"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kukang datang bermain
..."Gairah yang memuncak, berakhir dalam remasan jantung yang retak."...
......................
Apa yang dilihat Broto adalah keindahan yang melampaui batas kewarasan. Di matanya, Syifa sedang berdiri dengan kulit yang memancarkan cahaya porselen transparan, mata yang besar dan berkilat bak berlian, dan bibir yang merekah semerah darah yang segar. Broto tidak melihat keriput; ia melihat wanita tercantik yang pernah diciptakan di muka bumi.
"Wajahku hancur, sayang! Aku tua!" rintih Syifa dalam ketakutannya.
Broto justru mendekat dengan mata merah penuh gairah buas. Ia meraih dagu Syifa—yang sebenarnya adalah kulit keriput yang menggelambir—namun di jemari Broto terasa sehalus sutra. "Hancur bagaimana, Sayangku? Kau terlihat jauh lebih cantik... kau bidadari paling sempurna di dunia ini. Aura pengantin baru memang luar biasa, sayang sampai tidak kuat menahan diri," bisik Broto parau.
Broto melumat bibir yang sebenarnya adalah bibir kering nan busuk itu dengan sangat rakus. Syifa tak menyadari bahwa kesadarannya mulai hilang; ia telah sepenuhnya dikuasai oleh entitas Kukang. Di bawah selimut malam ketujuh, di mata Broto ia adalah bidadari tercantik, padahal ia adalah maut yang sedang merangkul suaminya untuk menghisap setiap tetes nyawa hingga Broto mengering sebelum matahari terbit.
Syifa melangkah keluar dari uap kamar mandi dengan aura yang tidak lagi manusiawi. Di mata Broto yang telah dikabutkan sihir, Syifa tampak seperti bidadari paling sempurna di dunia; kulitnya memancarkan cahaya porselen yang menyilaukan, mata yang jernih bak permata, dan aroma tubuh yang mampu meruntuhkan segala iman. Namun, Syifa sendiri merasakan jiwanya seolah terjepit di antara dua alam. Ia tidak menyadari bahwa di malam ketujuh ini, ia bukan lagi pemilik sah atas raganya sendiri. Minyak Kukang telah mengambil alih kendali sepenuhnya.
Begitu mereka beradu di atas ranjang sutra villa Adiningrat, suasana mendadak berubah mencekam. Saat Broto mulai merangkulnya dengan gairah yang buas, Syifa tidak merasakan kenikmatan sedikit pun. Tubuhnya terasa dingin dan kaku bak patung porselen yang dipaksa bergerak. Ketegangan yang amat sangat menghujam batinnya saat ia melihat sesuatu yang mustahil muncul dari kegelapan di atas langit-langit kamar.
Seekor binatang Kukang gaib berukuran sebesar manusia kerdil merayap turun dari kegelapan langit-langit, bergerak sungsang dengan tungkai yang melintir tidak wajar. Wujudnya adalah manifestasi neraka; bulunya yang jarang dan kusam tampak menggumpal oleh kerak darah hitam yang berbau busuk bangkai. Di balik bulu itu, kulitnya yang pucat pasi nampak transparan, memperlihatkan urat-urat hijau yang berdenyut di sela-sela borok bernanah yang meletup pelan. Wajahnya adalah mimpi buruk yang nyata—perpaduan antara rupa primata dan seringai manusia tua yang telah membusuk di liang lahat, dengan sepasang mata besar yang melotot keluar, merah membara bak kawah api yang lapar akan nyawa.
Dengan gerakan yang menjijikkan dan patah-patah—terdengar suara tulang-tulang yang berderak setiap kali ia bergerak—makhluk itu mendarat tepat di atas punggung Broto. Syifa terbelalak ngeri, mulutnya menganga tanpa suara. Ia menyaksikan bagaimana makhluk terkutuk itu menunggangi suaminya, menancapkan kuku-kuku hitamnya yang panjang, melengkung, dan runcing jauh ke dalam daging bahu Broto hingga darah segar merembes keluar.
Pemandangan itu menjadi horor yang paling nyata dalam hidup Syifa. Setiap kali Broto bergerak maju, Kukang itu ikut bergerak dengan sinkron, seakan mereka adalah satu entitas yang sama. Kukang itu menjilat telinga Broto dengan lidahnya yang panjang dan bercabang, memberikan ilusi kenikmatan surgawi yang membuat Broto semakin beringas. Namun bagi Syifa, setiap serangan Broto terasa seperti hukuman cambuk yang merobek bagian vitalnya seutuh mungkin. Rasa perihnya begitu nyata, seolah-olah rahimnya sedang dicabik-cabik oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.
Mereka bermain bertiga dalam tarian maut yang paling hina. Kukang itu sesekali menoleh ke arah Syifa, menyeringai dengan deretan gigi yang kecil namun sangat tajam, seolah mengejek penderitaan Syifa yang sedang menahan perih luar biasa. Syifa ingin berteriak, namun suaranya tertahan di kerongkongan. Ia hanya bisa menjadi saksi bisu atas penyerahan nyawa yang sedang berlangsung.
