NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chen Li makanannya sudah selesai

Bunga-bunga mulai berguran dan jatuh ke permukaan kolam. Chi Yan yang memakai gaun biru dengan sulaman bunga-bunga putih sedang duduk membaca. Langit sudah mendung dan air di kolam mulai membentuk lingkaran yang perlahan-lahan menjadi ombak kecil. Angin bertiup menerbang pakaiannya. Dia mengangkat wajahnya menatap langit mendung dengan suara gemuruh dan kedipan, kemudian menatap permukaan kolam. Menghela nafas dan mencelupkan pena dalam tinta dan ingin melanjutkan menulis. Akan tetapi, dia terlalu banyak mencelupkannya, sehingga membuat tinta tumpah ke kertas dan berkembang di sana. Menghela nafas lalu berdiri dan mendekati pagar taman.

Satu persatu tetesan hujan mulai berjatuhan. Awalnya pelan, tapi kemudian semakin lama semakin banyak dan mulai memenuhi permukaan air. Dengan itu segera riak-riak bermunculan hingga menutupi permukaan kolam. Chi Yan kembali duduk. Diam tiga puluh menit menulis dan melipatnya menjadi tiga lipatan, membentuk kotak kecil. Dia lalu berdiri dan menatap rumahnya.

Dia ingin pergi menyerahkan surat pada ibunya tapi hujan menghalanginya. Mendekati pagar dan mengulurkan tangannya. Dia mulai merasakan dinginnya tetesan air hujan. Menatap kolam yang dipenuhi bunga teratai, matanya tertarik pada bunga merah muda yang bergoyang-goyang pelan karena tetesan hujan. ‘Sebentar lagi kelopak-kelopaknya pasti akan hancur’ batinnya. Dia menoleh menatap rumahnya kembali.

Seharunya dia berlari dan segera menyerahkannya, tapi entah mengapa dia merasa malas, jadi surat itu di masukan dalam kantong lengan Han Fu-nya yang lebar dan lembut. Dia suka menyentuhnya dan mungkin inilah perbedaan kain mahal dan murah; ada kenyamanan ketika menyentuhnya.

Dia berpikir beberapa saat lalu menarik surat itu kembali dari kantongnya. Menatapnya sebentar, mengulurkan tangannya dan melepaskannya. Surat itu melambai-lambai lalu akhirnya menyentuh permukaan air. Huruf-hurufnya mulai memudar dan tintanya menyebar di permukaan air.

Chi Yan menatapnya dingin. Dia ingat tentang ibunya, Chen Li dan ayahnya.

Jika dia boleh memilih dia tidak akan pergi ke istana intuk mengikuti seleksi selir untuk putra mahkota; dia ingin hidup bebas seperti para filsuf perempuan yang suka berpindah-pindah tempat. Dia juga ingin tinggal bersama ibunya dan hidup sederhana di desa. Tapi ini adalah takdirnya. Dia tidak boleh menolaknya. Ayahnya pasti tidak setuju dan ibunya juga kecewa.

Ketika dia tahu akan pergi ke istana dan menikah, mulai saat itu dia sudah menjaga jarak dnegan ayah dan ibunya. Bukan karena dia mau tapi dia harus melakukannya demi mencegah banyak luka yang muncul. Dia membenci itu tapi juga harus melakukannya. ‘Setidaknya aku tidak akan hancur dan menjadi gadis cengeng’ begitulah pikirannya.

Dia lalu ingat tentang Chen Li, laki-laki yan menyukainya. Jika Cha Yin bebas, dia bisa dekat dengan laki-laki itu, tapi sekarang sudah tidak mungkin lagi. Dia akan pergi ke istana dan menjadi selir dan bahkan mungkin permaisuri. Namun, bisakah dia menyangi anaknya tanpa ada label duka dan kekuasaan? Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika itu.

Hanya bisa menghela nafas.

****

Setelah hujan reda, dia pergi menemui kucingnya, mengelusnya lembut lalu akhirnya ke kamarnya.

Malamnya, dia memasukkan semua Han Fu dan kain-kain yang selalu di pakainya dan memasukkan beberapa buku-buku. Membutuhkannya waktu sekitar satu jam. Lalu akhirnya dia duduk di dekat jendela sembari menatap pemandang malam dan perlahan-lahan kursinya bergoyang lembut.

