NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 09: Pengembara yang menjadi raja [3]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Zack langsung masang muka kecut, tangannya masuk ke saku jaket sambil geleng-geleng kepala nggak percaya.

Dia natap Saning Ayu dengan tatapan "Lo serius?" yang biasa dia kasih ke pasien yang nggak mau minum obat tapi ngeluh nggak sembuh-sembuh.

"Bentar, bentar," Zack memotong omongan Saning Ayu dengan nada sewot. "Jadi lo mau bilang semua drama ini, dari asrama gua yang hancur, martabak gua yang keinjek, sampe temen-temen gua yang entah kelempar ke mana, itu cuma gara-gara masalah internal keluarga kalian yang nggaa kelar-kelar?"

Zack maju selangkah, nggak peduli kalau dia lagi berhadapan sama Ratu legendaris. "Denger ya, Nenek. Di tempat gue, kalau ada luka yang busuk, ya dibersihin, dijahit, atau kalau perlu diamputasi sekalian biar nggak ngerembet. Bukannya malah dibiarin ratusan tahun terus dibungkus pakai kutukan darah yang ujung-ujungnya numbalin orang yang nggak tau apa-apa!"

Dia nunjuk ke arah bayangan Zachary kecil yang udah mulai menghilang. "Dia yang kabur, dia yang baper, tapi kenapa gue yang harus nanggung cicilan dosanya? Gua ke sini mau jadi dokter, mau hidup tenang, bukannya jadi kurir yang nganterin paket 'penderitaan tiada akhir' dari zaman kerajaan!"

Zack ngacak rambutnya frustrasi, lagaknya makin petantang-petenteng karena emosi yang udah di ubun-ubun. "Lagian kalian ini ribet banget sih. Menikahkan keturunanlah, inilah, itulah. Kenapa ngga dari dulu aja lo berdua ngobrol baik-baik, atau minimal Zachary ini disuruh terapi mental gitu kek biar ngga bawa-bawa dendam pas bikin anak?"

Saning Ayu cuma diem, matanya yang teduh natap Zack seolah lagi ngeliat pasien paling berisik yang pernah dia temui.

"Sekarang gini aja deh," Zack nantang lagi sambil naikin alisnya. "Gua nggak peduli soal takdir atau garis darah pembunuh ini. Gua cuma mau temen-temen gue balik. Kalau emang luka ini perlu diobatin, gua bakal obatin pakai cara gua, bukan pakai cara kalian yang harus pake acara tumbal-tumbalan segala. Jelas?"

Saning Ayu akhirnya tersenyum tipis, jenis senyum yang bikin Zack makin curiga kalau ada jebakan di baliknya. "Kau memang berbeda dari Zachary, anak muda. Tapi kau lupa satu hal... kau tidak bisa mengamputasi bayanganmu sendiri."

Saning Ayu melangkah mendekati Zack, lalu tiba-tiba suasana berubah menjadi sangat dingin. "Kau protes tentang masa lalu, tapi tahukah kau bahwa saat ini, di dimensi asramamu, kutukan itu sedang mulai memakan jiwa teman-temanmu karena kau terlalu lama di sini hanya untuk mengoceh?"

Zack langsung tegang. "Maksud lo apa? Rakes sama yang lain kenapa?"

SREEEET—!

KRAKK!

Belum sempat Saning Ayu membuka mulut, udara di sekitar mereka mendadak terdistorsi. Suara retakan itu terdengar seperti kaca raksasa yang dihantam palu godam. Cahaya perak dari mata air bulan tadi tiba-tiba tercampur dengan kilatan listrik berwarna emas yang liar dan tidak stabil.

"Gila, apa lagi nih?!" Zack pasang posisi kuda-kuda, matanya awas menatap retakan dimensi yang muncul tepat di tengah-tengah antara dia dan Saning Ayu.

Dari celah retakan yang menyilaukan itu, muncul sebuah tangan yang terbungkus percikan listrik. Dengan satu sentakan kuat, retakan itu dipaksa terbuka lebih lebar, dan muncullah si kampret Rakes.

