Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Setelah meninggalkan aula yang tanpak ricuh karna kehadirannya, Gibran melajukan mobilnya menuju kediaman Pradikta. Sesampainya disana...ekor matanya berkeliling memandang setiap sudut bagian rumah. Rumah itu masih sama. Aroma kayu tua dan bunga melati menyambutnya, membawa ingatan masa kecil yang nyaris terkubur bersama kabar kematiannya.
Di ruang tengah, Nyonya Tina berdiri kaku, seolah tubuhnya lupa bagaimana caranya bergerak.Matanya menatap sosok di hadapannya dengan gemetar.
“Gi…bran?” suaranya hampir tak terdengar, rapuh seperti bisikan doa.
Gibran menelan ludah, dadanya terasa sesak.
“Ibu…” panggilnya pelan, suara yang telah lama ia tahan untuk diucapkan.
Sekejap itu juga, Nyonya Tina menjatuhkan tas di tangannya. Kakinya melangkah gontai, lalu berlari kecil mendekati putranya.
“Kamu hidup?” katanya terbata. “Ini bukan mimpi, kan? Bukan… halusinasi Ibu?”
Gibran menggeleng cepat.“Ini aku, Bu. Gibran. Anak bungsu Ibu.”
Air mata Nyonya Tina tumpah tanpa bisa dicegah. Ia meraih wajah Gibran, menelusuri setiap sudutnya dengan tangan gemetar, seolah memastikan kehadiran itu nyata.
“Ya Tuhan…” isaknya pecah. “Anakku…”
Ia memeluk Gibran erat—terlalu erat—seakan takut jika sedikit saja ia melepas, putranya akan kembali menghilang. Gibran membalas pelukan itu, menundukkan kepala di bahu ibunya, bahunya ikut bergetar.
“Aku pikir aku sudah kehilanganmu selamanya,” ujar Nyonya Tina di sela tangis. “Ibu sudah hampir melupakanmu, Nak…”
“Maafkan aku, Bu,” bisik Gibran lirih. “Aku terpaksa melakukan ini. Demi bertahan hidup.”
Nyonya Tina menggeleng, tak peduli pada penjelasan.“Kamu pulang saja sudah cukup,” katanya terisak. “Ibu tidak peduli apa pun alasannya.”
Ia kembali memeluk Gibran, lebih lama, lebih dalam. Tangis haru memenuhi ruangan, menyingkirkan semua kepalsuan, kebohongan, dan kepentingan yang selama ini menguasai keluarga Pradikta.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gibran benar-benar pulang.
Nyonya Tina masih enggan melepas pelukannya. Tangannya yang gemetar terus mengusap punggung Gibran, seolah memastikan hangat tubuh itu nyata, bukan sekadar bayangan yang akan lenyap jika ia berkedip terlalu lama.
“Masuklah… masuk dulu,” ucapnya akhirnya, suaranya parau oleh tangis yang belum sepenuhnya reda. “Ibu takut kamu hilang lagi kalau berdiri di sini terlalu lama.”
Gibran mengangguk pelan.“Iya, Bu.”
Mereka melangkah ke ruang keluarga. Nyonya Tina duduk di sofa, namun tetap menarik tangan Gibran agar duduk di sisinya. Jari-jarinya tak pernah lepas dari lengan putra bungsunya.
“Selama ini…” Nyonya Tina menarik napas panjang, matanya kembali berkaca-kaca. “Selama ini Ibu menyalahkan diri sendiri. Ibu pikir Ibu gagal melindungimu.”
Gibran menoleh, menatap wajah ibunya yang terlihat lebih tua dari terakhir kali ia ingat. Ada garis lelah, ada luka yang tak pernah terucap.“Ini bukan salah Ibu,” katanya lembut. “Justru karena Ibu, aku masih berdiri di sini sekarang.”
Nyonya Tina menggeleng cepat.
“Kamu tahu bagaimana rasanya melihat peti mati itu?” suaranya bergetar.
“Mereka bilang itu kamu. Semua orang bilang itu kamu. Ibu ingin percaya… tapi hati Ibu menolak.”
