Dylan adalah seorang dokter bedah ilegal. Banyak orang di dunia bawah tanah mengandalkannya ketika ada anggota kelompok mereka yang terluka.
Masa kecilnya begitu kelam, seluruh harta kekayaan ibunya dijual oleh ayahnya untuk membangun sebuah perusahaan. Tapi ternyata, pengorbanan ibunya dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
Setelah ibunya meninggal, ayahnya terpaksa harus membuang Dylan, karena selingkuhannya tidak mau menerima kehadirannya.
Dylan berjanji, suatu hari nanti dia akan membalas perbuatan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dylan yang begitu dengan semangat, hendak memberikan hadiah pada Niken, tapi dia tiba-tiba dibuat terpaku saat mendengar perkataan kekasihnya itu.
"Dylan, maafkan aku. Aku rasa hubungan kita sampai disini," ucap Niken dengan nada dingin.
Dylan terdiam sejenak, kemudian dia tertawa kecil. Dia yakin pasti Niken sedang bercanda. "Pasti kamu sedang bercanda, kan? Kamu sering bercanda seperti ini, Niken."
Niken menjawab dengan nada serius. "Aku serius. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita."
Melihat ekspresi Niken yang begitu serius, membuat Dylan tersadar bahwa Niken tidak main-main dengan ucapannya. "Tapi... tapi kenapa? Apa aku telah membuat kesalahan? Kamu sebutkan saja kesalahan apa yang sudah aku perbuat? Aku pasti akan memperbaikinya."
Niken hanya diam. Karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dylan. Selama ini Dylan tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Dia tidak pernah membuatnya kecewa.
Setiap kali mereka berselisih paham, Dylan yang selalu mengalah. Dylan selalu ada untuknya saat dia memiliki masalah. Bukan hanya itu, Dylan juga selalu membantu keluarganya, dengan menjadi tulang punggung keluarga menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal.
Selama ini Dylan juga tidak pernah berbuat macam-macam. Setiap kali mereka berkencan, mereka hanya sekedar jalan-jalan, nonton film, dan makan bersama. Dylan tidak pernah berani menyentuhnya, apalagi menciumnya.
Hanya satu kekurangan Dylan. Masa depannya sangat suram. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap yang hanya mengandalkan ijazah SMA. Sedangkan saat ini, Niken telah diangkat menjadi dokter tetap di Rumah Sakit Pratama.
Niken pun akhirnya menjawab dengan jujur, "Kamu tidak salah apa-apa. Tapi kamu harus sadar, kita bukan remaja lagi. Kamu sudah dewasa, begitu pula dengan aku. Aku membutuhkan sosok pria yang memiliki masa depan."
Niken menambahkan, "Dari kecil aku dan keluargaku sudah hidup miskin. Hanya mengandalkan pekerjaan ayahku yang tidak menentu. Dan aku tidak ingin jika kita sudah menikah dan memiliki anak, anak-anakku bernasib sama sepertiku."
Dylan mencoba meyakinkan Niken. "Aku tahu kegelisahan kamu. Aku juga tidak ingin hidupku terus seperti ini. Aku pasti akan berjuang agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku gak akan mungkin membiarkan kamu kesusahan."
Tapi keputusan Niken sudah bulat. Dia benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Dylan. "Aku harap kamu bisa menghargai keputusan aku, Dylan."
Mata Dylan berkaca-kaca. Hatinya sangat terasa sakit. Dia sama sekali tidak menyangka, hubungan yang sudah dia jalin dengan Niken selama lima tahun ini tiba-tiba kandas begitu saja.
"Apakah hubungan yang kita jalani selama lima tahun ini tidak berarti apa-apa untukmu?" tanya Dylan dengan suara bergetar.
Niken enggan menjawab. Dia justru membahas tentang hal yang menurutnya jauh lebih penting. "Kamu tidak perlu membantu biaya sekolah adikku lagi, dan kamu juga tidak perlu memberikan uang bulanan pada ibuku lagi. Aku ingin mulai sekarang kita menjalani hidup masing-masing."
Setelah berkata seperti itu, Niken pun segera pergi meninggalkan Dylan yang hatinya sedang terluka.
Dylan masih berdiri terpaku. Dadanya sangat terasa sesak, seakan ada sebilah pisau menusuk jantungnya, begitu perih yang dia rasakan tepat di dalam rongga dadanya.
Dylan telah gagal menepati janjinya pada Jefri, orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Padahal Jefri sangat berharap Dylan akan menikahi putri sulungnya itu.
...****************...
Niken yang sedang berada di dalam taksi, dia menghela napas dalam-dalam. Dia sangat yakin keputusannya sudah benar untuk berpisah dengan Dylan.
Dia memang mencintai pria itu. Tapi dia ingin berpikir realistis, menikah dengan seseorang hanya bermodalkan cinta, tidak akan cukup dan tidak akan bisa menjamin hidup bahagia. Buktinya, sampai kini ibunya hidup susah dan memiliki banyak hutang. Dia tidak ingin bernasib sama seperti ibunya.
Dia yakin di zaman sekarang ini tidak akan ada wanita yang menginginkan memiliki kekasih yang masa depannya tidak jelas seperti Dylan.
Dan dia juga yakin dia tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk berpisah dengan pria itu.
Beep...
Beep...
Beep...
Tiba-tiba, ponsel Niken berdering.
Niken segera merogoh ponsel dari tasnya. Dia tersenyum saat melihat nama Direktur Pram terpampang di layar ponselnya.
ahh author nya pasti riset dl ini👍👍👍@DF_14 ᴶᵘʳᵃᵍᵃⁿ ᴱˢ ᴮᵃᵗᵘ good job thor👍
I know you gonna make it, Dy 👏...
Biancaaaa kasih reward special untuk Dylan yaakkk /Drool/....
Awass ditagih lho janjinya wkwkwkwk...
Selalu melarikan diri dari kenyataan dan lari dari tanggu gjawab 😡👊✊...
Mental pecundang telah mendarah daging ☹️....
Luar biasa, nasib baik masih menyertaimu Miler...
Biarkan yang berkompeten saja yang turun tangan menangani pasien....
Jangan berisik dan nyrimpeti...
Cukup diam, anteng, dan renungi kesalahan yang seringkali terjadi ketika menangani pasien..
Siap2 menerima konsekuensi..
Karena kecerobohan dan kelalaianmu...
Yang sudah berada di level yang sangat membahayakan pasien 😱😡...
Meski ada yang sedang meregang nyawa di depan mata /Panic/...
Lakukan sesuatu semaksimal mungkin papa, semampu yang Anda bisa..
Langkah awal ini akan sangat berarti sebagai salah satu dukungan moral untuk Dylan...
Percayalah papa itu akan menjadi hal luar biasa yang akan selalu diingat oleh Dylan sepanjang hidup..
Bobby sebentar lagi keangkuhanmu akan digantikan dengan penyesalan seumur hidupmu😩