Penampilannya berantakan rambutnya acak-adakan, matanya menyala terang dengan energi yang meluap-luap, dan napasnya memburu seolah dia baru saja lari maraton antar dimensi.

Rakes melangkah keluar dari retakan itu, kakinya menginjak ubin marmer Kartaswiraga dengan dentuman listrik yang bikin bulu kuduk berdiri. Begitu dia melihat Zack, ekspresinya yang tegang langsung berubah jadi seringai khasnya yang sombong tapi terlihat lega.

"Ketemu juga lo, kampang," seru Rakes sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang masih berasap.

"Lo kelamaan di sini dengerin curhatan nenek moyang, ya? Gua di luar sana udah hampir gila nyariin koordinat lo!"

Zack melotot, antara kaget sama pengen mukul muka Rakes yang dateng-dateng langsung ngeledek.

"Rakes? Kok lo bisa nembus ke sini, hah?! Ini dimensi masa lalu, bego!"

"Masa lalu, masa depan, buat gue cuma soal frekuensi, Zack," jawab Rakes enteng, meskipun badannya kelihatan gemetar menahan beban energi yang besar. Dia melirik Saning Ayu dengan tatapan yang nggak kalah petantang-petenteng dari Zack. "Dan lo, Gua ga tau lo siapa... maaf ya kalau gua ngerusak momen dramatis kalian. Tapi gua ngga suka liat temen gua dipojokin pakai omongan soal takdir."

Saning Ayu tampak terkejut. Untuk pertama kalinya, sang Ratu menunjukkan ekspresi gentar. "Kau... kau adalah kekuatan yang tidak seharusnya ada di sini... berani-beraninya kau merusak ruang suci ini."

"Ruang suci apa tadi?" Rakes tertawa meremehkan. Dia jalan mendekat ke arah Zack, berdiri di sampingnya sambil menepuk pundak Zack keras-keras.

"Tempat ini baunya cuma dendam sama penyesalan. Zack, nggak usah dengerin dia. Gua baru aja liat di 'jalur waktu' sebelah, kutukan ini cuma bisa jalan kalau kita ngerasa sendirian. Makanya gua paksa masuk ke sini."

Zack menyeringai, merasa dapet bantuan mental yang pas. "Tuh, Nenek. Temen gua yang paling rese aja udah nyampe sini. Jadi ngga usah nakut-nakutin gua soal sendirian lagi."

Tapi tiba-tiba, retakan di belakang Rakes mulai mengecil dan berubah warna menjadi merah pekat,warna yang sama dengan Tanah Darah. Suara geraman dari ribuan nyawa yang dikutuk terdengar membahana dari balik retakan itu.

"Masalahnya, Zack," bisik Rakes, mukanya mendadak serius. "Gua ngga dateng sendirian. Gua baru dikejar sama 'kacung' yang dapet kekuatan dari dendam saudara lo. Dan kalau kita ngga tutup pintu ini dari dalam, Kartaswiraga versi masa lalu ini bakal jadi pintu masuk kiamat ke asrama kita."

Zack langsung mengepalkan tangannya. "Ya udah, tinggal kita hantam aja kan? Lo pakai listrik lo, gue pakai... gaya gue."

Saning Ayu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membuat kilatan listrik Rakes dan retakan merah di udara membeku sesaat. Wajah sang Ratu kini tidak lagi menunjukkan kesedihan, melainkan kemarahan yang mampu membungkam waktu itu sendiri.

"Diam dan dengarkan, kalian anak-anak yang angkuh!" suara Saning Ayu menggelegar, membuat Zack dan Rakes terdiam secara refleks. "Kutukan ini bukan sekadar urusan keluarga yang gagal. Ini adalah kegagalan sebuah janji besar yang melibatkan tiga pilar kekuatan pulau ini."

