NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - Sebatas Teman

Ponsel di genggaman Aura bergetar. Nama Kak Arfan berkedip di layar. Aura menghirup napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau.

​"Halo, Kak..." suara Aura masih terdengar sedikit parau sisa menangis tadi.

​"Assalamualaikum, Ra. Kamu habis nangis?" suara Arfan di seberang sana terdengar sangat tenang, tapi ada nada kekhawatiran yang sangat dalam. "Suara kamu beda. Ada apa? Kak Bima lagi?"

​Aura tertegun. Bagaimana Arfan bisa langsung menebak itu karena Kak Bima? "Iya, Kak. Tadi habis berantem hebat. Kak Bima... dia ngomongnya kasar banget soal Kakak."

​Hening sejenak di seberang telepon. Di kamarnya yang gelap, Arfan sebenarnya sedang tersenyum tipis sambil menatap foto Aura yang diam-diam ia ambil dari jauh.

​"Sudah, jangan didengarkan," ucap Arfan lembut. "Kak Bima mungkin cuma lelah. Atau mungkin saya yang kurang baik di mata dia. Saya minta maaf ya kalau kehadiran saya malah bikin rumah kamu nggak tenang."

​"Enggak, Kak! Kak Arfan nggak salah apa-apa," potong Aura cepat. "Bunda juga bilang gitu. Bunda malah seneng kalau aku deket sama Kakak. Tapi aku bingung, Kak... aku anggep Kakak itu bener-bener kayak kakak sendiri, tempat aku cerita soal mimpi-mimpiku ke London. Tapi orang-orang kayaknya salah paham."

​Senyum Arfan hilang seketika mendengar kalimat kayak kakak sendiri. Cengkeramannya pada ponsel mengeras. Namun, suaranya tetap terjaga sesopan mungkin.

​"Iya, saya paham, Ra. Status teman atau kakak itu nggak masalah buat saya, asalkan saya tetap bisa jagain kamu. Karena buat saya, melihat kamu bahagia dan aman itu lebih penting daripada status apa pun."

​Aura merasa sedikit lega. "Makasih ya, Kak. Aku beruntung punya teman kayak Kakak yang nggak baperan dan selalu dukung aku."

​"Sama-sama, Aura. Oh iya, soal London... saya baru saja dapat info tambahan soal asrama di sana. Katanya lingkungannya cukup bebas. Nanti kita bahas lagi ya, saya nggak mau kamu salah pilih tempat tinggal di sana."

​"Siap, Kak!"

​"Ya sudah, sekarang istirahat. Jangan lupa wudhu sebelum tidur supaya hatinya tenang. Selamat malam, Ra. Assalamualaikum."

​"Walaikumsalam, Kak."

​Setelah telepon tertutup, Aura menarik selimutnya, merasa bebannya terangkat. Dia merasa aman karena Arfan setuju hanya jadi teman. Tapi di sisi lain, Arfan menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan mata yang tajam.

​"Teman ya, Ra?" gumam Arfan pada kesunyian kamar. "Kita lihat saja nanti, seberapa jauh kamu bisa lari dari saya dengan status teman itu."

Arfan memejamkan mata, membiarkan ingatannya kembali ke masa itu. Suasana perpustakaan sedang sangat sepi, hanya ada suara lembaran buku yang dibalik.

​Arfan duduk di meja paling pojok, mencoba fokus pada sketsanya, tapi pikirannya kacau karena masalah di rumahnya. Tangannya gemetar, dan tanpa sengaja, pulpennya terjatuh dan menggelinding jauh ke bawah meja di seberangnya.

​Saat Arfan hendak berdiri untuk mengambilnya, seorang siswi kelas sepuluh yang duduk di meja itu lebih dulu merunduk. Ia mengambil pulpen itu dengan gerakan yang sangat sopan.

​"Maaf, Kak... ini pulpennya," ucap gadis itu dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan agar tidak mengganggu ketenangan perpustakaan.

​Arfan mendongak. Di depannya berdiri Aura. Dia mengenakan kerudung putih yang sangat rapi, wajahnya tenang, dan sorot matanya teduh. Tidak ada tawa yang berlebihan, tidak ada sikap centil. Aura hanya memberikan pulpen itu dengan kedua tangannya, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada kakak kelas.

​"Terima kasih," jawab Arfan singkat.

​Aura hanya mengangguk kecil, memberikan senyum yang sangat tipis, senyum yang sopan dan formal, lalu kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan membaca buku agamanya.

​Sepanjang sore itu, Arfan tidak bisa fokus lagi. Dia diam-diam memperhatikan bagaimana Aura membaca, ia terlihat begitu tenang, tidak terganggu oleh sekitar, dan terlihat sangat bersahaja. Bagi Arfan yang hidupnya penuh dengan kebencian dari ibunya, melihat ketenangan Aura itu rasanya seperti melihat telaga yang damai.

​Sebelum pulang, Aura merapikan bukunya, meletakkannya kembali ke rak dengan sangat rapi, lalu berjalan keluar. Arfan melihat sebuah kertas kecil tertinggal di meja Aura. Ia mengambilnya.

