NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Perisai Sang Pewaris

Aruna menarik napas panjang, membiarkan aroma rumah sakit yang steril menghilang saat ia sekali lagi memutar kunci kristal di lehernya. Dunia di sekelilingnya berubah, berganti dengan pepohonan perak yang berkilauan di bawah langit ungu Hutan Sanubari.

Kali ini, Aruna tidak mencari kesembuhan. Ia mencari senjata.

"Ibu," bisik Aruna pada keheningan hutan. "Tristan telah mencuri hak Ayah. Dia memegang kertas-kertas itu. Aku butuh sesuatu untuk menghentikannya kembali sebelum dia menghancurkan segalanya."

Langkah kaki Aruna membawanya lebih jauh ke dalam hutan, melewati area gubuk menuju sebuah air terjun yang airnya tidak jatuh ke bawah, melainkan melayang ke atas seperti butiran merkuri. Di balik tirai air itu, terdapat sebuah gua kecil yang dindingnya dipenuhi tanaman rambat berduri hitam yang melingkar seperti ular hitam. Dengan duri duri yang mengeluarkan cahaya.

Aruna teringat catatan terakhir di jurnal ibunya yang sempat ia baca sekilas: 'Pembalasan yang paling menyakitkan bukanlah kematian, melainkan kehancuran dari apa yang paling mereka agungkan. Carilah Benih Karma, perisai yang akan mengembalikan setiap serangan kepada pemiliknya.'

Saat ia melangkah masuk ke dalam gua, suhu udara menjadi dingin. Di tengah ruangan, tumbuh sebuah bunga tunggal berwarna hitam yang terlihat menyerap cahaya di sekitarnya. Di pusat bunga itu, terdapat satu benih kecil yang bersinar merah gelap seperti bara api.

"Karma tidak pernah salah alamat," suara angin itu kembali berbisik, kali ini lebih berat. "Namun untuk membangkitkannya, kamu harus menanamkan amarahmu ke dalam benih ini. Berhati-hatilah, Aruna. Sekali kamu menanamnya, tidak ada jalan kembali."

Aruna menatap benih itu. Ia membayangkan wajah Tristan yang tertawa di parkiran, membayangkan pengkhianatan di malam pernikahan, dan rasa sakit ayahnya. Ia menyentuh benih itu dengan ujung jarinya.

Tiba tiba, benih itu menyedot energi kemarahan Aruna, bersinar terang sebelum akhirnya mendingin menjadi sebuah permata hitam kecil di telapak tangannya.

Dunia Nyata - Ruang ICU

Aruna membuka mata tepat saat pintu ICU terbuka kasar. Pak Baskara masuk dengan wajah pucat, napasnya tak karuan.

"Aruna! Gawat!" seru Pak Baskara. "Tristan baru saja mengunggah pengumuman di media sosial perusahaan. Dia mengklaim telah mendapatkan mandat penuh atas aset keluarga Adiwangsa karena kondisi Pak Adiwangsa yang kritis. Dia mengadakan konferensi pers mendadak di lobi kantor pusat sore ini!"

Aruna melirik jam di dinding. Dua jam lagi. Tristan ingin mencari pembenaran atas pencuriannya di depan publik sebelum Aruna datang dan mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.

"Biarkan dia bicara, Pak Baskara," ucap Aruna tenang, mengejutkan pengacaranya.

"Tapi Aruna, kalau publik percaya, saham kita akan anjlok dan dia bisa mulai mencairkan aset itu!"

Aruna berdiri, merapikan setelan kerjanya yang elegan. Ia menggenggam permata hitam di sakunya. Benih Karma yang ia bawa dari Hutan Sanubari. "Dia pikir dia sedang memegang harta. Padahal, dia sedang memegang bom waktu. Siapkan mobil, Pak. Kita akan datang ke konferensi pers itu sebagai 'kejutan' utama."

Aruna menoleh ke arah ayahnya. Pak Adiwangsa kini sudah membuka mata sepenuhnya, meski belum bisa bicara banyak. Ayahnya menatap Aruna, lalu memberikan anggukan kecil yang sangat lemah namun penuh kepercayaan.

"Istirahatlah, Ayah. Aruna akan mengambil kembali apa yang menjadi milik kita," bisik Aruna sebelum melangkah keluar dengan langkahnya yang pasti, tidak ada lagi keraguan yang tersisa di wajahnya.

Di lobi kantor Adiwangsa Group, kamera-kamera wartawan sudah siap. Tristan berdiri di balik podium dengan wajah sombong, mengenakan jas mahal yang sebenarnya dibayar oleh uang Aruna. Siska berdiri di barisan depan, memegang map aset itu seolah-olah itu adalah piala kemenangan mereka.

