NovelToon NovelToon
Sepupuku Suamiku.

Sepupuku Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: selvi serman

Kepergok berduaan di dalam mobil di daerah yang jauh dari pemukiman warga membuat Zaliva Andira dan Mahardika yang merupakan saudara sepupu terpaksa harus menikah akibat desakan warga kampung yang merasa keduanya telah melakukan tindakan tak senonoh dikampung mereka.

Akankah pernikahan Za dan Dika bertahan atau justru berakhir, mengingat selama ini Za selalu berpikir Mahardika buaya darat yang memiliki banyak kekasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Sorot mata Mahardika menunjukkan jika pria itu tengah di selimuti kabut gai-rah dan Za dapat melihat dan merasakannya. Di saat hatinya sempat meragu, Za teringat akan kakak iparnya, Inara. Di mana Inara pernah mengaku tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap Faras meksipun saat itu Inara belum tahu seperti apa perasaan sang suami terhadapnya, Inara melakukan semua itu karena sadar akan kewajibannya. Jika Inara bisa lalu mengapa ia tidak bisa, begitu pikir Za. Kalaupun pada akhirnya rumah tangganya bersama Mahardika tidak akan bertahan, bukankah orang-orang akan mengenalnya sebagai seorang janda dan faktanya seorang janda tentunya tak suci lagi, bukan.

Entah sejak kapan Mahardika melakukannya, yang jelas kini tu-buh Za tak lagi mengenakan sehelai benangpun, begitu pun dengan Mahardika

"Sayang....mas sudah nggak tahan, boleh mas melakukannya?." pertanyaan Mahardika yang terdengar begitu lembut dijawab dengan anggukan pelan oleh Zaliva.

Jujur, rasa malu dihati Za berbanding dua kali lipat dari pasangan suami-isteri pada umumnya, mengingat ia dan Mahardika bukan hanya berstatus sebagai suami istri tapi juga merupakan saudara sepupu, terlebih sebelum menikah keduanya kurang akur. Lebih tepatnya sih, Za yang selalu menjuluki Mahardika dengan sebutan buaya darat sehingga membuat keduanya kerap kali terlibat perdebatan kecil saat masih remaja. Sungguh, dahulu Za tidak pernah menyangka jika suatu hari nanti ia akan menyerahkan mahkotanya pada lelaki yang dijulukinya dengan sebutan lelaki buaya darat.

Pada akhirnya, sesuatu yang sudah seharusnya terjadi pada pasangan suami-istri, malam ini terjadi pada Mahardika dan Za. Selimut putih yang menutupi tu-buh polos pasangan suami-isteri tersebut menjadi saksi bahwa Za telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri bagi Mahardika.

Sebuah kecu-pan lembut penuh kasih sayang mendarat di kening Za setelah permainan mereka usai. "Terima kasih, sayang." ucap Mahardika dengan tatapan dalam.

Za mengangguk, membalas tatapan dalam suaminya itu. Kata sayang yang terucap dari bibir Mahardika membuat Za bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar menyayanginya atau hanya sekedar menggunakan panggilan yang akan menyegarkan telinga. Tapi apapun alasannya, saat ini ia tetaplah istri dari seorang Mahardika Putra dan berkewajiban memenuhi kebutuhan biologis suaminya itu,. begitu pikir Zaliva.

Za tidak ingin terlalu memikirkan untuk ke depannya, bahkan keinginannya kembali ke kota kelahirannya pun tak lagi terlalu dipikirkan oleh wanita itu, karena faktanya di ibukota ia sudah memiliki pekerjaan yang tidak akan membuatnya bosan hanya berdiam diri di rumah saja. Ya, wanita, karena sekarang Za bukanlah lagi seorang gadis sebab kegadisannya baru saja diserahkannya kepada seseorang yang sudah seharusnya mendapatkannya, yakni suaminya.

Mungkin karena kelelahan mengimbangi permainan Mahardika, Za pun akhirnya terlelap di dalam pelukan sang suami.

Suara kicauan burung-burung serta sinar mentari yang nampak malu-malu menyusup melalui sela-sela ventilasi kaca membangunkan Za dari tidurnya. Za merasa tubuhnya seperti mau remuk semua. Bagaimana tidak serasa mau remuk semua badan Za jika faktanya saat menjelang subuh Mahardika kembali menyentuhnya. Rasanya Za ingin merutuki siapapun wanita yang mengatakan bahwa malam pertama adalah malam yang paling indah dan mengasyikkan, karena kenyataannya ia bahkan tak ingin beranjak dari tempat tidur saking lelahnya. Kalau tidak mengingat ia baru beberapa hari mulai bekerja, mungkin Za akan memilih tidur atau bermalas-malasan di tempat tidur seharian.

