NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Makan Malam Neraka

Estate Utama keluarga Severe terletak di kawasan elite Diamond Hill. Sebuah mansion bergaya klasik Eropa dengan pilar-pilar raksasa yang seolah menatap rendah siapa pun yang datang.

Jay memarkirkan mobil tuanya di luar gerbang besi yang menjulang tinggi. Penjaga keamanan tidak mengizinkan mobil "rongsokan" itu masuk ke halaman utama karena dianggap merusak pemandangan.

"Kau tunggu di sini saja?" tanya Angeline ragu saat mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju pintu depan.

Jay menggeleng. Ia merapikan kerah kemeja flanelnya yang agak kusut. "Ayahmu mengundangku. Tidak sopan kalau aku tidak menampakkan muka."

Angeline menggenggam tangan Jay erat. Telapak tangannya dingin dan berkeringat. "Apapun yang mereka katakan nanti... tolong tahan emosimu. Lakukan demi aku."

"Aku janji," jawab Jay tenang.

Ruang Makan Utama.

Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan di atas meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahogany. Hidangan mewah tersaji: steak wagyu, lobster, dan botol-botol anggur mahal.

Namun, atmosfer di ruangan itu sedingin kamar mayat.

Di ujung meja, duduk Demian Severe, sang kepala keluarga. Wajahnya keras, matanya menatap tajam seperti elang yang siap menyambar. Di sampingnya, Elen (ibu Angeline) menatap Jay dengan jijik yang tak ditutup-tutupi. Rendy duduk sambil memainkan pisau steaknya dengan senyum licik.

Dan ada satu orang lagi.

Seorang pria muda tampan dengan setelan jas navy yang pas badan, jam tangan Patek Philippe melingkar di pergelangan tangannya. Ia duduk di kursi tamu kehormatan, menyesap red wine dengan elegan.

Victor Han.

Jay menyipitkan matanya sedikit saat melihat pria itu. Victor Han... Nama itu tidak asing. Pewaris keluarga militer dan bisnis, figur yang sedang naik daun di ibu kota politik.

"Duduk," perintah Demian dingin, tanpa menyapa.

Angeline dan Jay duduk di kursi yang tersisa.

"Makanlah," kata Demian lagi.

Suasana hening. Hanya terdengar denting garpu dan pisau beradu dengan piring porselen. Jay memotong daging di piringnya dengan tenang, seolah tidak menyadari ketegangan di udara.

"Angeline," suara Demian memecah keheningan. "Aku dengar kau membuat masalah dengan Mr. Harold siang tadi."

Angeline meletakkan garpunya. "Ayah, itu salah paham. Mr. Harold yang tidak masuk akal, dia—"

"Cukup!" potong Demian. "Kau tahu berapa nilai investasi Harold? Lima puluh miliar! Dan kau hampir menghancurkannya karena egomu!"

Demian menunjuk ke arah Victor dengan dagunya. "Untunglah ada Victor. Dia yang menelepon Harold sore tadi dan membereskan kekacauan yang kau buat. Harold setuju melanjutkan kontrak, asalkan..."

Demian menatap Jay dengan tatapan membunuh. "...asalkan kau menyingkirkan sampah yang duduk di sebelahmu itu."

Jay berhenti mengunyah. Ia meletakkan pisau dan garpunya perlahan.

Victor tersenyum ramah, senyum yang dibuat-buat. "Paman Demian terlalu memuji. Kebetulan Harold adalah rekan golf ayahku. Aku hanya bilang padanya, jangan mempersulit Angeline. Kasihan dia, sudah bekerja keras tapi dibebani oleh... faktor eksternal yang tidak kompeten."

Mata Victor melirik Jay. Tatapan itu penuh ejekan.

"Dengar itu, Jay?" sela Rendy sambil tertawa kecil. "Victor menyelamatkan perusahaan kami dengan satu telepon. Sementara kau? Apa yang kau lakukan? Mengantar sandwich murahan?"

Elen ikut memanaskan suasana. "Lihat perbedaannya, Angeline. Victor adalah pria sejati. Dia punya kuasa, uang, dan koneksi. Sedangkan suamimu ini? Dia cuma parasit. Tiga tahun dia menumpang hidup di sini. Apa kau tidak malu?"

Angeline gemetar. "Jay melindungiku! Tadi siang Harold hampir memukulku, dan Jay yang menghentikannya!"

