Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong Febi
"Kamu yakin kita akan diterima?" tanya Cica ketika besoknya diajak Juwita ke perusahaan Jetro.
"Yakinlah. Nanti setelah jam makan siang, kita ijin. Pura pura mau ngasih laporan perkembangan mental tahanan yang pernah dia dan saudara saudaranya laporkan," jelas Juwita panjang lebar.
Setelah kemarin mendengar cerita ngenas Febi, Juwita ngga bisa tidur malamnya. Dia merasa sangat bersalah karena sudah membenci dan menduga macam macam pada temannya itu.
Jadi pagi ini, dia sengaja datang sangat awal karena Juwita tau kalo Cica suka datang lebih cepat dari pada dua temannya yang lain. Menurutnya Cica bisa diharapkan untuk menemaninya melaksanakan rencananya.
"Memangnya nanti kamu mau ngomong apa?" tanya Cica sambil menatap dalam teman yang dulu selalu membuatnya naek darah.
"Tanya, dong, dia serius ngga sama Febi. Kesempatannya hanya tinggal beberapa hari lagi saja kalo dia mau serius sama Febi."
Mata Cica agak membelalak tak percaya.
"Kamu berani ngomong gitu?"
Juwita mengedikkan bahunya.
"Berani ngga beranilah."
Cica berdecak.
"Jangan jangan nanti di depan Pak Jetro kamu malah jadi bisu."
"Kamu bantu aku juga, dong. Memangnya kamu ngga kasian sama Febi?" sanggah Juwita.
"Kasianlah." Cica mencoba berpikir lagi tentang ide Juwita.
"Ya, udah. Nanti jam satu kita pergi."
Akhirnya Cica mengangguk.
"Okelah."
Cica tersenyum senang. Dalam hati berharap semoga rencananya berhasil.
*
*
*
Cica ternyata ngga yakin kalo hanya berdua saja pergi ke perusahaan Jetro. Jadi dia membocorkan rencananya dengan memberitau Hana dan Nashwa juga.
Untungnya kedua temannya langsung setuju dan mau ikut serta.
"Kalian mau kemana?" tanya Febi heran karena keempatnya pamit pergi tanpa dirinya.
"Ada yang harus kami kerjakan," sahut Cica cepat.
Kening Febi agak berkerut. Tatapan Cica dan sikap ketiga temannya agak mencurigakan.
"Kamu bantu kerjain laporan kita, ya. Tau sendiri Pak Cakra bakal ngomel kalo kerjaannya ngga selesai," tukas Hana sambil nyengir.
"Dasar."
"Kita ngga pergi lama, kok," sambung Nashwa dengan senyum di bibirnya.
"Ya, udah, hati hati." Febi merapikan kertas kertas yang diberikan keempat temannya.
"Makasih, ya, Febi." Keempatnya melambaikan tangannya dengan senyum lebar sambil berjalan meninggalkan Febi sendiri dan kertas kertas kerjaan mereka.
"Sebenarnya mereka mau kemana, sih?" gumamnya sambil terus menatap punggung keempatnya yang berjalan menjauh.
*
*
*
Untung saja Jetro ada di ruangannya dan bisa menerima kehadiran mereka.
"Wiiih.... Kalo Febi bisa jadian dengan Pak Jetro dia akan jadi nyonya polwan sosialita," decak Cica kemisoan tersenyum lebar.
Keempatnya tersenyum lebar, meteka satu pendapat dengan Cica.
Gedung perusahaan Jetro sangat megah dan mewah. Ditambah Jetro merupakan salah satu pewaris keluarga Airlangga yang merupakan konglomerat.
"Kita bisa ditraktir makan siang tiap hari kalo Febi jadian sama Pak Jetro," ceplos Nashwa yang dibalas tawa pelan mereka, karena kini pintu lift yang membawa mereka sudah ke lantai ruangan Jetro sudah terbuka.
Seorang gadis cantik dan seusia mereka ternyata sudah menunggu.
"Saya sekretaris Pak Jetro. Pak Jetro sudah menunggu," ucapnya ramah.
Mereka pun mengikuti langkah kaki sekretaris Jetro menuju ruangan bosnya.
