"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mahar yang Menangis
Bab 1: Mahar yang Menangis
Senja di Desa Sukasari biasanya membawa aroma tanah basah dan suara tawa anak-anak yang pulang dari sungai. Namun, bagi Rahardian, senja kali ini membawa aroma kematian—bukan kematian raga, melainkan kematian bagi jiwanya sendiri. Ia berdiri mematung di ambang pintu kamar putrinya, Anindya. Di dalam sana, gadis kecil berusia sepuluh tahun itu sedang tertawa riang, mematut dirinya di depan cermin tua yang permukaannya sudah retak dan buram.
Anindya mengenakan kebaya merah cerah dengan payet-payet plastik murah yang berkilauan terkena cahaya lampu minyak. Baginya, itu adalah gaun tercantik yang pernah ia pakai seumur hidupnya.
"Ayah! Lihat, Nin cantik, kan? Seperti putri raja di buku dongeng yang Ayah ceritakan tempo hari!" seru Anindya sambil memutar tubuhnya dengan lincah. Gelang-gelang kuningan di pergelangan tangannya beradu, menciptakan denting halus yang biasanya terdengar seperti melodi paling merdu di telinga Rahardian.
Namun hari ini, bunyi itu seperti palu godam yang menghantam dadanya hingga sesak. Setiap binar di mata anaknya adalah duri yang menusuk kesadarannya sebagai seorang lelaki, sebagai seorang ayah.
Rahardian memaksakan sebuah senyum, meski bibirnya bergetar hebat. Ia melangkah masuk ke kamar yang sempit itu, kakinya terasa berat seolah terikat rantai besi. Ia berlutut di atas lantai tanah agar tingginya sejajar dengan sang putri. Tangan kasarnya yang pecah-pecah dan hitam akibat bertahun-tahun mencangkul tanah milik orang lain, kini gemetar saat menyentuh pundak kecil yang masih rapuh itu.
"Iya, Nak... Nin sangat cantik. Sangat... sangat cantik," suara Rahardian serak, suaranya hampir hilang tertelan rasa perih di tenggorokannya.
Anindya berhenti berputar. Ia menatap wajah ayahnya dengan dahi berkerut. "Kenapa Ayah menangis? Bukannya Ayah bilang hari ini adalah pesta besar? Nin senang karena kata Ayah, di rumah baru nanti Nin punya banyak mainan, tempat tidur yang empuk, dan yang paling penting... Nin tidak perlu lagi melihat Ayah bekerja di bawah terik matahari sampai malam hanya untuk sebungkus nasi."
Rahardian memejamkan mata erat-erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang cekung karena kurang gizi. Ya Tuhan, ampuni hamba yang hina ini, jeritnya dalam sunyi.
Pikirannya melayang kembali ke kejadian tiga hari lalu di rumah besar Tuan Tanah Wijaya. Di atas meja jati yang mewah, terhampar surat perjanjian hutang yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Hutang pengobatan mendiang istrinya, hutang benih padi yang gagal panen, hingga hutang biaya sewa tanah. Totalnya menjadi angka yang tak akan pernah sanggup ia bayar meskipun ia bekerja hingga sepuluh kali kehidupan.
Tuan Wijaya, dengan cerutu di mulut dan senyum licik, memberikan satu pilihan terakhir. "Rahardian, aku tahu kau orang jujur. Tapi hutang tetaplah hutang. Jika kau tidak bisa membayar dengan uang, bayarlah dengan masa depan. Nikahkan putrimu dengan putra bungsuku, Satria. Hutangmu lunas, dan putrimu akan hidup mewah. Jika menolak, besok pagi kau dan anakmu silakan tidur di pinggir jalan karena rumah ini akan kuratakan dengan tanah."
"Nin..." Rahardian memegang kedua tangan kecil Anindya yang terasa begitu halus dibandingkan tangannya yang seperti kayu tua. "Ingat pesan Ayah, ya? Di sana nanti, Nin harus jadi anak yang penurut. Jangan membantah kata mertua... eh, maksud Ayah, orang tua di sana. Belajarlah dengan rajin, meski mungkin bukumu nanti akan berbeda dari buku sekolah yang biasa Nin bawa."
