NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Tabir yang Tersingkap

​Pagi itu, udara di dalam kamar VVIP terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang tidak berfungsi, melainkan karena ada beban antisipasi yang begitu besar memenuhi setiap sudut ruangan. Sinar matahari yang menembus gorden tipis tampak lebih terang, seolah-olah alam pun tahu bahwa hari ini adalah hari yang akan mengubah hidup seorang Raga Adhitama selamanya.

​Nala berdiri di dekat jendela, kedua tangannya saling bertautan dengan erat. Ia menarik napas panjang berkali-kali untuk menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti tabuhan genderang di dalam dada. Ia melirik ke arah tempat tidur, di mana Raga sedang duduk bersandar dengan bantuan bantal-bantal besar. Hari ini adalah jadwal pembukaan perban tahap pertama pada wajah Raga, sebuah momen yang telah mereka nantikan sekaligus mereka takuti.

​Raga tampak jauh lebih diam dari biasanya. Matanya yang hitam pekat menatap ke arah pintu, menunggu kedatangan tim dokter. Meskipun ia tidak bicara, Nala bisa melihat bagaimana jakun suaminya itu bergerak naik turun setiap kali ia menelan ludah. Raga merasa sangat gelisah. Baginya, perban putih itu adalah pelindung terakhir dari kenyataan yang mungkin akan menghancurkannya kembali. Selama lima tahun, ia telah menerima statusnya sebagai monster di balik topeng perak. Gagasan bahwa ia mungkin akan melihat wajah yang normal kembali terasa seperti sebuah fatamorgana yang menakutkan.

​"Mas Raga, semuanya akan baik-baik saja," bisik Nala. Ia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Raga yang terasa sangat dingin dan sedikit lembap karena keringat.

​Raga menoleh ke arah Nala. "Bagaimana jika hasilnya tidak seperti yang dijanjikan dokter, Nala? Bagaimana jika yang ada di bawah sini tetaplah sesuatu yang menjijikkan?"

​Nala menggelengkan kepala dengan tegas. Ia menatap mata Raga dengan penuh keyakinan. "Sudah aku katakan berulang kali, aku mencintai pria yang ada di dalam sini, bukan hanya rupa yang ada di luar. Tapi aku percaya pada Dokter Gunawan. Dia adalah yang terbaik. Apapun yang kita lihat nanti, kita akan menghadapinya bersama-sama."

​Pintu kamar terbuka dengan suara gesekan yang halus. Dokter Gunawan masuk bersama dua orang asisten perawat yang membawa nampan berisi peralatan medis steril, gunting bedah, dan berbagai jenis cairan pembersih. Wajah sang dokter tampak tenang dan memberikan kesan profesional yang menenangkan.

​"Selamat pagi, Tuan Raga, Nyonya Nala. Apakah Anda berdua sudah siap untuk hari ini?" tanya Dokter Gunawan sambil memakai sarung tangan karet yang mengeluarkan suara decitan kecil.

​Raga hanya mengangguk pelan. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara.

​"Baiklah. Proses ini akan dilakukan dengan sangat perlahan. Saya akan membuka lapisan luar perbannya terlebih dahulu. Mungkin Anda akan merasakan sedikit sensasi dingin karena udara mulai menyentuh kulit yang selama ini tertutup rapat. Jika terasa nyeri atau tidak nyaman, segera beritahu saya," instruksi Dokter Gunawan.

​Nala mengambil posisi di sisi kiri tempat tidur, tidak membiarkan satu detik pun tangan Raga lepas dari genggamannya. Ia ingin Raga tahu bahwa ia ada di sana, menjadi sauh bagi badai emosi yang mungkin akan menerjang.

​Dokter Gunawan mulai bekerja. Suara gunting yang memotong kain kasa terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Satu lapis demi satu lapis perban putih itu mulai dilepaskan. Nala menahan napasnya. Ia melihat lapisan kain yang tadinya bersih, kini memperlihatkan bekas-bekas cairan obat yang mengering. Aroma obat-obatan yang tajam kembali menyerbak di udara.

​Raga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan tekanan di kepalanya mulai berkurang saat lilitan perban itu dilonggarkan. Namun seiring dengan berkurangnya tekanan itu, rasa takutnya justru semakin membesar. Ia merasa telanjang, seolah-olah seluruh kerentanannya sedang dipajang di bawah lampu operasi yang terang.

​"Lapisan terakhir," ucap Dokter Gunawan dengan nada bicara yang sangat berhati-hati.

​Nala melihat tangan dokter yang bergerak dengan presisi tinggi. Begitu kain kasa terakhir dilepaskan, ruangan itu seolah membeku. Nala menutup mulutnya dengan tangan bebasnya, matanya membelalak lebar. Air mata seketika menggenang di pelupuk matanya.

