Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Berapa harga yang harus aku bayar agar kau berhenti menatapku seolah-olah aku adalah pencuri di rumah ini?”
Ruangan itu didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin sekaligus menindas.
Damian Sagara baru saja melepaskan dasi tuksedonya dan melemparkannya ke atas kursi beludru. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tidak pernah tidur. Damian tidak langsung menjawab. Ia justru menuangkan cairan amber dari botol kristal ke dalam gelas pendek.
“Kau bukan pencuri, Alisha,” sahut Damian setelah meneguk minumannya. “Kau adalah tamu kehormatan yang menolak untuk menikmati fasilitasnya.”
“Aku bukan tamu.” Alisha melangkah maju, masih dengan gaun biru samudranya yang kini terasa sangat berat. “Aku adalah tahanan politik dalam kerajaan pribadimu.”
Alisha berdiri tepat di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya memantul di matanya yang berkaca-kaca. Ia tidak ingin menangis lagi. Amarahnya jauh lebih besar daripada rasa sedihnya saat ini.
“Katakan padaku kebenarannya, Damian,” ucap Alisha bergetar namun tajam. “Apakah Clarissa benar? Apakah kau hanya menginginkan hak asuh penuh Arka dan berencana menendangku setelah semua formalitas ini selesai?”
Damian membalikkan badainya perlahan. Ia menatap Alisha dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekat dengan perlahan. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu jati terdengar seperti detak jantung yang berdebar kencang.
Damian berhenti tepat di depan Alisha. Ia jauh lebih tinggi hingga Alisha harus mendongak untuk menatap matanya.
“Awalnya, ya,” jawab Damian jujur.
Kata-kata itu menghantam dada Alisha seperti bongkahan es. Ia merasa dunianya seolah sedang runtuh untuk kesekian kalinya.
“Aku menginginkan pewaris,” lanjut Damian dengan suara rendah yang serak. “Aku butuh kepastian untuk masa depan Sagara Group. Dan kau adalah variabel yang tidak terduga dalam rencana itu.”
“Setidaknya kau jujur dalam kekejamanmu,” bisik Alisha sambil membuang muka.
Damian menjangkau dagu Alisha dan memaksanya untuk kembali menatap mata gelapnya. “Tapi ada sesuatu yang berubah saat aku melihatmu lagi di balai kota itu.”
“Apa?” tanya Alisha sinis. “Kau merasa kasihan melihat penjahit miskin yang kau hancurkan hidupnya?”
“Aku tidak mengenal rasa kasihan.”
Jari-jari Damian mengusap garis rahang Alisha dengan lembut namun posesif.
“Aku merasa obsesi lamaku yang kukira sudah mati ternyata justru berkobar lebih hebat. Kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kukendalikan dengan uang, dan itu membuatku gila.”
Damian mendekatkan wajahnya. Alisha bisa mencium aroma alkohol yang bercampur dengan parfum kayu cendana yang mahal.
Ketegangan seksual yang intens tiba-tiba memenuhi udara di antara mereka. Alisha merasa kakinya sedikit lemas, namun otaknya terus meneriakkan peringatan bahaya.
Damian merunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alisha.
“Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu pergi ke tangan pria lain, Alisha. Tidak setelah aku tahu bagaimana rasanya memilikimu lagi di bawah atap yang sama.”
Tangan Damian berpindah ke pinggang Alisha, menarik tubuh wanita itu agar merapat ke dadanya yang bidang. Alisha bisa merasakan panas tubuh Damian menembus kain sutra gaunnya. Untuk sesaat, memori malam enam tahun lalu di hotel mewah itu menyerbu pikirannya. Sentuhan itu sangat familiar sekaligus sangat menyakitkan.
“Lepaskan aku, Damian!” bisik Alisha sambil meletakkan tangannya di dada Damian untuk memberi jarak.
“Kau tidak menginginkan ini?” Damian menatap bibir Alisha dengan penuh damba.
