Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pertemuan dengan Pencatat
Langkah kaki Arlan beradu dengan lantai beton yang terasa statis, tidak lagi memantulkan gema seperti biasanya. Di bawah sini, di kedalaman yang bahkan tidak terjangkau oleh getaran kereta bawah tanah, udara terasa lebih padat dan mengandung aroma tinta tua yang menguap bersama debu kertas yang kering. Dante berjalan di sampingnya, memegang lampu minyak yang cahayanya tidak mampu memotong kegelapan secara tajam, melainkan hanya menciptakan lingkaran kuning redup yang seolah-olah terus diserap oleh dinding-dinding arsip.
"Hampa Akustik di titik ini sudah mencapai level jenuh," Mira berbisik, jemarinya menekan pelipis dengan kuat. "Aku merasa suara napas kita sendiri sedang dihisap oleh ruangan ini."
"Fokus pada langkahmu, Mira," sahut Arlan tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar dan instruktif. "Dante, pastikan hulu ledak frekuensi yang kita ambil dari gudang cermin tadi tetap dalam kondisi stabil. Suhu di sini turun drastis secara endotermik."
"Aku merasakannya, Arlan. Logam wadahnya mulai berembun," jawab Dante sambil mengatur napasnya yang kini harus dilakukan secara manual karena tekanan udara yang ganjil. "Kita hampir sampai di ruang pusat data histori. Jika legenda itu benar, dia sudah ada di sana sejak peristiwa kebakaran besar di Sektor Tujuh."
"Kael, jaga jarak lima meter di belakang," Arlan memberi instruksi tegas. "Jangan biarkan pandanganmu terdistraksi oleh tumpukan manifes di rak-rak itu. Jika ada bayangan yang bergerak tidak selaras dengan cahaya lampu Dante, itu berarti ada Eraser yang sudah menyusup ke frekuensi ini."
"Dimengerti, Komandan," sahut Kael dengan nada tegang namun patuh.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu raksasa yang tidak memiliki gagang. Permukaannya dipenuhi kristal perak yang berdenyut pelan, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Arlan mengulurkan tangannya, merasakan getaran resonansi yang familiar dari koin perak yang tersimpan di sakunya. Pintu itu terbuka perlahan, bukan karena didorong, melainkan karena ia seolah-olah melarut ke dalam dinding saat mendeteksi kehadiran darah murni Arlan.
Arsip yang Terlupakan
Di dalam ruangan, ribuan rak kayu setinggi lima meter berjajar dalam pola labirin yang rumit. Di tengah ruangan, di bawah satu lampu gantung yang berayun tanpa angin, seorang pria tua duduk di balik meja kayu yang permukaannya dipenuhi tumpukan kertas cokelat kusam. Pria itu memiliki kulit yang tampak seperti kertas perkamen retak, dan matanya hanya berupa bola putih tanpa pupil yang memancarkan pendar redup.
"Dua puluh sembilan Juli dua ribu dua belas," suara pria itu keluar seperti gesekan dua lembar amplas yang kering. "Suhu rata-rata dua puluh tujuh derajat. Angin bertiup dari utara. Dan Arlan... Arlan seharusnya sudah menjadi tumpukan abu di apartemen nomor empat ratus dua."
Arlan melangkah maju, tangannya bertumpu pada meja kayu yang terasa sedingin es. "Aku tidak datang untuk mendengar tanggal kematianku, Pencatat. Aku butuh berkas biometrik asli untuk warga Sektor Tujuh sebelum api itu menghapus sejarah kami."
Pencatat itu memiringkan kepalanya, menciptakan suara retakan kecil dari lehernya yang kaku. "Informasi di sini adalah substansi yang hidup, Kurir. Kau datang dengan membawa beban memori yang berat, namun kau meminta data yang sudah dikubur oleh para Peniru."
"Kau lapar, bukan?" Arlan menatap bola mata putih itu dengan dingin. "Kau sudah terlalu lama memakan data sampah dari para salinan yang tidak memiliki jiwa. Aku punya sesuatu yang lebih autentik."
"Apa yang kau tawarkan, Nak?" tanya Pencatat dengan nada yang tiba-tiba penuh selera.