Saning Ayu melangkah ke tengah-tengah mereka, dan seketika muncul tiga simbol besar yang bersinar di lantai marmer: sebuah pedang (Demar), sebuah mahkota (Kartaswiraga), dan sebuah cakra yang berputar (Bharata Jengga).

"Kutukan suamiku menjadi begitu kuat karena ia merusak Perjanjian Tiga Kerajaan. Dahulu, Demar adalah jantung yang memberi kehidupan, Kartaswiraga adalah tangan yang menjaga hukum, dan Bharata Jengga adalah otak dari jalannya semua ini. Ketiganya bersumpah untuk menjaga keseimbangan agar pintu-pintu kegelapan tetap terkunci."

Saning Ayu menatap Zack tajam. "Ketika Zachary membuang namanya dan membunuh saudaranya, pilar Kartaswiraga hancur. Ketika Bharata Jengga kerajaan para cendekiawan menghilang karena merasa dikhianati, keseimbangan itu hilang. Darahmu, adalah kunci untuk Demar. Dan temanmu..." ia melirik Rakes.

"Apa liat-liat? Gua bukan bagian dari kalian. " ketus Rakes.

"Apa kau sang penyair itu...? "

Zack mengerutkan kening, menoleh ke Rakes yang terdiam ketika disebut sebagai penyair, "Maksudnya apaansih Rak? Gua bloon gini. "

Rakes mengangkat satu tangan nya, untuk meminta Zack tidak berbicara terlebih dahulu.

"Aku tau kamu... Penyair— Hup" ucapan Saning Ayu berhenti seketika karena ia tidak bisa membuka mulutnya lebih lanjut lagi.

"Lo cuman orang rendahan yang ngga punya hak untuk meminta penjelasan dari Polaris. " bisik Rakes pelan, disitu Saning Ayu tidak berbicara apapun. Ia ketakutan, dan mengangguk kecil.

"Tetapi.. Satu orang lagi harus hadir untuk melengkapi segitiga itu. Keturunan Bharata Jengga adalah mereka yang mampu memutuskan kutukan nya. Untuk mematahkan kutukan penderitaan tiada akhir, kalian harus menyatukan kembali frekuensi tiga kerajaan ini di dalam retakan itu."

Saning Ayu menunjuk ke arah retakan merah yang mulai bergejolak lagi. "Anak Zachary, kau harus memberikan 'kehendak untuk melindungi' milik Demar, kau harus mencari keturunan 'cendekiawan' milik Bharata Jengga. Dan aku... sebagai sisa terakhir dari Kartaswiraga, akan memberikan 'pengampunan' sebagai perekatnya."

"Hanya dengan begitu, kutukan itu akan luntur dan Tanah Darah akan kehilangan tujuannya. Jika kalian hanya bertarung tanpa strategi, kalian cuma memberi makan kutukan itu dengan amarah baru!"

Rakes menyeringai sambil membetulkan posisi jaketnya, meski tangannya masih gemetar. "Oke, kedengerannya lebih masuk akal daripada sekadar adu jotos. Jadi kita harus jadi 'tumbal' sukarela buat bikin segel baru, gitu?"

Zack menghela napas, menatap Saning Ayu lalu ke arah Rakes. "Gua ngga suka dibilang bagian dari pilar-pilaran begini, tapi kalau ini cara tercepat buat balik ke asrama dan mastiin semuanya aman... ayo kita lakuin. Tapi satu hal, Nek... setelah ini, jangan ada lagi acara jodoh-jodohan atau kutukan susulan, oke?"

Saning Ayu mengangguk mantap. "Pegang tangan kalian satu sama lain. Kita masuk ke pusat badai itu sekarang!"

Zack, Rakes, dan Saning Ayu bersiap melompat ke dalam retakan merah yang kini berubah menjadi pusaran raksasa.

Pusaran merah itu melontarkan Zack dan Rakes keluar dengan kasar. Mereka mendarat di atas tanah yang lembap, tertutup dedaunan kering yang tebal. Begitu Zack menoleh, Saning Ayu sudah tidak ada. Ratu itu tertahan di batas dimensi, hanya menyisakan aroma bunga melati yang samar sebelum benar-benar hilang.