“Aku bukan boneka pemuas nafsumu.” Alisha mendorong dada Damian dengan kekuatan penuh.
“Kau bisa memiliki namaku di atas kertas pernikahan itu. Kau bisa memamerkan aku di depan kolegamu. Tapi kau tidak akan pernah memiliki ragaku lagi atas dasar paksaan.”
Damian tertegun. Ia melihat binar kebencian yang murni di mata Alisha. Ia menarik tangannya kembali dan mengepalkannya di samping tubuh.
“Kau memasang batasan padaku?” tanya Damian dengan nada tidak percaya.
“Ya.” Alisha berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya. “Aku akan tinggal di sini demi Arka. Aku akan mengikuti sandiwaramu. Tapi kita akan tidur di ranjang yang terpisah. Kau di sini, dan aku akan tidur di kamar sebelah dengan Arka.”
“Ini kamar utama, Alisha.” Suara Damian kembali mengeras.
“Calon Istri seorang Sagara tidur di kamar suaminya.”
“Maka cari saja istri lain yang mau menyerahkan tubuhnya demi harta,” sahut Alisha dingin. “Karena penjahit pesisir ini sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kau rampas kecuali kehormatannya.”
Alisha berbalik dan berjalan menuju pintu penghubung ke kamar Arka. Ia tidak menoleh lagi. Damian berdiri mematung di tengah kamar. Ia melempar gelasnya ke arah perapian hingga hancur berkeping-keping. Amarah dan gairah yang tidak tersalurkan berkecamuk di dalam dirinya.
Di balik pintu kayu yang tebal, Arka sebenarnya tidak sedang tidur. Bocah itu berdiri di dekat pintu yang sedikit terbuka ke arah koridor luar. Ia ingin membawakan segelas air untuk ibunya, namun langkahnya terhenti saat melihat neneknya, Raina Sagara, sedang bicara dengan asisten pribadinya di bawah lampu temaram koridor.
“Pastikan semua dokumen sekolah asrama di Swiss itu selesai minggu depan.” Raina bicara dengan suara yang sangat rendah.
“Tapi Nyonya, tuan Damian pasti akan marah besar jika tahu Den Arka dikirim tanpa persetujuannya,” sahut sang asisten dengan ragu.
“Damian terlalu lemah karena wanita itu.” Raina mendesis dengan penuh kebencian. “Arka adalah aset Sagara. Dia tidak boleh tumbuh dengan pengaruh buruk dari ibunya yang hanya seorang penjahit kelas rendah. Di Swiss, dia akan dididik menjadi penguasa yang tanpa perasaan. Itu satu-satunya cara menyelamatkan garis keturunan Sagara.”
Arka mencengkeram gelas di tangannya hingga buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup sangat kencang karena rasa takut yang luar biasa. Ia tahu sekolah asrama berarti ia akan dipisahkan ribuan kilometer dari ibunya. Ia akan dikirim ke tempat asing di mana ia tidak mengenal siapapun.
Arka mundur perlahan-lahan ke dalam kamarnya yang gelap. Ia merangkak naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ia mulai menangis tanpa suara. Di kepalanya, dunia yang selama ini ia anggap aman bersama ibunya kini terasa seperti rumah kaca yang siap pecah kapan saja.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Arka terbuka. Alisha masuk dengan langkah yang sangat pelan agar tidak membangunkan putranya. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap punggung Arka yang tertutup selimut.
“Arka? Sayang, Ibu di sini,” lirih Alisha lembut.
Arka tidak menjawab. Ia pura-pura tertidur, namun tubuhnya yang sedikit gemetar tidak bisa membohongi Alisha. Alisha mengerutkan kening. Ia merasakan ada sesuatu yang salah. Ia membuka sedikit selimut itu dan melihat wajah Arka yang basah karena air mata.
“Arka! Apa yang terjadi?” Alisha langsung memeluk putranya dengan cemas.
