Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
Satpam itu nampak melirik ke arah Qiara dengan senyuman yang mengerikan.
Setelah waktu berlalu, akhirnya tidak ada murid yang berlalu lalang di gerbang sekolah. Di barengi dengan bel tanda masuk sekolah yang berbunyi, satpam itu nampak berjalan menghampiri Qiara.
"Ayo neng, kita keluar gebang dulu. Soalnya gerbang sekolah mau aku kunci. Kita tidak punya banyak waktu untuk bersenang senang." Satpam itu nampak menggiring tubuh Qiara untuk keluar gerbang.
Sementara Qiara nampak menurut, seraya bergumam dengan wajah bingung, "bersenang senang?"
Otak Qiara terasa blank, bahkan dirinya tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Maksud bapak kita akan segera pergi ke sekolah neng. Agar neng bisa bersenang senang dengan teman baru di sana," kilah satpam itu agar Qiara tidak curiga dengan niat buruknya.
"Oh begitu," sahut Qiara polos. Bahkan ia tidak menyimpan kecurigaan sama sekali di dalam hatinya.
Setelah selesai menutup gerbang, satpam itu nampak meminta Qiara untuk duduk di jok motor belakangnya.
Qiara dengan patuh pun langsung duduk di sana.
****
*
*
Taruna High School.
"Selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun ... Selamat ulang tahun Dila, semoga panjang umur."
Dila nampak memasang raut wajah berbinar, kala dirinya yang ingin masuk ke dalam kelasnya harus di kejutkan dengan kejutan yang di berikan oleh sang pacar.
"Noah ..." kata Dila dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di deskripsikan karena saking bahagianya.
Dila pun terlihat langsung memeluk dan mengecup pipi Noah.
"Dila ... Hati hati, nanti wajah mu kena kue ulang tahun yang aku bawa." Kata Noah dengan nada khawatir.
Dila nampak menggelengkan kepalanya.
"Gak Noah ... Kena pun gak papa, makasih banyak untuk kejutannya."
"Hmm, sebenarnya kejutannya bukan ini. Karena aku masih ada hadiah lain," ucap Noah dengan nada romantis.
Para murid perempuan yang melihat pemandangan Dila dan Noah sungguh merasa iri dengan Dila.
"Hadiah lain?" beo Dila.
Noah nampak menganggukkan kepalanya seraya berkata, "tapi kamu tiup dulu lilinnya lalu buat permintaan."
Dengan senang hati Dila langsung melakukan apa yang barusan Noah perintahkan.
Lalu Noah terlihat meletakkan kue ulang tahun yang sebelumnya dirinya pegang. Dan mengambil sebuah kotak perhiasan yang ada di saku celananya.
Natan sendiri sedang sibuk berpacaran dengan salah satu murid di pojokan. Sementara Nolan, nampak celingukan mencari keberadaan Qiara.
"Jangan jangan gadis itu tersesat lagi! Tapi bukankah dia tadi naik bis bersama dengan Noah," gumam Nolan.
Qiara duduk di jok motor milik satpam yang ternyata bernama Saleh. Hingga saat itu, Qiara belum menyadari niat jahat di balik senyuman miring satpam itu.
"Apakah dia bisa dipercaya?" batin Qiara, tanpa menyadari bahaya yang mengintainya. Saleh mulai men stater motor butut miliknya, mempersiapkan untuk membawa Qiara pergi.
"Qiara... Tunggu...!" tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Baik Qiara maupun satpam itu pun menoleh ke arah sumber suara.
"Angga..." panggil Qiara dengan suara bingung, melihat laki-laki yang berseragam seperti murid SMA Negeri 14 Kota Awan.
"Pak Saleh mau membawa teman saya kemana?" tanya Angga setelah motor yang dikendarainya mendekati motor milik satpam yang akan melaju itu.
Melihat kedatangan Angga, satpam itu tampak gelagapan dan bingung.
"Hmmm... Aku mau mengantar gadis ini ke sekolahnya. Karena dia salah sekolah... Mmm dia tersesat," sahut satpam itu dengan nada terbata.