"Kenapa Nin tidak tinggal bersama Ayah saja di sini?" tanya Anindya dengan kepolosan yang menghujam jantung. "Nin janji tidak akan minta jajan lagi. Nin akan bantu Ayah mencangkul di sawah supaya Ayah tidak capek. Nin tidak mau mainan kalau itu artinya Nin harus pergi.
Dada Rahardian naik turun. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada anak sepuluh tahun bahwa ayahnya baru saja "menjualnya" demi sebuah atap? Bahwa ia terlalu pengecut untuk menjadi gelandangan hingga mengorbankan masa depan darah dagingnya sendiri?
"Tidak, Nak... Di sana lebih baik untukmu," bisik Rahardian dengan suara yang pecah. "Ayah akan sering menjengukmu. Ayah janji."
Sebelum Anindya sempat melontarkan pertanyaan lain, suara klakson mobil mewah menggema, memecah kesunyian desa yang mulai gelap. Suara itu bagi warga desa mungkin tanda kekayaan, tapi bagi Rahardian, itu adalah suara lonceng kematian bagi masa kanak-kanak putrinya.
"Mereka sudah datang," bisik Rahardian dengan tubuh lemas.
Ia berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia mengambil sebuah boneka kain kusam yang jahitannya sudah lepas di beberapa bagian dari atas tempat tidur—satu-satunya mainan kesayangan yang selalu menemani Anindya tidur. Ia menyerahkannya pada sang putri dengan tangan yang masih gemetar.
"Pegang ini kuat-kuat. Kalau Nin rindu Ayah, peluk boneka ini. Anggap saja ini pelukan Ayah."
Anindya menerima boneka itu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mulai menyadari ada yang tidak beres. Atmosfer di sekitarnya terasa begitu berat dan menyedihkan, tidak seperti pesta yang ia bayangkan.
Rahardian menuntun tangan kecil itu keluar dari rumah bambu mereka yang reyot. Di halaman, sebuah mobil hitam mengkilap sudah menunggu, sangat kontras dengan kemiskinan yang mengepung rumah mereka. Tetangga-tetangga keluar dari rumah masing-masing, menonton dari kejauhan dengan tatapan iba. Ada yang berbisik, ada yang mengusap air mata, namun tak ada satu pun yang berani bersuara melawan sang penguasa desa yang berdiri di samping mobil itu dengan angkuh.
Langkah kaki Anindya kecil terasa begitu ringan, namun di setiap jejaknya, Rahardian merasa ia sedang mengubur mimpinya sendiri.
Saat pintu mobil dibuka oleh seorang pria berseragam, Anindya tiba-tiba berhenti. Ia melepaskan pegangan tangan ayahnya dan berbalik, menatap rumah kecil mereka untuk terakhir kalinya.
"Ayah... Besok pagi Ayah jemput Nin untuk sekolah, kan? Besok ada ujian matematika, Ayah bilang Nin harus ranking satu agar bisa jadi dokter," ucap Anindya dengan suara bergetar.
Rahardian tidak bisa lagi membendung raungannya. Ia membalikkan badan, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar suara tangisnya tidak membuat Anindya ketakutan. Bahunya terguncang hebat. Ia ingin berteriak pada dunia, ingin menarik kembali putrinya, namun ia tahu ia sudah kalah. Kemiskinan telah mematahkan kakinya.
"Masuklah, Nak... Masuk," hanya itu yang mampu ia katakan di sela isaknya.
Pintu mobil tertutup dengan suara debum yang solid, memutus udara di antara mereka. Saat mobil itu mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah yang berdebu, Rahardian jatuh terduduk di atas tanah kering. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya. Ia memukul-mukul tanah dengan tinjunya, merutuki nasib, merutuki kemiskinan, dan merutuki dirinya sendiri yang telah gagal menjadi pelindung.
Melalui kaca belakang mobil yang gelap, ia masih bisa melihat telapak tangan kecil Anindya yang menempel di kaca, melambaikan tangan dengan wajah bingung yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.
"Maafkan Ayah, Anindya... Maafkan Ayah yang pengecut ini..."
Malam itu, di Desa Sukasari, rembulan tertutup awan hitam. Di sebuah rumah mewah, seorang anak kecil memulai hidup sebagai seorang istri, sementara di sebuah gubuk reyot, seorang ayah kehilangan jiwanya selamanya.