NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan dan Kekalahan

Ia menoleh ke Marta, Jiro, dan Bude. Ketiganya masih tergeletak, bergulir tak berdaya di tanah basah oleh air mata, mengaduh. Mereka gemetar. Gemetar itu awalnya dipicu oleh energi spiritual yang dilepaskan Sumiati yang marah, tetapi sekarang, gemetar itu berasal dari dingin yang jauh lebih kuat, menakutkan, dan datang dari tanah, mematikan semak-semak yang tadinya hijau menjadi layu seketika.

Yohan tahu, ritual Pertukaran Jiwa Total yang dia selesaikan tidak hanya membebaskan ibunya, tetapi juga melepaskan sang penahan. Pusaka kini telanjang, bebas dari ikatan Janji Darah, dan Kutukan Primordial Yalimo pun terlepas. Namun, masalah hukum dan moral di depannya lebih mendesak.

Yohan bersandar ke monolit Batu Persembahan.

"Kalian dengar itu, Marta?" Ia berusaha agar suaranya terdengar kuat, meskipun ia kelelahan total.

"Teriakan terakhir ibu saya, sebagai roh terikat? Sekarang ia pergi. Ia bebas, dibebaskan oleh niat utuh saya untuk mengakhiri Janji Darah kotor kalian."

Marta mencoba merangkak. Wajahnya yang bengkak kini hanya menunjukkan ketakutan primal. Ia meludahkan ludah yang bercampur lumpur, dan mencoba membalikkan keadaan.

"Tidak, Yohan! Kamu yang menghancurkan! Lihat hutan! Kutukan itu—kau lepaskan entitas lama Yalimo!"

Di antara kepanikan Marta, samar-samar terdengar suara larian dari jauh. Teriakan pelepasan Sumiati yang sangat keras di klimaks telah menjangkau telinga penduduk yang lebih dekat. Mereka datang sebagai saksi, atau sebagai kerumunan panik.

"Teriakan itu mengundang warga, Marta," kata Yohan tenang. Ia mengeluarkan dokumen kepolisian lama yang ia temukan dari saku celana. Kertas kuning itu tampak aneh di antara dinginnya fajar dan hutan purba.

"Ini bukan lagi soal Kutukan, Marta. Ini soal pembunuhan berencana. Aku butuh kesaksian kalian, dan Aku butuh pengakuan itu dilakukan di depan Pusaka dan seluruh desa yang berdatangan."

"Pembunuhan?" bisik Jiro, yang kini batuk dan tersiksa, tidak mampu bangkit.

Marta mulai histeris lagi. "Jangan tunjukkan itu! Kami tidak... kami tidak..."

Pekikan Marta diselingi suara sepatu bot karet penduduk yang sudah sampai di tepi semak-semak. Wajah-wajah panik muncul, mereka membawa lentera kecil, melihat Yohan—putra Yosef—bersama seorang Ustadz, hanya saja lebih kejam. Mereka melihat patung batu hitam, api persembahan yang hampir padam, dan tiga sesepuh terpenting Yalimo yang tersungkur layaknya anjing.

"Apa yang terjadi di sini? Marta? Apakah Yohan menyerangmu?" tanya seorang warga yang bernama Gultom, dengan nada ragu dan cemas. Mereka mencurigai Yohan sebagai pembawa masalah, namun kondisi fisik Marta tidak memungkinkan mereka untuk membela. Kesenjangan sosial Marta telah runtuh sempurna.

Yohan menggunakan otoritas spiritual yang baru diperolehnya—yang kini terhubung langsung dengan Pusaka yang ada di kakinya. Pusaka seolah diam, memancarkan kedinginan, menunggu apa yang akan Yohan lakukan terhadap manusia yang telah menyalahgunakannya.

"Kalian dengar pengakuanku malam ini?" tanya Yohan, suaranya lantang. Ia mengabaikan Gultom dan fokus pada Marta.