Wajah satpam bernama Saleh itu tampak kecewa, niat jahatnya terhadap Qiara terancam gagal karena kedatangan Angga.
"Apa benar niatnya hanya mengantarku? Atau ada sesuatu yang lain?" batin Qiara, mulai curiga melihat ekspresi wajah Saleh yang kecewa.
Tapi beruntung Angga datang pada waktu yang tepat dan mencegah niat buruk tersebut.
"Biar saya saja yang mengantarnya Pak Saleh," tawar Angga pada pria berpakaian satpam itu.
Saleh nampak bingung saat akan menjawab tawaran yang Angga berikan. Karena dirinya sudah terlanjur menawarkan tubuh Qiara pada teman temannya. Dia takut, kalau teman teman nya malah akan menuduhnya sebagai seorang pembohong.
"Qiara sekolahmu di Taruna High School kan?" tanya Angga pada Qiara untuk memastikan.
Qiara sendiri awalnya merasa bingung untuk menjawab pertanyaan yang barusan Angga berikan. Mengingat dirinya sendiri juga tidak tahu di daftarkan di sekolah mana?
Namun, setelah Qiara mendapatkan kode kedipan dari Angga berkali kali. Akhirnya dengan mantap Qiara menjawab.
"Iya, aku bersekolah di sekolah yang barusan kamu sebut kan," sahut Qiara, namun dirinya tidak berani mengatakan nama sekolah. Ia takut kalau sampai salah dalam hal mengeja.
"Biar aku saja yang mengantarnya Pak Saleh." Lagi dan lagi, Angga terlihat menawarkan untuk mengantar Qiara pergi ke sekolah nya sesekali Angga nampak mengedip ngedipkan matanya pada Qiara.
Qiara sendiri di malah di buat geli, bahkan ia juga tertawa. Kala melihat Angga malah mengedip mengedipkan matanya itu terus menerus. Karena mengingat Qiara yang tidak mengerti dengan kode yang dirinya berikan.
"Astaga Qiara, kenapa lo itu malah ketawa? Harusnya lo itu mohon mohon sama gue. Agar gue yang mengantar lo untuk pergi ke sekolah. Karena Pak Saleh itu memang orang yang terkenal sebagai orang mesum," gumam Angga dalam hatinya. Ia benar benar di buat gemas dengan kebodohan Qiara.
Angga tentu saja tahu, kebodohan dan IQ rendah yang di miliki Qiara. Karena waktu SMP dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Qiara.
"Angga biar bapak saja yang mengantar gadis ini untuk pergi ke sekolah nya. Bukankah harusnya kamu itu pergi ke sekolah?"
"Saya telat Pak ... Kan gerbang juga sudah ditutup. Gak papa saya saja yang mengantar gadis ini," kata Angga bohong.
Karena yang sebenarnya terjadi, Angga kalau berangkat selalu pagi. Bahkan 30 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi.
Tadi sebenarnya dia sudah masuk ke dalam area sekolah. Namun, setelah melihat sekelebatan Qiara. Ia memilih untuk keluar dari area sekolah lagi.
Apalagi melihat Qiara yang malah dekat satpam yang terkenal licik dan juga mesum di SMA negeri 14 kota Awan ini.
"Gak papa, biar bapak bantu bukakan pintu gerbangnya! Soalnya sekalian bapak mau pergi ke arah SMA Taruna." ucap Saleh, ia terlihat kekeh dan memaksa untuk mengantar Qiara pergi ke sekolah nya.
Saleh pun nampak menggandeng tangan Qiara saat turun dari motor butut miliknya, dia benar benar merasa enggan untuk jauh dari gadis yang seperti anaknya itu. Lalu ia tampak menarik tangan Qiara dengan erat, membuat jari-jemari mereka saling menyatu.
Perasaan itu sungguh membuat Qiara merinding, tak mampu berpikir jernih.
"Apa yang akan terjadi padaku? Apa motif di balik tindakannya ini?" gumam Qiara dalam hati.
Angga sendiri nampak mengekor di belakang.