NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8: sandiwara di Balik sensor mana

Suasana SMA Gwangyang pasca serangan Gerbang SSS 'The Great Collapse' tidak pernah benar-benar kembali normal. Meskipun gedung-gedung telah diperbaiki secara ajaib menggunakan bantuan Hunter tipe arsitek, atmosfer di koridor sekolah kini dipenuhi oleh kecurigaan. Pemerintah melalui Asosiasi Hunter Nasional (KHA) telah menetapkan kebijakan baru: seluruh siswa di sekolah yang menjadi titik nol serangan harus menjalani "Ujian Bakat Ulang" secara mendetail. Alibi mereka adalah untuk memantau apakah ada siswa yang mengalami 'Awakening' mendadak akibat paparan radiasi mana yang ekstrem, namun Arkan tahu tujuan sebenarnya.

Mereka sedang mencari 'Tuan' dari Crimson Eclipse.

Arkan berdiri di barisan kelas 1-A yang sedang mengantre di depan gimnasium. Di depannya, terlihat beberapa petugas KHA yang mengenakan seragam taktis berwarna kelabu gelap. Mereka membawa mesin *Mana-Scanner* terbaru, sebuah perangkat berbentuk pilar kristal yang mampu mendeteksi riak energi terkecil sekalipun di dalam tubuh manusia.

"Ini konyol," gerutu Liora yang berdiri tepat di depan Arkan. Gadis itu terus menoleh ke belakang, menatap Arkan dengan cemas. "Mereka memperlakukan kita seperti tersangka. Arkan, kau kelihatan pucat. Apa kau takut?"

Arkan menyesuaikan letak kacamatanya, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit gugup—sebuah akting yang sudah ia asah sempurna. "Siapa yang tidak takut, Liora? Jika hasil manaku terlalu rendah, mungkin mereka akan memindahkanku ke sekolah kejuruan biasa. Aku tidak ingin kehilangan beasiswaku."

Liora mendengus, namun matanya memancarkan keraguan. Ia teringat kejadian di atap. Ia teringat bagaimana Arkan berdiri dengan tenang saat badai menghancurkan segalanya. Namun, saat melihat Arkan yang sekarang—seorang pemuda yang tampak rapuh dan khawatir akan beasiswa—ia merasa seolah-olah ingatannya di atap itu hanyalah halusinasinya sendiri akibat trauma.

'Julian,' Arkan memanggil dalam benaknya, memicu frekuensi Blood-Link yang terenkripsi.

'Ya, Ayah. Saya sudah memantau mesin pemindai tersebut,' suara Julian terdengar di dalam kesadaran Arkan. 'Mesin itu menggunakan resonansi partikel mana untuk mengukur kepadatan inti energi. Untuk mengelabui mesin itu, Ayah harus melakukan Sanguine Nullification. Ayah perlu memampatkan seluruh energi Sovereign ke dalam satu sel tunggal di sumsum tulang belakang dan membiarkan aliran darah yang lain kosong dari mana sama sekali.'

'Berapa angka aman agar aku terlihat seperti warga sipil biasa?' tanya Arkan.

'Angka 5 sampai 7 unit mana. Itu adalah standar manusia normal yang memiliki sedikit bakat tapi tidak cukup untuk menjadi Hunter. Jika Ayah menunjukkan angka 0, mereka justru akan curiga karena paparan radiasi kemarin seharusnya meningkatkan mana minimal 1 atau 2 unit,' Julian menjelaskan dengan detail teknis.

'Dimengerti. Siapkan juga pengalihan jika Direktur Choi Ha-neul mencoba melakukan pemindaian manual,' perintah Arkan.

Antrean bergerak maju. Satu per satu siswa menempelkan tangan mereka ke kristal pemindai. Rian, yang masih tampak trauma namun mencoba mengembalikan harga dirinya, mendapatkan angka 45—sebuah peningkatan signifikan bagi seorang siswa SMA, yang membuatnya sombong seketika.

"Lihat itu! Mana-ku meningkat dua kali lipat! Aku pasti akan segera menjadi Hunter Kelas D!" teriak Rian dengan pongah. Namun, saat ia melewati Arkan, tubuhnya secara insting bergetar hebat. Ia teringat teror Hana, dan tanpa sadar ia mempercepat langkahnya menjauhi Arkan.

