi dia tidak berlutut.

"Menarik..." suara Patriark Naga Abyssal terdengar di kepalanya, bernada geli namun berbahaya. "Dia mencoba menekanmu dengan aura seekor anjing tua? Bocah, tunjukkan padanya. Naga tidak pernah menundukkan kepala pada makhluk tanah!"

Darah di dalam tubuh Xiao Chen mulai mendidih. Rasa sakit dari tekanan itu justru memicu insting purba di dalam sel-selnya. Pemurnian Darah Abyssal yang ia lakukan semalam bereaksi.

Sebuah aura yang nyaris tak terlihat, gelap dan berat, mulai merembes keluar dari pori-pori Xiao Chen. Itu bukan Qi, itu adalah Niat Membunuh murni dari predator puncak.

Xiao Chen mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke mata Su Ming. Pupil matanya berubah vertikal sesaat seperti mata reptil buas.

"Hanya... segini?" desis Xiao Chen.

"Apa?!" Su Ming terkejut. Dia meningkatkan tekanannya hingga batas maksimal. Lantai kayu di sekitar Xiao Chen mulai retak.

Tapi Xiao Chen malah mengambil satu langkah maju. DUK. Langkah yang berat, menghancurkan lantai papan.

Langkah kedua. DUK.

Su Ming merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Ada sesuatu yang salah. Bocah di depannya ini... auranya terasa mengerikan. Seolah-olah dia sedang menatap seekor binatang buas yang menyamar menjadi manusia.

"Cukup!" Su Yang, yang merasakan keanehan itu, segera berdiri dan menengahi, memotong aliran tekanan ayahnya.

Xiao Chen berhenti. Napasnya memburu, tapi dia tetap berdiri tegak. Dia mengambil dokumen pertunangan di meja.

"Kalian ingin ini batal?" tanya Xiao Chen, suaranya serak namun penuh wibawa.

Dia mengangkat kertas itu... lalu merobeknya menjadi dua.

Wajah Su Yang dan Su Ming berubah cerah sesaat. Mereka pikir Xiao Chen menyerah.

Tapi kemudian, Xiao Chen membanting potongan kertas itu ke meja.

"Dokumen ini batal. Tapi pertunanganku dengan Qingyue tidak ditentukan oleh secarik kertas, dan tidak juga oleh kalian tua bangka yang rabun!"

Xiao Chen menunjuk Su Ming, jarinya gemetar karena amarah.

"Kalian bilang aku tidak layak? Kalian bilang aku akan menghambatnya? Baiklah!"

"Beri aku waktu satu tahun! Satu tahun dari sekarang, saat Turnamen Besar Wilayah Selatan digelar... aku akan berdiri di atas panggung itu."

"Jika aku tidak bisa masuk tiga besar dan mengalahkan murid terbaik yang kalian banggakan... maka aku akan memenggal kepalaku sendiri di depan gerbang Keluarga Su sebagai permintaan maaf!"

Ruangan itu hening total.

Masuk tiga besar Turnamen Wilayah? Itu adalah turnamen yang diikuti oleh jenius-jenius dari berbagai sekte besar! Bagi seseorang di tingkat 3 Pengumpulan Qi, itu adalah mimpi di siang bolong.

"Tapi..." lanjut Xiao Chen, matanya berkilat tajam. "Jika aku berhasil... kalian harus berlutut dan meminta maaf kepada Qingyue karena telah mencoba menjual kebahagiaannya demi ambisi kalian!"

"Xiao Chen, kau gila..." bisik Qingyue, air mata mengalir di pipinya. "Kau tidak perlu melakukan ini..."

Xiao Chen menoleh pada Qingyue, tatapannya melembut seketika.

"Aku tidak gila. Aku hanya ingin memastikan, saat aku menggenggam tanganmu nanti, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang berani berkata aku tidak pantas."

Dia berbalik badan, jubahnya berkibar.

"Simpan emasmu, Pak Tua. Kau akan membutuhkannya untuk membeli obat jantung saat melihatku nanti."

