Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Masuk jebakan
Setelah mengatakan itu, Liora masih berdiri di bawah lampu temaram di ruang keluarga. Cahaya redup memantulkan bayangan lembut di wajahnya, membuat ekspresinya tampak semakin sulit ditebak. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkah mendekat, lalu berhenti dengan jarak sopan dari Kevandra.
"Silakan duduk." ujar Kevandra, mempersilakan Liora duduk di sampingnya.
Liora mengangguk kecil, tetapi ia memilih duduk di ujung sofa, tetap menjaga jarak yang pantas. Ia tidak ingin terlihat terlalu ikut campur. Ia hanya ingin berada di sana, menemani tanpa banyak kata.
Liora tidak bertanya apa pun. Ia hanya hadir, mencoba mengisi kekosongan yang perlahan tanpa sadar mulai dirasakan Kevandra.
Perlahan Liora menoleh ke arah Kevandra. Wajahnya tampak tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada rencana yang sedang tersusun rapi di dalam kepalanya. Diam-diam ia tersenyum penuh kemenangan.
"Memasuki kehidupan orang yang tidak kamu inginkan akan lebih seru, Salsa. Saat dia berbalik tidak peduli denganmu, dan saat itu tiba aku akan mengambilnya." batin Liora dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia kembali menatap Kevandra, menyembunyikan semua niatnya di balik ekspresi lembut yang sengaja ia perlihatkan.
"Dan kamu akan menyadari kesalahanmu karena telah menyia-nyiakannya. Ambillah sampah itu. Aku tidak ingin memungut barang yang sudah tercemar." lanjut Liora dalam hati.
Pikirannya tertuju pada Raka, laki-laki yang dulu begitu ia percayai, tetapi kini hanya menyisakan luka dan rasa muak. Di balik wajahnya yang tenang, tersimpan kemarahan yang terus membesar, menunggu waktu yang tepat untuk diluapkan.
"Kamu sendiri kenapa tidak tidur? Sudah larut malam seperti ini." tanya Kevandra memecah keheningan malam.
"Aku tidak terbiasa tidur malam, Kevan." jawab Liora pelan. Ia memasang wajah rapuh, ekspresi yang tampak begitu tulus dan lembut hingga membuat siapa pun yang melihatnya seolah ingin melindunginya.
Di balik tatapan itu, Liora menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Ia memainkan peran dengan sangat sempurna di hadapan Kevandra.
Diam-diam, untuk pertama kalinya Kevandra menatap wajah Liora lekat-lekat. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kecantikan alami yang baru benar-benar ia sadari malam ini.
Ada sesuatu pada diri Liora yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Ketenangannya, caranya berbicara, bahkan sorot matanya, semuanya terasa berbeda.
"Memangnya apa yang membuatmu tidak terbiasa tidur di malam hari." tanya Kevandra dengan nada perhatian yang tanpa sadar terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Entahlah. Akhir-akhir ini aku tidak bisa tertidur setelah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak aku ketahui." ungkap Liora pelan.
Setiap kalimatnya terdengar seperti teka-teki, seolah menyimpan banyak hal yang tidak bisa ia ucapkan secara terang-terangan.
Kevandra hanya terdiam, menjadi pendengar yang baik bagi Liora malam itu. Namun tanpa ia sadari, di dalam hatinya mulai tersirat rasa ingin melindungi wanita di sampingnya.
Sementara itu di dalam kamar, Salsa masih terduduk di tepi ranjang. Pandangannya kosong menatap lantai yang memantulkan cahaya lampu temaram. Kepergian Kevandra meninggalkan ruang itu dalam keheningan yang menyesakkan.
"Apa aku harus menyusulnya." gumam Salsa pelan.
Ucapan Kevandra tentang kemungkinan mengembalikannya kepada kedua orang tuanya terus terngiang di kepalanya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Salsa, itu seperti ancaman yang nyata.
Bayangan wajah ayahnya yang keras melintas di benaknya. Jika benar ia dikembalikan, hidupnya akan hancur. Ia tahu betul bagaimana hukuman yang menantinya.