"Ayah saya dibunuh di sini. Bukan jatuh dari tebing. Ayah saya tewas di Batu Persembahan oleh pukulan tumpul kayu besar, Marta, dan kamu memalsukan laporannya sehari setelah ibuku meninggal, semua karena David dan tawaran tambangnya. Mengakulah sekarang!"

Marta menahan isak tangis yang tertahan, matanya nanar. Tekanan spiritual dan moral sangat besar. Jiro dan Bude mulai terisak di tanah. Mereka menyentuh Batu Persembahan seolah meminta maaf, seolah roh pusaka menuntut darahnya kembali.

"Yohan... Nak," Marta memulai, nadanya lebih dekat dengan permohonan.

"Ya, kami… Kami memaksa Yosef... Kami ingin... Yalimo sejahtera. David menawarkan..."

"David menawarkan keuntungan yang jauh lebih sedikit daripada kehormatan kami!" bentak Yohan.

"Kamu membunuh Ayahku karena dia menolak kompromi setelah Ibuku menjadi jangkar kejam Janji Darah? Janji Darah yang keji itu?"

Marta akhirnya mematahkan batasannya. Dibantu energi murni Pusaka di kakinya yang menekan kesombongan koruptifnya. Air mata memenuhi wajahnya yang keriput.

"YA! KAMI MEMBUNUH YOSEF!" teriak Marta, pengakuan itu datang bukan dari lidah, melainkan dari kedalaman jiwa.

"Yosef berkhianat pada janji kami untuk membagi harta. Dia menyimpan Pusaka sebagai Kunci mutlak setelah Sumiati terikat, menolak memberikan kepada David! Kami tidak bisa mendapat keuntungan kecuali kunci Pusaka itu diamankan. Kami mengikat Ibumu, bukan untuk menyelamatkan Yalimo dari bencana, melainkan agar tanah itu terlindungi, dan kami bisa membaginya sedikit!"

Pengakuan Marta adalah gemuruh paling keras di Batu Persembahan sejak Sumiati menjerit kebebasan. Para warga terhuyung. Gultom dan yang lainnya menutup mulut mereka. Seluruh konflik masa lalu, kesalahpahaman tentang fanatisme Yosef, alibi bunuh diri Sumiati—semua lenyap seketika, digantikan oleh kebenaran yang menusuk dan pahit.

"Kau sudah lihat Patung itu, Gultom?" Yohan menunjuk Pusaka Batu di depannya, yang bersinar sangat redup dalam kegelapan yang mendalam.

"Inilah yang Marta sembunyikan selama lima belas tahun! Pusaka warisan suci. Bukan patung untuk uang, tetapi Jangkar spiritual kita. Aku baru saja melepaskan ikatan Janji Darah yang melilit ibuku. Dia pergi dengan damai."

"Mereka yang memaksa Ayah melakukan hal keji itu, dan membunuh Ayah karena keberaniannya untuk mempertahankan yang tidak dapat dibagi." Yohan mengangkat Pusaka ke dada, menggunakan Patung itu sebagai perisai spiritual dan simbol kebenaran moralnya.

"Kebenaran ini mengakhiri tragedi Ayah dan Ibu."

Reaksi warga tidak seragam. Mereka terbagi, diliputi konflik hukum dan spiritual yang kompleks. Setengah dari mereka—dipimpin oleh Gultom, yang dikenal adil—bergegas mengepung Marta dan dua sesepuh. Mereka berteriak, meminta penangkapan segera.

“Serahkan mereka pada otoritas Kota!” teriak Gultom.

“Membunuh kepala kita sendiri! Janji Darah keji seperti itu! Yalimo tidak akan diam!”

Namun, setengah lainnya tersiksa oleh teror Kutukan Primordial yang kini lepas.

“Bukan waktunya memikirkan hukum, Gultom!” teriak seorang wanita paruh baya, Renda, dengan tangan gemetar menunjuk Pusaka Batu dan semak-semak yang mati.

“Yohan telah menyelamatkan Sumiati, tetapi dia telah membangunkan Kutukan Lama! Kau tidak merasakan ini? Udara membeku! Kita harus fokus memurnikan Pusaka! Yohan! Beri tahu kami cara memperbaiki Kutukan yang Kau lepaskan ini!”