Zack bangkit, mengibaskan debu dari jaketnya sambil meringis. "Bagus, Tante Ratu malah ghosting. Katanya mau ikut bantu," gerutunya.

Rakes, yang masih berlutut sambil menstabilkan sisa-sisa listrik di tangannya, melihat ke sekeliling. "Gue nggak ngerasa ada energi kerajaan di sini, Zack. Yang ada cuma pohon, pohon, dan... pohon."

Mereka berada di sebuah hutan belantara yang sangat lebat. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi hingga menutupi sinar matahari, menyisakan cahaya remang-remang yang lembap. Di tengah kesunyian itu, terdengar suara gesekan kayu dan roda yang berderit lambat.

Krieeet... krieeet...

Dari balik kabut tipis, muncul seorang kakek tua. Rambutnya putih panjang terurai, mengenakan jubah kumal namun matanya terlihat sangat cerdas, tajam seperti orang yang sudah membaca seluruh buku di dunia. Ia sedang menarik sebuah gerobak kayu tua sendirian. Gerobak itu penuh dengan gulungan perkamen kuno, botol-botol berisi cairan aneh, dan sebuah kompas raksasa yang jarumnya berputar gila.

Zack, dengan gaya petantang-petentengnya, langsung menghadang jalan si kakek. "Woi, Kek! Berhenti dulu. Gue mau nanya, ini wilayah mana? Terus lo liat ada orang lain lewat sini nggak?"

Si kakek berhenti, namun ia tidak terlihat takut sedikit pun. Ia malah membetulkan posisi kacamatanya yang hanya sebelah, lalu menatap Zack dan Rakes bergantian dengan senyum kecil yang misterius.

"Wilayah?" suara kakek itu terdengar seperti gesekan kertas tua. "Anak muda, di hutan ini, koordinat tidak ditentukan oleh kompas, tapi oleh niat. Kalian sedang berada di perbatasan Bharata Jengga, tanah di mana pikiran menjadi kenyataan dan waktu hanyalah bumbu masakan."

Rakes langsung menegang. "Bharata Jengga? Jadi kakek ini..."

"Aku hanya seorang pustakawan yang kehilangan perpustakaannya," potong cendekiawan tua itu. Ia menatap gerobaknya, lalu menatap Zack. "Kau... baunya mirip dengan Zachary. Keras kepala, penuh amarah, tapi punya tangan yang ingin menyembuhkan. Dan temanmu ini... dia membawa kekuatan yang sangat berisik."

Zack menyipitkan mata, merasa tidak nyaman karena langsung ditebak begitu saja. "Nggak usah banyak teori, Kek. Kita butuh jalan keluar buat beresin kutukan darah itu. Saning Ayu bilang ada perjanjian tiga kerajaan."

Si kakek tertawa kecil, lalu duduk di atas batang kayu yang tumbang. "Perjanjian itu sudah robek, Nak. Tapi jika kalian ingin menyambungnya kembali, kalian butuh sesuatu yang ada di dalam gerobakku ini. Masalahnya, gerobak ini terlalu berat untuk kutarik sendirian ke kuil utama."

Kakek itu menunjuk ke arah jalan setapak yang menanjak tajam ke arah puncak gunung yang tertutup awan hitam. "Bantu aku menarik gerobak ilmu pengetahuan ini, maka aku akan memberitahu kalian siapa orang ketiga yang kalian cari. Dia sudah ada di sana, sedang mencoba membaca masa depan yang sebenarnya sudah hancur."

Zack melirik Rakes, lalu menghela napas panjang. "Gila ya, udah pindah dimensi tetap aja dapet tugas jadi kuli."

Zack memegang gagang gerobak kayu itu, tapi begitu tangannya menyentuh kayu tersebut, ia merasakan beban yang luar biasa bukan beban fisik, tapi beban ingatan ribuan orang yang menderita karena kutukan Zachary.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!