Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: UMPAN MANIS SANG ISTRI
Sore itu, langit di luar jendela mansion berubah warna menjadi ungu kemerahan yang dramatis, memantulkan bayangan panjang di atas lantai marmer yang dingin. Alana berdiri di depan cermin besar di dalam kamar, menatap pantulan dirinya sendiri. Tubuhnya masih terasa nyeri, namun kata-kata Arthur semalam terus bergema di kepalanya seperti mantra: Berikan dia kemenangan yang ia inginkan agar kau bisa mengarahkan badainya.
Alana memilih untuk tidak memakai jubah mandi tebalnya yang biasa. Sebagai gantinya, ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna sampanye yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, dengan punggung yang terbuka rendah. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, menutupi sebagian tanda kemerahan di bahunya, namun sengaja menyisakan beberapa jejak di leher agar Dante bisa melihat "karyanya" dengan jelas.
Suara deru mesin mobil di halaman menandakan sang predator telah kembali. Alana menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tidak lari bersembunyi di balik selimut kali ini. Ia justru berjalan menuju pintu kamar dan menunggunya di sana.
Cklek.
Pintu terbuka, dan sosok Dante Volkov yang menjulang tinggi muncul. Ia tampak lelah, dasinya sudah ditarik lepas dan kemeja hitamnya sedikit kusut, memancarkan aura maskulin yang sangat dominan. Namun, langkah Dante terhenti tepat di ambang pintu saat ia melihat Alana berdiri tegak menyambutnya.
Bukannya menunduk takut seperti biasanya, Alana justru menatap langsung ke dalam mata biru es Dante. Sebuah senyum tipis—hampir menyerupai godaan yang malu-malu—tersungging di bibirnya yang masih sedikit membengkak.
"Selamat datang di rumah, Dante," ucap Alana dengan suara lembut yang tidak bergetar.
Dante mematung. Matanya menyipit, memindai setiap inci tubuh Alana dari ujung kaki hingga ke mata bulat gadis itu. Ia mencari jejak ketakutan, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang manis dan mengundang. Perubahan drastis ini membuatnya terkejut, sekaligus memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya di dalam darahnya.
"Kau tidak meringkuk di bawah selimut, little girl?" tanya Dante dengan suara bariton yang berat, langkahnya perlahan mendekat seperti singa yang melihat mangsanya bersikap aneh.
Alana tidak mundur. Saat Dante sudah berdiri tepat di depannya, Alana justru mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh dada bidang Dante yang keras dan mulai membuka kancing kemeja suaminya satu per satu. "Arthur bilang kau pria yang sibuk. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu hari ini."
Sentuhan jari Alana yang dingin di atas kulit dadanya yang panas membuat Dante menggeram rendah. Ia mencengkeram rahang Alana, mendongakkannya agar mata mereka terkunci. "Apa yang sedang kau rencanakan, Alana? Sejak kapan kau punya keberanian untuk menyentuhku lebih dulu?"
Alana tersenyum lagi, lebih berani kali ini. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Dante hingga napasnya yang hangat menggelitik kulit pria itu. "Bukannya kau bilang aku harus belajar mengimbangi gairahmu? Aku hanya mencoba... memulainya lebih awal."
Geraman Dante berubah menjadi raungan rendah yang penuh nafsu. Sikap "manis" Alana adalah bensin yang disiramkan ke atas api yang sudah berkobar. Ketidaktakutan Alana justru membuatnya semakin haus untuk menaklukkan gadis itu lagi dan lagi. Dante menyambar pinggang Alana dengan tangan kekarnya, mengangkat tubuh mungil itu hingga kaki Alana melingkar di pinggangnya, dan menghimpitnya ke dinding di samping pintu.
"Kau bermain api, Alana," desis Dante, matanya menggelap hingga menyerupai lubang hitam yang siap menelan apa pun. "Jika kau bersikap seperti ini, jangan harap aku akan membiarkanmu tidur sekejap pun malam ini."
"Maka jangan biarkan aku tidur, Dante," tantang Alana lirih, tangannya kini meremas rambut hitam di tengkuk Dante.
Dante kehilangan kendali sepenuhnya. Ia melahap bibir Alana dengan beringas, namun kali ini Alana membalasnya, memberikan lidahnya untuk dipermainkan oleh sang raksasa. Dante merobek gaun sutra tipis itu tanpa ragu, membiarkan kain mahal itu terkoyak dan jatuh ke lantai sebagai sampah.
"Sialan, kau membuatku gila!" Dante mengerang di antara ciuman mereka. Ia membalikkan tubuh Alana, menghimpit dada gadis itu ke pintu yang baru saja ia tutup, dan langsung menyerang bagian belakang leher Alana dengan gigitan-gigitan kecil yang posesif.
Hasrat Dante yang biasanya beringas kini terasa sepuluh kali lipat lebih intens karena ia merasa Alana akhirnya menyerah padanya secara sukarela. Ia tidak tahu bahwa ini adalah bagian dari taktik Alana, namun bagi Dante, ini adalah kemenangan mutlak.
Ia memposisikan dirinya di belakang Alana, menarik pinggul gadis itu ke arahnya dengan kasar. "Kau ingin bersikap manis, huh? Mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan saat aku memberikan apa yang kau minta."
Tanpa pemanasan yang lama, Dante mêñghµjåm må§µk, mengklaim Alana kembali di balik pintu kamar yang masih terkunci. Suara erangan Alana yang kini lebih berani berbaur dengan geraman puas Dante, menciptakan simfoni gåïråh yang jauh lebih panas dari malam-malam sebelumnya. Alana mungkin sedang mencoba "menjinakkan" Dante, namun ia tidak menyadari bahwa dengan bersikap manis, ia justru telah membuka pintu bagi sisi predator Dante yang paling gelap dan paling tak terpuaskan.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