"Omong kosong!" bentak Rendy. "Harold bilang tangannya kram. Jangan melebih-lebihkan peran sopir ini."

Victor berdiri. Ia membawa botol wine mahal di tangannya dan berjalan memutari meja menuju tempat Jay duduk.

"Tenanglah semuanya," kata Victor dengan nada diplomatis. "Mungkin Jay memang punya niat baik. Mari kita bersulang untuk niat baik itu."

Victor menuangkan anggur ke gelas Jay. Tapi saat gelas itu hampir penuh, ia tidak berhenti menuang.

Cairan merah pekat itu meluap, tumpah membasahi taplak meja putih, lalu menetes deras ke celana jins Jay.

"Ups," kata Victor datar. Wajahnya tanpa ekspresi penyesalan sedikit pun. "Maaf. Tanganku licin. Atau mungkin... gelasmu yang terlalu kecil untuk menerima kebaikanku?"

Hening.

Ini adalah penghinaan terbuka. Victor tidak hanya menumpahkan minuman, dia sedang menandai wilayahnya.

Angeline tersentak bangun, mengambil serbet. "Jay! Kau basah..."

Jay menahan tangan istrinya. Wajahnya masih datar, tapi otot rahangnya sedikit mengeras. Ia mengambil serbet itu, membersihkan celananya dengan gerakan lambat.

"Tidak apa-apa," kata Jay pelan. Ia mendongak menatap Victor.

Dalam jarak sedekat ini, Jay bisa melihat pupil mata Victor. Mata seorang pembunuh.

"Anggur yang bagus," kata Jay tenang. "Sayang sekali, cara menuangnya amatir."

Senyum Victor lenyap seketika.

"Apa kau bilang?" desis Victor.

"Sudah cukup!" Demian memukul meja. Piring-piring bergetar.

Demian mengambil sebuah map biru dari bawah meja dan melemparkannya ke hadapan Angeline.

"Aku sudah muak melihat drama ini. Angeline, pilih sekarang. Tanda tangani surat cerai itu dan menikahlah dengan Victor bulan depan. Atau..." Demian menatap putrinya tajam. "...kau dicoret dari daftar warisan, dipecat dari perusahaan, dan silakan hidup menggelandang bersama sopir tidak berguna ini."

Angeline menatap map biru itu dengan mata berkaca-kaca. Surat Cerai.

"Ayah... kau tidak bisa memaksaku..."

"Bisa!" bentak Elen. "Ini demi masa depanmu! Kau mau hidup susah selamanya?! Pikirkan logikanya, Angeline! Jay tidak punya apa-apa. Victor bisa memberimu dunia!"

Semua mata tertuju pada Angeline. Tekanan itu begitu berat hingga rasanya mencekik.

Tiba-tiba, Jay mengambil map biru itu.

"Jangan sentuh itu dengan tangan kotormu!" teriak Rendy.

Jay membuka map itu, membaca isinya sekilas.

Jay menutup map itu kembali, lalu menatap Demian, Victor, dan seluruh keluarga Severe satu per satu.

"Kalian pikir..." suara Jay rendah, tapi menggema jelas di ruang makan yang luas itu. "Kalian pikir nilai seorang pria hanya ditentukan oleh apa yang ada di dompetnya?"

Victor tertawa meremehkan. "Di dunia nyata? Ya. Tanpa kekuasaan, kau hanyalah serangga, Jay. Kau bisa diinjak kapan saja."

Jay berdiri. Ia menjulang tinggi di hadapan Victor. Untuk sesaat, aura dominan Victor seolah terhapus oleh keberadaan Jay yang tenang namun menindas.

"Serangga," ulang Jay, seolah menimbang kata itu. "Hati-hati, Victor Han. Kadang, serangga yang kau injak itu... beracun."

Jay menoleh ke Angeline. "Aku akan menunggumu di mobil. Apapun keputusanmu, aku hargai."

Jay berbalik dan berjalan keluar ruangan. Punggungnya tegak lurus, langkahnya mantap. Tidak ada sedikit pun gestur kekalahan dari tubuhnya.

Di belakangnya, Victor menatap punggung Jay dengan kening berkerut. Tatapan itu... kenapa rasanya aku pernah melihat mata itu di medan perang Utara? batin Victor curiga.

Tapi lamunannya buyar saat Demian kembali menekan Angeline.

"Tanda tangani, Angeline. Sekarang."

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!