Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA KESERAKAHAN
Yuda bergerak dalam bayang-bayang dengan presisi seorang ahli strategi. Sesuai instruksi yang diberikan Ariya dan Ferdiansyah, ia menebar umpan yang sangat menggiurkan melalui jalur komunikasi rahasia yang biasa digunakan oleh Rusdi. Berita palsu mengenai celah hukum yang bisa dimanfaatkan untuk membebaskan Lusi sekaligus mengamankan aset Erwin disebarkan secara halus. Rusdi, yang selama ini merasa dirinya sebagai pemangsa paling cerdik, akhirnya termakan oleh kesombongannya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan udara yang panjang, Rusdi mendarat di Jakarta secara rahasia. Ia langsung menuju tempat pertemuan yang telah disepakati dengan Rina di sebuah gudang tua milik perusahaan cangkang mereka. Begitu melihat adiknya datang, Rina langsung menghambur dengan wajah lega sekaligus penuh ambisi.
"Kau lama sekali, Rusdi! Aku hampir gila menghadapi tekanan dari keluarga Ferdiansyah itu," seru Rina sambil menyodorkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua.
Rusdi menerima map tersebut dengan tangan tenang. Ia membukanya perlahan dan senyum puas mulai mengembang di wajahnya yang dingin. Di dalam map itu terdapat dokumen asli pengalihan aset dan harta kekayaan Erwin yang telah dibubuhi tanda tangan di atas meterai. Tentu saja, tanda tangan itu didapatkan Rina saat Erwin masih dalam pengaruh racun dosis tinggi.
"Ini yang aku tunggu-tunggu, Kak. Dengan dokumen ini, harta Erwin resmi berada di bawah kendali kita," ujar Rusdi sambil mengusap lembaran kertas tersebut seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya? Lusi masih di dalam penjara!" tanya Rina dengan nada tidak sabar.
Rusdi melipat dokumen itu kembali. "Segera ajukan gugatan cerai sekarang juga. Manfaatkan momen persidangan untuk menuntut pembagian harta sesuai dokumen ini. Begitu putusan hakim keluar dan aset jatuh ke tangan kita, kita akan menggunakan uang itu untuk menyewa pengacara internasional paling mahal guna membebaskan Lusi. Setelah itu, kita pergi dari negara ini selamanya."
Rina mengangguk setuju dengan mata yang berkilat penuh kemenangan. Ia tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya, bahkan setiap helai napas dalam pertemuan itu, telah terpantau oleh kamera mikro yang dipasang Yuda. Ariya dan Ferdiansyah membiarkan drama ini berjalan sesuai naskah yang dibuat Rusdi, karena mereka ingin menghancurkan pria itu tepat di puncak harapannya.
Hari persidangan perceraian yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ruang sidang Pengadilan Agama terlihat cukup ramai oleh beberapa wartawan yang mulai mencium aroma skandal besar keluarga konglomerat. Rina datang dengan rasa percaya diri yang tinggi, didampingi oleh Rusdi yang duduk di barisan kursi penonton paling belakang, mengawasi segalanya seperti seekor laba-laba di tengah jaringnya.
Di sisi lain, Erwin hadir dengan didampingi oleh Ariya dan seorang pria berkacamata dengan raut wajah sangat tenang. Pria itu adalah Desta Erlangga, pengacara handal yang rekam jejaknya belum pernah sekalipun menyentuh kekalahan.
"Apakah Anda sudah siap, Pak Erwin? Hari ini kita akan mengakhiri semua mimpi buruk ini," bisik Desta sambil menata berkas di atas mejanya.
Erwin mengangguk mantap. "Lakukan apa yang harus dilakukan, Desta. Aku ingin wanita itu pergi dari hidupku selamanya."
Persidangan berlangsung sangat sengit. Pengacara pihak Rina mulai menyerang dengan menyodorkan dokumen pengalihan aset yang mereka banggakan. Mereka menuntut pembagian harta gono-gini sebesar tujuh puluh persen dari total kekayaan Erwin berdasarkan dokumen bertanda tangan tersebut.
Rina melirik ke arah Erwin dengan tatapan mengejek, seolah mengatakan bahwa suaminya itu sudah kalah telak. Namun, Desta Erlangga justru tersenyum tipis. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sangat elegan.
"Yang Mulia Hakim, kami memiliki bukti kuat bahwa dokumen yang diajukan oleh pihak penggugat adalah produk dari tindak kriminal," ujar Desta dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruang sidang.
Desta mengeluarkan sebuah map berwarna putih dan menyodorkannya kepada hakim. "Kami memiliki hasil laboratorium forensik medis yang menyatakan bahwa pada tanggal penandatanganan dokumen tersebut, Saudara Erwin berada di bawah pengaruh zat arsenik dosis tinggi yang menyebabkan penurunan kesadaran dan fungsi kognitif. Secara hukum, tanda tangan dalam kondisi tersebut dianggap tidak sah."
