NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kejutan

​Kairo berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya sendiri di lantai satu. Langkahnya lebar dan penuh tekad.

​Dia tidak akan membuat janji temu. Itu konyol.

​Dia akan melakukan inspeksi mendadak.

​Satu jam kemudian.

​Suasana rumah sudah sepi. Lampu-lampu lorong diredupkan—bagian dari program penghematan listrik Elena yang menyebalkan.

​Kairo keluar dari ruang kerjanya. Dia sudah mandi, memakai kaos santai, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar. Di genggaman tangannya, ada sebuah kunci kuningan tua.

​Master Key.

Kunci cadangan manual ajaib yang bisa membuka semua pintu di rumah ini jika sistem elektronik macet. Kairo menyimpannya di brankas pribadinya, dan tidak pernah berpikir akan memakainya untuk membobol tempat petak umpet istrinya sendiri.

​Telinganya menangkap suara gemericik air dari arah kamar mandi utama di kamar tidur mereka.

​Elena sedang mandi.

​Kairo melirik jam tangan. Wanita itu biasanya butuh waktu dua puluh menit untuk ritual mandi. Cukup waktu.

​Dengan langkah tanpa suara—kebiasaan lama saat dia sering menyelinap keluar rapat membosankan—Kairo menaiki tangga. Dia bergerak seperti bayangan di lorong lantai dua.

​Jantungnya berdegup kencang. Ada sensasi aneh. Dia merasa seperti pencuri di rumah sendiri. Atau seperti suami yang cemburu buta yang sedang mencari bukti perselingkuhan.

​"Ini demi keamanan rumah tangga," Kairo meyakinkan dirinya sendiri. "Aku harus pastikan dia tidak melakukan hal ilegal di dalam sana."

​Dia sampai di depan pintu "Kantor Pribadi" Elena.

​Kunci digital itu masih menyala biru redup, seolah mengejeknya: Kau tidak tahu password-nya, Bodoh.

​Kairo menyeringai. Dia tidak butuh password.

​Dia membungkuk sedikit, mencari lubang kunci manual yang tersembunyi di bawah gagang pintu. Ada penutup kecil di sana. Kairo mencongkelnya dengan kuku, lalu memasukkan kunci kuningan di tangannya.

​Klik.

​Pas.

​Kairo memutar kunci itu perlahan.

​Ceklek.

​Suara mekanis kunci terbuka terdengar bagai musik di telinganya. Sistem digital bypass berhasil.

​Kairo menarik napas panjang, lalu menekan gagang pintu dan mendorongnya pelan.

​Pintu terbuka.

​Aroma kertas baru dan tinta spidol langsung menyapa hidungnya. Bukan aroma parfum mawar, tapi aroma... kantor. 

Aroma efisiensi.

​Kairo melangkah masuk, membiarkan pintu terbuka sedikit di belakangnya agar cahaya lorong masuk. Dia meraba dinding, mencari saklar lampu.

​Klik.

​Lampu neon putih menyala terang benderang, menyinari seluruh isi ruangan.

​Mata Kairo menyapu sekeliling. Dan seketika, matanya membelalak lebar.

​Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.

​Ini bukan kamar tamu lagi. Dan bukan gudang lagi. 

Ini juga bukan tempat persembunyian wanita yang sedang merajuk.

​Ini adalah pusat komando.

​Di dinding sebelah kiri, whiteboard besar penuh dengan coretan tangan yang rapi dan tegas. 

Kairo melangkah mendekat ke papan tulis putih itu. Di sana, di bawah lampu neon yang dingin, tertulis sebuah judul besar dengan huruf kapital yang tegas, seolah-olah setiap goresannya adalah sebuah pernyataan perang: STRATEGI PEMULIHAN ASET.

​Mata Kairo menelusuri barisan tulisan tangan Elena yang rapi namun tajam. 

Di baris pertama, Elena telah mencoret kata Likuidasi Aset Depresiasi—sebuah istilah dingin untuk menyebut koleksi tas dan jam tangan mewahnya yang kini telah berubah menjadi modal. 

Di bawahnya, efisiensi biaya operasional rumah tangga juga sudah ditandai dengan kata Selesai yang ditulis dengan tekanan spidol yang dalam.

​Napas Kairo memburu saat membaca baris berikutnya mengenai pembangunan portofolio investasi yang tertulis Sedang Berjalan. 

Namun, yang benar-benar membuat jantungnya mencelos adalah kalimat terakhir di bagian paling bawah.