Broto mencapai puncak gairah yang meledak-ledak, wajahnya memerah padam hingga keunguan dengan urat-urat leher yang menegang sekeras baja. Namun, di titik tertinggi itu, Kukang gaib di punggungnya melakukan gerakan yang menghancurkan nalar. Syifa, yang berada tepat di bawah dekapan suaminya, mendengar suara "krak" yang basah dan memilukan—suara tulang rusuk yang patah dan daging yang koyak.
Kukang itu melingkarkan lengan kurusnya yang berbulu jarang ke dada Broto, dan dengan satu hentakan brutal, kuku-kuku hitamnya yang berkarat menembus masuk ke dalam rongga dada. Syifa bisa merasakan panasnya darah segar Broto yang memuncrat, membasahi wajah dan dadanya. Ia menyaksikan dari jarak hanya beberapa sentimeter bagaimana makhluk itu meremas jantung Broto di dalam sana; ia mendengar bunyi denyut jantung yang terhenti secara paksa—sebuah suara plop yang mengerikan.
Seketika, cahaya di mata Broto padam. Wajah suaminya yang tadinya penuh pemujaan berubah menjadi topeng kematian yang paling bengis. Pupil matanya membelalak bulat sempurna, namun tidak lagi melihat Syifa. Mata itu menatap kosong ke arah kegelapan neraka yang sedang menjemputnya. Tak ada kata perpisahan, tak ada desah napas terakhir; yang ada hanyalah tubuh yang mendadak layu, mengerut, dan mendingin di atas tubuh Syifa seolah seluruh cairannya dihisap habis dalam sekejap.
Syifa membeku, lumpuh oleh teror yang tak terlukiskan. Ia merasakan berat tubuh mayat itu menindihnya, sementara bau busuk bangkai dari sang Kukang mulai memenuhi paru-parunya. Makhluk itu merangkak turun dari punggung Broto, melewati leher mayat itu, dan mendekatkan wajahnya yang busuk tepat di depan hidung Syifa.
Makhluk itu mengeluarkan suara pekikan melengking yang begitu tinggi hingga telinga Syifa berdenging dan mengeluarkan darah. Itu bukan sekadar suara; itu adalah getaran yang mengiris kewarasannya. Sang Kukang menjilat air mata Syifa dengan lidahnya yang kasar dan berduri, meninggalkan rasa perih yang terbakar di kulit porselennya.
Kini Syifa terjepit di antara ranjang dan mayat yang kian membeku. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia hanya melihat seringai gigi-gigi runcing makhluk itu. Syifa mulai tertawa kecil dalam isak tangisnya—sebuah tanda bahwa jiwanya telah retak sepenuhnya. Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian Broto: Minyak Kukang itu tidak hanya menginginkan nyawa suaminya, tapi juga menginginkan kegilaannya.
Syifa tersengal, dadanya sesak seolah oksigen di kamar itu telah habis dihisap oleh entitas yang baru saja ia lihat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memejamkan mata rapat-rapat, merapal doa yang berantakan dalam benaknya, berharap kegelapan di balik kelopak matanya bisa menghapus memori tentang kuku hitam dan wajah busuk sang Kukang.
"Mimpi... ini pasti mimpi buruk akibat kelelahan," bisiknya dalam hati, mencoba meyakinkan kewarasannya yang sudah di ambang batas.
Perlahan, dengan jemari yang gemetar hebat, ia membuka mata. Keadaan mendadak sunyi senyap. Tak ada pekikan melengking, tak ada bayangan makhluk sungsang di langit-langit, dan aroma busuk bangkai itu seolah menguap digantikan wangi melati yang samar. Kamar itu terlihat normal, tenang, dan tertata. Secercah harapan muncul di benak Syifa bahwa suaminya hanya pingsan karena kelelahan setelah gairah yang meluap.
"Sayang... Broto..." Syifa berbisik, mencoba mendorong bahu suaminya.
Namun, saat tangannya menyentuh kulit Broto, ia terperanjat. Tubuh pria itu terasa sangat berat, seolah ia mendorong sebongkah batu besar yang dingin. Syifa berusaha menggeser tubuh Broto ke samping agar ia bisa bernapas lega. Dengan napas yang tertahan, ia memberanikan diri menatap wajah pria yang baru saja menikahinya itu.
Dunia Syifa runtuh seketika.
Wajah Broto pucat pasi, warna kulitnya berubah menjadi keabu-abuan seperti semen kering. Bibirnya yang tadi hangat kini membiru kaku. Syifa gemetar, ia menempelkan jarinya di bawah hidung Broto. Tidak ada hembusan napas. Tidak ada sedikit pun hawa hangat. Pria itu benar-benar telah menjadi mayat yang mendingin dalam pelukannya.
"TIDAAAKKKKKKK!"
Jeritan Syifa pecah, menyayat keheningan villa Adiningrat. Suaranya terdengar parau dan penuh penderitaan, namun di tengah histerianya, ia mendengar sesuatu yang membuatnya mematung. Dari bawah ranjang, terdengar suara gesekan kuku yang halus dan suara tawa kecil yang serak—suara yang persis seperti pekikan Kukang gaib tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba