NovelToon NovelToon
Sekertaris Tanpa Gaji

Sekertaris Tanpa Gaji

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Keluarga / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan di Kasur King Size

"Ya udah ayo makan Pak," ucap Syren sembari membawa semangkuk sup hangat dan sedikit nasi.

Syren kemudian duduk di sebelah Julian yang masih bersandar lemas di sofa. Tanpa banyak bicara, Syren mulai menyendokkan nasi dan kuah sup, lalu menyuapi Julian dengan telaten.

"Enak, sayang," gumam Julian pelan setelah menelan suapan pertama, matanya menatap Syren dengan pandangan yang sangat lembut.

Deg! Syren mematung sejenak. "Astaga ni orang, ngeri banget gue!" batin Syren ngeri. Bulu kuduknya meremang bukan karena takut hantu, tapi karena serangan gombalan Julian yang makin tak terkendali saat sakit.

Setelah nasi di piring habis, Syren mengambilkan segelas sup jahe hangat yang tadi sudah ia siapkan khusus. "Pak Bos, ini diminum dulu biar badannya keringetan terus enakan," perintah Syren.

Julian menurut dan meminumnya sampai tandas. Syren segera membereskan alat makan dan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan sore hari.

"Sekarang saya sudah boleh pulang kan, Pak? Tugas saya sudah selesai, makanan sudah masuk, berkas juga sudah di atas meja," tanya Syren penuh harap. Bayangan belanja bareng Gaby dan Ardi langsung muncul lagi di benaknya.

"Belum," jawab Julian singkat. Ia menarik tangan Syren agar kembali duduk, membuat Syren hampir terjungkal ke pelukannya.

"Loh, apalagi sih Pak?! Kan Bapak udah makan!" protes Syren.

"Kepala saya masih pusing. Kamu harus di sini sampai demam saya turun. Itu perintah, Syren." Julian memejamkan mata, namun tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Syren dengan erat, seolah tak mau kehilangan "obat" paling mujarabnya hari ini.

"Ayo bantu saya ke kamar, Syren," pinta Julian dengan suara rendah, seolah tenaganya benar-benar sudah habis.

Syren ingin sekali menjambak mulut Julian atau setidaknya menyumpalnya dengan sisa jahe di dapur. Bener-bener ya ni orang, manja banget kayak anak kecil! batin Syren kesal.

"Iya, iya, ayo Pak!" jawab Syren akhirnya pasrah. Ia merangkulkan lengan Julian ke bahunya, menuntun pria bertubuh besar itu naik ke lantai atas. Begitu sampai di kamar, Syren dengan hati-hati merebahkan tubuh Julian di atas kasur king size-nya yang sangat empuk.

Syren berdiri di pinggir ranjang sambil berkacak pinggang, napasnya sedikit terengah karena menahan beban tubuh Julian. "Saya harus ngapain lagi, Pak? Udah rebahan, udah makan, udah minum jahe. Udah ya, saya pulang?"

"Peluk saya... biar saya cepat tidur," gumam Julian tanpa membuka mata, namun tangannya dengan cepat menarik pergelangan tangan Syren hingga gadis itu kehilangan keseimbangan.

Brukk!

Syren jatuh tepat di samping Julian. Sebelum ia sempat berontak, tangan kekar Julian sudah melingkar di pinggangnya, mengunci pergerakan Syren seolah gadis itu adalah guling kesayangannya.

"A-apaan sih Pak! Lepasin! Pak Bos mesummmm!" teriak Syren dengan wajah yang sudah sehitam pantat panci—maksudnya merah padam sampai ke ubun-ubun. Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut Julian bisa mendengarnya.

"Diem, Syren... saya cuma mau tidur. Jangan berisik," bisik Julian, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syren yang beraroma sabun bayi.

"Tendang nggak ya?" batin Syren bergejolak hebat. Kakinya sudah gatal ingin melancarkan jurus tendangan maut, tapi melihat wajah Julian yang pucat dan napasnya yang panas, rasa iba mendadak muncul. Ahh, sudahlah, biarin dulu. Anggap saja ini amal ibadah nolongin orang sakit, pikirnya menghibur diri.

Namun, kenyamanan kasur king size dan kehangatan tubuh Julian ternyata menjadi jebakan maut bagi Syren. Rasa lelah setelah seharian kerja rodi di kantor dan drama menghadapi Gio tadi membuat pertahanannya runtuh. Perlahan, mata Syren mulai terasa berat.