​Wajah Raga tidak lagi tersembunyi. Area yang selama lima tahun dipenuhi oleh jaringan parut yang tebal, merah, dan mengerut, kini tampak sangat berbeda. Kulitnya memang masih tampak kemerahan dan sedikit bengkak akibat operasi besar yang baru saja dialaminya, namun permukaannya sudah rata. Tidak ada lagi benjolan daging yang menyeramkan. Tulang pipi Raga yang tadinya tampak amblas kini sudah memiliki struktur yang tegas berkat plat titanium yang ditanamkan.

​Bekas luka bakar yang dulu menghitam dan menarik sudut matanya kini telah digantikan oleh kulit baru hasil cangkokan yang sangat halus. Meski warnanya belum sepenuhnya merata dengan kulit aslinya, namun perubahannya sangat drastis. Raga tidak lagi terlihat seperti monster. Ia terlihat seperti seorang pria yang baru saja kembali dari medan perang, namun dengan wajah yang telah disembuhkan oleh tangan-tangan ajaib.

​"Nyonya Nala, tolong berikan cerminnya kepada Tuan Raga," pinta Dokter Gunawan.

​Nala mengambil cermin perak yang terletak di meja samping tempat tidur dengan tangan yang gemetar. Ia menyerahkannya kepada Raga.

​Raga perlahan membuka matanya. Ia menatap cermin itu dengan ragu. Saat bayangan dirinya sendiri muncul di permukaan kaca yang jernih, Raga terdiam membatu. Selama beberapa menit, ia tidak berkedip. Ia memperhatikan setiap inci wajahnya yang selama lima tahun ini selalu ia hindari. Ia menyentuh tulang pipi kirinya yang baru dengan ujung jari yang gemetar. Ia merasakan kulit yang lembut, bukan lagi jaringan parut yang keras dan kaku.

​"Ini... aku?" bisik Raga. Suaranya pecah, dipenuhi dengan rasa tidak percaya yang mendalam.

​"Iya, Mas. Itu kamu," isak Nala. Ia tidak lagi bisa menahan air matanya. "Lihatlah, Mas. Kamu sangat tampan. Luka itu sudah pergi."

​Raga terus menatap cermin itu. Air mata mengalir dari mata kanannya, membasahi kulit barunya yang masih sensitif. "Luka bakarnya... hilang. Dokter, bagaimana mungkin?"

​Dokter Gunawan tersenyum puas sambil merapikan peralatannya. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, Tuan Raga. Kecelakaan kemarin memaksa kami untuk membongkar seluruh jaringan lama Anda. Kami membersihkan sel-sel mati yang selama ini menghambat pertumbuhan kulit Anda. Ditambah dengan teknologi laser dan cangkok kulit terbaru, kami berhasil mengembalikan struktur wajah Anda mendekati delapan puluh persen dari kondisi asli Anda sebelum kecelakaan lima tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, warna kemerahan ini akan memudar dan menyatu dengan warna kulit asli Anda."

​Raga meletakkan cermin itu dengan tangan yang lemas. Ia menatap Nala dengan pandangan yang sangat emosional. Ia merasa seolah-olah sebuah beban seberat gunung baru saja diangkat dari jiwanya. Penjara mental yang ia bangun sendiri selama lima tahun kini telah runtuh berkeping-keping.

​"Nala," panggil Raga. Kali ini suaranya terdengar lebih kuat, meskipun masih ada getaran di sana.

​"Iya, Mas?"

​"Kemarilah," ucap Raga.

​Nala mendekat dan membiarkan Raga menariknya ke dalam pelukan. Untuk pertama kalinya, Raga memeluk Nala tanpa merasa malu akan penampilannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Nala, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu memberinya ketenangan. Di dalam pelukan itu, Raga menangis sesenggukan, melepaskan seluruh rasa sakit, dendam, dan rasa rendah diri yang selama ini ia pendam sendirian.

​"Terima kasih karena tidak pernah pergi, Nala. Terima kasih karena mencintai monster ini hingga dia bisa menjadi manusia kembali," bisik Raga di telinga Nala.

​"Kamu bukan monster, Mas. Kamu tidak pernah menjadi monster bagiku," balas Nala sambil mengusap punggung Raga yang masih terasa kaku karena cedera tulang belakangnya.

​Setelah momen emosional itu berlalu, Dokter Gunawan memberikan beberapa instruksi penting. "Tuan Raga, meskipun perban utama sudah dibuka, Anda tetap harus memakai kain pelindung tipis saat tidur dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung untuk sementara waktu. Saraf wajah Anda masih sangat sensitif. Kita juga akan meningkatkan intensitas terapi fisik untuk kaki Anda besok pagi."

