NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Mengikuti Permainan?

"Papa panggil aku?"

Pria berkaca mata bening itu mendongak dari yang semula fokus ke komputernya.

"Duduk! Bagaimana tentang gadis itu? Kamu sudah menemukannya? Papa dengar, papanya sudah meninggal."

Dia mengangguk, "Satu bulan ini dia pindah ke sekolah aku."

"Kok nggak bilang papa?"

"Aku lupa mau bilang."

"Terus, kenapa muka kamu cemberut gitu?"

Dia menghembuskan napasnya panjang, "Rumit. Dia tinggal sama Fattah sekarang. Aku takut dia kenapa-napa. Aku tau sendiri watak Fattah tuh gimana."

"Ba-bagaimana bisa?"

"Fattah tau kalau papanya Aqqela yang udah bunuh Sandrina demi kasus aku waktu itu," katanya serak membuat papanya terkejut.

"Fattah tau? Dia marah?"

"Awalnya. Aqqela sampai kabur dari dia. Aku temuin dia di halte dan bawa dia ke panti asuhannya pak Hadi. Waktu itu aku bingung mau bawa kemana karena udah cemas. Tapi akhir-akhir ini, aku lihat Fattah jauh lebih baik sama Aqqela."

"Kak, udahlah! Aqqela udah punya kehidupan sendiri-"

"Aku salah satu orang yang bikin dia menderita. Aku nggak mungkin diam aja. Kenapa papa se-jahat itu dulu? Ada banyak cara biar aku bebas, bukan dengan bunuh Sandrina juga."

Ayahnya melengos keras, "Sudah papa tekankan sama kamu, papa nggak tau apa-apa. Papa hanya minta Michael agar memenangkan kamu di persidangan, karena kita nggak punya banyak bukti untuk membela diri."

Pemuda itu langsung terdiam.

"Kak, papa melakukan semua ini untuk masa depan kamu. Kamu juga jangan terlalu mengusik Aqqela. Dia sudah punya Oliver yang bisa jagain dia. Sekarang ada Fattah juga. Kamu mau apa lagi memangnya?"

"Entahlah..." Dia bersuara lirih, "Awalnya aku pengen berteman sama dia. Tapi sekarang aku malu nunjukin muka aku di depan dia sebagai cowok yang satu tahun lalu dia temui. Karena aku salah satu orang yang ikut andil buat ngehancurin kehidupannya. Aku ngerasa bersalah. Aku... sayang Aqqela. Rasanya aku pengen jadiin dia adik aku."

"Kamu bilang dia sudah tinggal sama Fattah?"

Dia mengangguk pelan, "Emang. Tapi kalau sekali lagi Fattah jahat sama Aqqela, aku boleh bawa dia pulang, kan? Lihat Aqqela, aku ngerasa lihat Isabelle," katanya menyebutkan nama adiknya yang sudah meninggal.

Ayahnya mengangguk, "Iya. Itu pun kalau dia nggak benci setelah tau siapa kamu sebenarnya.

Awalnya papa pikir, kamu suka dia."

Pemuda itu berdecak, "Aku sayang Aqqela lebih dari yang papa tau. Tapi aku nggak pernah anggap dia lebih dari itu. Lagian, dia mana mau sama aku?" gerutunya membuat sang ayah terkekeh pelan.

Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia menggigit bibir, memainkan kunci motornya dengan pandangan menerawang.

Tiba-tiba teringat kejadian satu tahun yang lalu.

"Langsung duduk di sana!" kata petugas dengan tegas, "Masih kecil kok sudah bertindak kriminal. Kalau bukan karena papa kamu yang pejabat tinggi, mungkin kamu sudah di penggal dari kemarin karena lecehin anak orang."

Pemuda berkemeja putih dan ber-masker hitam itu merunduk takut dengan kedua tangannya di borgol. 'Jangan takut, lo nggak salah.'

"Itu anak pejabatnya? Tunjukin mukanya dong, dek! Masa ngumpet di masker?"

"Sampai hamil segala loh, astaga. Untung ketauan. Bunuh aja sih kalau misalnya nggak mau tanggung jawab."