​Di sana, tertulis sebuah angka yang fantastis: Target Dana Emansipasi: 5 Miliar. 

Di samping angka itu, sebuah lingkaran merah besar mengurung tulisan 20% Tercapai. 

Itu bukan sekadar catatan tabungan; itu adalah hitung mundur menuju kebebasan. 

Elena tidak sedang merajuk; dia sedang mendanai perangnya sendiri untuk keluar dari pintu rumah ini tanpa menoleh lagi.

​Rahang Kairo mengeras membaca poin terakhir itu. Jadi dia benar-benar serius soal cerai?

​Tapi bukan itu yang membuat Kairo terpaku.

​Pandangannya beralih ke meja kerja di tengah ruangan. Di sana, dua monitor besar menyala menampilkan screensaver jam digital.

​Kairo menyentuh mouse di meja. Layar monitor itu bangun seketika.

​Dan pemandangan di layar itu membuat lutut Kairo lemas.

​Itu bukan situs belanja. Itu bukan drama Korea.

​Itu adalah Trading Platform profesional. Sebuah aplikasi yang lisensinya saja harganya ratusan juta per tahun.

​Di layar kiri, grafik candlestick warna-warni bergerak dinamis menunjukkan pergerakan harga saham global. Indeks Dow Jones, Nasdaq, IHSG, harga emas dunia, harga minyak mentah. Semuanya ada di sana, tersaji real-time.

​Di layar kanan, ada dokumen analisis fundamental yang sedang terbuka. Judul dokumennya:

ANALISIS KELEMAHAN STRUKTUR MODAL DIWANTARA GROUP & STRATEGI PENGAMBILALIHAN.

​Kairo merasa darahnya berhenti mengalir.

​Dia membungkuk lebih dekat, matanya menelusuri paragraf demi paragraf yang diketik Elena. Analisis itu tajam. 

Brutal. 

Membedah setiap kelemahan perusahaan Kairo yang bahkan Kairo sendiri mencoba menutupinya.

​Di situ tertulis prediksi pergerakan saham Diwantara untuk seminggu ke depan, lengkap dengan simulasi stress test jika suku bunga naik. Prediksi yang akuratnya menakutkan.

​"Siapa kau sebenarnya?" bisik Kairo, suaranya bergetar.

​Tangannya gemetar saat menyentuh layar monitor itu.

​Ini bukan pekerjaan orang awam yang belajar dari Google. Ini pekerjaan seorang ahli. Seorang sniper keuangan yang tahu persis di mana letak jantung targetnya.

​Sora Araminta, istrinya yang lulusan sastra dan hobinya cuma ke salon dan ke butik, tidak mungkin bisa membuat ini.

​Tiba-tiba, sebuah suara dingin terdengar dari arah pintu.

​"Sudah puas mengintipnya, Tuan Kairo?"

​Kairo tersentak hebat. Dia berbalik badan dengan cepat.

​Di ambang pintu, Elena berdiri bersandar dengan tangan bersedekap. Dia masih memakai jubah mandi handuk (bathrobe) putih, rambutnya basah terbungkus handuk kecil. Leher jenjangnya terekspos, masih ada butiran air di sana.

​Tapi wajahnya... wajah itu sedingin es di kutub utara.

​Tidak ada rasa takut karena tertangkap basah. Tidak ada rasa malu.

​Hanya ada tatapan merendahkan seolah dia baru saja menangkap tikus got yang masuk ke dapurnya.

​"Kau..." Kairo menunjuk layar monitor di belakangnya dengan tangan gemetar. 

"Apa-apaan semua ini? Darimana kau belajar ini? Dan apa maksudnya 'Strategi Pengambilalihan'?"

​Elena berjalan masuk santai, menutup pintu di belakangnya dengan tendangan kaki pelan.

​Klik. Terkunci.

​Dia berjalan mendekati Kairo, langkah kakinya tanpa suara di atas karpet, seperti hantu.

​"Itu namanya contingency plan atau rencana cadangan, Sayang," jawab Elena halus namun mematikan. 

Dia berhenti tepat di depan Kairo, mendongak menatap mata suaminya yang penuh horor.

​"Kalau kau tidak mau memberiku lima miliar secara baik-baik... aku terpaksa mengambilnya dari pasar saham. Dengan cara menghancurkan nilai sahammu, lalu membelinya saat harganya jatuh di dasar jurang."

​Elena tersenyum manis. Senyum iblis.

​"Kau mau main kasar denganku? Hati-hati. Aku tahu letak dompetmu lebih baik daripada kau sendiri."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!