"Kamu sudah bangun, sayang?." suara serak khas orang baru bangun tidur mengalihkan perhatian Zaliva pada Mahardika. Ia yang masih enggan bangkit dari posisi tidurnya lantas mendongakkan kepala, menatap Mahardika.

"Hm."

"Irit banget jawabnya." balas Mahardika dengan mengulas senyum tipis sambil membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata.

"Maaf ya sudah membuat kamu kelelahan." Mahardika mengulurkan tangannya mengelus lembut rambut panjang Za yang kini masih berada di dalam dekapannya.

"Kalau kamu lelah, hari ini nggak perlu berangkat kerja dulu, biar mas yang akan meminta izin buat kamu. Mas akan menghubungi Hendrik. Kamu istirahat saja di rumah, dan mas akan menemani kamu."

Sontak saja Za membulatkan matanya. Jika ia seharian di rumah dengan ditemani oleh suaminya, yang ada bukannya beristirahat tapi justru semakin lelah nantinya. Karena, tidak menutup kemungkinan Mahardika akan kembali menyentuhnya.

"Tidak perlu mas, lagi pula aku baik-baik saja kok." Ujar Za, berusaha menunjukkan dihadapan Mahardika jika ia baik-baik saja dan tak masalah jika berangkat kerja.

"Apa kamu yakin?." Mahardika tidak yakin jika istrinya itu baik-baik saja, mengingat wajah Za terlihat sedikit pucat, mungkin karena kurang tidur.

"Yakin, sangat yakin bahkan." jawab Za.

"Mendingan aku tetap berangkat kerja ketimbang tetap dirumah tapi ditemani sama kamu, mas, Yang ada aku makin lelah." imbuh Za, tapi hanya di dalam hati saja.

"Baiklah kalau memang itu keinginan kamu, tapi sebelum itu mas ingin memastikan jika kamu baik-baik saja dan aman untuk tetap berangkat kerja."

"Kamu mau ngapain, mas." tanya Za dengan mimik wajah panik di saat Mahardika hendak menyibak selimut yang menutupi tubuh po-losnya.

Mahardika tidak menjawab dengan kata-kata, namun sorot mata pria itu melirik ke area sen-sitif Zaliva, Dan Za bukanlah seorang anak kecil yang tak paham dengan apa yang ingin dilakukan Mahardika.

"Tidak perlu, mas! Aku akan memeriksanya sendiri nanti." tolak Za. Yang benar saja Mahardika ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Za malu setengah mati.

"Tidak perlu malu sayang, lagipula semalam mas sudah melihat semuanya." rasanya Za ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi saking malunya mendengar perkataan Mahardika. Bisa-bisanya pria itu berbicara seperti itu dengan entengnya, tanpa beban sama sekali.

"Mas...." rengek Za, seolah mengisyaratkan pada Mahardika untuk berhenti membahas tentang hal yang membuatnya malu setengah mati.

"Kalau merengek seperti ini, kamu terlihat semakin menggemaskan, Zaliva." batin Mahardika, mengulas senyum dihadapan Za. Senyum yang terlihat begitu menawan di mata Zaliva. Za sontak menggelengkan kepalanya, seakan menepis sesuatu di hati dan pikirannya, kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Sebelum ada drama gendong-menggendong Za berusaha menekan rasa sakit di area sen-sitifnya dan mulai mengayunkan Langkah menuju kamar mandi.

"Rupanya rasa malu mengalahkan rasa sakitmu, sayang." Sebenarnya Mahardika tak tega melihat sang istri berjalan sendiri tanpa bantuannya, akan tapi Mahardika juga tak ingin bertindak sesuka hati dengan menggendong Za menuju kamar mandi. Bisa jadi apa yang akan dilakukan olehnya nanti justru memancing perdebatan kecil diantara mereka, karena Mahardika tahu betul dengan Sifat dan watak Za yang tak suka di paksa.

Seperti sebelumnya, setelah mandi, bersiap dan juga sarapan bersama, pasangan suami-isteri tersebut pun segera berangkat. Ya, pagi ini Mahardika lah yang membuat sarapan pagi. Mahardika sengaja menyiapkan sarapan di saat Za sedang mandi tadi.

