Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03 - Saat Jarak Mulai Belajar Bicara
..."Kadang, jarak yang paling menyakitkan bukan yang jelas terlihat, tapi yang perlahan menempel tanpa kita sadari."...
Happy Reading!
...----------------...
Tidak ada kejadian besar yang menandai perubahan itu. Tidak ada pertengkaran. Tidak juga kata perpisahan.
Jarak datang dengan cara yang paling halus—sebagai jeda kecil yang awalnya tak ingin kuakui.
Raven masih ada di sekitarku. Masih membalas pesanku. Masih duduk di kelas yang sama.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tak bisa kutunjuk dengan jelas, namun terasa.
Balasan pesannya tak lagi datang secepat dulu. Bukan diabaikan-hanya tertunda. Kadang satu jam, kadang lebih.
Aku mencoba tidak menghitung. Mencoba meyakinkan diri bahwa tidak semua hal harus ditanggapi segera. Bahwa mungkin ia hanya sibuk. Bahwa aku terlalu banyak berpikir.
Namun kebiasaan punya caranya sendiri untuk meninggalkan jejak.
Kotak susu stroberi itu mulai jarang muncul. Bukan hilang sepenuhnya-hanya tidak lagi rutin. Dan anehnya, aku lebih merindukan kebiasaan itu daripada susunya sendiri—rasa manis yang dulu selalu datang tanpa kuminta.
Kami masih pulang searah. Masih berjalan berdampingan. Tapi percakapan menjadi lebih pendek.
Jika dulu diam terasa nyaman, kini diam mulai terasa canggung.
Aku sering meliriknya dari samping, berharap menemukan sesuatu—entah itu perhatian kecil, atau sekadar tatapan yang mengisyaratkan aku masih ada.
Tapi Raven tetap berjalan lurus ke depan, seolah tak ada yang berubah.
Dan mungkin, baginya memang tidak ada.
Aku mulai menahan diri untuk tidak selalu menjadi yang pertama mengirim pesan. Bukan karena marah. Hanya ingin tahu-apakah ia akan mencariku jika aku menghilang sebentar.
Kadang ia melakukannya. Kadang tidak.
Di situlah aku belajar bahwa menunggu adalah bentuk keberanian yang lain. Dan bahwa perasaan bisa lelah meski tidak pernah diperdebatkan.
Aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi menyakitkan: aku mulai lebih sering menebak daripada mengetahui.
Menebak suasana hatinya. Menebak pikirannya. Menebak posisiku di hidupnya.
Raven tidak pernah berubah menjadi dingin. Ia hanya... menjauh setengah langkah.
Dan aku tak tahu apakah aku boleh mengikutinya, atau seharusnya berhenti di tempatku berdiri.
Aku ingin bertanya. Tapi tidak tahu harus bertanya tentang apa.
Karena bagaimana cara menanyakan jarak yang bahkan belum diakui keberadaannya?
Aku hanya tahu satu hal: kedekatan kami tidak lagi berjalan ke arah yang sama.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa takut kehilangan sesuatu
yang bahkan belum pernah kumiliki sepenuhnya.
...----------------...
Suatu siang, seperti biasa, kami duduk bersebelahan di bangku depan kelas.
Bel masuk sudah berbunyi, tapi guru belum datang. Suasana kelas riuh oleh obrolan teman-teman, suara kursi digeser, tawa yang saling tumpang tindih.
Aku duduk di sana, dekat dengannya. Terlalu dekat untuk disebut jauh. Terlalu jauh untuk disebut bersama.
Raven membuka buku catatannya, membalik halaman dengan tenang. Tangannya bergerak pelan, seolah tak ada apa-apa yang perlu dikejar. Aku meliriknya sebentar, lalu kembali menatap mejaku sendiri.
Biasanya, di momen seperti ini, ia akan bertanya sesuatu. Hal sepele. Tentang tugas. Tentang jadwal. Tentang apa pun, asal memecah diam.
Tapi kali ini, tidak.
Aku mencoba membuka percakapan.
"Pelajaran nanti susah nggak, ya?"
Raven mengangguk kecil. "Kayaknya."
Hanya itu.
Tidak ada lanjutan. Tidak ada pertanyaan balik.
Aku mengangguk pelan, lalu diam lagi.
Di antara kami, ada jarak yang tidak terlihat. Tidak bisa disentuh. Tapi cukup jelas untuk dirasakan. Jarak yang tidak diisi oleh kata-kata, hanya oleh kesadaran bahwa sesuatu telah berubah.