"Kalau anak gue yang di gituin, udah gue mampusin tuh orang."

Flash dari kamera yang menyala menyilaukan tatapannya, membuat dia merunduk ketakutan.

"Pa, papa dimana...?" gumamnya sambil meremas tangannya dengan mata memerah ketakutan.

Dia sendiri tidak tau bagaimana keadaan media sekarang. Dia yakin, wajahnya sudah muncul dimana-mana sebagai anak pejabat yang terlibat kasus pelecehan seksual.

"Sudah hentikan, jangan ada yang memotret atau merekam apapun. Kalian yang tidak berkepentingan silahkan keluar!" kata petugas tegas.

"HUUUUUUUUUU!!!"

Polisi yang berjaga di lokasi segera mengambil alih tempat, mengamankan.

Pemuda itu terus melirik sekitarnya. Gelisah, takut, cemas, jika di berikan pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.

"Pak, sepertinya saksi tidak bisa datang ke persidangan ini karena dia mengalami kecelakaan semalam dan di nyatakan tewas di tempat."

Dia melirik, melihat para orang dewasa itu bisik-bisik.

Mungkin, hanya dirinya dan korban-yang mengaku dia lecehkan lah yang masih muda di sini.

Hingga kepalanya tanpa sadar menoleh ke belakang. Matanya melebar menemukan sosok gadis cantik berponi rata yang duduk di antara banyaknya orang.

Gadis itu melihat ke arahnya sambil mengepalkan tangan kecil dan tersenyum lebar.

"Fighting!" kata gadis itu agak malu-malu-karena tidak kenal, membuat mata cowok itu melebar tanpa sadar.

He, kenapa sama gadis itu? Kok semangatin dia segala? Padahal kan nggak kenal.

Aqqela berlari kecil mendekatinya dan membungkuk sedikit di belakang tempat duduknya, walau dia terlihat agak takut di maki orang-orang dewasa di sini.

"Makan permen dulu, mumpung sidangnya belum di mulai biar nggak tegang. Elo harus semangat, ya! Nggak usah takut gitu! Papa gue yakin kalau lo nggak salah. Dan gue selalu percaya sama papa," kata Aqqela ceria sambil menyodorkan permen, "Yang ceria, dong! Jangan sedih gitu!"

Pemuda itu mendelik.

Ini cewek dari planet mana, sih? Orang jadi tersangka di persidangan ya jelas sedih, lah.

Tapi entah kenapa dia malah tersenyum tipis di balik maskernya dan mengangguk.

Di saat semua orang mencacinya, dia malah datang menawarkan permen.

"Makasih!" katanya serak sambil mengangkat permen di tangannya.

"Aqqela, ngapain kamu? Ayo keluar! Umur kamu belum 17 tahun, loh."

Aqqela mendelik saat tangannya di tarik polisi, "Yah om, aku pengen lihat sidangnya."

"Heh, anak kecil nggak boleh lihat. Ayo keluar, jangan ganggu! Tunggu papa kamu di luar aja."

Aqqela manyun dan segera menurut.

Sementara pemuda itu menarik senyum tipis.

Hatinya menghangat.

Aqqela. Namanya Aqqela.

Wajahnya mengingatkannya dengan Isabelle adiknya.

***

Di dalam ruangan itu, keheningan masih menyelimuti.

Aqqela menatap canggung pemuda yang menatapnya dengan raut wajah sulit di artikan.

Apa dia masih marah, ya?

"Elo ... gimana keadaannya?" Dia menghela langkah mendekati.

Oliver masih diam. Tatapannya sayu dengan wajahnya tampak pucat.

"Udah baik-baik aja, kan?" tanyanya mendadak bingung saat melihat Oliver terus diam.

Apa benturan di kepalanya se-parah itu?

Oliver mengerutkan keningnya samar, memandang Aqqela intens.

"Are you okay?" Aqqela memegang pundaknya. Sentuhan itu membuat tubuh Oliver menegang seketika.

SINGGGGGG-

Oliver tersentak kaget, merasakan sekelebat bayangan muncul. Kepalanya mendadak terasa sakit saat skesta-skesta buram itu saling tumpang tindih di sana.

