Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Angin panas menyapu halaman dengan malas. Udara terasa lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya, seolah kota itu sedang menahan napas terlalu lama. Langit tidak mendung, namun matahari tertutup lapisan awan tipis yang membuat cahaya jatuh dengan warna pucat.
Yurie berdiri di teras belakang, menatap taman yang tampak kering. Daun-daun tidak lagi segar, warnanya kusam, dan tanah retak tipis di beberapa bagian. Ia menyadari satu hal: waktu benar-benar bergerak. Tidak berhenti hanya karena perasaan seseorang berubah.
Kaiden muncul dari sisi lain teras, membawa dua botol air dingin. Ia menyerahkan satu pada Yurie tanpa berkata apa pun.
“Kau terlihat kepanasan,” katanya setelah Yurie menerimanya.
Yurie tersenyum kecil. “Udara hari ini aneh. Seperti menempel di kulit.”
Kaiden bersandar pada tiang kayu, menatap halaman dengan ekspresi datar. Namun Yurie tahu, di balik sikapnya yang tenang, pikirannya jarang benar-benar diam.
“Kau tidak perlu menemaniku,” ucap Yurie pelan. “Aku hanya ingin sendiri sebentar.”
Kaiden menoleh. “Aku tidak merasa sedang menemani. Aku hanya… ada.”
Jawaban itu membuat Yurie terdiam. Ada sesuatu dalam kata ada yang terdengar sederhana, tapi berat.
Mereka berdiri berdampingan tanpa saling menatap. Jaraknya cukup dekat untuk menyadari kehadiran satu sama lain, namun cukup jauh untuk tidak terasa mengekang.
“Aku bermimpi aneh semalam,” kata Yurie tiba-tiba.
Kaiden meliriknya. “Tentang apa?”
“Tempat ini,” jawabnya jujur. “Tapi semuanya kosong. Tidak ada suara. Tidak ada orang.”
Kaiden mengernyit. “Dan kau?”
“Aku masih di sini,” Yurie tersenyum pahit. “Sendirian.”
Kaiden menatap lurus ke depan. “Kadang mimpi hanya cara pikiran mengingatkan apa yang paling kita takuti.”
Yurie memutar botol air di tangannya. “Bagaimana jika ketakutanku bukan kesepian… tapi kehilangan?”
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia menghela napas perlahan, seolah menimbang kata yang tepat.
“Kehilangan itu pasti,” katanya akhirnya. “Yang tidak pasti adalah apakah kita berani tetap tinggal meski tahu suatu hari akan sakit.”
Yurie menoleh padanya. “Kau selalu berpikir sejauh itu?”
Kaiden tersenyum tipis. “Aku terbiasa hidup dengan kemungkinan terburuk.”
Yurie menatap wajah Kaiden lama. Ia menyadari sesuatu yang selama ini luput: Kaiden bukan tidak punya perasaan—ia hanya terlalu sering menahannya.
“Kau tidak harus selalu kuat,” ucap Yurie lirih.
Kaiden menatapnya balik. Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya goyah.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi aku belum belajar bagaimana caranya tidak.”
Yurie melangkah satu langkah lebih dekat. Tidak
menyentuh. Tidak memaksa.
“Kalau begitu,” katanya lembut, “belajarlah pelan-pelan.”
Angin panas kembali berembus. Kaiden menutup matanya sesaat, lalu mengangguk kecil.
Momen itu sederhana. Tidak ada janji. Tidak ada kata berlebihan. Tapi Yurie merasakan sesuatu menetap—lebih lama dari senyap.
......................
Ruangan itu tertutup rapat, tanpa jendela terbuka. Cahaya lampu putih menggantung dingin di langit-langit, memantul pada meja kaca yang dipenuhi map-map berwarna gelap. Tidak ada hiasan. Tidak ada foto keluarga. Hanya dokumen, layar monitor, dan kesunyian yang terasa terlalu teratur.
Seorang pria duduk di kursi utama.
Wajahnya tidak terlihat jelas. Cahaya hanya menyentuh sisi rahangnya, menyisakan bayangan di bagian mata. Ia membaca satu berkas dengan sangat teliti, seolah setiap kata di dalamnya bukan sekadar informasi, melainkan bagian dari rencana panjang yang sudah ia susun bertahun-tahun.
Nama Reynard tercetak di halaman pertama.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Masih bertahan,” gumamnya lirih.
Ia menutup map itu, lalu membuka berkas lain. Kali ini lebih tipis. Di halaman depan hanya tertulis satu nama—ditulis tangan, bukan cetakan resmi.
Y. H. N.
Tatapannya mengeras.
“Menarik,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. “Takdir selalu punya cara sendiri.”
Ia berdiri, berjalan perlahan ke arah jendela yang tertutup tirai gelap. Dari sela kain, cahaya kota terlihat samar. Dunia di luar bergerak normal, tanpa tahu bahwa beberapa keputusan penting baru saja dibuat di ruangan ini.
“Aku tidak akan menyentuh mereka secara langsung,” katanya pada dirinya sendiri. “Itu terlalu mudah.”
Ia kembali ke meja, membuka laci, mengambil sebuah foto lama. Sosok seorang gadis muda tersenyum di dalamnya—senyum yang tidak lagi ada di dunia nyata. Pria itu menatap foto itu lama, jauh lebih lama dari sebelumnya.
“Tenanglah,” ucapnya dingin. “Aku tidak lupa.”
Foto itu kembali ke laci. Laci terkunci.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang wanita masuk dengan langkah hati-hati. Ia berdiri beberapa meter dari meja, tidak berani mendekat.
“Apakah rencananya berjalan?” tanyanya pelan.
Pria itu tidak menoleh. “Segalanya berjalan sebagaimana mestinya.”
“Termasuk keluarga Nazeeran?”
Ia mengangguk tipis. “Mereka selalu patuh. Ketakutan membuat orang mudah diarahkan.”
Wanita itu terdiam sesaat. “Bagaimana dengan pihak Reynard?”
Pria itu tersenyum samar, kali ini lebih jelas terlihat. “Mereka belum sadar,” katanya. “Dan aku ingin itu tetap begitu.”
Ia menekan satu tombol di meja. Layar menyala, menampilkan potongan-potongan informasi—foto, laporan singkat, dan rekaman kamera. Semuanya berhenti pada satu wajah.
Seorang pria bermata tajam.
Seorang wanita berambut pirang.
“Kehancuran tidak perlu cepat,” lanjutnya tenang. “Cukup perlahan… sampai mereka sendiri yang runtuh.”
Lampu di ruangan itu redup. Bayangan pria itu menyatu dengan gelap. Namanya belum disebut.
Wajahnya belum dikenali. Namun satu hal pasti—
permainan sudah dimulai.