"Arlan, jangan," Dante memperingatkan dari belakang. "Kau tahu risikonya jika kau menyerahkan fragmen itu."
Arlan mengabaikan peringatan Dante. Ia merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan sebuah Koin Perak yang berbeda dari yang lain. Koin ini tidak bersinar biru, melainkan memiliki rona kemerahan yang samar—sebuah fragmen memori tentang rasa hangat pelukan ibunya yang asli, sebelum tahi lalat di pipi ibunya berpindah posisi dan dunianya berubah menjadi kepalsuan.
"Memori rasa hangat yang murni," Arlan menyodorkan koin itu. "Tukarkan dengan manifes asli tahun dua ribu dua belas."
Transaksi Memori
Pencatat itu menjangkau koin tersebut dengan jari-jarinya yang panjang dan gemetar. Saat kulitnya bersentuhan dengan koin, sebuah gelombang resonansi emosional meledak di ruangan itu. Udara yang tadinya beku kini terasa bergetar hebat. Pencatat itu memejamkan matanya, menyerap rasa sakit dan kehangatan dari memori Arlan seolah-olah itu adalah oksigen yang paling berharga.
"Ah... rasa terbakar yang sangat manusiawi," desah Pencatat, wajahnya yang retak tampak sedikit pulih secara organik. "Kau memberikan bagian dari jiwamu, Arlan. Kau tahu kau tidak akan pernah bisa mengingat rasa hangat itu lagi setelah ini? Kau akan tahu secara visual bahwa ibumu pernah memelukmu, tapi kau tidak akan pernah bisa merasakannya lagi di hatimu."
"Aku sudah tidak punya ruang untuk perasaan itu jika ingin memimpin faksi ini," Arlan menjawab, meski tangannya di bawah meja mengepal hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Berikan datanya sekarang."
Pencatat itu menarik sebuah map tua yang permukaannya dipenuhi segel perak cair. Ia membukanya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah kertas di dalamnya bisa hancur hanya dengan napas manusia.
"Kebakaran dua ribu dua belas bukan sekadar sabotase, Arlan," Pencatat menunjuk sebuah diagram teknis. "Itu adalah protokol pembersihan pertama yang dilakukan Eraser. Sektor Tujuh harus dihapus karena di sana ditemukan satu elemen yang menolak untuk disalin secara sempurna."
"Elemen apa?" tanya Mira, suaranya bergetar karena Hampa Akustik di ruangan itu mulai menyerap energinya.
"Cinta yang bersifat obsesif," Pencatat menatap Arlan dengan tajam. "Ibumu menyadari bahwa kau adalah target penghapusan utama karena darah murnimu. Dia melakukan kesepakatan dengan mereka. Dia membiarkan dirinya menjadi 'pabrik identitas' bagi para Peniru, menyerahkan seluruh struktur biologisnya untuk disalin berkali-kali, asalkan kau—wadah yang asli—tetap dibiarkan hidup sebagai kurir rendahan yang tidak dianggap."
Dante terkesiap, hampir menjatuhkan lampu minyaknya. "Jadi, selama ini Arlan selamat bukan karena keberuntungan? Tapi karena ibunya menjadi fondasi bagi produksi massal para Peniru?"
"Lebih buruk dari itu," Pencatat membalik halaman berikutnya. "Lihat pola sidik jari ini. Ini adalah pola frekuensi yang digunakan untuk mengunci mesin inti penyalin dunia di Balaikota. Arlan, ibumu bukan hanya korban. Dia adalah kunci pengaman seluruh realitas salinan ini."
Arlan merasakan sebuah hantaman batin yang lebih menyakitkan daripada luka fisik mana pun. Informasi ini merobek martabatnya sebagai seorang anak. Ia selama ini berjuang untuk menghancurkan sistem para Peniru, namun kini ia menyadari bahwa ibunya adalah jantung dari sistem tersebut.
"Jadi... untuk mematikan mesin itu sepenuhnya..." Arlan menelan ludahnya yang terasa pahit. "Aku harus menghapus ibuku?"
"Pilihan ketiga selalu memiliki harga yang harus dibayar dengan darah, Komandan," bisik Pencatat dengan nada yang terdengar seperti kutukan.