"Aqqela, pacaran sama gue mau nggak? Ya... walaupun gue tau sih lo nggak bakalan bisa nolak pesona gue."

"Dih, pede banget lo?"

"Iya lah, dari semua cowok di sekolah ini juga lo maunya cuma sama gue."

Oliver memejamkan mata rapat, mendengar suara-suara aneh yang membuat kepalanya berdenyut.

Tangannya bahkan mencengkram keras pinggiran brankar.

"Lo ngincar Aqqela anak IPA? Yang pinter itu? Ngeri anjir seleranya si Oliver sekarang."

"Emang bisa? Anaknya aja jutek gitu njir. Baru di godain aja udah keluar taring. Tipe-tipe anak pinter yang nggak mau kasih contekan waktu ulangan."

"Kasih gue 10 juta, kalau gue bisa dapatin tuh cewek dalam waktu satu bulan."

"Deal! Gue tambah 5 juta kalau lo bisa dalam waktu satu Minggu."

Napas Oliver tersenggal-senggal saat kepingan sketsa itu mencoba untuk membuat satu gambar utuh.

Tapi sayangnya blur.

"Jangan sok ganteng bisa nggak lo? Udah gue bilang, berhenti gangguin gue! Gue tuh nggak suka sama lo."

"Nggak mau. Mau gue ganggu terus sampai lo mau jadi cewek gue."

"Denger ya, Oliver Glenn Roberts! Sampai kapanpun, gue nggak berniat pacaran apalagi pacarannya sama cowok bandel kayak lo."

"Nih cewek nantangin banget sialan. Semua cewek di sekolah juga mau kali jadi cewek gue. Nggak usah sok jual mahal gitu, deh!"

SINGGGGGGG-

Bayangan blur itu semakin banyak berdatangan.

"Oliv, Oliver! Lo kenapa?" panik Aqqela melihat Oliver terus memegangi kepalanya.

"Lo stalking gue, ya? Kok lo tau gue di toko buku?"

"Hal kayak gini biasa. Orang sering menyebutnya jodoh."

"Sumpah ya nih cowok nggak tau malu banget."

"Jangan maki-maki gue terus! Awas lo kena karma."

"Karma apa?"

"Kalau lo terlalu benci gue, lo bakalan cinta mati sama gue akhirnya."

"Pede."

Aqqela sendiri kebingungan melihat Oliver yang kini meraih tangannya dan mencengkeramnya dengan mata memerah.

"Aqqela..." Serak Oliver bersuara. Merasakan napasnya terengah lelah dan tubuhnya gemetar ketakutan.

"Iya. Ini gue Aqqela. Kenapa kepalanya? Sakit?" tanyanya.

Genggaman tangan Oliver pada tangannya kian erat, saat memori demi memori masuk secara acak.

"Eh Aqqela, lo beneran sayang gue nggak Jangan-jangan lo terima gue karena kasihan lagi.''

"Apaan, sih?"

"Ck, kan baru jadian, makanya gue tanya.

Jawab, dong! Kepo, nih."

"Menurut lo?"

"Pengen denger dari mulut lo. Cepetan dong Qell, mumpung gue lagi berbunga-bunga nih habis lo terima."

"Iya, gue sayang."

"Aaaaa i love you pacar baru!"

Bahu Oliver langsung menurun.

"Aqqela Calista, gue akan menghancurkan lo. Sama persis dengan apa yang di lakuin bokap lo ke keluarga gue."

Oliver menggigit bibir keras dengan mata terpejam.

Dirinya seperti mengalami flashback. Gambar-gambar itu muncul secara acak.

Dan yang membuatnya tertegun, saat melihat bayangan seorang pemuda berseragam SMA mencium pipi kiri seorang gadis, lalu memeluknya di sebuah rooftop.

"Kamu nggak boleh kemana-mana nanti! Bahkan kalau kamu tau, kalau aku jahat ke kamu. Aqqela-nya Oliver, harus tetap di sini. Di samping aku."

"Aghrrr." Oliver meringis kesakitan, memegangi kepalanya membuat Aqqela tersentak.

