NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tersembunyi

Malam mulai merambat naik di cakrawala Kota Flora, namun di dalam ruang VIP nomor 302, seberkas cahaya harapan baru saja menyala.

Arlan berdiri di dekat jendela, memerhatikan interaksi antara Gisel dan putrinya. Sejak kedatangan Gisel beberapa jam yang lalu, Keira tidak menunjukkan tanda-tanda rewel sama sekali. Gadis kecil itu bahkan menghabiskan porsi makan malamnya dengan patuh, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh perawat manapun selama seminggu terakhir.

Melihat kondisi Keira yang mulai stabil, Arlan menoleh ke arah ibunya.

"Bu, aku akan menemui dokter sekarang. Aku ingin bertanya apakah Keira sudah bisa aku bawa pulang bersamaku besok," ujar Arlan pelan.

Bu Ratna mengalihkan pandangannya dari cucunya, lalu menatap Arlan dengan kening berkerut.

"Kenapa buru-buru sekali, Arlan? Biarkan Keira benar-benar pulih di sini."

"Gisel masih harus sekolah, Bu. Lagi pula tidak nyaman tinggal di rumah sakit terus-menerus. Aku ingin mereka berdua merasa nyaman di rumah," jawab Arlan.

Ia menatap Gisel yang sedang mengelap sisa air di bibir Keira dengan penuh kasih.

Bu Ratna mengembuskan napas panjang, mencoba memahami logika praktis putranya.

"Pergilah. Konsultasikan dengan dokter spesialisnya."

Setelah Arlan melangkah keluar, Bu Ratna kembali terdiam, mengamati kebersamaan Gisel dan Keira. Kehadiran gadis dari Jalan Bunga ini seolah membawa keajaiban yang nyata.

Keira, yang selama ini membangun tembok tinggi dari dunia luar, mendadak melunak hanya karena dekapan Gisel. Senyum yang sempat hilang dari wajah cucunya kini muncul kembali, meskipun masih terlihat malu-malu.

Dalam hati, Bu Ratna merasa tenang bisa menyerahkan pengasuhan Keira kepada Gisel. Namun, di sudut nuraninya yang lain, kekhawatiran itu tetap ada. Beliau takut latar belakang Gisel yang kelam suatu saat akan menjadi batu sandungan bagi nama baik keluarga Bramantyo, atau bahkan membayangi masa depan pernikahan anaknya.

"Tante..." panggil Gisel lirih, membuyarkan lamunan Bu Ratna.

Gisel tampak kikuk. Ia duduk di tepi brankar sambil menggenggam tangan kecil Keira. Bu Ratna tersenyum hangat, mencoba mencairkan suasana.

"Panggil saja Ibu, Nak. Kamu sudah resmi menjadi menantuku."

Gisel hanya mengangguk kecil, wajahnya terlihat sedikit pucat di bawah lampu neon ruangan.

"Ibu... saya ingin mandi sebentar. Rasanya sangat tidak nyaman."

Sejak tiba di rumah sakit, Gisel memang belum sempat membersihkan diri. Keira seolah menjadi permen karet yang tak mau lepas dari tubuhnya. Bahkan saat Arlan mencoba membujuk putrinya agar Gisel bisa beristirahat sejenak, Keira hanya mengizinkan Gisel pergi sebentar saat ingin buang air kecil.

"Tentu saja, mandilah. Ibu akan menjaga Keira," ujar Bu Ratna.

Gisel memaksakan senyumnya dan bangkit berdiri dengan hati-hati.

Sebenarnya, sejak sore tadi, ia sudah menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian bawah perutnya. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat dingin meski suhu pendingin ruangan sudah terasa dingin di telapak tangannya. Ia mengira itu hanya kelelahan biasa atau masuk angin.

Di dalam kamar mandi, Gisel mengunci pintu dan perlahan menanggalkan pakaiannya. Saat melihat celana dalamnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ada noda darah yang cukup pekat di sana. Apakah aku datang bulan? pikirnya bingung. Namun, mustahil. Ia baru saja menyelesaikan siklus bulanannya seminggu yang lalu.

Hanya ada satu kesimpulan pahit yang bisa ia tarik: luka akibat pemaksaan semalam kembali mengeluarkan darah.

Gisel merintih pelan saat kucuran air hangat mengenai kulitnya. Sensasi terbakar itu membuatnya merapatkan gigi kuat-kuat agar suaranya tidak terdengar keluar. Ia mencoba membersihkan dirinya secepat mungkin.

Namun, saat ia baru saja selesai mengenakan pakaian ganti dan melangkah keluar dari kamar mandi, pandangannya mendadak mengabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat, dan denyut di kepalanya terasa seperti hantaman palu.