****

Pagi-pagi, pelayan datang membantunya menaikkan barang-barang ke kereta. Dia membungkuk pada kedua orang tuanya lalu menaiki kerata kuda tanpa menoleh.

Akhirnya kerata pun jalan.

Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya dia menggeser korden dan melihat pemandangan desa dan juga orang-orangnya. Menutupnya lalu memejamkan matanya.

Dia membuka mata setelah tiga puluh menit. Keretanya melewati pasar, perumahan. Dan ketika mencapai akademi desa, dia sekilas melihat guru besar San dan murid-muridnya. Ketika melewar gang sepi bekas pasukan pemberontak, keretanya berjalan lambat tapi Chi Yan tidak tertarik untuk melihatnya.

Dan akhirnya kereta pun melewati gerbang desa dengan cahaya matahari di timur yang baru terbit. Pada saat itulah dia ingat jika kucingnya belum diberi makan. Itu sedikit mengacaukan kesedihannya tapi pada akhirnya dia kembali mendapatkannya.

****

Pagi-pagi sekali Chen Li duduk di bawah pohon, menghangatkan tubuhnya dari sinar matahari timur. Kakinya di luruskan dan kepalanya di sadarkan. Bersantai di kursi panjang ini benar-benar memanjakanya. Dia bahkan sampai memejamkan matanya sembari meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya.

Tidak jauh darinya Yun Xiao mengecek botol-botolnya, masukkannya ke dalam tas untuk di jual. Dia akan membuang air yang tidak laku, mengisinya dengan air yang baru.

Akhir-akhir ini, orang-orang skeptis dan tidak mudah percaya. Namun Yun Xiao meyakini mereka jika air yang dapatkannya ini benar-benar berkhasiat dan memang sangat bagus untuk kesehatan. Memikirkannya, dia tidak akan bertahan lama menjual air suci ini dan mulai berpikir menjadi petani teh di perkebunan tuan Sun atau tukang masak di salah satu kedai makan.

Sementara di dalam Ibu Chen Li dan Yun Xiao sedang mempersiapkan makanan. Chen Li dan ibunya harus menginap satu malam dan pagi ini akan mulai memperbaiki rumahnya yang hancur. Mereka berencana memanfaatkan rumah yang tidak berpenghuni dulu yang ada di sekitarnya. Uang Chen Li sangat cukup untuk memperbaikinya dan sepertinya dia akan memperbaikinya alih-alih pergi. Dia juga ingat tentang lukisan wanita itu dan berharap itu baik-baik saja.

Yun Xiao akhirnya selesai memasukan botol-botolnya, dia menatap Chen Li dan bertanya, “Apa seseorang yang menyerangmu kemarin sangat kuat?”

Chen Li membuka mata perlahan-lahan dan menatap langit biru. “Begitulah.”

Yun Xiao diam sebentar lalu bertanya lagi, “Kamu pasti cukup beruntung bisa selamat.”

“Ya,” jawab Chen Li pelan dan dia mulai membayangkan kejadian kemarin, bagaimana dia bertarung dan mengayunkan pedangnya. Musuhnya kuat dan dia tidak akan tenang jika belum dapat membunuhnya atau pergi sejauh mungkin. Dia mengkhawatirkan ibunya dan setiap saat harus memperhatikannya. Tapi karena dia bekerja, dia harus membuat perencana yang matang untuk semua itu.

“Apa rencanamu selanjutnya?”

“Sepertinya aku harus pergi.”

“Ke mana kamu akan pergi?” menaikkan alisnya, Yun Xiao bertanya penasaran.

Chen Li perlahan-lahan menatapnya. “Aku tidak tahu.”

Yun Xiao menghela nafas. “Memang sepertinya kamu harus seperti itu.”

Gadis itu beranjak masuk dan mengambil buku kumpulan puisi yang telah di tulisnya, masukkannya ke dalam tas lalu ibunya mengatakan makanan sudah siap. Dia lalu membuka pintu dan berseru,. “Chen Li, makanannya sudah selesai!”

Chen Li segera beranjak dan masuk ke dalam

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!