Arka memeluk leher ibunya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Alisha akan menghilang.
“Ibu, jangan biarkan mereka membawaku pergi. Aku tidak mau ke Swiss.”
Alisha membeku. “Swiss? Apa yang kau bicarakan, Sayang?”
“Nenek,” isak Arka. “Nenek bilang aku harus sekolah di sana minggu depan. Nenek bilang Ibu adalah pengaruh buruk untukku.”
Darah Alisha seolah mendidih seketika. Ia menyadari bahwa ancaman di rumah ini bukan hanya datang dari Clarissa atau masa lalunya, tapi dari pusat kekuasaan keluarga Sagara itu sendiri. Raina Sagara sedang berencana mencuri putranya dengan cara yang paling licik.
Alisha mencium dahi Arka berkali-kali. “Ibu berjanji, Arka. Tidak akan ada yang membawamu pergi. Ibu akan melindungimu, bahkan jika Ibu harus melawan seluruh keluarga Sagara.”
Alisha menatap ke arah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Damian. Amarah yang tadi ia rasakan pada Damian kini bercampur dengan rasa urgensi yang luar biasa. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa memenangkan perang ini sendirian. Ia butuh Damian, meskipun ia membencinya. Namun, apakah Damian akan berdiri di pihaknya atau justru ikut mendukung rencana ibunya?
Alisha membaringkan Arka kembali dan menunggunya hingga benar-benar tertidur karena kelelahan menangis. Begitu nafas Arka mulai stabil, Alisha berdiri. Wajahnya yang lembut kini berubah menjadi keras dan penuh tekad. Ia berjalan kembali ke kamar utama tanpa mengetuk pintu.
Damian masih duduk di tepi tempat tidur dengan kemeja yang sudah tidak dikancingkan. Ia mendongak saat melihat Alisha masuk kembali.
“Berubah pikiran?” tanya Damian dengan nada sinis yang pahit.
“Ibumu ingin mengirim Arka ke Swiss,” kata Alisha tanpa basa-basi.
Ekspresi Damian berubah dalam sekejap. Ia berdiri dengan mata yang membelalak.
“Apa?”
“Dia sudah menyiapkan dokumennya. Dia ingin menjauhkan Arka dariku.” Alisha melangkah mendekati Damian.
“Sekarang katakan padaku, Damian Sagara. Apakah kau tahu tentang rencana ini? Apakah ini bagian dari caramu untuk mendapatkan hak asuh penuh?”
Damian mencengkeram bahu Alisha, kali ini tidak dengan nafsu, tapi dengan kemarahan yang ditujukan pada orang lain.
“Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak tahu apa-apa tentang rencana gila itu.”
“Kalau begitu buktikan,” tantang Alisha. “Buktikan bahwa kau benar-benar menginginkan kami, bukan hanya menjadikanku pajangan sementara kau membiarkan ibumu mencuri anakku.”
Damian menatap Alisha dengan intensitas yang mengerikan. “Jika ibuku mencoba menyentuh Arka, dia akan menyadari bahwa aku bisa menjadi jauh lebih kejam darinya. Besok pagi, semua dokumen itu akan hangus.”
Alisha menatap Damian, mencoba mencari kejujuran di matanya. Untuk pertama kalinya, mereka berdiri di sisi yang sama melawan musuh yang sama. Perang dingin di antara mereka mungkin belum berakhir, namun gencatan senjata yang rapuh baru saja terbentuk karena ancaman terhadap nyawa yang paling mereka cintai.
Malam itu, Alisha tidak kembali ke kamar Arka. Ia duduk di kursi sofa di sudut kamar Damian, sementara Damian tetap di tempat tidurnya. Mereka tidak bicara lagi, namun keduanya terjaga. Di rumah yang penuh dengan rahasia ini, mereka baru saja menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah orang luar, melainkan darah mereka sendiri yang mengalir dalam dinding-dinding Sagara.