Kini giliran Liora. Ia menempelkan tangannya, dan kristal itu bersinar biru terang.

DATA: LIORA TINGKAT MANA 180 KELAS C

"Luar biasa, tingkat pertumbuhanmu sangat stabil, Nona," puji petugas KHA. Liora hanya mengangguk sopan, lalu ia menepi, menunggu Arkan dengan wajah tegang.

"Selanjutnya, Arkan," panggil petugas itu.

Arkan melangkah maju. Saat ia berdiri di depan mesin itu, ia bisa merasakan mata Choi Ha-neul yang sedang mengawasi dari lantai atas gimnasium melalui jendela kaca ruang monitor. Arkan menahan napasnya, mengendalikan setiap atom di dalam darahnya. Ia memerintahkan jantungnya untuk berdetak lebih lambat, menyembunyikan samudra energi merahnya ke dalam satu titik gelap yang tak terjamah di dalam tulang belakangnya.

Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan kristal yang dingin.

Kristal itu berdenyut redup. Cahayanya kuning pucat, hampir tidak terlihat.

DATA:ARKAN TINGKAT MANA 6

Petugas itu mendesah bosan. "Mana yang sangat rendah. Kau hampir tidak memiliki bakat, Nak. Silakan lanjut ke pemeriksaan fisik."

Liora, yang melihat angka itu dari kejauhan, merasa bahunya merosot lemas. Hanya 6? pikirnya. Apa aku benar-benar salah lihat kemarin? Bagaimana mungkin seseorang dengan mana 6 bisa berdiri di tengah badai itu?

Namun, di lantai atas, Choi Ha-neul tidak terlihat puas. Ia menatap layar monitor yang menampilkan kurva energi Arkan. "Tunggu," ucapnya pada operator. "Putar ulang data pemuda bernama Arkan itu. Perbesar fluktuasinya."

"Ada masalah, Direktur?" tanya sang operator.

"Grafiknya terlalu lurus," Ha-neul menyipitkan mata. "Bahkan manusia biasa pun memiliki detak mana yang naik turun sesuai dengan emosi atau detak jantung mereka. Tapi pemuda ini... mananya benar-benar konstan di angka 6. Seolah-olah itu adalah angka yang diprogram, bukan dihasilkan secara alami."

Ha-neul berdiri, merapikan jasnya. "Aku akan melakukan pemeriksaan manual padanya. Ada sesuatu yang tidak beres."

Di ruang pemeriksaan fisik, Arkan sedang duduk di bangku kayu saat pintu terbuka. Bukan petugas medis biasa yang masuk, melainkan Choi Ha-neul. Aura wanita itu sangat menekan, ciri khas dari seorang Hunter Kelas S yang memiliki kemampuan sensorik tajam.

"Arkan, benar?" Ha-neul duduk di hadapan Arkan, hanya berjarak satu meter. "Aku Direktur Choi dari KHA. Aku hanya ingin memverifikasi beberapa hal terkait lokasimu saat serangan kemarin."

Arkan menunduk, meremas ujung seragamnya, menunjukkan gestur remaja yang terintimidasi. "I-iya, Ma'am. Saya berada di gudang olahraga, lalu lari ke bunker bersama Ketua Kelas Liora."

Ha-neul tidak menjawab. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Arkan. Seketika, ia mengirimkan gelombang mana sensorik langsung ke dalam pembuluh darah Arkan. Ini adalah teknik 'Mana Probe', sebuah metode paksa untuk merasakan inti kekuatan seseorang.

Di dalam tubuhnya, Arkan merasakan serangan energi Ha-neul seperti arus listrik yang mencari jalan masuk ke rahasianya. Sial, dia nekat batin Arkan.

'Ayah! Jangan melawan! Biarkan saya mengirimkan 'Sanguine Decoy'!' teriak Julian melalui Blood-Link.

Arkan membiarkan Julian bekerja. Dalam sepersekian detik, Julian memanipulasi sisa-sisa energi spora Abyss yang masih menempel di kulit Arkan (akibat serangan kemarin) untuk membentuk penghalang palsu. Saat mana Ha-neul masuk, yang ia temukan hanyalah kegelapan yang kosong dan sisa-sisa trauma energi Abyss yang lemah.

Ha-neul menarik tangannya kembali, wajahnya tampak bingung. "Kau... kau terpapar racun Abyss cukup banyak kemarin?"