Gibran menunduk. Dadanya terasa sesak.“Aku tahu. Dan aku minta maaf karena membiarkan Ibu melalui itu sendirian.”
Nyonya Tina menatapnya tajam, ada campuran marah dan rindu yang berkelindan.“Kamu akan menceritakan semuanya,” katanya tegas, meski suaranya masih bergetar. “Bukan sekarang juga, tapi Ibu ingin tahu. Kenapa kamu harus menghilang. Kenapa sampai sejauh ini.”
“Iya, Bu,” jawab Gibran mantap. “Aku akan ceritakan semuanya. Tidak ada lagi yang aku sembunyikan dari Ibu.”
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, sebelum Nyonya Tina teringat sesuatu. Wajahnya berubah, seolah baru tersadar akan dunia di luar rumah itu.
“Acara pengesahan…” ucapnya lirih. “Arya… semua orang…”
Gibran mengangkat wajahnya. Sorot matanya kini berbeda...lebih tajam, lebih dingin.
“Aku tahu,” katanya. “Dan justru itu alasan aku muncul hari ini.”
Nyonya Tina menggenggam tangan Gibran erat.“Mereka memanfaatkan kepergianmu,” katanya dengan nada getir. “Ibu… hampir kehilangan semuanya.”
Gibran membalas genggaman itu.
“Tidak, Bu,” ucapnya yakin. “Mereka hanya berpikir begitu. Mulai hari ini, permainan berubah.”
Di luar rumah, suara kendaraan terdengar mendekat. Suasana yang hangat itu seketika diliputi ketegangan baru. Seorang pelayan masuk dengan langkah tergesa.
“Nyonya…” katanya gugup. “Tuan Arya dan Tuan Zane sedang dalam perjalanan ke sini."
Nyonya Tina menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gibran, ada kekhawatiran, tapi juga keyakinan yang perlahan tumbuh.
“Tidak apa-apa, selagi kamu tidak salah, Ibu akan membelamu...Nak?”
Gibran berdiri. Bahunya tegap, wajahnya tenang...terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja bangkit dari kematian.
“Aku sudah siap sejak aku memutuskan kembali,” katanya pelan. “Hari ini, semuanya akan jelas. Tidak ada lagi kebohongan.”
Nyonya Tina berdiri di sampingnya, menggenggam lengan putra bungsunya dengan bangga.“Kalau begitu,” ucapnya tegas, “ini saatnya mereka tahu… siapa pewaris Pradikta yang sebenarnya.”
Di ambang pintu, langkah-langkah kaki semakin dekat. Dan malam itu, di kediaman Pradikta, kebenaran bersiap menghantam mereka yang terlalu cepat merasa menang.
Pintu utama kediaman Pradikta terbuka dengan suara berat. Langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian. Arya masuk lebih dulu, wajahnya tegang, diikuti Zane yang masih terlihat syok, napasnya belum sepenuhnya teratur sejak kejadian di aula pengesahan.
Pandangan Arya langsung tertuju pada sosok yang berdiri di ruang keluarga.
Darahnya seakan berhenti mengalir.
“Tidak…” gumamnya, suaranya hampir tak keluar. “Ini tidak mungkin.”
Gibran berdiri tegak di sisi Nyonya Tina. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam menusuk. Tidak ada kemarahan yang meledak, justru ketenangan itulah yang membuat Arya mundur selangkah tanpa sadar.
“Selamat malam, Kak Arya,” sapa Gibran datar. “Kau terlihat… terkejut.”
Zane menelan ludah. Matanya menatap Gibran dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencari celah yang membuktikan bahwa ini hanya ilusi.“Kau… hidup?” tanyanya lirih.
“Aku tidak pernah mati,” jawab Gibran singkat.
Arya terkekeh pendek, nada tawanya kaku dan dipaksakan.“Ini lelucon yang buruk, Gibran. Dunia sudah menguburmu. Ada jasad, ada pemakaman—”
“Itu bukan aku,” potong Gibran tenang. “Dan kau tahu itu.”
Nyonya Tina melangkah maju satu langkah. Suaranya tegas, berbeda dari kelembutan yang tadi ia tunjukkan pada putranya.“Arya,” katanya dingin, “anak bungsuku berdiri di hadapanmu. Hidup. Dengan darah dan napas yang sama seperti dulu.”