Tanpa menunggu jawaban, Xiao Chen melangkah keluar dari paviliun.

Di belakangnya, Su Ming jatuh terduduk di kursinya, napasnya tersengal. Tangannya gemetar.

"Ayah, ada apa?" tanya Su Yang panik.

"Matanya..." gumam Su Ming dengan wajah pucat. "Saat dia menatapku tadi... aku merasa... aku merasa sedang dilihat oleh monster yang kelaparan."

Xiao Chen berjalan cepat menjauh dari danau. Begitu dia sampai di gang sepi, kakinya lemas dan dia memuntahkan seteguk darah hitam.

"Uhuk!"

"Kau memaksakan diri, Bocah," tegur Patriark. "Menahan tekanan Pembentukan Fondasi dengan tubuhmu yang baru setengah matang... kau bisa saja menghancurkan organ dalammu."

Xiao Chen menyeka darah di bibirnya, lalu tersenyum miring. Senyum yang liar.

"Tapi dia ketakutan. Aku melihatnya. Orang tua itu ketakutan."

"Hahaha! Benar!" tawa Patriark meledak. "Itu baru pewarisku! Rasa takut adalah bumbu terbaik dalam pertarungan. Sekarang pulanglah. Kau baru saja membuat janji besar. Kita harus menyiksa tubuhmu seratus kali lipat lebih keras mulai malam ini agar kau tidak mati konyol setahun lagi."

Xiao Chen menatap langit biru di atasnya. Tekadnya membara lebih panas dari matahari.

"Ayo lakukan. Aku tidak akan kalah."

1
Teguh RM
bkanya sdh dpt kayu atau pohon pemikat petir.... gmana crita ini, gak jelas🤣
takmautau
ceritanya menarik dan enak dibaca Thor. salute 👏👍
Ben Tambunan
seharusnya tangan dibelakang pinggang ya bukan punggung🤭
Dedi Sopandi
jadi ikut tegang nih leher, mantap thor
Rahardjo
mantabssss...
Dedi Sopandi
gimana elo aja thor, ternyata masih jauh tahapan nya 🤭
Atmo Jo
goblok ni novel... level balik2 lagi
Dedi Sopandi
kalo Lin Zihan toko harta Karun nya dapat apa coba, cap nuhun aja 🤭
Kris Gamers
aihhhh, kata² murah dikalimat terakhir itu bikin greget thor 🤭
Generazi_Z
Heran dan bingung, mestinya di ranah Dewa, mungkin hanya dgn kentut saja dpt menghancurkan Galaksi. eh ini malah kayak ranah Pembentukan Qi 🤣🤣🤣
Generazi_Z
Nanti di BaB awal akau akan komen spy para pembaca jgn membaca Cerita ini krn sgt membagongkan
Generazi_Z
Awalnya sy mau ksh 5* tp batal. dasar autor goblok dan tolol
Hoshinova
thor, lu copas nih novel darimana coba jelaskan 🤣🤣, klo lu copas ya jangan asa tempel ama ganti namanya doang bodoh, dari awal ampe ending malah kayak gini cerita nya,ngaco bener 🤣🤣🤣
Kinjeng
ceritanya membosankan..gitu dan gitu lagi..seperti di ulang2
Rhaka Kelana
suka suka mu lah thor.... walaupun ga ada koneksi antara ranah kultivasi dan kekuatan, aku baca aja lahh
Riski Channel
banyak haters thor, he he he
Anonymous
klo ngantuk tidur dulu thor biar nggk ngantuk pas nulis. semangat
jonggol satu
bagus juga ceritan tp sam seperti penikmat lain alurya lompat lompat jd bingung
Riski Channel
pembaca kompak kecewa ha ha ha .....
K3nan Zayn
Jangan mulai baca novel ini ntar nyesel buang2 waktu... belajar nulis lagi lu Thor... bego bngt!! lupa Ama yg ente tulis.. copas boleh tp upgrade dengan gaya ente... tp ini parah banget !!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!