Jalur Transmisi Perak
Arlan menatap diagram frekuensi yang tertera pada manifes kuno itu dengan mata yang memicing tajam. Di bawah cahaya lampu minyak yang semakin meredup, garis-garis yang menggambarkan sirkuit energi penyalinan dunia tampak seperti pembuluh darah perak yang menjalar menuju satu titik sentral: Sektor Tujuh. Di sekeliling mereka, rak-rak arsip mulai bergetar secara resonansi, menghasilkan suara dengung rendah yang menyakitkan gendang telinga.
"Jika dia adalah kunci pengaman, maka mesin inti di Balaikota akan selalu mengirimkan sinyal sinkronisasi setiap beberapa detik," Arlan menganalisis dengan nada instruktif, suaranya kini sepenuhnya stabil layaknya seorang Komandan. "Dante, lihat pola transmisi ini. Jalurnya melewati pipa-pipa uap tua di bawah apartemen kita."
"Itu menjelaskan mengapa suhu di Sektor Tujuh selalu tidak stabil," Dante mengangguk, jarinya menelusuri peta logistik yang kusam. "Mereka menggunakan panas seluler warga asli di sana untuk mendinginkan proses penyalinan."
"Berarti, jika kita memutus jalur ini, mesin inti akan mengalami overload?" tanya Kael yang kini sudah masuk ke dalam ruangan, senjatanya masih mengarah ke kegelapan di balik pintu.
"Tidak sesederhana itu," sela Pencatat sambil melipat kembali peta tersebut. "Jika kau memutus jalurnya secara paksa, frekuensi yang tertahan akan meledak dan menghapus seluruh kesadaran organik yang terhubung. Ibumu akan menjadi orang pertama yang kehilangan jiwanya secara permanen."
"Aku tidak akan memutusnya secara paksa," Arlan merogoh kompas tua dari atas meja Pencatat—sebuah benda logam yang jarumnya tidak menunjuk arah mata angin, melainkan berputar liar mengikuti arus endotermik. "Aku akan melakukan override. Mira, kau dengar denyut frekuensi dari peta ini?"
Mira mendekatkan telinganya ke permukaan kertas, matanya terpejam rapat. "Hampa Akustik di sini sangat tebal, Arlan. Tapi... ya, aku mendengarnya. Suaranya seperti detak jantung yang terperangkap di dalam botol kaca. Cepat dan ketakutan."
Identitas yang Tertukar
Arlan merasakan koin 2030 di sakunya mulai memancarkan panas yang menyengat, sebuah respon terhadap informasi masa lalu yang baru saja ia buka. Ia teringat pada paket berisi gigi susu yang ia terima di kantor kurir beberapa waktu lalu—sebuah bukti biologis yang kini mulai masuk akal.
"Siapa yang mengirimkan paket itu, Pencatat?" tanya Arlan, suaranya menekan. "Siapa yang memiliki akses ke bagian tubuhku dari tahun dua ribu dua belas?"
Pencatat itu terdiam sejenak, bola mata putihnya seolah-olah sedang menyisir ribuan lembar manifes di dalam pikirannya yang rusak. "Itu adalah dirimu yang lain, Arlan. Bukan salinan, melainkan sisa dari realitas primer yang menolak untuk dihapus. Dia mengirimkan bagian tubuh itu agar kau tetap memiliki 'jangkar' biologis. Tanpa itu, kau sudah lama melarut menjadi perak cair saat pertama kali menyentuh cermin stasiun."
"Jadi, ada dua Arlan?" Kael tampak bingung, wajahnya pucat di bawah temaram lampu.
"Hanya ada satu Arlan yang nyata," tegas Arlan sambil menatap tangannya sendiri. "Yang lainnya adalah residu memori yang mencoba memperbaiki kesalahan sejarah. Dante, kita sudah mendapatkan apa yang kita cari. Lokasi pabrik pengolah memori itu ada di pinggiran Sektor Tujuh, di gudang logistik yang selama ini kita anggap kosong."