Tristan mulai berbicara dengan nada penuh drama, pura-pura sedih atas kondisi mertuanya. "Dengan berat hati, demi keberlangsungan perusahaan..."

Tepat saat itu, pintu aula terbuka lebar.Tanpa berkata-kata, Aruna menerobos kerumunan wartawan, kehadirannya membuat orang-orang terseret menjauh dari jalurnya. Dengan aura yang begitu kuat hingga semua kamera mendadak berbalik arah kepadanya.

​"Konferensi pers yang menarik, Mas Tristan," suara Aruna menggema, dingin dan tajam. "Tapi bukankah dokumen yang kamu pegang itu nggak akan berlaku lagi kalau pemilik aslinya... bangun?"

Wajah Tristan mendadak pucat. Siska yang tadinya tersenyum kini gemetar hebat. Aruna meraba sakunya, menggenggam Benih Karma, siap melepaskan badai yang sesungguhnya.

***

Tristan terdiam sejenak, namun dengan cepat ia memaksakan tawa sinis yang menggema di seluruh aula. Tristan memperbaiki kerah kemejanya dan berdiri setegak mungkin,mencoba menutupi kegugupannya di depan para wartawan yang kini mulai berbisik curiga.

"Jangan mengada-ngada kamu, Aruna!" bentak Tristan, suaranya naik satu oktav. Ia menoleh ke arah kamera dengan wajah yang dibuat sedih. "Rekan-rekan media, tolong maklumi. Istri saya ini sedang terguncang jiwanya karena kondisi Ayah yang kritis di ICU. Ayah mertua saya masih belum sadarkan diri, dan sebagai kepala keluarga yang baru, saya harus mengambil alih tanggung jawab ini demi menyelamatkan Adiwangsa Group."

Siska yang berdiri di barisan depan ikut mengangguk cepat, mencoba meyakinkan publik. "Benar! Aruna hanya tidak siap menerima kenyataan bahwa suaminya kini yang memegang kendali sah."

Aruna tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia justru tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu tenang namun mematikan. Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan permata hitam kecil yang dingin namun terasa hangat di telapak tangannya. Benih Karma.

​"Kalian ingin bukti?" tanya Aruna lembut. Ia mengangkat Benih Karma itu ke udara. Di mata manusia biasa, itu hanyalah batu hitam biasa, namun saat Aruna membisikkan niatnya dalam hati, permata itu mulai memancarkan gelombang energi yang tak terlihat.

Begitu Tristan kembali membuka mulut untuk berbohong, Benih Karma bereaksi.

"Ayah tidak mungkin bang..." Kalimat Tristan terhenti. Tiba-tiba, suaranya berubah menjadi lengkingan aneh. Setiap kali ia mencoba mengucapkan kebohongan, dadanya terasa seperti dipukul palu besar.

Tristan terbatuk-batuk. Di hadapan ratusan pasang mata dan kamera yang menyala, map aset yang dipegang Siska tiba-tiba terasa panas. Siska menjerit, menjatuhkan map itu ke lantai. Saat map itu menyentuh tanah, lembaran-lembaran sertifikat di dalamnya berubah warna menjadi hitam, seolah-olah tinta kebohongannya menghilang dan terbakar dari dalam.

"Apa yang terjadi?!" teriak Tristan panik. Wajahnya yang tadinya sombong kini dipenuhi bintik-bintik merah yang gatal, efek fisik dari setiap serangan fitnah yang ia tujukan pada Aruna kembali menyerang dirinya sendiri.

Aruna melangkah maju, melewati Siska yang terduduk ketakutan. Ia mengambil Benih Karma yang kini bersinar merah gelap. "Benih ini tidak hanya memantulkan seranganmu, Tristan. Dia membuka topengmu sampai tidak ada yang tersisa."

Tiba-tiba, layar besar di belakang podium yang tadinya menampilkan logo perusahaan, mendadak berubah. Tanpa ada yang mengoperasikannya, layar itu memutar video rekaman pengakuan Tristan di hotel semalam dengan kualitas yang sangat jernih. Suara Tristan yang mengakui telah membuat Pak Adiwangsa serangan jantung terdengar jelas di seluruh aula.

Seluruh ruangan mendadak hening berubah menjadi kekacauan. Para wartawan berebut mengambil gambar Tristan yang kini terjatuh di lantai lobi, menggaruk wajahnya yang terasa panas seolah kebohongannya berubah menjadi api.

​"Ini belum berakhir, Mas," bisik Aruna tepat di telinga Tristan yang tak berdaya. "Kamu sudah menanam badai, sekarang saatnya kamu memanen kehancuran."

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!