Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Baper
"Aku, minta izin menikahi Melitha, Mas. Secepatnya."
"Apa?!" Kaget Harry dan Soraya bersamaan.
Bersamaan dengan itu, Melitha keluar dari dapur membawa nampan berisi dua cangkir kopi di tangannya, ketiganya serentak menatap wajah teduh Melitha yang menjadi bahan obrolan mereka.
"Ini kopi buat mas Harry, satu sendok gula. Dan ini buat mas Pandji, tanpa gula," ucap Melitha sambil meletakan masing-masing cangkir kopi itu dihadapan keduanya. Dirinya memang hafal karena terbiasa membuatkannya untuk Harry dan Pandji saat kakak sepupunya itu bertamu.
"Terima kasih, Mel," Pandji dan Harry sama-sama berucap, lalu saling tatap sesaat begitu menyadarinya.
"Jangan pergi dulu, duduklah disini bersama kami," Harry menunjuk kursi kosong didekatnya sebelum adiknya itu kembali ke dapur.
Melitha tidak langsung duduk, ia menatap kakaknya sejenak. Harry yang ditatap seakan mengerti apa yang difikirkan adiknya.
"Apa yang sedang kami bicarakan, ini ada kaitannya denganmu, Melitha... Jadi, kamu memang harus ada disini untuk mendengarkannya."
Melitha mengangguk pelan, lalu duduk.
"Pandji," Harry kembali beralih pada adik sepupunya itu.
"Mas minta maaf... karena begitu emosi tadi siang, Mas telah memaksamu bertanggung jawab menikahi Melitha--"
"Sebentar, Mas!" Soraya buru-buru menginterupsi suaminya.
"Bukannya si Celo yang kasih benih, kok Mas malah suruh Pandji yang tanggung jawab, aneh banget!" wajah Soraya mengkerut bingung.
"Jangan potong ucapanku, Raya," datar Harry dengan suara rendahnya, tak suka pada cara isterinya itu. "Kamu dengarkan saja, biasakan tidak menyela sebelum suamimu ini selesai berbicara," tegasnya.
Mendengarnya, Soraya terpaksa mengatupkan kedua bibirnya, padahal masih banyak yang ingin ia tanyakan untuk memenuhi rasa penasarannya.
"Bibi Harun benar, kamu telah lama punya hubungan dengan Elok, dan sudah sepantasnya kalian berdua menikah." Harry kembali melanjutkan ucapannya. "Jadi, lupakan permintaanku kemaren, anggap aku tak pernah mengatakan itu, Pandji."
Pandji tak langsung berucap, membiarkan Harry menyelesaikan perkataannya.
"Dan bukan tugasmu juga yang harus mencarikan Melitha seorang suami," Harry melirik adiknya yang tertunduk dalam, hatinya sebenarnya pedih dan menangis mengingat kemalangan yang tengah menimpa adik perempuannya yang selama ini telah ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya, tapi dalam kejap dirusak oleh adiknya Pandji.
"... itu, adalah tugasku sebagai kakaknya, bukan kamu, Pandji," lanjutnya serak.
"Aku tidak akan pernah biarkan Melitha menikah dengan pria sembarangan hanya karena kondisinya, aku tidak ingin adik kesayanganku diperlakukan tidak baik, baik oleh suaminya kelak, maupun keluarga suaminya. Aku bahkan tidak keberatan bila Melitha melahirkan bayinya tanpa seorang suami, aku yang akan menanggung hidupnya...."
Selesai berucap, Harry berdiam diri, berusaha meredakan kesedihan hatinya.
"Enak saja, aku yang keberatan, Mas!" Jerit hati Soraya, wajahnya terlihat sangat kesal mendengarnya, dan itu tidak lepas dari perhatian Pandji.
Di tengah keheningan itu, Pandji kembali beralih memandang Harry yang masih setia berdiam diri.
"Sesuai tujuan awalku, izinkan aku menikahi Melitha, Mas," Pandji kembali mengulang pernyataannya sebelumnya.
Melitha yang diam cepat mendongak, menatap kakak sepupunya itu dengan perasaan tak setuju. "Tapi mas Pandji--"
Pandji mengangkat satu tangannya memberi isyarat agar ucapannya tidak disela,, membuat Melitha langsung memutus ucapannya.
"Aku dan Elok sudah selesai," lanjut Pandji. Semua terperangah mendengarnya, menatap satu sama lain sesaat, lalu kembali beralih pada Pandji.
"Besok, aku akan mengajak Ibu kemari untuk melamar Melitha secara resmi. Dan untuk malam ini aku tinggalkan formulir untuk syarat pernikahan gereja dan pencatatan secara negara," Panji meletakan amplop berkas di atas meja makan, yang sebelumnya dibawa olehnya ke rumah Elok.
Soraya yang penasaran buru-buru meraih amplop berkas yang lumayan tebal itu. Matanya seketika membelalak begitu melihat bila itu memang berisi formulir pernikahan.
"Ja-jadi kamu benar-benar serius mau menikahi Melitha?" tanya Soraya menatap Pandji tak percaya.
