NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Kolam Batu yang Aneh

“Bersuara… akhirnya bersuara!”

Di tanah lapang yang diselimuti cahaya pagi, Lin Zhantian berdiri terpaku. Tatapannya terarah pada kepalan tangannya sendiri, seakan-akan di sana tersembunyi rahasia langit dan bumi. Wajah kecilnya yang masih menyimpan sisa kepolosan kanak-kanak kini memerah oleh luapan kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan. Dentuman halus yang barusan terlahir dari pukulan Tongbei Quan—meski hanya setitik gaung yang nyaris tak terdengar—bagi dirinya laksana gelegar guntur yang membelah cakrawala.

Namun ketika ia mengangkat kepala, sosok ayahnya telah berjalan perlahan meninggalkan hutan, langkahnya berat namun tetap tegap.

Senyum licik nan polos tersungging di bibir Lin Zhantian.

“Besok akan kuperlihatkan pada Ayah. Biarlah beliau terkejut dan bangga.”

Namun kegembiraan itu belum sempat bersemi sepenuhnya ketika rasa nyeri mendadak menjalar dari lengannya. Ia terperanjat, buru-buru menggulung lengan bajunya. Seketika napasnya tersedak.

Lengan itu dipenuhi bekas merah memanjang, kulitnya terkelupas di beberapa bagian, dan darah segar masih merembes keluar, membentuk garis-garis tipis yang menyilaukan di bawah cahaya.

“Hss…”

Saat berlatih tadi, pikirannya terpusat sepenuhnya pada teknik, pada aliran tenaga, pada resonansi tulang dan otot. Rasa sakit tak terasa. Namun kini, ketika konsentrasinya buyar, nyeri itu menyerbu seperti ribuan jarum membakar dagingnya. Ia meringis, giginya terkatup rapat.

Ia tahu sebabnya.

Tongbei Quan bukanlah teknik lembut bak aliran sungai musim semi. Ia keras, kasar, menuntut tubuh digesek dan dihantam berkali-kali hingga daging menjadi baja dan tulang menjadi besi. Gesekan berulang antara kulit dan kain pakaian, antara kulit dan udara, pada akhirnya tetap meninggalkan luka.

Lin Zhantian mengangkat wajah, menatap langit yang mulai menguning oleh cahaya senja.

“Masih ada waktu…”

Seketika ia berbalik dan berlari menuju kedalaman gunung belakang, tubuh kecilnya lincah menyelinap di antara pepohonan rimbun. Sekitar belasan menit kemudian, sebuah tebing curam menjulang di hadapannya. Ia menoleh ke kiri dan kanan memastikan tak ada seorang pun yang mengikutinya.

Dengan hati-hati, ia melompat turun mengikuti tonjolan batu yang menempel di dinding tebing. Tonjolan-tonjolan itu nyaris tak terlihat, tersembunyi oleh lumut dan bayangan. Namun jika diperhatikan dengan saksama, jalur itu membentuk jalan rahasia menuju dasar.

Bagi Lin Zhantian, jalur ini bukan lagi misteri. Sejak kecil ia telah menghafal setiap pijakan, setiap lekukan batu. Meski tetap berhati-hati, gerakannya mantap tanpa ragu.

Tak lama kemudian, sebuah gua tersembunyi muncul di balik himpitan beberapa batu besar.

Gua itu amat tersembunyi. Jika bukan karena pencarian yang disengaja, mustahil seseorang dapat menemukannya. Dan memang, tak ada alasan bagi siapa pun untuk mencarinya.

Ia melompat masuk.

Udara sejuk segera menyambutnya, menghapus keringat dan panas yang menempel di tubuhnya. Dunia di dalam gua itu seakan terpisah dari dunia luar—di luar panas musim panas menyengat, di dalam kesejukan bak musim gugur yang abadi.

Gua itu tidak terlalu luas. Di tengahnya terdapat sebuah kolam batu berdiameter dua hingga tiga zhang, airnya jernih hingga dasar terlihat jelas. Uap dingin tipis melayang di atas permukaan air, memberi kesan misterius yang tak kasat mata.

Tanpa ragu, Lin Zhantian menanggalkan pakaiannya dan—

“Byur!”

Tubuhnya terjun ke dalam kolam.

Dingin menusuk seketika membuat tubuhnya bergetar. Namun tak lama kemudian ia beradaptasi, bahkan merasa nyaman.

Gua ini ia temukan secara kebetulan saat masih kecil. Hanya dirinya dan Qing Tan yang mengetahui keberadaannya. Air kolam ini lebih dingin daripada air mana pun di sekitar gunung. Pada puncak musim panas, ia kerap datang untuk berendam di sini.

Kolam ini tidak menunjukkan keajaiban apa pun… setidaknya secara kasat mata.

Namun setiap kali selesai berendam, Lin Zhantian selalu merasakan sesuatu yang berbeda. Entah ilusi atau kenyataan, pikirannya menjadi jauh lebih jernih. Konsentrasinya meningkat. Ia mampu memasuki keadaan fokus dengan cepat dan mendalam.

Dulu ia tak menganggapnya istimewa.