Kebingungan total. Yohan baru saja menuntaskan balas dendam dan menegakkan keadilan, mengubah dirinya menjadi pahlawan. Tetapi dalam proses itu, ia juga melepaskan ancaman yang jauh lebih kuno dari dendam manusia. Konflik emosional Yalimo merobek kesunyian subuh.

Yohan harus memilih.

Ia menarik napas. Kehidupan perkotaannya yang penuh ambisi kini benar-benar telah ia buang di api. Niat Pertukaran Jiwa Total yang utuh, yang membuat ibunya tersenyum saat berpisah, memaksanya menanggung beban ini.

"KEADILAN TELAH TERTUNTAS DI ALAM ROH!" Yohan berteriak keras, mengheningkan warga yang bertikai. Ia memancarkan otoritas penuh dari seorang Penjaga yang sejati, meskipun dirinya hanya sisa-sisa dari pemuda modern sinis. "Biarkan pengadilan kalian dipimpin oleh kejujuran, Gultom. Marta, Jiro, Bude. Kalian sudah mengakui kebenaran Ayah. Yalimo kini sudah dibersihkan secara spiritual dari kebohongan dan penipuan! Biarkan sisa hukum diserahkan pada hati nurani kalian!"

Yohan mengangkat Pusaka di atas kepala. Cahaya redupnya memberikan wibawa kosmik kepada Yohan.

"Tapi dengar! Ancaman Yalimo BUKAN lagi mereka yang di tanah! Mereka hanya instrumen kerakusan David! Yalimo kini digelapkan oleh Kutukan yang kalian sembunyikan! Aku sekarang harus berurusan dengan Pusaka ini, yang baru kurebut. Urus mayat yang masih hidup di sini!"

Yohan berjalan cepat ke area pembakaran paspor. Api telah padam, hanya menyisakan arang dan sisa-sisa abu identitas lamanya. Dia merasa kosong secara fisik, tetapi jiwa barunya kini terasa keras dan menentukan.

Gultom menatap Yohan, terpana dengan kekuatan baru Yohan. Mereka mengikat Marta, yang sekarang hanya terisak-isak dan berjanji akan memberikan semua informasi tambang. Yohan telah meninggalkan hukuman duniawi kepada desa, dan menerima tugas spiritual-nya sebagai Penjaga Pusaka sejati.

Yohan membalikkan tubuh dan beranjak dari Batu Persembahan, melewati semak-semak yang sudah berwarna abu-abu beku. Tugas telah selesai. Keluarganya dibebaskan. Dirinya termurnikan.

Seketika ia tiba di pekarangan rumah warisan Yosef, udara semakin gelap, meskipun subuh sudah tiba. Rumah yang tadinya terasa mengerikan karena roh Sumiati yang terkekang, kini terasa… kosong, namun masih penuh bahaya.

Yohan menjatuhkan dirinya di tangga rumah, Patung Pusaka itu disimpan hati-hati di sebelahnya. Rumah itu tidak terasa hangat; bahkan, suhu ruangan terasa dingin, jauh di bawah normal Yalimo.

Yohan duduk di sana, dikelilingi kehancuran. Kepuasan kemenangan pertamanya perlahan mengikis, digantikan oleh kengerian mendalam: Ia sudah mengira tugasnya selesai setelah membebaskan Sumiati dan menghukum Marta. Tapi kebebasan ibunya hanya memicu ancaman baru yang jauh lebih berbahaya dari semua musuh sebelumnya. Yohan menarik napas sulit, merasa Pusaka yang disampingnya itu berdenyut samar, menjanjikan malapetaka baru.

Ia menoleh ke Patung Pusaka. Ia yakin Pusaka Batu itu tidak berwarna hitam lagi, melainkan memancarkan pantulan cahaya merah pucat dari timur. Saat ia mendekat, Patung itu terasa menusuk telapak tangannya. Ini bukan pembebasan, Yohan. Ini pembersihan... yang membuka segel, batinnya ngeri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!