Tidak tau apa yang terjadi, Oliver merasakan dirinya kembali di tarik ke dunia nyata.

"Oliver! Hei, sadar! Elo nggak kesurupan, kan?

DOKTER, DOKTER!" teriaknya hendak beranjak, namun tangannya di tahan oleh cowok itu.

"Jangan kemana-mana...!"

Dokter dan om Ravi berlarian memasuki ruangan.

"Kenapa, Qell?" tanya Ravi.

"Nggak tau om. Aku datang dia langsung kesakitan," kata Aqqela panik.

"Sebentar saya periksa dulu," kata dokter membuat Oliver mengerjap lemah saat dokter memeriksanya.

"Kamu ingat nama kamu?" tanya dokter membuat Oliver menatapnya.

Oliver diam, berpikir lama. Tapi selanjutnya dia menggeleng pelan, membuat Ravi dan Aqqela terkejut.

"Kalau sama dia, ingat?" Dokter menunjuk Aqqela.

Oliver mendongak menatap gadis itu. Kelopak matanya menyendu.

"Dia Aqqela. Ingat sekarang?" tanya Ravi papanya.

"Sedikit," balasnya serak.

"Sepertinya pasien mengalami amnesia. Tapi mungkin perlahan akan membaik, karena dia mulai mengingat beberapa kejadian. Pak, bisa bicara sebentar di luar?"

"Bisa, dok. Aqqela, jagain Langit dulu, ya!"

Ravi mengikutinya, meninggalkan mereka berdua.

Aqqela tercekat dan kehilangan kata-katanya, "Lo... amnesia?"

Oliver mengerutkan kening, menatapnya.

"Amnesia tuh apa?"

Aqqela mendesah, "Amnesia itu hilang ingatan. Lo ingat gue?"

Oliver menggeleng, tapi mengangguk kemudian.

Tidak terlalu banyak yang dia ingat.

Aqqela bisa membaca ekspresi itu.

"Nama gue Aqqela dan nama lo Oliver. Ingat?"

Oliver memegangi kepalanya yang berdenyut, "Gue Oliver?" tanyanya polos.

Ya Tuhan, terus bagaimana? Dia bahkan tidak ingat kalau Aqqela dan Fattah sudah menikah.

"Iya. Elo kecelakaan dan sekarang lagi di rumah sakit. Sore itu sebelum lo kecelakaan, kita ketemu di-"

"AGHRRRRRR!" Oliver berteriak merasakan kepalanya seperti di hantam benda keras.

"Oliver!" panik Aqqela merasakan tangannya di cengkram kuat cowok itu.

Oliver mendongak menatapnya dengan berkaca-kaca, "Jangan di paksain! Kepala gue sakit..." lirihnya.

"Iya, nggak di paksain."

Ceklek!

Pintu terbuka, menampilkan Fattah yang baru datang.

"Udah sadar lo?" tanya Fattah singkat.

Oliver menatapnya sesaat dan mendongak meminta penjelasan ke Aqqela.

"Dia Fattah. Mungkin kalian kayak tom and jerry kalau ketemu. Tapi dia nggak mau ngapa-ngapain kok, cuma mau jenguk elo," kata Aqqela.

Oliver mengangguk.

Fattah mengangkat alis sambil duduk di sofa, "Dia kenapa?"

"Kata dokter, Oliver amnesia."

Fattah mengerutkan kening, menatap Oliver lama, "Oh..." Dia meraih jeruk dan mengupasnya sambil merunduk dengan bibir menipis.

"Aqqela!" panggil Oliver.

"Ya?"

"Mau minum..."

"Oh, iya. Bentar!" katanya sambil meraih botol air mineral dan segera membantu Oliver meminumnya dengan sedotan.

Oliver tersenyum lebar, "Makasih!"

"Za, pinjam charger, dong!"

"Wait!" Aqqela berniat beranjak memberikan charger ke Fattah.

"Eh, mau kemana?" Oliver jadi kebingungan dan segera meraih lengannya, "Qell, di sini dulu!" pintanya memelas.

"Dia cuma mau ngasih charger. Apaan, sih? Nggak usah lebay deh lo!" umpat Fattah pedas.