Namun saat berlatih Tongbei Quan hari ini, ia menyadari sesuatu. Dalam kondisi fokus luar biasa itu, latihannya jauh lebih efektif. Jika tidak, mustahil ia mampu membuat pukulan itu “bersuara” dalam waktu sesingkat ini.

“Ah… mungkin hanya kebetulan.”

Ia berbaring telentang di kolam, menatap air yang mengalir dari jemarinya. Wajah kecilnya berkerut dalam keraguan.

Jika kolam ini benar-benar ajaib, seharusnya ia sudah lama menembus dan melahirkan benih Yuan Li. Mengapa kemajuannya tetap lambat?

Untuk mencapai tahap keenam Tempering Tubuh—mengolah sumsum menjadi Yuan dan melahirkan Yuan Li—itulah pintu sejati menuju dunia kultivator.

Di antara generasi muda Keluarga Lin, hanya segelintir yang mampu mencapai tahap itu.

Yuan Li…

Energi misterius yang mengalir di antara langit dan bumi.

Konon, para ahli sejati dapat menghancurkan gunung dan membelah sungai hanya dengan satu gerakan tangan. Kekuatan sebesar itu terasa terlalu jauh bagi bocah yang baru merangkak di jalur kultivasi.

Namun sumber dari semua keajaiban itu hanyalah satu—Yuan Li.

Untuk menyerap Yuan Li langit dan bumi, seseorang harus terlebih dahulu membentuk benih Yuan di dalam tubuhnya sendiri. Tanpa benih itu, energi alam takkan pernah merespons.

Lin Zhantian bersandar pada tepi kolam. Pikiran liarnya perlahan memudar. Kelelahan dari latihan keras beberapa hari terakhir menyerbu dari dalam tulang. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kantuk.

Ia tertidur.

Gua kembali sunyi.

Hanya riak air kolam yang bergoyang pelan.

“Tik…”

Dalam kesunyian itu, setetes darah merah tua meluncur dari luka di lengannya. Darah itu jatuh ke dalam kolam yang jernih.

Dan dalam sekejap—

Air kolam bergetar.

Seolah-olah makhluk purba yang tertidur ribuan tahun baru saja terbangun.

Permukaan air mendidih tanpa panas, gelembung-gelembung berwarna merah samar bermunculan dan pecah di sekitar tubuh Lin Zhantian yang tertidur. Cairan merah pucat menyebar, bergerak seperti memiliki kehendak.

Perlahan, cairan itu melilit tubuhnya.

Lalu—

Masuk.

Melalui pori-pori kulitnya, cairan itu menyusup dengan kecepatan luar biasa.

Tubuh Lin Zhantian tiba-tiba menegang. Otot-ototnya mengerut seakan ditekan oleh kekuatan tak terlihat. Keringat mengucur deras seperti hujan badai, bercampur butiran hitam halus yang menyerupai kotoran dalam.

Air kolam berdesis pelan.

Tubuhnya yang baru saja sedikit bertambah tinggi karena menembus tahap ketiga Tempering Tubuh, kini justru menyusut kembali. Seolah-olah spons yang diperas keras, seluruh kelebihan dan kotoran dipaksa keluar.

Kolam itu seperti menempa tubuhnya.

Memerasnya.

Memurnikannya.

Setelah belasan menit, riak kolam perlahan mereda.

Kesunyian kembali turun.

Tiba-tiba—

“Panas sekali!”

Lin Zhantian terbangun sambil berteriak.

Tanpa berpikir, ia menyelam ke dalam kolam, menahan napas cukup lama hingga sensasi membakar itu mereda. Ketika ia muncul kembali, napasnya terengah, wajahnya dipenuhi kebingungan.

Barusan ia merasa seperti dilempar ke dalam tungku api.

Namun ini kolam dingin.

Bagaimana mungkin terasa panas membara?

Ia memanjat keluar, berdiri di tepi kolam dengan tubuh basah kuyup. Tatapannya tertuju pada air yang kini kembali jernih dan tenang, seakan tak pernah terjadi apa-apa.

Setelah merenung lama tanpa jawaban, ia menggeleng tak berdaya dan meraih pakaiannya.

Namun saat hendak mengenakan baju, gerakannya terhenti.

Matanya terpaku pada lengannya sendiri.

“Eh?”

Bekas luka merah yang tadi memenuhi kulitnya—hilang.

Tak tersisa satu pun.

Kulitnya bahkan tampak lebih halus… namun juga lebih keras.

Ia menggosok lengannya perlahan.

Tubuhnya mendadak kaku.

Ekspresi tak percaya membanjiri wajahnya.

Kulit dan ototnya terasa jauh lebih padat, lebih kuat.

Ini…

Ini adalah tanda mendekati tahap keempat Tempering Tubuh!

“Bagaimana mungkin?!”

Suara batinnya bergemuruh.

Ia, Lin Zhantian, bahkan sebagai orang yang mengalaminya sendiri, hanya mampu berdiri terpaku dalam keheningan gua, menatap tubuhnya dengan mata membelalak.

Di balik kolam batu yang sunyi itu, sebuah rahasia kuno tampaknya telah mulai bergerak.

Dan takdirnya—

Telah perlahan berubah arah.

1
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!