"Saya... saya sempat terjebak di dekat retakan, Ma'am. Dada saya terasa sesak sejak saat itu," ucap Arkan sambil berpura-pura batuk kecil.

Ha-neul terdiam. Logikanya mengatakan pemuda ini hanyalah korban sipil yang malang. Namun, instingnya—insting yang telah menyelamatkannya di ratusan pertempuran—mengatakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik mata tenang di balik kacamata itu.

"Baiklah, Arkan. Kau boleh pergi. Tapi jika kau merasakan perubahan aneh pada tubuhmu, segera hubungi KHA," Ha-neul memberikan kartu namanya.

Arkan membungkuk hormat dan segera keluar dari ruangan. Saat ia berjalan di koridor sekolah yang sepi menuju kelas, ia melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Itu terlalu dekat," gumam Arkan.

Malam harinya, di markas bawah laut Sanguine Throne.

Lima bawahan Arkan berdiri dalam barisan yang rapi. Bastian, Hana, Rehan, Elara, dan Julian yang muncul melalui hologram. Mereka semua tampak tegang.

"Maafkan saya, Ayah," Julian berlutut secara virtual. "Saya tidak memprediksi bahwa Choi Ha-neul akan melakukan pemeriksaan manual secepat itu."

Arkan duduk di singgasana raksasanya, tidak lagi memakai kacamata. Auranya yang agung kembali memenuhi ruangan, membuat air di luar kubah kaca markas seolah-olah berhenti mengalir. "Lupakan itu, Julian. Kau melakukan pekerjaan yang baik dengan decoy tadi. Tapi ini membuktikan satu hal pemerintah tidak akan berhenti sampai mereka menemukan siapa di balik Crimson Eclipse."

Arkan menatap Elara. "Seer, apa yang kau lihat di cakrawala?"

Elara membuka penutup matanya, menampakkan pupil silang yang bercahaya merah terang. "WHA (World Hunter Association) telah mengirimkan tiga Hunter Kelas S internasional ke Korea. Mereka akan tiba dalam tiga hari. Secara resmi, mereka membantu pembersihan, tapi secara rahasia, mereka diperintahkan untuk menangkap kita."

Arkan tersenyum dingin. "Tiga Kelas S? Sepertinya dunia benar-benar menghargai kita."

"Tuan, haruskah saya menghabisi mereka saat mereka mendarat?" Hana (Phantom) bertanya, tangannya sudah memegang belati darahnya dengan tidak sabar.

"Tidak. Biarkan mereka datang," jawab Arkan. "Kita akan memberikan mereka pertunjukan yang lebih besar. Jika mereka ingin mencari Crimson Eclipse, kita akan berikan mereka Crimson Eclipse. Sementara itu, aku akan tetap di sekolah. Ada ujian tengah semester minggu depan, dan aku tidak ingin nilaiku jatuh karena urusan sepele seperti pemburu dari Amerika."

Bastian tertawa berat. "Hanya Ayah yang bisa menganggap Hunter Kelas S sebagai 'urusan sepele' dibandingkan ujian sekolah."

Arkan bangkit dari duduknya. "Bersiaplah. Kita akan melakukan misi di luar negeri. Jika mereka mencari kita di Seoul, kita akan muncul di Washington atau London. Kita akan membuat mereka berlari mengejar bayangan sampai mereka kelelahan."

Saat Arkan kembali ke apartemennya melalui gerbang portal darah, ia melihat sebuah pesan di ponselnya. Itu dari Liora.

Arkan, besok mau belajar bareng di perpustakaan lagi? Aku ingin memastikan kamu benar-benar paham materi fisika. Aku tidak mau temanku satu-satunya dipindahkan karena nilai mana dan nilai akademik yang rendah.

Arkan menatap pesan itu cukup lama. Seorang penguasa darah yang mampu menghancurkan dimensi, kini harus pusing memikirkan rumus hukum Newton agar tidak dicurigai oleh seorang gadis remaja.

"Hidup ini memang penuh ironi," bisik Arkan sambil membalas pesan Liora dengan satu kata,boleh

Ia mematikan lampu, membiarkan kegelapan menyelimutinya. Di luar sana, dunia sedang bersiap untuk perang, namun di dalam kamar kecil ini, sang Sovereign hanya sedang mempersiapkan alat tulisnya untuk hari esok.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!