Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG TIDAK HILANG
Julian tidak bermimpi malam itu.
Ia terbangun sebelum subuh, saat langit London masih abu-abu dan kota belum sepenuhnya bernapas. Tidak ada suara selain detak jam dinding dan langkah pelan penjaga malam di kejauhan.
Ia duduk di tepi ranjang.
Ada perasaan aneh di dadanya—bukan gelisah, bukan sedih.
Lebih seperti… rindu yang tidak punya alamat.
Julian turun ke garasi pribadi keluarga Ashford pagi itu.
Bukan garasi megah dengan mobil-mobil mahal yang jarang disentuh.
Ia masuk ke sudut kecil yang jarang dibuka.
Di sana, tersimpan satu motor tua.
Bukan Ducati terbaru.
Bukan mesin buas.
Motor latihan sederhana—yang ia beli diam-diam, tanpa publisitas.
Julian menyentuh setangnya.
Sentuhan itu… memicu sesuatu.
Di kehidupan sebelumnya, Michael Chandra Dinata memulai semuanya dari motor kecil.
Aspal kasar.
Ban bekas.
Dan mimpi yang terlalu besar untuk dompetnya.
Julian memejamkan mata.
Untuk sesaat, ia bukan Julian Ashford.
Ia adalah Michael—anak Indonesia yang balapan bukan karena ingin terkenal, tapi karena ia tidak tahu cara hidup tanpa kecepatan.
“Nama itu tidak hilang,” gumam Julian pelan.
“Hanya… berubah.”
Siang hari, Julian menghadiri acara kecil keluarga.
Bukan gala.
Bukan pesta.
Makan siang sederhana bersama kerabat dekat.
Tidak ada yang bertanya soal kontrak.
Tidak ada yang menyinggung MotoGP.
Mereka membicarakan properti baru, perjalanan singkat, rencana liburan musim dingin.
Julian mendengarkan.
Dan ia sadar…
ini juga bagian dari hidup yang dulu tidak pernah ia miliki.
Clara datang sore hari.
Ia menemukan Julian di teras belakang, memandangi langit.
“Kau kelihatan jauh,” katanya.
Julian tersenyum tipis. “Aku sedang mengingat seseorang.”
Clara tidak bertanya siapa.
Ia duduk di samping Julian.
“Kadang,” katanya pelan,
“kita tidak perlu melupakan versi lama diri kita untuk hidup baik.”
Julian menoleh.
“Aku takut kalau aku melambat, aku mengkhianatinya,” katanya jujur.
Clara menatapnya lama.
“Mungkin,” katanya lembut,
“kau justru sedang memberinya kehidupan yang tidak pernah ia punya.”
Kalimat itu… menghentikan Julian.
Malam datang.
Julian membuka email.
Satu pesan menarik perhatiannya.
Dari seorang jurnalis senior dunia balap.
Bukan wawancara.
Bukan permintaan klarifikasi.
Hanya satu kalimat:
Jika kau siap berbicara sebagai manusia, bukan pembalap, aku ingin mendengarnya.
Julian tidak langsung membalas.
Ia menutup laptop.
Beberapa cerita… tidak untuk semua orang.
Julian kembali ke kamar, membuka koper lama.
Di dalamnya, ada satu barang kecil—sarung tangan balap lama dari kehidupan sebelumnya.
Ia tidak tahu bagaimana benda itu ikut terbawa… tapi ia tidak pernah membuangnya.
Ia memegang sarung tangan itu.
Michael Chandra Dinata pernah mati di lintasan.
Julian Ashford hidup… dengan pilihan.
Dan di antara keduanya,
ada satu garis tipis yang tidak boleh dilupakan.
Julian berdiri di jendela.
Di luar, kota tetap berjalan.
Dunia balap tetap menunggu.
Waktu tetap bergerak.
Tapi malam itu, Julian merasa utuh.
Ia tidak lagi hidup untuk membuktikan siapa dirinya.
Ia hidup untuk menjaga semua versi dirinya.
Dan pembalap yang berdamai dengan masa lalunya…
biasanya,
akan melaju paling jauh.
.
Ide liburan itu datang tanpa rencana.