"Gue nggak ngomong sama lo," kata Oliver sengit.

"Bentar, Oliv!" kata Aqqela memberikan charger-nya ke Fattah, "Nih!"

Fattah bangkit dari kursinya, "Udah lah nggak jadi. Gue keluar dulu, mau ngerokok."

Aqqela ternganga, "Lo marah?"

"Siapa yang marah?" Fattah mendelik.

"Lah itu muka lo sinis gitu."

"Muka gue emang gini." Fattah melirik Oliver sekilas, "Mending lo mandi! Sekalian basuh otak lo biar waras," sindirnya tajam dan segera melangkah keluar.

Oliver menatapnya bingung, "Dia kenapa, sih?" tanyanya, "Nyolot banget dari tadi."

Aqqela terkekeh, "Dia emang gitu. Tapi aslinya baik, kok."

"Oh, ya?" Entah kenapa Oliver merasa tak suka Aqqela memujinya.

"Lo beneran amnesia? Lo nggak ingat soal apapun?"

Oliver menggeleng cepat, "Aku nggak ingat apapun. Tapi aku sedikit tau, kalau kamu pasti pacar aku, kan?"

Aqqela membelalak, "Eh, bukan! Kita udah putus kok."

"Pu-putus?" Wajah Oliver langsung murung sekarang.

"Iya. Tapi kita masih temenan. Ya?"

"Kenapa?"

"Karena gue udah-"

Ceklek!

"Aqqela, ini makanan buat Oliver. Tolong di suapin, ya! Om harus balik ke kantor soalnya, urgent."

"Iya, om."

Ravi mendekati Oliver dan mengacak-acak rambutnya, "Cepat sembuh, boy!"

"Iya," balas Oliver pelan. Ayahnya segera keluar dari ruangan, "Yang tadi itu siapa?"

Aqqela menoleh ke Oliver, "Yang tadi itu ayah lo. Masa lo lupa?"

"Ayah?"

"Iya. Sekarang lo makan, ya!"

Oliver mengangguk sambil tersenyum. Dia mulai membuka mulut dan menerima suapan dari Aqqela banyak-banyak.

"Harus makan banyak-banyak, biar cepat sembuh."

Oliver mengunyah makanannya sambil terkekeh pelan.

"Kamu nginep, kan?"

"Enggak. Nanti pulang. Tapi gue bakalan tungguin lo sampai tidur."

Raut wajah Oliver langsung berubah, "Kenapa nggak di sini aja?"

"Besok ke sini lagi kok."

Aqqela dengan talaten menyuapi Oliver sampai habis.

"Udah kenyang. Aku pengen tidur," kata Oliver pelan.

"Oh, ya udah kalau mau tidur." Aqqela berdiri -membenarkan selimut hingga menutupi dada.

"Pengen di usap-usap kepalanya!" ucap cowok itu pelan, "Tungguin juga, ya!"

Aqqela diam sebentar, lalu mengangguk, "Iya," kata Aqqela.

Oliver merubah posisinya jadi miring membelakangi Aqqela, walaupun dia harus menahan sakit di kakinya. Tapi diam-diam, dia memejamkan mata-menikmati usapan Aqqela di kepala belakangnya.

"Elo harus cepat sembuh ya, Lang! Lo harus ingat semuanya..." kata Aqqela dengan mata memerah, "Supaya lo bisa maki-maki gue setelahnya. Dan gue nggak ngerasa bersalah lagi."

Tanpa Aqqela tau, ada setetes air mata yang jatuh dari mata Oliver. Pemuda itu menangis pelan sambil menggigit bibir keras-merasakan dadanya di hantam rasa sakit yang bertubi-tubi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang Oliver punya, dia mengambil telapak tangan Aqqela dari belakangnya dan di genggam erat, dengan posisi masih membelakangi gadis itu.

"Jangan pergi...!" pintanya serak sambil mencoba memejamkan matanya.

***

Sudah tiga puluh menit Aqqela menemani Oliver sampai cowok itu benar-benar tertidur.

Ceklek!

Aqqela menoleh, melihat Fattah yang baru masuk.

