Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disini
Raka tidak merasa sakit tidak pada awalnya.
Hanya lelah, ebih lelah dari biasanya. Matanya berat, kepala berdenyut, tenggorokan kering. Ia mengira itu karena kurang tidur karena pikiran yang berputar, . keputusan yang tidak pernah datang membuat orang orang yang mencintainya menunggu
Ia minum kopi lebih banyak, makan lebih sedikit lalu berjalan lebih cepat, seolah bisa meninggalkan sesuatu yang mengikutinya tanpa rasa
----
Hari Senin, ia masuk kantor seperti biasanya.
Laras menunggu di meja dengan bekal—nasi uduk, sambal kacang, telur dadar. Favoritnya. Yang dulu Kinan buat setiap Minggu pagi.
"Lo kenapa, Ra? wajah Lo pucat ? tanyanya menyelidik.
"Gue baik aja," jawabnya pelan, begitu yang ia katakan kepada Maya, sama bohongnya.
" Makan, gih, gue bawain nasi uduk kesukaan Lo."
Laki laki itu duduk berusaha sekedar menyenangkan hatinya, menyuap nasi, menelan tanpa merasakan. Laras bercerita—soal proyek, atasan yang bawel, cuaca yang tidak menentu. Raka hanya mengangguk di tempat yang salah, tertawa di kalimat yang tidak lucu membuat laras sedikit bingung.
\=\=\=
Jam sepuluh, presentasi di ruang meeting.
Raka berdiri membuka laptop memulai slide pertama. Lalu—dunia seperti berputar benar benar mengelilingi, seolah lantai menjadi dinding, dinding menjadi langit-langit.
Sayup ia mendengar suara Laras memanggil namanya —"Ra! Raka" Tubuhnya limbung, pandangan nya gelap dan akhirnya jatuh pingsan ke lantai. Orang orang didalam ruangan memekik berteriak panik.
---
Raka melihat langit-langit putih, cahaya lampu neon menusuk matanya. Wajah-wajah familiar—Laras dengan wajah pucat; kecemasan Andi dan tubuh Dika yang gemetar.
Seorang memakai jas putih dengan stetoskop, berkata kepada mereka yang menjaga, "Tidak apa apa, kondisi pasien baik, hanya kelelahan akut."
"Ra .." Laras menangis menyentuh tangannya, " Lo nggak boleh pergi... nggak boleh pergi. Lo denger? Lo nggak boleh."
Ia ingin menjawab "gue baik baik aja" tapi mulutnya tidak bergerak, tubuhnya bukan miliknya lagi. Lalu kegelapan mendera, hitam pekat dan bayangan semakin menipis dan hilang.
---
Rumah sakit, ruang UGD, kamar putih yang sama dengan tempat Kinan pergi Raka mendengar suara-suara—dokter, perawat, Laras yang berdebat dengan seseorang. "Keluarga?" "Teman dekat." "Pacar?" Tidak ada jawaban atau jawaban yang terlalu rumit untuk satu kata.
Infus di tangan, cairan dingin masuk ke pembuluh darah, lembaran hangat di dahinya—kompres? Tangan seseorang?
Ia membuka mata gadis itu duduk di samping, memegang tangannya menangis diam-diam."Alhamdulillah Lo udah sadar."
"Gue... gue kenapa?" tanyanya serak sulit untuk mengeja
"Demam tinggi. Pneumonia, Kelelahan ekstrem." Laras mengusap hidungnya. "Lo untuk sementara nggak boleh kerja, Lo nggak boleh... nggak boleh ngapa-ngapain, istirahat total."
Raka menatap langit-langit putih, kosong. seperti Ruang Tunggu yang Kinan ceritakan dalam mimpinya.
"Maya?" tanyanya tiba-tiba tidak tahu kenapa.
Laras tersentak kaget merasakan—hangat, nyata, milik seseorang yang hidup—terasa berbeda. "Sebentar gue telepon dia,"
" Jangan lama lama ya Ras."
Ia mengangguk menghela napas pendek
"Dia di jalan."
---
Maya datang satu jam kemudian dengan rambut berantakan, mata merah—seolah ia juga tidak tidur menangis yang tidak dinampakan.
Ia berhenti di ambang pintu melihat Laras di samping menyentuh, menggenggam tangan laki laki itu hangat.
