Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Menuju Rumah di Balik Tembok Tinggi
Gus Azkar tidak membuang waktu. Setelah mengambil kunci motor dan mengenakan jaket gelap untuk menutupi baju kokonya agar tidak terlalu mencolok, ia segera bergegas.
Langkah Gus Azkar terasa ringan namun pasti. Untuk mencapai rumah nenek Rina, ia harus memutar cukup jauh. Meskipun secara letak geografis rumah itu berada tepat di balik tembok tinggi asrama putri, tidak ada akses langsung dari dalam pesantren. Gus Azkar harus keluar melalui gerbang utama, melewati deretan toko di depan pesantren, lalu berbelok menyusuri jalan desa yang cukup panjang.
Suara mesin motornya memecah keheningan jalanan desa yang mulai temaram oleh cahaya lampu jalan. Pikirannya melayang pada pesan Rina tadi. Bagi Rina, kata "nikahi saya" mungkin hanya candaan untuk mengusir rasa canggung, tapi bagi Azkar, itu adalah sebuah tantangan—sebuah akad yang harus dijawab dengan tindakan nyata.
Rumah nenek Rina terletak di ujung desa, sebuah rumah sederhana namun terlihat asri dengan banyak tanaman bunga di depannya. Rina memang tinggal di sana bersama neneknya, serta seorang paman dan tantenya. Meskipun orang tuanya tinggal beberapa desa di sebelah, mereka rutin mengirimkan uang dan kebutuhan Rina. Namun, keberadaan Rina di rumah neneknya inilah yang membuatnya sering merasa lelah karena harus membantu pekerjaan rumah sebelum berangkat sekolah.
Gus Azkar menghentikan motornya di depan pagar kayu yang rendah. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia sedang menguji hafalan seribu bait Alfiyah para santri. Ia merapikan rambutnya sebentar melalui spion, lalu melangkah menuju pintu depan.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum," suara berat Gus Azkar terdengar sedikit bergetar.
Pintu terbuka, menampakkan sosok pria paruh baya yang merupakan paman dari Rina. Pria itu tampak terkejut melihat siapa yang datang. Tentu saja, siapa yang tidak mengenal putra tunggal Kyai Muhammad dari pesantren besar di sebelah desa mereka?
"Waalaikumussalam... Masya Allah, Gus Azkar?"
Paman Rina segera mempersilakan masuk dengan rasa hormat yang tinggi. "Mari Gus, silakan masuk. Ada angin apa Gus sampai kerso (berkenan) mampir ke rumah reot kami?"
"Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Bapak dan keluarga," ujar Gus Azkar setelah duduk di kursi rotan ruang tamu. "Kedatangan saya ke sini... ada hal sangat penting yang ingin saya sampaikan kepada wali dari ananda Rina."
Tak lama kemudian, Nenek Rina dan tantenya keluar dari ruang tengah. Rina, yang baru saja selesai salat Maghrib, masih mengenakan mukena saat ia mengintip dari balik tirai kamar. Matanya membulat sempurna. Ia hampir saja berteriak saat melihat sosok yang duduk di ruang tamunya adalah Ustadz Azkar—pria yang baru saja ia kirimi pesan bercanda beberapa menit lalu.
"Rin, itu Ustadzmu ada di depan," bisik tantenya sambil menghampiri Rina. "Ayo ganti baju, keluar temui."
Rina gemetar hebat. Apakah Gus Azkar tersinggung dengan candaan saya tadi? Apakah dia datang untuk memarahi saya secara langsung di depan nenek? pikirnya kalut.
Namun, kalimat pertama yang keluar dari bibir Gus Azkar saat semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu membuat Rina lemas seketika.
"Bapak, Ibu, dan Nenek... saya datang ke sini bukan sebagai guru Rina. Saya datang sebagai seorang laki-laki yang ingin memenuhi permintaan Rina," Gus Azkar menjeda kalimatnya, matanya menatap paman Rina dengan tegas. "Rina tadi mengatakan, jika saya menyukainya, saya harus menikahinya. Dan malam ini, saya datang untuk menyatakan bahwa saya benar-benar serius ingin meminang Rina menjadi istri saya."