"Sensor di langit-langit mulai memancar, Arlan!" Mira menarik lengan jaket Arlan. "Warnanya berubah menjadi biru predator. Mereka tahu kita sedang mengakses manifes ini!"
"Ambil map itu, Dante!" perintah Arlan. "Kita bergerak sekarang!"
Pelarian dari Labirin Histori
Mereka berbalik menuju pintu keluar, namun ruang arsip itu mulai melakukan rekonfigurasi. Rak-rak kayu raksasa itu bergeser di atas lantai logam, menciptakan labirin baru yang terus berubah. Kertas-kertas dokumen mulai beterbangan di udara, bergesekan satu sama lain hingga menciptakan suara statis yang memekakkan telinga.
"Jangan melihat ke atas!" Arlan berteriak di tengah kebisingan. "Fokus pada jarum kompas ini! Dia akan menunjuk ke arah realitas yang paling stabil!"
Mereka berlari melintasi lorong yang menyempit. Arlan melihat beberapa lembar kertas yang melintas di depan wajahnya berisi foto-foto warga Sektor Tujuh—beberapa di antaranya sudah ia kenal sejak kecil, kini wajah mereka di dalam foto itu perlahan-lahan memudar menjadi permukaan perak yang polos.
"Pintu di depan terkunci!" Kael mencoba mendobrak sebuah gerbang besi, namun logamnya terasa sangat panas, mulai meresonansi energi dari mesin inti yang mencoba mengisolasi mereka.
"Gunakan hulu ledak frekuensi tingkat rendah, Dante!" Arlan memberi instruksi sambil menahan dorongan rak yang mulai merapat. "Hancurkan engselnya, jangan ledakkan pintunya!"
Dante dengan cekatan menempelkan perangkat kecil ke engsel pintu. Sebuah ledakan sunyi—hanya berupa getaran udara yang hebat—menghancurkan pengunci logam tersebut. Mereka berhamburan keluar, tepat saat ruang arsip di belakang mereka mulai mencair dan terserap ke dalam kegelapan hampa yang endotermik.
Di Ambang Perang Terbuka
Mereka keluar melalui sebuah lubang ventilasi yang menuju ke sebuah gang sempit di balik gedung arsip kota. Udara malam Lentera Hitam yang berbau oli dan besi menyambut mereka. Arlan berdiri tegak, memandang ke arah cakrawala di mana cahaya hijau-kebiruan dari menara pusat berdenyut dengan irama yang kini ia pahami.
"Kau baik-baik saja?" Mira bertanya, suaranya terdengar sangat kecil di tengah kesunyian malam yang tidak alami.
Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya membuka telapak tangannya, menatap kompas yang kini jarumnya menunjuk dengan stabil ke arah utara. Rasa hangat tentang ibunya benar-benar telah hilang dari batinnya; yang tersisa hanyalah rekaman visual yang dingin tentang seorang wanita yang sedang memasak di dapur. Ia telah menukar kemanusiaannya demi sebuah peta jalan menuju kemenangan.
"Arlan?" Mira mengulang panggilannya.
"Aku sudah tidak merasakannya lagi, Mira," ucap Arlan, suaranya sangat datar dan tidak memiliki emosi. "Rasa hangat itu sudah hilang. Dan itu bagus. Seorang Komandan tidak butuh perasaan untuk menghancurkan pabrik itu."
Dante menatap Arlan dengan tatapan yang dipenuhi kekhawatiran, menyadari bahwa muridnya kini telah melintasi garis yang tidak bisa ditarik kembali. "Apa langkah kita selanjutnya?"
"Besok malam, kita akan menyerang gudang logistik Sektor Tujuh," jawab Arlan sambil memasukkan kompas ke sakunya. "Kita akan menghancurkan jalur transmisi perak itu. Jika ibuku adalah kuncinya, maka aku akan menjadi orang yang mengganti kunci itu dengan martabat manusia yang asli."
Arlan berjalan meninggalkan gang tersebut tanpa menoleh lagi ke arah gedung arsip yang kini sudah sepenuhnya mati. Ia tahu, di suatu tempat di pusat kota, sang Walikota pasti sedang merasakan getaran anomali yang baru saja ia ciptakan. Perang untuk merebut kembali realitas telah resmi dimulai.