NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Nara tidak punya pilihan lain. Menjadi istri Arkan juga tidak buruk.

Dengan tangan sedikit gemetar, Nara menekan nomor ayahnya. Nada sambung terdengar lama, terlalu lama, hingga akhirnya suara ibunya menyahut di seberang sana.

“Halo, Nara?”

“Ibu…” suara Nara terdengar ragu,

“Nara mau bilang sesuatu.”

Belum sempat ia melanjutkan, ayahnya ikut menyela di belakang,

“Ada apa? Kamu sehat di sana?”

Nara menarik napas panjang.

“Ada… ada seorang pria yang mau melamar Nara.” jawab Nara dengan nada ragu.

Hening. Beberapa detik terasa seperti menit.

“Melamar?” suara ibunya meninggi.

“Kamu bercanda, kan, Ra?”

“Tidak, Bu,” jawab Nara pelan.

“Mereka akan datang langsung ke rumah, besok bu." jawab Nara.

Pertanyaan pun datang bertubi-tubi. Siapa prianya. Kerja apa. Orangnya bagaimana. Kenal dari mana. Sudah berapa lama.

Kepala Nara berdenyut, tapi ia menjawab satu per satu dengan hati-hati. Ia memilih jujur, namun tidak sepenuhnya.

“Usianya tiga puluh tahun,” ucap Nara akhirnya.

“Apa?!” suara ibunya langsung meninggi.

“Itu sudah tua, Nara! Kamu baru mau sembilan belas!”

Nara menggigit bibir.

“Dia baik, Bu. Bertanggung jawab.” jawab Nara.

“Sudah menikah?” tanya ibunya Nara curiga.

“Jangan-jangan kamu dijadikan istri kedua!” kecurigaan ibunya Nara membuat Nara kesal.

“Tidak!” Nara langsung membantah, suaranya bergetar.

“Dia belum menikah. Nara tidak mau jadi istri kedua siapa pun.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Kamu yakin?”

“Jangan-jangan kamu dibohongi!” pertanyaan ibunya yang beruntun membuat Nara pusing.

Pertanyaan ibunya memang menusuk, tapi Nara bertahan.

“Nara tidak bodoh sampai sejauh itu, Bu,” ucap Nara lirih.

“Dia tidak seperti yang ibu pikirkan.” lanjut Nara.

Ayahnya Nara akhirnya berbicara, nadanya lebih tenang tapi berat.

“Kalau memang begitu, biar kami lihat langsung. Jangan ambil keputusan sendiri. Paling tidak sekarang telepon dulu, jangan tiba-tiba datang melamar.”

“Iya, Yah,” jawab Nara lega. Dan tinggal mencari cara bicara dengan Arkan untuk bicara dengan orang tuanya.

Setelah telepon ditutup, Nara terduduk lemas di tepi ranjang. Tangannya masih dingin, dadanya sesak.

Ia menatap kosong ke depan. Ia tidak mengatakan kalau pria itu bernama Arkan. Tidak mengatakan kalau pria itu sangat kaya. Tidak mengatakan kalau hidupnya kini jauh berbeda.

Bukan karena ingin berbohong, melainkan karena Nara takut, takut orang tuanya tidak percaya, takut semua ini terdengar terlalu tidak masuk akal untuk kehidupan sederhana mereka.

Di sudut rumah, Indah memperhatikan Nara dari jauh. Ia tidak bertanya, hanya tersenyum kecil.

Indah tahu, ujian pertama Nara bukan datang dari dunia Arkan, melainkan dari keluarganya sendiri.

Nara akhirnya memberanikan diri bicara dengan Arkan, kalau orang tuanya ingin bicara sebelum mereka datang, Arkan tidak keberatan dan langsung video call dengan orang tua Nara.

Pesona Arkan tidak perlu di ragukan, begitu melihat wajah Arkan orang tua Nara langsung setuju tanpa banyak bertanya dan Arkan senang karena jalannya mulus, tapi Nara sendiri yang bingung karena tiba-tiba akan menikah.

Keesokan harinya, Nara akhirnya ikut berangkat bersama rombongan Arkan dan keluarganya.

Mobil-mobil besar bergerak meninggalkan rumah Arkan dan akan menempuh perjalanan yang lumayan panjang untuk sampai di rumah Nara.

Setelah beberapa jam dalam perjalanan yang lancar, mobil memasuki gang sempit tempat rumah Nara berada. Nara duduk diam di kursi belakang, jemarinya saling menggenggam. Sepanjang perjalanan, dadanya tak henti berdebar. Ini bukan soal lamaran, ini tentang dua dunia yang sebentar lagi akan saling berhadapan.

Kemarin, setelah orang tuanya bicara dengan Arkan, Nara kembali menelepon orang tuanya.

“Bu,” kata Nara hati-hati,

“tolong siapkan makanan yang layak saat mereka datang.”

Awalnya Ibunya Nara ingin langsung menolak.

“Untuk apa? Kita masak seperti biasa saja. Kalau mereka bawa uang tapi tidak sesuai, nanti kita malu.”

Kalimat itu menusuk. Karena ibunya Nara masih menganggap Arkan orang biasa.