​Raga mengangguk patuh. Semangatnya kini telah kembali sepenuhnya. Memiliki wajahnya kembali memberinya kekuatan baru untuk menghadapi tantangan fisiknya yang lain. Jika ia bisa mendapatkan wajahnya kembali, ia yakin ia juga akan bisa berjalan kembali suatu hari nanti.

​Sore harinya, kabar tentang suksesnya operasi Raga menyebar secara terbatas di lingkungan internal kediaman Adhitama. Pak Hadi dan Sera masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat cerah. Mereka hampir tidak mengenali tuan mereka yang selama ini selalu menutup diri.

​"Tuan Muda, Anda terlihat luar biasa," ucap Pak Hadi dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia. "Tuan Besar pasti akan sangat bahagia melihat Anda sekarang jika beliau masih ada."

​Raga tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak Hadi. Terima kasih sudah menjaga perusahaan tetap stabil selama aku tidak berdaya."

​"Itu semua berkat Nyonya Muda, Tuan. Beliau adalah pemimpin yang sangat tegas," tambah Sera dengan nada hormat.

​Raga melirik Nala yang sedang menyiapkan teh di sudut ruangan. Rasa bangga menyelimuti hatinya. Ia menyadari bahwa di balik kelembutan istrinya, ada kekuatan baja yang telah menjaga dunianya tetap utuh saat ia sedang hancur.

​Malam kembali turun menyelimuti rumah sakit. Kali ini, suasana di kamar Raga terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan. Raga duduk di kursi rodanya di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta tanpa harus merasa takut ada orang yang akan menghinanya.

​Nala duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Raga. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?"

​"Aku sedang memikirkan masa depan kita, Nala," jawab Raga. Ia merangkul bahu Nala dengan tangan kanannya yang sudah lebih kuat. "Selama lima tahun aku hidup untuk membalas dendam. Aku hidup untuk menghancurkan Burhan dan siapa pun yang terlibat. Tapi sekarang, saat aku melihat wajahku di cermin... aku merasa dendam itu sudah tidak ada artinya lagi."

​Nala mendongak, menatap wajah suaminya yang tampak sangat tenang. "Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?"

​"Aku ingin hidup untukmu," ucap Raga dengan suara yang sangat tulus. "Aku ingin membangun kembali apa yang sempat hancur. Aku ingin membawa Adhitama Group ke puncak bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk menunjukkan bahwa kita bisa bangkit dari puing-puing. Dan yang paling penting, aku ingin mengajakmu ke pantai itu."

​Nala tersenyum lebar. "Aku akan menunggu hari itu tiba."

​"Hari itu akan segera tiba, Nala. Begitu aku bisa melangkah dengan kakiku sendiri, kita akan pergi," janji Raga.

​Di bawah langit malam yang jernih, dua jiwa yang pernah terluka parah itu kini telah menemukan kesembuhannya. Perjalanan mereka mungkin masih panjang, dengan terapi fisik yang melelahkan dan musuh-musuh bisnis yang masih mengintai di luar sana. Namun, dengan tabir yang telah tersingkap dan cinta yang telah teruji oleh maut, mereka tahu bahwa tidak ada lagi rahasia yang bisa memisahkan mereka.

​Malam itu, Raga Adhitama tidur dengan nyenyak tanpa harus merasa takut akan hari esok. Di sampingnya, Nala tetap berjaga dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Panggung sandiwara telah berakhir, dan kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Blu Lovfres
next thor, ku tunggu selalu updated nya💪💪❤️❤️
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Blu Lovfres
is the amazing novel
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
ohh pantas,,novel ini
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
Blu Lovfres
kembar jagoan
Blu Lovfres
wahh selamat untuk keluarga adihtama❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️💪💪
Blu Lovfres
g tau kedepannya 🙄
Blu Lovfres
kok ga ada,mlm pertama ,atw siang pertana😂🤣🙏
Blu Lovfres
🥰🥰🥰❤️❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️🥰
Blu Lovfres
💪💪💪❤️❤️🥰
Blu Lovfres
setiap bab,kata" mu sangat bagus thor
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
Blu Lovfres
lanjut membaca 💪
novel yg sangat bagus
Blu Lovfres
good job nalla,dn ilmu yg kau pelajari jangan di siakan"
Blu Lovfres
💪💪💪masih semangat utk membaca🥰
Blu Lovfres
knpa ga oplas dari dlu,
anga,seorang melyeder, ceo kya
ga mampu oplas🙄🤦‍♀️
Blu Lovfres
💪💪💪best novel ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!