Aku memperhatikan papan tulis, meski belum ada apa-apa di sana. Dari sudut mataku, Raven tetap menatap bukunya, fokus pada huruf-huruf yang ia tulis sendiri.
Kami duduk berdampingan. Berbagi meja yang sama. Menghirup udara yang sama.
Tapi rasanya seperti berada di dua ruang yang berbeda.
Dan saat guru akhirnya masuk kelas, aku menyadari sesuatu yang sederhana: diam yang dulu terasa nyaman, kini terasa seperti jarak yang sengaja dipelihara.
...----------------...
Sore itu, kami sempat berjanji pulang bareng. Seperti biasa.
Tidak ada rencana besar. Tidak juga ajakan khusus. Hanya kalimat singkat yang ia ucapkan sepintas saat jam pelajaran hampir selesai.
“Nanti pulang bareng aja,” katanya.
Aku mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak memastikan ulang. Karena dulu, hal-hal seperti itu tidak perlu ditegaskan.
Saat bel pulang berbunyi, aku sempat ke toilet sebentar. Tidak lama—hanya mencuci tangan dan merapikan tas. Aku yakin Raven masih di kelas. Biasanya, ia tidak pernah langsung pergi.
Ketika aku kembali ke koridor, kelas sudah mulai sepi.
Aku berdiri di depan kelas, menunggu. Satu per satu siswa melewati lorong. Suara langkah bercampur tawa. Nama Raven tak kunjung muncul.
Aku melirik ke dalam kelas. Bangkunya sudah kosong. Aku mengecek ponsel. Belum ada pesan.
Aku menunggu beberapa menit lagi, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ia hanya berbincang dengan temannya. Lalu aku mengirim chat lebih dulu.
“Lo di mana?”
Pesannya terbaca. Tidak langsung dibalas.
Aku berdiri di tempat yang sama, memeluk tas lebih erat. Meyakinkan diri bahwa menunggu sebentar bukan hal besar.
Beberapa menit kemudian, balasannya masuk.
“Gue pulang duluan. Ada urusan.”
Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada kata maaf.
Aku membaca pesan itu berulang kali, mencari nada yang mungkin tidak tertulis. Mencari alasan yang bisa kuterima.
“Yaudah,” balasku akhirnya.
Satu kata. Aman. Tidak menuntut apa-apa.
Aku melangkah keluar sekolah sendirian. Gerbang terasa lebih jauh dari biasanya. Jalan pulang terasa lebih panjang.
Di tengah perjalanan, aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi menyakitkan:
Aku tidak kecewa karena ia pulang duluan.
Aku kecewa karena aku masih menunggu. Sementara baginya, menungguku bukan lagi hal yang perlu.
...----------------...
Aku baru tahu Raven ikut lomba antar kelas dari orang lain.
Bukan darinya.
"Eh, Raven ikut lomba debat ya?" tanya Arkan, salah satu teman sekelasku sambil membuka botol minum.
Aku menoleh, refleks. "Hah? Iya?"
"Iya, dari kelas sebelah katanya. Latihannya sore-sore."
Aku mengangguk pelan, seolah itu informasi biasa. Seolah aku memang seharusnya tahu dari orang lain, bukan dari orang yang dulu selalu menceritakan hal-hal kecil kepadaku.
Padahal, aku ingat betul-dulu ia akan mengirim pesan sederhana.
"Kayaknya gue ikut lomba deh." Atau, "Nanti pulang agak sore."
Sekarang tidak.
Aku melirik ke arah bangkunya. Raven sedang menulis sesuatu di buku catatannya, fokus, tenang, seperti tidak ada apa-apa yang berubah. Seolah jarak yang kurasakan hanya ada di kepalaku sendiri.
Saat itu, aku sempat ingin bertanya. Ingin pura-pura santai.
"Lo ikut lomba ya?"
Tapi kalimat itu berhenti di tenggorokanku. Karena kenapa aku harus tahu dari orang lain dulu, baru bertanya?
Dan jika ia ingin bercerita, bukankah seharusnya ia sudah melakukannya tanpa aku minta?
Sepulang sekolah, kami berjalan searah. Langkah kami tetap sejajar, jarak kami tetap sama. Tapi percakapan tidak pernah dimulai.
Aku menunggu. Raven tidak.
Dan di antara suara kendaraan dan langkah kaki kami sendiri, aku akhirnya mengerti satu hal yang selama ini coba kuhindari:
Aku bukan lagi orang pertama yang perlu ia beri tahu.
Mungkin aku masih ada. Masih berjalan di sampingnya. Masih disebut "dekat" oleh orang lain.
Tapi perlahan, aku tidak lagi dilibatkan.