“Bu,” suara Nara mengeras untuk pertama kalinya,

“mereka datang dengan niat baik. Jangan sampai mereka merasa tidak dihargai.”

“Tapi kita tidak punya uang sebanyak itu,” sanggah ibunya Nara.

Nara terdiam sejenak, lalu mengambil keputusan.

“Aku yang kirim uangnya.”

Tak menunggu persetujuan, Nara langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening ayahnya. Jumlah yang cukup untuk membeli bahan makanan terbaik yang pernah ada di dapur rumah itu. Dan juga Nara meminta ibunya menyiapkan oleh-oleh.

Saat orang tua Nara menerima uang dari Nara, telepon Nara kembali berdering.

“Nara,” suara ayahnya berat,

“uang dari mana ini?” ayahnya Nara tidak percaya anaknya memiliki banyak uang.

“Tabunganku,” jawab Nara singkat.

“Tolong, Yah. Aku tidak mau hari itu jadi bahan omongan.”

Di ujung sana, tak ada lagi bantahan dari orang tua Nara.

Kini, saat mobil berhenti di depan rumah sederhana yang di tempati Nara dan keluarga, Nara menelan ludah. Bau masakan dari dapur sudah tercium, aroma yang lebih kaya dari biasanya. Ibunya berdiri di depan rumah dengan wajah tegang, ayahnya menyambut dengan senyum kaku.

Indah turun lebih dulu, sikapnya anggun namun hangat. Ia menyapa dengan sopan, menyalami orang tua Nara dengan penuh hormat, seolah tak ada jarak kelas sosial di antara mereka.

Nara berdiri di samping, menunduk. Ia tahu, uang yang ia kirim bukan soal pamer. Itu adalah caranya menjaga martabat orang tuanya.

Di hari itu, Nara bukan hanya calon pengantin. Ia adalah anak perempuan yang ingin orang tuanya juga punya harga diri meskipun tidak sebanding dengan calon mertuanya. tanpa rasa kecil di hadapan dunia yang terlalu besar.

Ruang tamu rumah Nara terasa lebih sempit dari biasanya, bukan karena jumlah orang, melainkan karena suasana yang terlalu khidmat.

Kursi-kursi plastik disusun rapi, meja ditutup taplak terbaik yang mereka miliki. Di sudut ruangan, hantaran dari keluarga Arkan tertata rapi, terlalu rapi untuk rumah sederhana Nara.

Orang tua Arkan duduk berhadapan langsung dengan ayah dan ibu Nara.

Indah membuka pembicaraan tanpa basa-basi berlebihan, suaranya tenang namun tegas.

“Kami datang ke sini dengan niat baik,” ucapnya sopan.

“Tujuan kami jelas, ingin melamar putri Bapak dan Ibu, Nara, untuk anak kami, Arkan.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa berputar-putar.

Nara duduk di sisi ibunya, menunduk. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak di telinga.

Ayah Nara melirik Arkan. Pria itu duduk tegak, rapi, sorot matanya tenang. Tidak ada kesan meremehkan, tidak ada sikap sok berkuasa. Hanya sikap seorang pria dewasa yang datang dengan tanggung jawab.

“Kami tidak datang untuk main-main,” lanjut ayah Arkan.

“Arkan berniat menikah secara sah dan terhormat.”

Arkan ikut angkat bicara, suaranya rendah tapi jelas.

“Saya datang dengan niat serius, Pak, Bu. Saya siap bertanggung jawab penuh pada Nara.”

Tak ada janji berlebihan. Tak ada kata-kata manis berlebihan. Justru itu yang membuat ayah Nara terdiam lama.

Ibunya Nara melirik barang-barang di depan mata, kain, perhiasan, seserahan yang belum pernah mereka bayangkan seumur hidup. Tangannya sedikit bergetar.

“Ini… terlalu banyak,” ucap ibunya Nara pelan.

Indah tersenyum lembut.

“Ini bukan untuk pamer. Ini bentuk kesungguhan kami.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Ayah Nara menarik napas panjang, lalu berkata,

“Kalau niat kalian baik, dan Arkan datang dengan cara terhormat seperti ini, kami tidak punya alasan untuk menolak.”

Ibunya Nara mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

“Selama Nara tidak diperlakukan semena-mena.”

Arkan langsung menatap Nara sekilas, lalu kembali ke orang tuanya.

“Saya berjanji,” ucap Arkan singkat.

Keputusan itu jatuh begitu saja. Tanpa debat panjang. Tanpa syarat rumit.

Nara mengangkat wajahnya perlahan. Ia ingin berbicara, ingin mengatakan banyak hal, tentang kuliah, tentang mimpinya, namun kata-kata itu tertelan oleh kenyataan yang sudah ditetapkan.

Lamaran diterima.

Di tengah ruangan yang sederhana itu, dengan barang-barang mewah yang terasa asing, hidup Nara resmi berubah arah.

Ia datang ke luar kota untuk mengejar masa depan.

Namun hari itu,

masa depan justru datang menjemputnya

lebih cepat dari yang ia bayangkan.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!