SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: TAWARAN YANG TAK TERKAJI
“Hitungannya tepat Rp500 juta, Bu Ratna. Kalau tidak bisa dilunasi dalam seminggu, kami tidak punya pilihan selain mengambil tanah milik keluarga Putri.”
Suara pria berjas hitam itu terdengar dingin di tengah kamar kos kecil yang penuh dengan barang bekas. Putri Aulia menekuk badan lebih erat di belakang tirai kain gorden yang sudah memudar warnanya, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pria itu sambil menutup mulut Rara yang ingin menangis.
“Tapi pak, kami sudah bayar sebagian besarnya. Tolong, kasih kami waktu lagi,” ucap Bu Ratna, tetangga yang telah merawat Putri dan Rara semenjak orang tuanya meninggal tiga bulan lalu. Air mata sudah mulai menggelinding di pipinya.
Pria itu menghela napas panjang, mengambil amplop putih dari kantong jasnya dan menaruhnya di meja kayu lapuk. “Saya bukan datang untuk memaksa, Bu Ratna. Pak Hidayat punya tawaran lain untuk keluarga Putri.”
Putri merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Pak Hidayat—nama itu tak asing lagi di telinganya. Semua orang di kota tahu keluarga Adinata adalah kekuatan tersembunyi di balik banyak bisnis besar, tapi tidak banyak yang berani membicarakan sisi lain dari mereka.
“Tawaran apa, pak?” tanya Bu Ratna dengan suara gemetar.
“Putri Aulia akan dinikahkan dengan anak Pak Hidayat, Rizky Adinata. Segala utang keluarga akan dilunasi secara penuh, termasuk biaya pengobatan Rara yang sedang sakit ginjal. Selain itu, kami akan menyediakan tempat tinggal dan biaya hidup yang layak untuk mereka berdua.”
Dengar kata itu, tangan Putri yang menahan Rara mulai gemetar. Dia lepaskan tangannya perlahan dan keluar dari balik tirai, wajahnya pucat tapi penuh tekad. “Saya yang akan memutuskan tentang hidup saya, pak. Siapa kamu sebenarnya?”
Pria itu melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak, lalu mengangguk perlahan. “Nama saya Rio. Saya adalah orang terpercaya Pak Hidayat. Tawaran ini hanya berlaku selama tiga hari. Kalau kamu tidak setuju, kami akan mengambil tanah itu dan Rara tidak akan bisa menjalani operasi yang dibutuhkan.”
Setelah pria itu pergi, Putri duduk lemah di lantai. Rara berlari ke arahnya dan memeluk pinggangnya. “Kakak, kita tidak akan dijual kan?”
Putri peluk adiknya erat, menahan air mata yang ingin keluar. “Tidak, Kakak akan selalu menjaga kamu, Ra.”
Malam itu, Putri tidak bisa tidur. Dia duduk di lantai kamar yang dulu ditempati orang tuanya, melihat kotak kardus berisi barang-barang mereka yang belum sempat dibersihkan. Saat dia hendak memindahkan salah satu kotak, sesuatu yang keras menyentuh tangannya. Dia membuka lapisan koran yang melindungi barang di dalamnya dan menemukan kaset rekaman kecil berwarna hitam, lengkap dengan mesin pemutar kaset kuno yang masih bisa berfungsi.
Dengan hati yang penuh rasa penasaran, Putri menempatkan kaset ke dalam mesin dan menekan tombol putar. Suara ayahnya yang akrab terdengar dari alat kecil itu, diselingi dengan suara pria lain yang dia kenali sebagai Pak Hidayat.
“Hidayat, tolong jangan lakukan ini. Saya sudah setuju untuk menjual sebagian saham bisnis kayu kita.”
“Maafkan saya, teman lama. Bisnis ekspor impor kayu ini akan lebih baik berada di bawah pengelolaan saya. Dan kamu sudah tahu terlalu banyak tentang saya.”
“Jangan lakukan ini! Putri dan adiknya masih kecil—”
“Itu bukan masalah saya lagi.”
Suara tembakan yang keras menyusul, diikuti dengan suara tubuh yang jatuh ke lantai. Putri menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata penuh dengan air mata yang akhirnya keluar deras.
Tawaran perjodohan yang dia anggap sebagai jalan keluar ternyata adalah pintu menuju rumah pembunuh orang tuanya. Tapi tanpa itu, Rara tidak akan bisa hidup.
Dengan telapak tangannya yang masih gemetar, Putri mengambil kertas yang diberikan Rio dan menatap nomor telepon yang tertera di sana. Dia harus membuat keputusan—memilih balas dendam atau menyelamatkan nyawa adiknya.
Dan dia sudah tahu pilihan apa yang akan dia ambil.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Kalau kamu jadi Putri, apakah kamu akan menerima tawaran perjodohan ini atau mencari cara lain untuk menyelamatkan Rara?