Tanpa sadar, Syren malah ikut tertidur pulas di dalam pelukan Julian. Posisi mereka sekarang benar-benar seperti pasangan yang sedang cuddling sangat intim. Kepala Syren bersandar nyaman di dada bidang Julian, sementara tangan Julian semakin erat memeluk pinggangnya.

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan, hingga tiba-tiba ponsel Syren yang tergeletak di nakas bergetar heboh.

Drrrrttt... Drrrrttt...

Terpampang nama: Gaby Ceret .

Satu panggilan, dua panggilan, sampai panggilan ketiga, Syren masih belum bergeming dari alam mimpinya. Gaby di seberang sana pasti sudah siap meledak.

Julian yang terbangun lebih dulu hanya bisa tersenyum simpul merasakan beban hangat Syren di dadanya. Namun, getaran ponsel Syren yang tak kunjung berhenti membuatnya terpaksa meraih benda itu. Baru saja ia menekan tombol hijau, suara cempreng Gaby langsung meledak tanpa ampun.

"Syrennnnnnn! Lo ngapain lama sih? Lagi tempur apa gimana?! Gue udah di rumah lo, Ardi sama Lea juga udah nungguin kelesss!" seru Gaby meledak-ledak dari seberang telepon, sama sekali tidak tahu bahwa yang mengangkatnya adalah bosnya sendiri.

Julian sedikit menjauhkan telepon dari telinganya karena volumenya yang luar biasa. Ia berdehem pelan, mencoba menetralkan suara seraknya. "Ehem... ehem. Saya bos kamu, Gaby. Syren masih tidur di pelukan saya. Saya akan segera membangunkan dia," ucap Julian dengan nada tenang namun penuh penekanan.

"Apahhhhh?! Eh... i-iya... iya Pak! Maaf mengganggu! Silakan dilanjut, Pak! Aduh, mati gue!" Gaby langsung mematikan sambungan dengan panik. Di depan rumah Syren, Gaby melongo menatap ponselnya, mukanya pucat sekaligus ingin tertawa. "Gila, si Syren beneran 'tempur' di ranjang CEO!"

Julian meletakkan kembali ponsel itu, lalu beralih menatap wajah Syren yang masih terlelap. Ia mengusap pipi Syren pelan. "Syren, bangun. Teman-temanmu sudah menunggu untuk menghabiskan uang lima belas juta itu," bisiknya tepat di telinga Syren.

Syren melenguh, matanya mengerjap pelan sebelum akhirnya membelalak lebar menyadari tangannya sedang melingkar di pinggang Julian.

"Waaaa! Pak Bos apain saya?!" teriak Syren panik. Ia segera meloncat mundur dari ranjang, tangannya refleks memeluk tubuhnya sendiri, takut sesuatu yang buruk terjadi saat ia tertidur tadi. Wajahnya pucat pasi.

Julian menghela napas, ia duduk di tepi ranjang dengan wajah lempeng, meskipun dalam hati ia geli melihat kepanikan Syren yang berlebihan. "Nggak ada, Syren."

"Nggak usah bohong, Pak! Bapak pasti modus kan pas saya tidur?!" tuduh Syren, matanya melotot tajam.

Julian menyilangkan tangannya di dada. "Kamu lihat sekarang, apa baju kamu terlepas atau apa tidak? Masih lengkap kan dari cardigan oranye sampai celana coklatmu itu?"

Syren menunduk mengecek penampilannya. Benar saja, semua pakaiannya masih utuh dan rapi. Rasa malu langsung menyeruak, menggantikan rasa paniknya. "Iya sih... tapi kan Bapak meluk-meluk saya?!" protes Syren, suaranya sedikit mengecil.

Julian tersenyum miring. "Saya cuma butuh kehangatan buat nurunin demam. Dan terbukti, demam saya sudah jauh lebih baik sekarang," jawab Julian santai. Ia melirik ponsel Syren yang tergeletak di ranjang. "Oh iya, tadi temanmu yang berisik itu menelepon. Saya sudah bilang kalau kamu ada di sini," imbuhnya tanpa dosa.

Syren benar-benar sudah masuk dalam perangkap Julian! Hubungan mereka kini sudah diketahui Gaby, dan si Bos Peot malah senang-senang saja mengklaim Syren ada dalam pelukannya.

1
Eneng Elsy
julian azalah.. klo gio kan ortu nya matre..
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui
Hennyy Handriani
syren aku padamu
Hennyy Handriani
wah suka alur nya nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!