Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana New York
Kamar Presidential Suite di hotel mewah Manhattan itu menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu New York dari dinding kaca setinggi langit-langit. Namun, bagi Zayn, pemandangan paling indah malam itu bukanlah Central Park, melainkan istrinya yang berdiri menatap keluar jendela dengan gaun tidur sutra yang tipis.
Zayn melangkah mendekat, langkahnya tidak lagi tenang seperti seorang guru, melainkan penuh gairah seorang pria yang sedang mendambakan miliknya. Ia memeluk Abigail dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abigail yang harum wangi mawar.
"Kota ini sangat berisik," bisik Zayn dengan suara yang sangat rendah, "tapi di sini, hanya akan ada suara napasmu dan namaku yang kamu panggil."
Zayn membalikkan tubuh Abigail dengan perlahan namun pasti. Ia menatap mata istrinya dalam-dalam. Sisi bad boy masa lalunya kini benar-benar mengambil alih. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tubuh Abigail dengan mudah dan membawanya menuju ranjang berukuran besar di tengah ruangan.
Sentuhan Zayn malam itu terasa jauh lebih berani dan menuntut daripada saat di pesantren. Mungkin karena suasana New York yang bebas, atau mungkin karena ia ingin membuktikan pada Abigail bahwa ia bisa menjadi jauh lebih liar daripada pria mana pun yang pernah Abigail kenal di kota ini.
"Zayn... pelan-pelan," desah Abigail saat jemari Zayn mulai menjelajah dengan sangat ahli, memberikan rangsangan yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.
Zayn justru tersenyum miring, senyum yang penuh dengan dominasi. "Tadi kamu menantangku tentang stamina, bukan? Aku ingin kamu merasakan bagaimana seorang Gus menguasai wanitanya di kota yang tidak pernah tidur ini."
Zayn menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Ia tidak membiarkan Abigail beristirahat barang sedetik pun. Dengan keahlian tangan dan mulutnya yang sudah Abigail akui sebelumnya, Zayn membawa istrinya ke puncak berkali-kali. Abigail merasa seolah-olah jiwanya ditarik keluar setiap kali Zayn melakukan gerakan-gerakan yang sangat intens dan penuh gairah.
Malam itu menjadi pembuktian bagi Zayn. Di tengah kemewahan Manhattan, ia membuktikan bahwa gairahnya tidak akan pernah padam. Ia memperlakukan Abigail seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Pukul dua pagi, pukul tiga pagi, hingga menjelang fajar, ruangan itu terus dipenuhi dengan suara gairah yang membara.
Abigail benar-benar menyerah kalah. Ia menyadari bahwa suaminya adalah perpaduan sempurna antara ilmu yang berkah dan gairah yang tak tertandingi.
"Aku... aku benar-benar tidak akan bisa keluar hotel besok," rintih Abigail di sela-sela kepuasan yang ia rasakan.
Zayn mengecup kening istrinya yang berkeringat, napasnya sendiri masih menderu kencang. "Memang itu tujuanku. Aku ingin kamu hanya bersamaku di dalam kamar ini, seharian penuh. Biarkan New York menunggu, karena duniaku sedang ada di pelukanku sekarang."
Fajar menyingsing di antara gedung-gedung pencakar langit Manhattan. Cahaya biru keunguan menembus dinding kaca kamar hotel, menyinari wajah Abigail yang masih tampak sangat lelah setelah malam yang begitu panjang. Namun, suara Zayn yang lembut dan berwibawa membangunkannya.
"Abby... bangun, Sayang. Mari kita penuhi hak Allah sebelum matahari New York menyapa."
Zayn sudah rapi mengenakan sarung dan baju koko putih yang ia bawa dari pesantren, lengkap dengan aroma minyak wangi kayu gaharu yang sangat menenangkan. Ia membantu Abigail bangun dari ranjang, meski Abigail sempat meringis karena rasa lemas di kakinya yang luar biasa. Dengan sabar, Zayn membimbing istrinya ke kamar mandi untuk berwudhu bersama.
Setelah itu, Zayn membentangkan dua sajadah di atas karpet tebal kamar hotel, menghadap ke arah kiblat yang sudah ia pastikan lewat kompas sejak mereka tiba. Abigail berdiri di belakang Zayn, mengenakan mukena sutra yang lembut.
Zayn memulai shalat dengan takbiratul Ihram. Suara baritonnya yang syahdu saat membacakan surat-surat Al-Qur'an menggema di ruangan mewah itu. Di luar sana, New York mungkin sedang mulai sibuk dengan bunyi klakson dan hiruk-pikuk manusia, tapi di dalam kamar itu, suasana terasa begitu sakral dan damai.
Setiap gerakan shalat dilakukan Zayn dengan sangat tenang. Saat sujud, Abigail merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia menyadari betapa hebatnya suaminya; pria yang semalam begitu dominan dan penuh gairah saat memuaskannya, kini bersimpuh dengan sangat rendah dan penuh tunduk di hadapan Tuhannya.
Setelah salam, Zayn berbalik. Ia tidak langsung berdiri, melainkan meraih tangan Abigail dan menuntunnya untuk duduk lebih dekat. Di kota yang dulu menjadi tempat Abigail melupakan Tuhan, kini ia justru merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat melalui suaminya.
"Ya Allah," Zayn memulai doa dengan bahasa Indonesia yang sangat tulus, "berkahilah pernikahan kami di mana pun kami berada. Jadikanlah hamba suami yang mampu membimbing, dan jadikanlah Abigail istri yang senantiasa berada dalam lindungan-Mu. Jaga hati kami di tengah gemerlapnya dunia ini."
Abigail mengamini doa itu dengan air mata yang menetes di pipinya. Setelah doa selesai, Abigail mencium punggung tangan Zayn lama sekali.
Zayn kemudian menarik Abigail ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya. "Kamu tahu, Abby? Shalat bersamamu di New York adalah impian tersembunyiku. Aku ingin membuktikan bahwa di tempat paling asing sekalipun, asal kita membawa Allah, kita akan selalu merasa pulang."
Abigail mendongak, menatap wajah suaminya yang tampak bercahaya. "Terima kasih, Zayn. Terima kasih sudah membawaku 'pulang' di kotaku sendiri."
Zayn tersenyum miring, sisi " Gus" dan sisi suaminya menyatu dengan sempurna. "Sama-sama. Sekarang, karena kewajiban sudah selesai, bagaimana kalau kita kembali istirahat sebentar? Sepertinya kamu butuh tenaga ekstra karena hari ini Papahmu mengundang kita makan siang."
Abigail tertawa kecil, ia tahu bahwa "istirahat" bagi Zayn seringkali berarti sesuatu yang lain, tapi ia tidak keberatan sama sekali.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