Setelah mengantarkan Za ke rumah sakit, Mahardika pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan. Seperti biasa, Kedatangan Mahardika pagi itu di sambut oleh asisten pribadinya.

"Selamat pagi, tuan."

"Pagi, Bimo." balas Mahardika dengan senyum ramahnya, dan itu berhasil menciptakan kerutan halus di dahi pria yang akrab di sapa asisten Bimo tersebut. Pasalnya baru kali ini Mahardika membalas sapaan darinya padahal biasanya Mahardika hanya merespon dengan anggukan sekilas.

Fiks, ada yang berbeda dengan sikap tuannya pagi ini, begitulah kira-kira dalam hati asisten Bimo yang kini berjalan beberapa langkah dibelakang tubuh Mahardika.

Jangan lupa ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya sayang-sayangku....biar aku makin semangat up nya.....btw thanks all.... I love you all....

1
Anisa Yuliati
luar biasa
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Jumi Eko
Bagus
Yulia Sunarya
ceritanya bagus alurnya keren 👍
Deera__
wah wah wah ujug ujug SAH aja😭😭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

kageet akuu /Chuckle//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Lupa Nama
kak,,q mau tanya,,apa Mahardika sepupu zaliva dr pihak ibu,,trus Abil sepupu zaliva dari pihak ayah,,kok dua2nya sepupu zaliva🙏🙏🙏🙏🙏
Selvia: yes👍👍👍👍
total 1 replies
Marina Tarigan
mknya ngomong jangan sembarangan apa hasilnya kamu yg blangsatan achirya kan walau kamu diguyur air comberan sekalipun kamu mau karena sdh gerah ya
Marina Tarigan
kenapa Abil masih ingat perkataanmu tdk akan menyentuh istrimu spi kapanpun kamu pria paling jahat sedunia berkata kasar yg menyakitkan perasaan wanita yg super dlm segala hal kecuali harta mulutmu jahat apa kah achirnya kamu bucin akut nantinya kalau didunia nyata mulutmu sdh ku sumpal biar tdk ngomong sembarangan
Marina Tarigan
jodoh gak kemana ya yang dekat bisa jauh yg jauh bisa dekat deh
Marina Tarigan
benar Hilda Bemo itu orang pintar dan bertanggung jawab kamu nantinya bahagia bersamanya
Marina Tarigan
bagus Juli kamu bkn utk baby sitter zaki kamu orang terhormat kalau Abil tdk menganggapmu ya sudah selesai pernikahan adikmu minta cerai saja pikirkan dirimu bukan orang lain yg tdk menganggapmu biarkan dia terus mikir ke arwah istrinya
Marina Tarigan
jadilah suami layaknya seoranf suami Abil istrimu juga bukan wanita sembarangan dia takdirmu perlakukan dia layaknya seorang istri
Marina Tarigan
semoga rmh tgga kalian dipenuhi cinta luar biasa nantinya salut karaktermu dr Juli
Marina Tarigan
dr za idiot pikiran ngelantur ke mana2 mknya jgn ngomong sembarangan nantinya kamu yg cinta mati sm Dika. aneh
Marina Tarigan
terima kasih dr. juli jaga martabatmu dgn baik Dika bukan jodohmu
Marina Tarigan
reaksi ulat bulu ketek pasti marah dlm hati ya semoga dia jgn memusuhi da Za dgn diam2
Marina Tarigan
sdhlah juli jgn mengharapkan yg tdk mungkin Dika sdh menikahi gadis yg di intainya jgn jadi pengganggu rmh tgga orang lain memalukan seorang dr sps anak lagi cinta tdk bisa dipaksakan tdk baik mencintai suami orang lain
Marina Tarigan
masih mau cerai Za suamimu orang penting di tempatmu bekerja banyak wanita menginginkan suamimu jgn keras kepala lah
Marina Tarigan
mertua sengaja ya agar Za dan Dika berduaan dirumah utk mendekatkan Za Dika ya sadarlah Za suamimu diincar banyak wanita lebih dari kamu jgn nanti menyesak deh
Marina Tarigan
ntah daei mana dr Za ketahui Dika buaya darat wanita yg tergila2 dgn suamimu kalaupun kamu pusah dari Dija banyak pengagumnya padahal suamimu katakan dia rxk pernah main2 dgn wanita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!