Hening. Ruangan itu seketika sunyi senyap. Rina yang mendengarkan dari balik pintu merasa dunianya seolah berputar. Ia hanya bercanda, tapi ustadz dingin itu menjawabnya dengan lamaran resmi.
Hening yang mencekam itu tiba-tiba pecah oleh suara deru motor di halaman. Ternyata, itu adalah orang tua Rina yang baru saja sampai untuk mengantarkan uang saku bulanan dan keperluan putri mereka. Begitu masuk ke ruang tamu, mereka mematung melihat sosok Gus Azkar yang sangat dihormati duduk di sana.
Setelah Paman Rina menjelaskan maksud kedatangan sang Gus dengan suara terbata-bata, Ayah dan Ibu Rina saling pandang. Mereka seolah tak percaya bahwa putra tunggal Kyai Muhammad—seorang ustadz besar yang dikenal berwibawa—datang ke rumah sederhana ini untuk melamar putri mereka.
Janji yang Menjadi Takdir
"Gus... apakah ini benar?" tanya Ayah Rina, suaranya bergetar karena haru sekaligus terkejut. "Putri kami hanya santri biasa, apalagi dia santri luaran yang masih banyak kekurangan."
Gus Azkar mengangguk mantap, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Saya sudah memikirkannya dengan matang, Pak. Saya ingin membimbing Rina dan menjadikannya pendamping hidup saya. Saya berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya."
Ibu Rina mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya. "Jika Gus Azkar sudah berniat mulia seperti ini, dan demi kebaikan putri kami, kami sebagai orang tua... dengan tulus memberikan izin dan menyetujuinya. Kami serahkan Rina kepada Gus."
Di balik tirai kamar, jantung Rina terasa seperti berhenti berdetak. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, kakinya terasa lemas bak tak bertulang.
Ia teringat akan sebuah janji yang pernah ia bisikkan dalam sujudnya beberapa bulan lalu: “Ya Allah, siapa pun laki-laki baik yang datang melamarku dan disetujui oleh orang tuaku, maka aku tidak akan menolaknya. Aku akan patuh pada pilihan mereka.”
Rina tidak menyangka bahwa Allah menjawab janji itu secepat ini, dan melalui cara yang sama sekali tidak ia duga—lewat sebuah pesan bercanda yang berujung serius. Tidak ada alasan lagi bagi Rina untuk menghindar. Meskipun ia merasa takut dan tidak percaya diri, restu orang tuanya adalah perintah baginya.
"Rina... keluar, Nak," panggil sang Nenek dengan suara lembut.
Dengan tangan yang masih gemetar, Rina mengganti mukenanya dengan jilbab panjang dan merapikan cadarnya. Ia berjalan perlahan menuju ruang tamu, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata Gus Azkar yang ia tahu pasti sedang memperhatikannya.
"Rina," suara Gus Azkar memanggil namanya, kali ini tidak ada nada galak seperti di kelas, melainkan nada yang sangat teduh. "Bapak dan Ibumu sudah merestui. Bagaimana denganmu? Apakah kamu bersedia menerima khitbah saya?"
Rina menarik napas panjang di balik cadarnya. Ia melirik wajah Ayahnya yang tersenyum penuh harap. Mengingat janji pada dirinya sendiri, Rina akhirnya mengangguk pelan sekali.
"Bismillah... jika ini adalah pilihan orang tua saya, maka saya bersedia, Ustadz," jawab Rina dengan suara lembutnya yang khas, nyaris seperti bisikan.
Gus Azkar mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Beban di pundaknya seolah terangkat.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, ia teringat satu hal.
"Tapi Rina, tadi kamu bilang ingin berhenti mondok," ujar Gus Azkar teringat pesan singkat tadi. "Kalau kamu menjadi istri saya, kamu tidak perlu berhenti. Kamu akan tetap belajar, tapi bukan sebagai santri biasa, melainkan sebagai bagian dari keluarga pesantren."
Rina hanya bisa terdiam. Ternyata, "Gus Galak" yang ditakuti seluruh santri itu bisa menjadi sosok yang begitu pengertian. Di sisi lain, ia juga harus bersiap menghadapi Ustadz Zidan dan para santri lain yang pasti akan gempar mendengar kabar ini.