"Dia tidur?"

Aqqela mengangguk, "Mau pulang sekarang?"

"Ayo! Udah malem."

"Tapi bentar ya, gue mau ke kamar mandi dulu! Kebelet."

Fattah mengangguk, sementara Aqqela beranjak ke kamar mandi di ujung ruangan.

Hening.

Tatapan Fattah yang tenang seketika berubah menajam melihat ke arah Oliver.

"Gue tau lo belum tidur," katanya dingin.

Oliver menoleh sepenuhnya, menatap Fattah. Oliver tertegun sesaat dan mengangkat alis menatapnya.

Fattah tersenyum sinis, "Dan gue juga tau kalau lo bohong soal amnesia lo ke Aqqela," kata Fattah tajam.

"Gue nggak ngerti lo ngomong apa," balas Oliver datar.

"Gue dengar percakapan bokap lo sama dokter tadi. Ingatan lama lo baru muncul karena efek koma yang lo alami. Tapi lo udah berhasil ingat semuanya, cuma lo sengaja biar kelihatan masih amnesia," balasnya membuat Oliver terdiam.

Cowok itu menarik smirk samar, "So, lo mau apa? Ngadu ke Aqqela?"

"Ngadu?" Fattah terkekeh pelan dengan garis wajah dingin, "Bahkan waktu gue tau kalau lo punya dua pacar, gue sama sekali nggak bilang apapun ke Aqqela."

Ekspresi wajah Oliver mendadak berubah.

"Tapi gue pikir lo bener-bener udah keterlaluan sekarang," lanjutnya.

"Soal apa?"

"Amnesia lo. Buat apa lo bohong dan bertingkah seolah nggak pernah terjadi apa-apa?"

Oliver menarik senyum miring, "Gue cuma nggak mau Aqqela nge-jauh. Se-simpel itu. Gue pengen bersikap kalau gue nggak tau apa-apa soal pernikahan kalian, biar Aqqela tetep di samping gue."

"Semuanya udah berantakan-"

"Ya, dan biarin semuanya hancur sekalian.

Gue ikuti permainan lo," kata Oliver penuh penekanan.

Tatapan tajam Fattah langsung berubah dingin, "Maksud lo?"

"Soal Aqqela. Lo nggak bener-bener suka dia, kan? Karena dia cuma anak Michael pembunuh cewek lo. Iya, kan?" Oliver mendesah berat, "Jadi lepasin dia! Lo nggak akan bisa jagain Aqqela lebih baik dari gue."

Tatapan Fattah jadi nyalang sekarang, "Kenapa gue harus nurutin lo?"

"Karena dari awal dia milik gue. Dan tempat Aqqela selamanya ada di samping gue. Berhenti dari sekarang, sebelum lo yang hancur sama permainan lo sendiri!"

Fattah terkekeh pelan, "Gue nggak nge-habisin waktu cuma buat main-main."

Oliver hampir mengumpat dan naik pitam setelahnya.

Ceklek!

Pintu terbuka, menampilkan sosok Aqqela yang keluar selesai gadis itu membasuh muka.

"Ayo pulang!" ajaknya pada Fattah, lalu menoleh ke Oliver, "Kok lo bangun?"

"Iya, kebangun tadi. Kalau mau pulang, pulang aja nggak papa."

Aqqela menipiskan bibir dan mengangguk, "Ya udah, gue pulang, ya! Bye!"

Oliver mengangguk, "Hati-hati di jalan!"

"Ayo!" Fattah langsung menarik tangan Aqqela dan membawanya keluar.

Masih di iringi tatapan tajam pemuda itu.

"Brengsek!" umpat Oliver menonjok brankar-nya geram.

***

Aqqela melangkah ke arah dapur ingin mengambil minum.

Namun melihat Fattah yang berdiri di depan kulkas, cewek itu tersentak dan menghentikan langkah.

Entah kenapa pandangan Aqqela terkunci begitu saja melihat wajah Fattah yang tampak dingin dan melamun diam sambil memegang gelas kacanya.

Aqqela memutuskan menghampiri, "Elo udah selesai ambil minum?"