​Ternyata itu adalah pembatas buku buatan tangan yang bertuliskan: "Sabar itu indah." Tulisan tangannya sangat rapi, tegak bersambung, dan mencerminkan kepribadiannya gadis itu.

Arfan merasa dirinya ada yang tidak beres, ia merasakan suatu yang berbeda setelah melihat gadis berkerudung putih itu.

Keesokan harinya, Arfan sengaja datang lebih awal ke perpustakaan. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya saat ia melihat Aura sudah duduk di meja yang sama, fokus mencatat sesuatu ke dalam buku agamanya.

​Arfan mendekat dengan langkah pelan. Ia membawa pembatas buku bertuliskan 'Sabar itu indah' yang tertinggal kemarin.

​"Maaf," ucap Arfan rendah, berdiri di samping meja Aura.

​Aura mendongak, sedikit terkejut namun langsung menunjukkan wajah tenang. Ia mengenali Arfan sebagai kakak kelas yang pulpennya jatuh kemarin. "Iya, Kak?"

​Arfan meletakkan pembatas buku itu di atas meja. "Ini... tertinggal kemarin."

​Aura menatap kertas itu, lalu matanya berbinar sedikit. "Oh, iya. Syukurlah ketemu. Terima kasih banyak ya, Kak...?" Aura menggantung kalimatnya, menunggu Arfan menyebutkan nama.

​"Arfan," jawabnya singkat. Ia menarik napas pendek, lalu memberanikan diri. "Saya kelas sebelas. Nama kamu siapa?"

​Aura mengangguk sopan, sebuah senyum tipis, sangat tipis tapi tulus muncul di wajahnya. "Saya Aura, Kak. Dari kelas sepuluh."

​"Aura," Arfan mengulang nama itu dalam hati, seolah ingin meresapinya ke dalam memori. "Tulisan kamu... bagus."

​Aura sedikit menunduk, pipinya merona tipis karena malu dipuji kakak kelas yang terlihat serius seperti Arfan. "Terima kasih, Kak. Saya cuma suka menulis hal-hal yang bikin hati tenang saja."

​Hening sejenak. Suasana perpustakaan yang sepi membuat percakapan singkat itu terasa sangat berarti buat Arfan.

​"Boleh saya duduk di sini?" tanya Arfan sambil menunjuk kursi di depan Aura. "Saya mau menggambar, dan di sini cahayanya bagus."

​Aura sempat ragu sedetik, tapi melihat wajah Arfan yang tampak sungguh-sungguh dan sedikit kesepian, ia akhirnya mengangguk pelan.

"Silakan, Kak."

​Arfan duduk. Hari itu, ia tidak menggambar apa pun kecuali garis-garis abstrak yang perlahan membentuk bayangan kerudung Aura di kertasnya. Itu adalah awal dari segalanya. Awal di mana Arfan merasa, hanya di dekat Aura lah dunianya yang berisik karena kebencian ibunya bisa mendadak senyap.

Saat Aura sibuk membaca buku, Arfan diam diam memperhatikan wajahnya yang begitu cantik. Arfan merasa jika dia jatuh hati dengan gadis berkerudung putih bernama Aura.

​Arfan menyunggingkan senyum tipis, sisa-sisa kenangan di perpustakaan tadi masih membuat dadanya terasa hangat. Namun, senyum itu perlahan luntur, berganti dengan tatapan kosong yang lurus menembus kegelapan kamar.

​Pikirannya mulai melayang ke London. Nama kota itu mendadak terdengar seperti ancaman di telinganya.

​Ia mulai membayangkan hari-hari di mana Aura benar-benar pergi. Bagaimana nasibnya nanti kalau gadis itu sudah berada di belahan bumi yang lain? Bagaimana caranya ia bertahan saat rasa rindu itu datang mencekik? Arfan tahu betul, London bukan hanya soal jarak ribuan kilometer, tapi soal perbedaan waktu dan kehidupan baru yang mungkin akan membuat Aura melupakannya.

​Aura pasti akan jarang pulang. Indonesia terlalu jauh untuk sekadar dikunjungi saat libur singkat. Dan Arfan? Ia merasa seperti akan kehilangan separuh nyawanya jika tidak bisa melihat sosok berkerudung putih itu setiap hari.

​Ada keinginan gila yang tiba-tiba muncul di benaknya, ia ingin ikut. Ia ingin mengepak semua kuas dan kanvasnya, lalu menyusul Aura ke London. Tapi akal sehatnya menampar keras. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Indonesia begitu saja? Namanya baru saja melambung sebagai pelukis terkenal. Galeri, kontrak, dan pameran-pamerannya semua ada di sini.

​Arfan meremas rambutnya frustrasi. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang ia bangun sendiri.

​"Kamu pikir saya akan biarkan kamu pergi sejauh itu sendirian, Ra?" gumamnya rendah, suaranya terdengar serak. "Melihat kamu lewat layar ponsel itu nggak akan pernah cukup. Saya harus pastikan kamu tetap dalam jangkauan mata saya, bagaimanapun caranya."

Bersambung......

Assalamualaikum semuanya, gimana gimana makin penasaran engga. Kalo suka sama ceritanya jangan lupa like dan komen yaa🫶🏻.

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!