Rina tersentak, wajahnya mulai memucat. "Itu bohong! Dia menandatanganinya dengan sadar!" teriaknya tanpa sadar.
"Diam, Saudara Penggugat! Harap tenang atau saya keluarkan dari ruangan!" bentak hakim sambil mengetuk palunya.
Desta kembali melanjutkan serangannya. "Bukan hanya itu, Yang Mulia. Kami juga memiliki rekaman pengakuan dari eksekutor lapangan yang menyatakan bahwa Saudara Rina telah secara sengaja memberikan racun tersebut selama berbulan-bulan. Ini bukan lagi sekadar kasus perceraian, tapi percobaan pembunuhan berencana."
Setelah melalui perdebatan yang panjang dan bukti-bukti yang tidak terbantahkan, hakim akhirnya menjatuhkan putusan. "Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pengadilan memutuskan mengabulkan gugatan cerai, namun dengan catatan bahwa Saudara Rina tidak mendapatkan sepeser pun dari harta gono-gini. Justru, Saudara Rina diwajibkan membayar denda kerugian material dan immaterial kepada Saudara Erwin, serta menyerahkan diri kepada pihak kepolisian untuk kasus percobaan pembunuhan."
Duk! Duk! Duk! Palu hakim diketuk, mengakhiri ambisi Rina dalam sekejap.
Melihat kakaknya hancur dan rencana besarnya gagal total, Rusdi yang duduk di belakang segera berdiri. Instingnya mengatakan bahwa dia harus segera melarikan diri sebelum petugas keamanan mencapainya. Ia menyelinap keluar dari ruang sidang dan berlari menuju area parkir bawah tanah tempat mobilnya sudah menunggu.
Ia membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa, namun tangannya mendadak membeku saat sebuah suara berat menyapa dari balik pilar beton.
"Mau ke mana, Rusdi? Pestanya baru saja dimulai," ujar Ferdiansyah yang melangkah keluar bersama Ariya.
Rusdi berbalik dengan wajah tegang. Ia mencoba bersikap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Kalian pikir kalian sudah menang? Ini belum berakhir!"
"Semuanya sudah berakhir, Rusdi. Kau akan membusuk di penjara bersama Rina dan Lusi. Tidak ada lagi tempat bagimu untuk bersembunyi," sahut Ariya dengan sorot mata yang penuh kebencian.
Rusdi tertawa sinis, ia mencoba meraih sesuatu dari balik saku jasnya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Yuda yang berdiri di samping Ariya langsung menerjang dengan gerakan kilat. Dengan teknik kuncian yang sangat presisi, Yuda meringkus tangan Rusdi dan menekannya ke kap mobil.
"Lepaskan aku! Kalian akan menyesal telah melakukan ini!" teriak Rusdi sambil meronta-ronta.
Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi masuk ke area parkir dan langsung mengepung mereka. Petugas segera memborgol Rusdi dengan ketat.
"Kalian tidak tahu siapa yang kalian lawan!" Rusdi terus berteriak saat diseret menuju mobil polisi. "Jaringanku di luar negeri tidak akan tinggal diam jika mengetahui aku dipenjara! Mereka akan datang dan menghancurkan kalian semua!"
Ferdiansyah melangkah mendekat, menatap Rusdi dari jarak dekat dengan raut wajah yang sangat tenang, tanpa sedikit pun rasa takut.
"Kami akan menunggu dengan senang hati, Rusdi. Suruh mereka cepat datang, agar kau tidak merasa kesepian di balik jeruji besi nanti," kata Ferdiansyah dengan nada suara yang begitu dingin hingga membuat Rusdi terdiam seketika.
Mobil polisi perlahan meninggalkan gedung pengadilan, membawa serta Rusdi dan Rina yang menyusul dengan borgol di tangannya. Ariya menghela napas panjang, merasa sebuah beban berat telah terangkat dari pundaknya.
"Terima kasih, Pa. Akhirnya Arumi mendapatkan keadilannya," ujar Ariya sambil menjabat tangan ayahnya.
"Ini baru permulaan, Arya. Sekarang tugasmu adalah membawa Arumi pulang dan pastikan dia tahu bahwa dunia kini sudah aman baginya," sahut Ferdiansyah sambil menepuk bahu putranya.
Ariya tersenyum dan segera melangkah menuju mobil tempat Arumi menunggu dengan setia. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan yang boleh jatuh dari mata istrinya. Namun, di balik kemenangan itu, Ariya tetap waspada. Ancaman Rusdi tentang jaringan internasionalnya mungkin bukan sekadar gertakan kosong
🍃🍃🍃
Selagi menunggu Author update jangan lupa Mampir ke karya Author yang baru ya. Jangan lupa berikan dukungannya juga oke 🙏🏻 terimakasih 🙏🏻