Dan saat itulah aku sadar- jarak tidak selalu terasa seperti ditinggalkan.
Kadang, ia terasa seperti tidak lagi dipilih.
...----------------...
Setiap pagi, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil lagi.
Raven duduk di bangku yang sama, meletakkan tas di sampingnya, menata buku catatan dengan rapi. Kadang ia menatap papan tulis sebentar, lalu menatapku tanpa sengaja.
Saat istirahat, ia sering duduk di dekat teman-temannya, tapi aku menyadari ia masih menunggu sejenak sebelum keluar kelas. Kadang kami berjalan di koridor yang sama, tanpa banyak bicara, hanya menyamakan langkah.
Beberapa kali aku mengirim pesan ringan, seperti:
"Lo udah makan belum?"
Kadang ia membalas singkat, kadang hanya "Udah."
Bukan karena acuh, hanya... jarak yang mulai menahan.
Momen-momen kecil itu-senyuman, pesan singkat, langkah yang selaras-menjadi pengingat bahwa kami masih dekat. Tapi dekatnya berbeda. Tidak lagi sama seperti dulu.
...----------------...
Aku memilih percaya pada hal-hal kecil. Bahwa keterlambatan balas pesan hanyalah soal waktu. Bahwa kebiasaan yang menghilang akan kembali dengan sendirinya.
Aku mulai sibuk menciptakan alasan untuknya. Membelanya di dalam kepalaku, bahkan sebelum ada yang menuduh.
"Raven hanya lelah," kataku pada diri sendiri. "Raven sedang banyak pikiran." "Raven tidak bermaksud berubah-gue aja yang terlalu peka."
Denial terdengar seperti logika jika diucapkan dengan cukup tenang.
Aku tetap menyapanya seperti biasa. Tetap menunggu di jam yang sama. Tetap berjalan di jalur yang sama sepulang sekolah.
Dan Raven... tetap menjawab dengan cara yang aman.
Tidak menyakitkan. Tapi juga tidak mendekatkan.
Teman-teman sekelasku mulai menyadari perubahan itu lebih cepat dariku.
"Kok kalian jarang bareng sekarang?" tanya Keno suatu hari, sambil menutup bukunya.
Aku tersenyum tipis. "Lagi nggak searah aja."
Fadly melirik ke arah Raven sebentar, lalu kembali menatapku. "Tapi Raven sekarang kayak... beda ke lo."
Aku mengangkat bahu pelan. "Biasa aja kok."
Kalimat itu terdengar ringan saat diucapkan,
tapi entah kenapa terasa berat saat kutelan sendiri.
Aku selalu punya jawaban. Tapi aku tidak pernah punya keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang sama pada orang yang seharusnya bisa menjawabnya.
Nara bahkan pernah blak-blakan bertanya di depan Raven,
"Lo kenapa sama Shaira?"
Raven hanya diam. Lalu mengalihkan pembicaraan begitu saja.
Aku ada di sana. Mendengar pertanyaan itu. Melihat ia memilih tidak menjawab.
Untuk apa aku harus bertanya juga? Hasilnya pasti sama. Raven tidak menghindar. Ia hanya tidak lagi menunggu.
Jika aku duduk lebih dulu, ia tidak mencari. Jika aku tidak mengirim pesan, ia tidak memulai.
Dan perlahan, aku menyadari bahwa segala usaha datang dari satu arah.
Aku pernah berdiri di belakang kelas, melihatnya bercanda dengan teman-temannya. Tertawa seperti biasa. Seolah jarak yang kurasakan tidak pernah ada.
Di situ aku mengerti: yang berubah bukan dunianya-melainkan posisiku di dalamnya.
Aku ingin bertanya. Ingin mengatakan bahwa aku merindukan versi kami yang dulu. Ingin tahu kapan tepatnya semuanya mulai bergeser.
Tapi setiap kali berhadapan dengannya, kata-kata itu runtuh sebelum sempat keluar. Karena bagaimana jika jawabannya adalah sesuatu yang tidak siap kudengar?
Maka aku memilih diam.
Dan Raven... membalas diam itu dengan caranya sendiri.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada kejelasan. Hanya jarak yang semakin terbiasa.
Hingga suatu hari, aku berhenti menunggu bukan karena sudah mengerti, melainkan karena terlalu lelah untuk terus berharap.
Dan di sanalah aku tahu—kehilangan tidak selalu datang dengan perpisahan. Kadang ia datang pelan-pelan, hingga kita baru sadar setelah semuanya benar-benar pergi.
...----------------...
— salam dari Raven, si paling gak bisa ditebak.
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/