Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh yang Hampir Hancur
Perjalanan keluar dari lorong gua jauh lebih berat dibanding saat masuk.
Qiu Liong menopang dua murid sekte di kedua bahunya. Tubuh mereka lemas, langkah terseret. Jaring laba-laba telah ia bersihkan, namun racun masih menyisakan pucat di wajah mereka.
Langkah demi langkah, ia bergerak menuju cahaya samar di mulut gua.
Awalnya ia merasa baik-baik saja.
Terlalu baik.
Namun beberapa langkah kemudian
dadanya terasa sesak.
Bukan seperti kelelahan biasa.
Lebih seperti sesuatu di dalamnya berputar terlalu cepat.
Ia berhenti sejenak, menahan napas.
Kehampaan di dalam dadanya berdenyut.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Jangan… gunakan terlalu banyak dalam waktu singkat.”
Suara itu muncul lagi, kali ini terdengar lebih berat.
Qiu Liong mengernyit.
“Aku tidak merasa menggunakannya berlebihan,” gumamnya pelan.
“Kau belum mengerti berapa banyak yang kau lepaskan.”
Tiba-tiba
rasa nyeri tajam meledak dari pusat dadanya.
Qiu Liong terhuyung.
Kedua murid itu hampir terjatuh jika ia tidak cepat menahan.
Rasa sakit itu menyebar seperti retakan di kaca, menjalar ke lengan, ke kaki, ke kepala.
Ia terjatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar hebat.
Napasnya tersengal.
Di dalam dirinya, inti kekosongan berputar liar, seolah mencoba memperluas ruangnya sendiri.
“Apa… yang terjadi…?” suaranya pecah.
“Kau memaksakan kehampaan mengalir melalui meridian yang belum siap.”
Suara itu tetap tenang.
Terlalu tenang.
Qiu Liong merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Meridian retaknya memang telah diisi
namun bukan diperkuat.
Ia seperti wadah retak yang tiba-tiba diisi air laut.
Tekanan itu terlalu besar.
Ia mencoba mengatur napas, mencoba memusatkan kesadaran seperti saat bertarung tadi.
Namun kali ini berbeda.
Rasa sakitnya nyata.
Menusuk.
Membakar.
Seolah tubuhnya menolak kekuatan yang ia pilih sendiri.
“Aku tidak bisa berhenti sekarang…” bisiknya lirih.
Ia menoleh pada dua murid yang tak sadarkan diri.
Jika ia pingsan di sini, mereka mati.
Tangannya mengepal.
Untuk pertama kalinya sejak menerima inti itu, ketakutan kembali muncul.
Bukan takut pada musuh.
Bukan takut pada kematian.
Melainkan takut kehilangan kendali.
Kehampaan itu mulai menyebar tanpa ia perintahkan.
Dinding lorong retak halus.
Batu-batu kecil jatuh.
Qiu Liong terkejut.
Ia tidak ingin menghancurkan gua ini.
Ia tidak ingin melukai siapa pun.
“Fokus,” suara itu berbisik.
“Jangan biarkan ia mengalir. Tahan.”
“Tahan bagaimana?!” ia hampir berteriak.
“Terima rasa sakitnya.”
Jawaban itu membuatnya terdiam.
Terima?
Ia memejamkan mata.
Alih-alih melawan rasa sakit itu, ia berhenti mencoba menekannya.
Ia membiarkannya mengalir.
Merasakan setiap denyut.
Setiap retakan.
Setiap sensasi tubuhnya hampir robek dari dalam.
Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.
Sudah lama ia tidak menangis.
Bahkan saat dihina.
Bahkan saat berdarah di tangga batu.
Namun kali ini
ini bukan tentang harga diri.
Ini tentang bertahan hidup dalam tubuhnya sendiri.
Perlahan…
denyutan itu mulai stabil.
Kehampaan yang liar tadi mereda.
Seperti ombak besar yang akhirnya surut.
Rasa sakit masih ada.
Namun tidak lagi menghancurkan.
Qiu Liong membuka mata.
Ia terengah-engah.
Bajunya basah oleh keringat.
Tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai.
Namun ia masih sadar.
Masih hidup.
“Tubuhmu hampir hancur,” suara itu berkata datar.
“Jika kau terus seperti ini, kau akan mati sebelum menjadi kuat.”
Qiu Liong tersenyum pahit.
“Jadi kekuatan tanpa batas ini… tetap punya batas.”
“Batasnya adalah dirimu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun berat.
Ia perlahan berdiri lagi, kali ini lebih berhati-hati. Tidak memanggil kehampaan. Tidak membiarkannya mengalir bebas.
Hanya berjalan.
Langkah demi langkah.
Merasakan setiap gerakan tubuhnya.
Saat akhirnya cahaya hutan terlihat di depan, Qiu Liong menyadari sesuatu
Kekuatan itu nyata.
Namun ia bukan dewa.
Ia bukan legenda.
Ia masih manusia.
Dan tubuh manusianya hampir hancur oleh pilihan yang ia buat sendiri.
Namun di balik rasa sakit itu
untuk pertama kalinya,
ia tidak merasa lemah.
Ia merasa… sedang berubah.
jangan bikin kecewa ya🙏💪