Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Mata Langit(fix)
Langkah kaki Fang Yuan terhenti saat hutan mulai menipis, digantikan oleh pemandangan tembok kota yang menjulang tinggi seperti raksasa yang tertidur.
Kota Awan Putih. Di atas gerbangnya, bendera-bendera sutra berkibar, menandakan kekuasaan dan kemakmuran yang jauh dari kemiskinan Desa Batu.
Fang Yuan menepuk leher kasar Chi Yan Zhu. "Pergilah. Tetap di dalam hutan ini, tapi jangan terlalu jauh. Jika aku memanggil, kau harus ada di sana."
Babi hutan raksasa itu mendengus pelan, matanya yang merah menatap Fang Yuan sejenak—sebuah tatapan yang berisi kepatuhan murni, sesuatu yang aneh untuk seekor binatang iblis yang liar.
Dengan satu sentakan tubuh, makhluk itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan.
"Dasar babi sialan." gumam Fang Yuan dengan senyum tipis.
Pikirannya melayang kembali ke masa saat ia berusia sembilan tahun.
Saat itu, ia menemukan Chi Yan Zhu tergeletak dengan perut robek akibat serangan hewan lain.
Fang Yuan yang masih kecil, alih-alih lari ketakutan, justru melihat sebuah peluang. Selama berbulan-bulan, ia datang setiap hari.
Awalnya, babi itu mencoba merobek lehernya seribu kali. Fang Yuan hampir mati seribu kali karena taringnya.
Namun, dengan keteguhan hati yang gila, ia terus membawakan tanaman obat dan sisa makanan.
Pada percobaan ke-seribu, saat Fang Yuan meletakkan umbi hutan di depannya, babi itu tidak lagi menggeram.
Ia menundukkan kepalanya. Itulah pertama kalinya Fang Yuan menyadari bahwa kegigihan bisa menaklukkan kekuatan liar.
Saat Fang Yuan mulai berjalan menuju gerbang kota, ia merasakan perbedaan yang semakin nyata dalam dirinya.
Menjadi seorang Kultivator ranah Kondensasi Qi Sempurna bukan hanya tentang memiliki kekuatan fisik, tetapi tentang perubahan cara memandang realitas.
1. Filter Dunia yang Berbeda
Bagi manusia fana, udara hanyalah ruang kosong.
Bagi Fang Yuan, udara adalah lautan energi. Ia bisa melihat partikel Qi yang melayang seperti debu emas di bawah sinar matahari.
Ia bisa merasakan arah angin bukan dari sentuhan di kulit, melainkan dari pergeseran energi yang terjadi di sekitarnya.
2. Pendengaran dan Penglihatan Tajam
Suara di sekelilingnya kini memiliki lapisan. Ia bisa mendengar detak jantung para penjaga di gerbang kota dari jarak seratus meter.
Ia bisa mendengar aliran darah yang mengalir di pembuluh nadi mereka.
Baginya, manusia fana bergerak sangat lambat, seolah-olah mereka terjebak dalam cairan yang kental.
3. Perasaan Berat dan Padat
Di dalam tubuhnya, Fang Yuan merasa "penuh". Jika manusia fana seperti bejana tanah liat yang kosong dan rapuh, ia merasa seperti bejana besi yang diisi oleh air raksa yang berat.
Setiap gerakan kecil memiliki bobot; setiap langkah memiliki tenaga yang bisa menghancurkan batu jika ia mau.
4. Aroma Kehidupan
Ia bisa mencium aroma ketakutan, amarah, dan nafsu dari orang-orang yang mengantre di gerbang.
Baginya, manusia fana tampak seperti lilin kecil yang berkedip ditiup angin—sangat redup, sangat mudah untuk dipadamkan.
"Inilah kenapa mereka begitu sombong," batin Fang Yuan saat melihat seorang kultivator tingkat rendah dengan jubah mewah lewat tanpa mengantre. "Saat kau memiliki kekuatan untuk melihat kehidupan orang lain sebagai sesuatu yang rapuh, rasa empati akan menguap dengan sendirinya."
Fang Yuan berjalan mendekati antrean. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan tatapan matanya yang terlalu tajam di balik topi bambu yang ia temukan di jalan.
Ia tidak ingin menarik perhatian, terutama dengan jubah yang masih memiliki sisa-sisa bercak darah Liu Shen.
Di gerbang, penjaga kota yang hanya manusia fana tampak gemetar saat seorang Kultivator lewat.
Mereka tidak berani menatap mata, hanya bisa membungkuk rendah.
Fang Yuan merasakan gejolak di Dantiannya. Pil yang ia konsumsi semalam memang tidak membuatnya naik ranah, tetapi itu telah membersihkan kotoran di otot-ototnya. Ia merasa segar, meskipun perutnya masih menuntut makanan yang layak.
"Uang perak dari Liu Shen, artefak pedang, dan pil-pil ini ... aku harus segera menukarnya dengan teknik bela diri yang nyata." gumamnya.
Ia masuk ke dalam kota. Suara bising pasar, aroma masakan, dan kemewahan toko-toko mulai membanjiri indranya.
Namun, bagi Fang Yuan, kota besar ini hanyalah hutan jenis lain. Hutan yang lebih berbahaya, di mana taringnya disembunyikan di balik senyuman dan aturan.
"Menurut kakek buku teknik tidak pernah di jual. Apa itu benar-benar sepenuhnya benar? Aku akan mencari tahunya dulu. Mungkin saja ada yang menjual Teknik hanya kepada kultivator."
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.