Bruk!

Bu Ratna dan Keira tersentak kaget ke arah sumber suara. Mereka mendapati Gisel sudah terkapar tak berdaya di lantai putih yang dingin.

"Gisel!" teriak Bu Ratna panik.

"Mama!" Keira menjerit.

Bu Ratna berlari mendekat dan mencoba membangunkan Gisel. Saat tangannya menyentuh kulit Gisel, beliau tersentak. Suhu tubuh gadis itu sangat tinggi, panasnya seolah bisa membakar telapak tangannya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Bu Ratna menopang tubuh mungil Gisel dan merebahkannya di sofa ruangan. Beliau segera merogoh ponsel dan menghubungi Arlan dengan tangan gemetar.

"Arlan! Kembali ke kamar sekarang! Gisel pingsan!"

Tak sampai dua menit, Arlan sudah muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah. Wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

"Apa yang terjadi, Bu?"

"Ibu tidak tahu. Tadi dia pamit mandi, tapi saat keluar, dia langsung jatuh pingsan. Tubuhnya panas sekali, Arlan!"

Arlan menyentuh kening Gisel dan hatinya mencelos. Tanpa membuang waktu, ia segera mengangkat tubuh Gisel yang terasa sangat ringan dan berlari keluar mencari pertolongan medis. Perawat yang melihat Arlan berlari sambil menggendong seorang wanita segera mengarahkannya ke ruang pemeriksaan darurat.

Di dalam ruangan, seorang dokter segera melakukan pemeriksaan menyeluruh sementara Arlan menunggu dengan perasaan campur aduk.

"Apakah sebelumnya pasien mengalami luka atau cedera fisik?" tanya dokter setelah selesai memeriksa tanda-tanda vital.

Arlan terdiam sejenak. Ia merasa tenggorokannya tersumbat oleh rasa malu dan bersalah. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat agar dokter tidak menganggapnya sebagai predator, namun kejujuran medis jauh lebih penting saat ini.

"Ada, Dok..." Arlan berdeham, menutupi kecanggungannya.

"Kemarin... adalah malam pertama kami."

Pandangan dokter dan perawat itu mendadak berubah. Mereka menatap Arlan dan Gisel bergantian dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dokter kemudian meminta Arlan mundur, sementara perawat menarik tirai untuk melakukan pemeriksaan fisik yang lebih spesifik pada bagian bawah tubuh Gisel.

Beberapa saat kemudian, perawat kembali membuka tirai. Dokter itu mengembuskan napas berat sambil mencatat sesuatu di papan klipnya. Ia menatap Arlan dengan ekspresi yang cukup tajam.

"Istri Anda mengalami infeksi saluran kemih yang cukup serius dan ada luka robek yang cukup dalam di area vaginanya. Lukanya mengalami peradangan karena tidak segera diobati. Selain itu, pasien menunjukkan gejala kelelahan fisik ekstrem dan stres yang sangat tinggi," jelas dokter itu dengan nada formal namun menusuk.

"Infeksi?" Arlan mengulang kata itu dengan suara lemah.

"Ya. Seharusnya sejak pagi tadi istri Anda sudah merasa sangat tidak nyaman, perih, dan mungkin demam tinggi. Tapi sepertinya dia memaksakan diri," tambah dokter itu.

Arlan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa bersalah yang tadinya berupa riak kecil, kini berubah menjadi ombak besar yang menenggelamkannya. Ia merasa menjadi suami yang sangat buruk.

Selama perjalanan dari Jalan Bunga hingga di rumah sakit, ia hanya mengira Gisel bersikap dingin karena marah padanya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik "dinding" yang dibangun gadis itu, Gisel sedang bertarung melawan rasa sakit fisik yang hebat demi memenuhi keinginannya menjaga Keira.

"Dok, tolong aturkan kamar VIP yang bisa ditempati dua orang. Istri dan anak saya yang sedang dirawat harus berada di ruangan yang sama. Saya tidak ingin mereka dipisahkan," pinta Arlan dengan nada memohon.

Setelah dokter pergi untuk mengatur permintaannya, Arlan mendekati brankar tempat Gisel terbaring. Wajah gadis itu tampak sangat pucat, kontras dengan rambut hitamnya yang masih basah.

Jantung Arlan berdebar kencang. Kilatan ingatan masa lalu tentang kegagalannya menjaga mendiang istrinya kembali menyeruak, membuat dadanya terasa sesak.

"Suami macam apa aku ini..." bisiknya parau.

Ia terduduk lemas di kursi samping brankar, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bagaimana ia akan menghadapi Gisel nanti?

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!