"Iya, Mbak," Pandji mengangguk.
"Apes bener kamu, Pandji," ucap spontan Soraya.
"Ngelepasin seorang dokter hanya untuk dapet anak SMA, belum lulus pula," tawanya lepas, seakan mengejek.
"Raya, jaga sikapmu," tegur Harry, berusaha tidak kasar pada isterinya.
"Aku kasian aja sama Pandji, Mas. Melitha sih beruntung dapet Pandji, lah Pandji... dia dapet rombeng adiknya," Soraya kembali tertawa.
"Lagian, kenapa musti selesai sama Elok, Pandji?" Soraya kembali beralih pada sepupu suaminya itu, tanpa menghiraukan rona merah wajah suaminya.
"Kamu sudah pacaran lama sama tunanganmu itu, setelah jadi dokter kamu malah tinggalin dia, itu namanya jagain jodoh orang sia-sia. Atau jangan-jangan..." Mata Soraya seketika membelalak begitu sesuatu terlintas dalam fikirannya.
"Keluarga Elok berubah fikiran karena Elok sudah jadi dokter? Atau... mungkin kamu yang memang menghamili Melitha dan ketahuan sama Elok? Mana ada laki-laki yang mau tanggung jawab bila bukan ulahnya," tuduhnya penuh curiga.
"Raya!" teriak Harry membentak. "Kamu lebih baik diam dari pada memperkeruh masalah! Kamu tidak tahu apa-apa, yang kamu tuduh itu adalah adikku dan adik sepupuku!" walau suaranya keras, tapi Harry masih tetap bisa menguasai dirinya.
Di sebelah Harry, Melitha hanya bisa menggelengkan kepala melihat kakak iparnya yang asal bicara itu.
Bukannya minta maaf dan merasa bersalah, Soraya malah bersiap melontarkan apa yang masih bercokol dalam kepalanya, namun Pandji lebih dulu mendahuluinya.
"Hubunganku dan Elok, biarlah itu menjadi urusan pribadiku, tidak ada hubungannya dengan kehamilan Melitha," tegas Pandji tanpa raut emosi.
"Aku berani bersumpah, tidak pernah menyentuh Melitha, mbak Soraya. Keputusanku menikahinya semata-mata tanggung jawab, karena bayi yang dilahirkan Melitha nanti pasti butuh identitas."
Mendengarnya dan melihat ekspresi tegas Pandji, Soraya kembali terbungkam diam.
Harry memandangi wajah serius Pandji yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Pandji, aku rasa sesuatu telah terjadi padamu," nilainya sebagai seorang kakak.
Hening sejenak.
Tenggorokan Pandji terlihat bergerak naik turun, obrolan menyakitkan beberapa menit lalu antara dirinya dengan Elok dan mantan ayah mertuanya kembali terlintas dalam benaknya.
Tangan Pandji terkepal kuat disisi tubuhnya, ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya bila ia seorang diri, sayangnya dirinya saat ini berada di rumah kakak sepupunya.
"Aku hargai niat baikmu, Pandji," Harry kembali berucap memecah keheningan.
"Tapi aku tidak mau kamu menikahi Melitha tanpa memikirkannya dengan matang. Rumah tangga itu bukan untuk sehari dua, tapi seumur hidup."
Harry menyesap kopinya yang sudah dingin sebelum kembali berucap.
"Sesuai kataku siang tadi, tiga bulan... Bila kamu sudah memikirkannya dengan matang, kamu boleh datang dan menikahi Melitha, Pandji."
"Tapi, mas Har--" Melitha berniat menyanggah, namun lagi-lagi ucapannya terputus oleh isyarat tangan kakaknya.
"Cukup, Mel. Ini sudah malam, biarkan Pandji segera pulang dan merenungkan akan niatnya. Mengarungi.bahtera rumah tangga itu tidak mudah. Kamu lihat saja bagaimana Masmu ini dan mbak Rayamu... pahit, manis, asin, hambar.... sampai mual.... dan mau muntah juga ada...." ucap Harry seakan ngawur tapi itu benar. Ia berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Pandji ikut berdiri.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Harry kembali berucap melihat adik sepupunya itu tak kunjung menyambut tangannya.
"Aku belum minum kopiku, Mas..." Pandji menunjuk cangkir kopi yang belum tersentuh dihadapannya.
Atensi Harry langsung terarah pada cangkir kopi yang dimaksud, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal gatal lalu terkekeh sendiri.
"Maaf, Mas terlalu baper, minumlah dulu, setelah itu jangan lupa pulang."
Pandji ikut terkekeh pelan, hanya dalam beberapa kali tegukan, kopi pahitnya yang dingin sudah berpindah ke dalam lambungnya.
"Di depan sana, banyak wartawan masih setia menunggu. Mbak Raya bakalan butuh banyak energi mengadakan konferensi pers, karena semua penuturan Mbak telah terekam dalam kepala mereka," sindir Pandji setelah berpamitan.
Mendengarnya, Soraya buru-buru menepi ke jendela, membuka gorden," Oh my God!" kagetnya, meringis ngeri.
Bersambung✍️