Bukan dari kalender.
Bukan dari manajer.
Bukan dari keluarga.
Julian hanya bangun suatu pagi dan merasa… lelah dengan cara yang berbeda.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah karena selalu siap.
“Ayo pergi,” kata Julian tiba-tiba.
Clara yang sedang duduk di sofa menoleh. “Ke mana?”
Julian mengangkat bahu. “Ke tempat yang tidak peduli siapa aku.”
Clara tersenyum.
“Kalau begitu,” katanya, “aku tahu satu tempat.”
Mereka pergi tanpa rombongan.
Tanpa supir.
Tanpa pengawal.
Sebuah kota kecil di pesisir—tidak terkenal, tidak cantik berlebihan. Lautnya tenang, jalannya sempit, dan orang-orang berjalan tanpa tergesa.
Julian menyukainya sejak langkah pertama.
Hari pertama, mereka tidak melakukan apa-apa yang “penting”.
Berjalan.
Makan di kedai kecil.
Duduk lama menatap laut.
Julian tidak membawa helm.
Tidak membawa jadwal latihan.
Untuk pertama kalinya setelah dua kehidupan…
ia tidak merasa bersalah karena berhenti.
“Dulu,” kata Julian sambil menatap ombak,
“aku pikir berhenti itu sama dengan kalah.”
Clara menatapnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku sadar,” Julian tersenyum kecil,
“berhenti kadang satu-satunya cara supaya tidak hilang.”
Clara tidak menjawab.
Ia hanya menyandarkan kepala ke bahu Julian.
Itu sudah cukup.
Hari kedua, Julian bangun lebih pagi.
Ia keluar sendiri, berjalan menyusuri pelabuhan kecil.
Di ujung dermaga, ia melihat beberapa anak muda mengutak-atik motor tua. Bukan motor balap. Motor harian. Kotor. Lecet.
Salah satu dari mereka mengenali Julian—bukan dari berita, tapi dari cara ia melihat motor.
“Om ngerti motor?” tanya anak itu polos.
Julian tertawa kecil.
“Sedikit.”
Ia membantu mereka.
Bukan dengan teori.
Dengan tangan.
Ia mengajari cara mendengar mesin, bukan memaksanya. Cara merasakan getaran, bukan menebaknya.
Anak-anak itu tidak tahu siapa Julian sebenarnya.
Dan Julian… tidak ingin mereka tahu.
Sore itu, Julian duduk kembali di pantai bersama Clara.
“Aku lihat caramu mengajar tadi,” kata Clara.
“Kau kelihatan… hidup.”
Julian menatap tangannya sendiri.
“Michael dulu bermimpi sampai ke MotoGP,” katanya pelan.
“Tapi dia juga bermimpi… punya waktu seperti ini.”
Clara menggenggam tangannya.
“Mungkin,” katanya lembut,
“kau sedang menyelesaikan mimpi yang satu lagi.”
Malam terakhir, Julian menerima satu panggilan.
Bukan dari Ducati.
Bukan dari media.
Dari seseorang yang tidak ia duga—kepala akademi balap Eropa.
“Kami mendengar caramu melatih,” kata suara di seberang.
“Bukan di lintasan. Tapi di luar.”
Julian terdiam.
“Kami ingin kau terlibat,” lanjutnya.
“Bukan sebagai pembalap. Sebagai mentor… sambil menunggu waktu yang tepat.”
Julian menutup mata sejenak.
Ini bukan langkah ke depan.
Ini langkah menyamping.
Tapi langkah menyamping… kadang membuka jalan paling panjang.
Julian menutup panggilan.
Clara menatapnya. “Keputusan besar?”
Julian menggeleng.
“Keputusan kecil,” katanya.
“Tapi rasanya benar.”
Clara tersenyum.
Malam itu, Julian berdiri di tepi laut.
Angin dingin. Ombak pelan.
Ia sadar satu hal:
Lintasan tidak ke mana-mana.
MotoGP akan tetap ada.
Kecepatan selalu menunggu.
Tapi hidup…
tidak.
Dan Julian Ashford, untuk pertama kalinya,
tidak takut ketinggalan apa pun.