"Aku harus menemui Kevandra. Aku tidak ingin sampai dia benar-benar mengembalikanku, karena aku masih belum siap menerimanya." putus Salsa akhirnya dengan suara gemetar.
Dengan hati gelisah, ia turun dari ranjang. Langkahnya pelan namun pasti menuju pintu kamar. Tanpa Salsa sadari, keputusannya malam ini akan membawa konsekuensi besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di sisi lain rumah yang sama, Kevandra dan Liora masih duduk berdua di ruang keluarga. Suasana malam begitu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang seolah mengiringi percakapan mereka.
Tiba-tiba Liora memutuskan untuk mengakhiri obrolan.
"Aku pamit ke kamar, Kevan. Jika ada orang lain yang melihat kita hanya berdua seperti ini, mereka bisa salah paham." ucap Liora dengan nada lembut penuh pengertian.
Setelah mengatakan itu, matanya tanpa sengaja menangkap bayangan seseorang yang mulai menuruni tangga. Dari sudut matanya, ia mengenali sosok itu.
Seketika senyum tipis penuh arti terbit di bibirnya.
"Let’s start this game." batin Liora.
"Baiklah, aku mengerti. Lagi pula ini sudah larut malam. Sebaiknya kamu istirahat, Li." jawab Kevandra dengan nada lembut yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri.
Liora mengangguk kecil. Ia bangkit perlahan dari duduknya, seolah hendak melangkah pergi. Namun saat baru beberapa langkah, tiba-tiba kakinya tergelincir.
Untuk sesaat Liora memejamkan mata, bersiap merasakan tubuhnya terhempas ke lantai. Tetapi rasa sakit itu tak pernah datang.
Sebaliknya, ia merasakan sebuah tangan kokoh menahan pinggangnya dengan sigap.
Kevandra refleks bergerak cepat, menarik tubuh Liora agar tidak terjatuh. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka menjadi begitu dekat hingga pandangan mereka bertemu.
Hanya beberapa detik, namun terasa begitu lama. Kevandra bisa melihat dengan jelas wajah Liora dari jarak yang tak biasa. Mata yang tampak rapuh, raut yang lembut, dan ekspresi terkejut yang terlihat begitu alami.
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar.
Namun momen itu langsung terputus oleh suara langkah tergesa dari arah tangga.
"Apa yang sedang kalian lakukan." teriak Salsa.
Ia berdiri di ujung tangga dengan napas memburu, wajah memerah menahan amarah. Matanya menatap tajam ke arah Kevandra yang masih memeluk sahabatnya sendiri.
Suasana mendadak membeku. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Malam itu, ketegangan baru saja dimulai.
Tiba-tiba suara Liora menyadarkan Kevandra dari keterkejutannya.
"Kevan, lepaskan aku." cicit Liora pelan, suaranya terdengar bergetar seolah benar-benar panik.
Kevandra seketika tersadar. Dengan cepat ia menarik tangannya dari pinggang Liora. Wajahnya tampak kikuk dan canggung. Baru kini ia menyadari posisi mereka yang terlihat begitu intim dari sudut pandang siapa pun yang melihat.
Namun berbeda dengan apa yang tampak di luar, di dalam hati Liora justru tersenyum miring.
"Akhirnya targetku masuk tepat sasaran." batinnya penuh kemenangan.
Ia menundukkan kepala, berpura-pura malu dan gugup, memainkan peran sebagai wanita tak bersalah yang terjebak dalam situasi tak terduga. Padahal setiap detik yang terjadi barusan adalah bagian dari rencana yang sudah ia susun rapi.
Sementara itu Kevandra berdiri membeku, antara bingung dan tidak enak hati. Tatapannya sesekali melirik ke arah Salsa yang masih berdiri di tangga dengan wajah memerah karena marah.
Atmosfer ruangan berubah mencekam.
Tak ada yang berani membuka suara.
Hanya detak jantung yang berpacu cepat di antara mereka bertiga, menandakan bahwa malam ini tidak akan berakhir dengan tenang.
Soalnya si Kavendra udah nikah kan sama Sasa Lele😭
kentang banget ini 😭