" Gue pergi," kata Laras melepaskan berdiri sesaat lalu. "Kalau lo mau."
"Nggak usah," Maya masuk duduk di sisi lain tempat tidur menjauh "Gue cuma... gue cuma mau menjenguk Raka."
" May ... Raka memanggil namanya pelan, "akhir nya kamu datang, terimakasih ya."
Gadis itu berusaha untuk tersenyum , tapi guratan wajah nya tampak kacau," Lo kenapa Ra?"
" Gue baik baik aja may, hanya kelelahan."
Maya tahu apa yang ia rasakan, bisa jadi akibat ulah nya, ulah Laras membuatnya limbung dalam mengambil keputusan. Ia merasa bersalah dan berdosa. " Maafkan gue ya Ra, " ucapnya tersendat berkaca kaca, " gue gak ingin terjadi apa apa dengan lo."
" Gak apa apa, May, gue baik kok, senang Lo datang."
Tiga orang dalam satu ruangan, dua yang hidup, satu meregang sakit. Dan sesuatu yang keempat—sesuatu yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan oleh dua wanita yang pernah mencintai sama bau bunga mawar .
Maya dan Laras saling berpandangan keduanya tahu, secara bersamaan, bahwa mereka bukan yang pertama di hatinya mungkin, tidak akan pernah benar-benar menggantikan.
---
Malam yang sunyi Raka sendiri didalam kamar putih. Laras pergi—dipaksa Maya, dengan alasan "lo juga butuh istirahat."Dan Ia sendiri pulang sebentar untuk mengambil apa apa saja keperluan untuk di Rumah Sakit
Keduanya pergi, meninggalkan Raka dengan keheningan berat menatap langit-langi kamar putih, ingatannya kembali kepada istrinya
"Sayang mas sakit, mas ingin kamu datang menjenguk mas, mas ...." Ia menangis terisak, air matanya jatuh satu satu.
Namun tidak ada jawaban bau mawar apapun tanda lainnya. Raka mengusap matanya pelan.
Tapi kemudian—sesuatu di sudut mata ia menangkap sebuah bayangan samar atau ilusi cahaya lampu.Tapi ia tahu dan tidak perlu diberitahu akan kehadirannya.
" Nan...Mas lelah menjadi orang setengah hidup untukmu, untuk mereka, dan untuk siapa pun."
Bayangan itu bergerak mendekat tidak terlihat, tapi terasa seperti seseorang duduk di sisi tempat tidur meraih tangannya.
"Mas tahu," bisiknya air matanya kembali jatuh, " Mas tahu kamu di sini, Tapi mas nggak bisa...mas nggak bisa ikut dengan mu Nan karena kamu sendiri melarang demi hidup mas"
Lalu—sesuatu yang hangat mendarat di dahinya seperti kecupan lembut, embun yang menetes di jiwanya berkata, "I love you Sayang,"
Bayangan itu menghilang atau mungkin, tidak pernah ada. Raka tersenyum tidak lama tertidur, benar-benar tidur untuk pertama kali sejak lama, tanpa mimpi, tanpa bayangan, dan pilihan yang mengganggu.
Hanya istirahat.
---
Di Ruang Tunggu, Kinan terbaring, jiwanya hampir tidak ada—hanya secuil cahaya, secuil kenangan. Perempuan tua itu disamping menatap jendela Raka di rumah sakit tidur dalam damai.
"Kamu memberikan yang terakhir, untuk yang ketiga kalinya."
"Aku nggak bisa diam, Bu, Mas Raka sakit. Dia... dia butuh aku."
"Dia butuh istirahat bukan dirimu karena kamu sudah memberi cukup, terlalu cukup."
Kinan tidak menjawab menatap jendela Raka tertidur, Maya di koridor, memandang ponsel dengan wajah bingung. Laras di rumahnya, berlutut lagi—kali ini tanpa rasa takut dengan doa.
"Mereka berdua... mereka berdua baik, lebih baik dari aku, lebih kuat dan hidup."
"Dan kamu ? Apa yang tersisa untukmu?"Perempuan tua bermata biru itu selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama
"Aku punya cinta nggak pernah mati selalu ada di sini."
Ia menepuk tempat yang tidak lagi miliknya, tapi masih berdetak di seseorang yang ia cintai. "Di sini," ulangnya sekali lagi. "Selamanya."
-
mampir 🤭