Fattah menoleh padanya membuat Aqqela yang baru akan membuka pintu kulkas jadi tersentak. Dia terpaku, membalas tatapan datar Fattah.

"Kenapa? Gue cuma mau ambil minum kok," kata Aqqela sambil meraih satu botol air minum dan menuangkannya ke gelas.

Aqqela meneguknya, walau ekor matanya melirik Fattah yang kini mengangkat alis dan menatapnya dalam-dalam.

"Udah jam 12, nih. Elo nggak tidur?" tanya Aqqela menutup pintu kulkas.

Fattah menghela napas panjang. Yang tidak lama, kerlipannya jadi berubah. Kelopak matanya meredup.

"Kenapa? Demam lagi, ya?" Aqqela menyentuh kening Fattah.

Cowok itu menggeleng.

"Kok murung gini?" Aqqela meraih kedua pipi Fattah, "Lagi kesel, ya?"

"Bukan..." sahutnya serak sambil menggeleng.

"Marah sama gue?"

"Enggak."

"Ya udah, tidur kalau gitu! Udah malam," kata Aqqela berbalik badan ingin pergi.

"Aza!" panggilnya pelan membuat Aqqela menghentikan langkah.

"Ya?" Dia berbalik badan. Menatap Fattah yang memberikan aura pilu dan emosi jadi satu.

"Boleh minta peluk nggak?"

Aqqela melebarkan mata menatap cowok itu bingung. Dia sampai mengerjap-ngerjap, menatap aneh Fattah.

"Elo kenapa?" tanyanya belum berniat beranjak.

"Boleh peluk?" ulangnya meminta dengan pelan.

"Ya udah sini di peluk!" katanya sambil mendekat dan meraih tubuh Fattah ke dalam pelukannya, membuat cowok itu segera mendekap pinggangnya dan menaruh dagunya di bahu Aqqela.

Matanya terpejam, merasakan usapan lembut di kepala belakangnya karena tangan mungil gadis itu.

"Ada masalah, ya?" tanya Aqqela.

Fattah menggigit bibir dan menggeleng, "Nggak ada."

Entahlah, sejak tau bahwa Oliver justru membiarkan semuanya hancur dan akan mengikuti permainannya, Fattah jadi resah.

Entah apa rencananya sekarang.

"Terus kenapa kayak gini?"

"Cuma pengen di peluk sama lo aja. Gue lagi capek," balasnya sambil memejamkan mata dengan pipinya tercantel lemah di bahu Aqqela.

"Za!"

"Hm?"

"Oliver lagi sakit. Elo bakalan di sampingnya terus?"

Aqqela tersentak saat di berikan pertanyaan agak aneh itu, "Kenapa? Elo marah, ya? Nggak suka? Kalau lo marah-"

"Enggak." Fattah menggeleng, "Gue tau perasaan lo ke dia. Lo pasti lagi khawatir sama keadaannya dan masih sayang banget."

Aqqela melebarkan mata, "Ka, elo ngomong apa, sih?"

"Nggak usah di jawab deh, gue nggak suka dengernya," katanya kesal.

Aqqela terkekeh pelan, "Ka, prioritas gue bukan Oliver lagi sekarang. Kan gue udah punya elo."

Fattah terdiam begitu saja.

"Kalau emang lo nggak suka gue ke rumah sakit, ya gue nggak akan pergi."

Fattah melepaskan pelukan dan menatap Aqqela bingung, "Kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa pendapat gue jadi penting buat lo?"

Aqqela mendelik dan menarik gregetan pipi kiri Fattah, "Karena elo suami gue."

"Oh, kirain..." Fattah melengos pelan. Kirain karena udah naksir, sial.

"Jadi, elo nggak suka gue ke rumah sakit?"

"Harusnya nggak suka. Tapi kalau lo perginya bareng gue, nggak papa."

Aqqela terkekeh dan mengacak-acak poni cowok itu, "Cemburu ya lo? Cih, dah gue duga lo tuh cinta mati sama gue. Makanya jangan jahat-jahat di awal. Kena karma lo."

Fattah menonyor pipinya kesal, "Elo istri gue, jelas gue nggak terima. Itu bukan cemburu namanya," katanya masih ngeles.