"Febi ngga akan cemburu kalo tau Pak Jetro punya sekretaris secantik ini?" bisik Juwita.
"Kalo aku jadi Febi, akan aku pecat nanti," kekeh Cica pelan.
Ketiganya juga tertawa pelan.
*
*
*
Untung Cica membawa kedua temannya, karena seperti perkiraannya Juwita langsung membisu setelah memberikan laporan kejiwaan tahanan.
Jetro.yang awalnya excited karena mengira Febi yang datang bersama teman temannya, jadi agak kecewa.
Padahal dia sudah merapikan penampilannya.
"Maaf, Pak Jetro, ada yang mau kami sampaikan lagi."
Cica menoleh pada Nashwa yang mengambil inisiatif setelah melihat Juwita yang hanya diam saja.
"Ya?"Jetro menatap polwan yang mulai berbicara.
"Kami teman temannya Febi, pak." Nashwa mencoba menenangkan diri. Laki laki di depannya terlalu tampan, dia jadi agak gugup.
Jetro jadi tertarik mendengarnya.
"Sebenarnya Febi juga menyukai Pak Jetro, tapi dia harus menikah dengan pilihan papanya." Nashwa menghembuskan nafas lega setelah mengatakannya.
Dada Jetro berdesir mendengarnya.
Febi menyukainya juga.
"Kami kasian dengan Febi, pak. Dia tidak bisa menolak keinginan papanya," sela Cica ikut membantu Nashwa.
Jetro menganggukkan kepalanya.
"Kalo.... kalo Pak Jetro menyukai Febi, mungkin pak Jetro bisa membatalkan pernikahannya," sambung Juwita yang akhirnya bisa juga bicara.
Pasti orang sekaya raya Pak Jetro bisa melakukan apa saja. Mungkin bisa menculik Febi di hari pernikahannya, ide gilanya dalam hati. Ngga mungkin bisa dia katakan.
Cica, Hana dan Nashwa saling tatap. Kata kata yang diucapkan Juwita terlalu terus terang. Memang ini yang mereka inginkan, tapi mereka merasa tetap salah karena sudah ikut campur terlalu dalam di masalah Febi.
"Maaf, pak, kalo yang kami ucapkan kurang berkenan di hati Pak Jetro. Kami pamit, pak," ucap Cica sambil memberi kode pada ketiga temannya untuk pulang.
"Ngga apa apa. Terimakasih, ya." Jetro menyahut ramah.
*
*
*
"Kita ngga terlalu ikut campur, kan?" tanya Cica setelah mereka berada di dalam mobil.
Hening karena mereka sibuk memvalidasi tindakan mereka dalam hati.
"Niat kita, kan, baik. Semoga aja Pak Jetro memang serius dengan Febi," cuit Juwita tulus.
"Kamu, kan, yang sempat menyangsikannya," sindir Cica.
Juwita tersenyum.
"Maaf, ya."
"Dimaafkan," jawab Cica kemudian tertawa pelan, begitu juga kedua teman mereka yang lain.
*
*
*
Febi menatap gaun pengantin yang akan dia kenakan besok. Dia memegang bahannya yang halus dan indah. Harusnya gaun ini milik pengantin yang mencintai pasangannya.
Febi teringat lagi pertemuan terakhirnya dengan laki laki itu di pesta pernikahan sepupu laki laki itu.
Huuuffhh....
Febi menghela nafas kasar. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah tindakannya yang membuat jantung Febi berdebar kencang.
Laki laki itu juga tidak mengirim pesan. Apalagi menelponnya. Dia seperti dighosting.
Sebenarnya masih pantas tidak dia berharap pada Jetro?
Febi menatap bunga bunga mawar yang masih belum layu di atas meja karena artnya bik Samiati rajin mengganti air di vasnya.
Febi mengambil kartu yang bertuliskan nama Jetro.
Besok aku akan menikah. Tapi kamu tidak peduli. Kalo kamu masih menunjukkan perhatian setelah aku menikah, sudah terlambat. Aku ngga akan peduli lagi, batinnya sedih. Kemudian dia meletakkan kartu tersebut di samping vas bunga.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,