"Hadehhh, capek emang ngomong sama orang yang gengsinya tinggi. Padahal sih gue tau ya, kalau lo udah naksir gue," katanya sombong.

Fattah mencibir sok sinis dan memalingkan muka, "Boleh tanya lagi?"

"Apa?"

"Kenapa lo masih bertahan sama gue?"

"Kita udah nikah. Sah di mata negara dan Tuhan. Kalau pun pisah sama lo juga susah, kan?"

Fattah membelalak kesal, "Jadi elo mau pisah sama gue?" tuduhnya galak.

Aqqela mendelik, "Bukan gitu."

"Tapi omongan lo menjurus ke sana. Elo tuh emang nggak pernah hargain gue. Ya udahlah terserah," katanya menepis tangan Aqqela membuat cewek itu terkekeh.

"Kok lo ketawa? Nggak lucu ya Za," katanya sungguh-sungguh.

"Kamu kok gemesin banget, cih?" Aqqela menarik-narik pipi Fattah yang empunya merenggut.

"Paan sih lo? Sok asik!" Fattah membuang muka masam.

Aqqela tertawa lagi lalu menarik napas panjang, menatap Fattah jadi serius.

"Mungkin elo nggak denger waktu itu gue ngomong di kamar."

"Apa?" Fattah mengangkat alis.

"Gue emang benci sama lo-"

"Kan, dah gue duga." Fattah menatapnya sengit.

"Tadinya," jelas Aqqela.

Fattah reflek terdiam tapi sambil meliriknya tak suka.

"Tapi setelah tinggal bareng, kayaknya lo nggak buruk-buruk banget."

Alis Fattah terangkat, "Jadi?"

Aqqela menggaruk pelipisnya sambil meringis kecil agak canggung.

"Y-ya...gitu, deh."

"Gitu apa? Yang jelas, dong!"

"Gue sendiri juga bingung sama diri gue sendiri. Semuanya jadi aneh. Tapi..." Aqqela menatap ke arah lain sebentar, lalu menatap ke arah Fattah lagi, "Gue masih pengen di sini.

Bareng sama lo terus. Nggak papa, kan?"

Fattah tersentak dan membulatkan mata begitu saja.

Tubuhnya membeku dan terpaku di tempat.

Entah kenapa dadanya jadi berdebar hangat sekarang.

"Udah ah, gue mau ke kamar," kata Aqqela beranjak pergi sambil bertingkah biasa-biasa saja.

Fattah segera menyusulnya. Susah payah membendung senyum lebarnya yang lepas begitu saja saat di samping gadis itu menuju ke kamar mereka masing-masing.

"Elo beneran tetep mau di sini? Bareng gue?"

Aqqela mengangguk kecil.

"Kenapa? Di sana ada Oliver padahal," katanya lagi-lagi memancing.

Aqqela menoleh dengan hampir maju mencakarnya, "Elo tuh sengaja mau ribut, ya? Gue nggak ada bahas Oliver biar nggak berantem, tapi elo bahas Oliver terus. Naksir dia lo, ya?"

"Najis!" umpat Fattah, membuat Aqqela mencibir.

Fattah menggaruk tengkuknya, "Tapi kalau udah milih tinggal di sini, nggak boleh kabur-kabur lagi loh. Yakin?"

Aqqela mati-matian menahan tawanya, "Iya-iya suami akoh."

Fattah membelalak. Giliran dia yang jadi salah tingkah sekarang.

Fattah berdehem sambil mengangkat dagunya sok cool, "Nggak usah genit deh lo. Nggak mempan di gue," katanya sok ganteng membuat Aqqela mendelik.

"Lo tuh punya masalah hidup apa sih heran?" cibir Aqqela.

"Fix ya? Awas lo kabur lagi demi Oliver!" kata Fattah masih tak yakin.

Aqqela mengangguk, "Iya siap bos."

Keduanya melangkah beriringan dan berhenti di depan pintu kamar mereka masing-masing.

Keduanya saling melirik singkat, lalu kembali membuang muka seperti malu-malu, dan masuk ke kamar masing-masing.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!