Arya menatap Nyonya Tina, lalu kembali pada Gibran. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang.“Kalau begitu,” katanya perlahan, “kau sadar apa arti kehadiranmu malam ini?”
Gibran mengangguk pelan.“Aku sangat sadar. Dan justru itu tujuanku.”
Zane melangkah maju setengah ragu.
“Pengesahan sudah selesai,” katanya cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Perusahaan Pradikta sekarang berada di bawah kendali Papa.”
Gibran tersenyum tipis...senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Pengesahan yang dibuat atas dasar kebohongan,” ujarnya. “Dan kebohongan tidak pernah bertahan lama.”
Arya mengepalkan tangan.“Kau sudah mati di mata hukum,” katanya tajam. “Tidak ada satu pun dokumen yang mengakui keberadaanmu.”
“Belum,” sahut Gibran. “Tapi besok akan berubah.”
Nyonya Tina menoleh pada Arya, tatapannya penuh kekecewaan yang selama ini ia pendam.“Kau bergerak terlalu cepat, Arya,” katanya lirih namun menusuk. “Kau mengira kepergian Gibran memberimu jalan mulus.”
Arya terdiam. Napasnya mulai tak stabil.
Gibran melangkah satu langkah ke depan.“Aku kembali bukan untuk berteriak atau balas dendam secara emosional,” katanya tenang. “Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya tidak pernah kau sentuh.”
Zane menatap ayahnya, kegembiraan yang tadi memenuhi dadanya kini runtuh menjadi kecemasan.“Pa…”
Arya mengangkat tangannya, menghentikan Zane. Matanya tak lepas dari Gibran.
“Kau pikir satu kemunculan dramatis cukup untuk menjatuhkan semuanya?” tanyanya sinis.
Gibran menatap lurus tanpa gentar.
“Tidak,” jawabnya pelan. “Tapi ini baru awal.”
Keheningan tiba-tiba menguasai ruangan. Gibran melangkah satu langkah lagi ke depan, kali ini tatapannya terkunci lurus pada Arya. Tidak ada ragu di wajahnya...hanya keyakinan yang dingin.
“Kak Arya,” ucap Gibran pelan namun tegas, “kau ingat kecelakaan mobil di jalan tol dua bulan lalu?”
Nyonya Tina menoleh cepat ke arah Gibran.“Kecelakaan?” ulangnya, alisnya berkerut. “Bukankah itu yang membuatmu kecelakaan dan hanyut di sungai?”
Gibran mengangguk.“Itu bukan kecelakaan, Bu,” katanya perlahan. “Itu sabotase.”
Kata itu jatuh seperti palu.
“Apa?” Nyonya Tina terperanjat. Wajahnya seketika memucat. “Sabotase… maksudmu, mobilmu sengaja dirusak?”
Arya langsung tertawa pendek, kali ini lebih keras, seolah ingin mematahkan tuduhan sebelum berkembang.
“Cukup!” katanya tajam. “Ini sudah keterlaluan. Sekarang kau menuduhku pembunuh, Gibran?”
Gibran tidak terpancing.“Rem mobilku sudah dimodifikasi,” ujarnya tenang.
“Selang hidroliknya dilemahkan. Butuh waktu agar kerusakannya terlihat seperti kegagalan teknis biasa. Rapi. Profesional.”
Zane hanya bisa diam dan menyimak adu argumen antara Arya dan Gibran. Meskipun hatinya sangat ingin ikut andil dalam argumen tersebut. Tapi, ia harus bisa menahannya, ia tidak mau salah ucap.
Arya menoleh cepat ke arah putranya.
“Jangan dengarkan dia,” ujarnya “Dia hanya mencari cara untuk menjatuhkanku!”
Nyonya Tina berdiri, tubuhnya gemetar.
“Arya,” ucapnya lirih namun penuh tekanan, “apa yang dia katakan itu benar?”
Arya menggeleng cepat.
“Tidak! Ini fitnah!” Ia menunjuk Gibran. “Anak ini muncul tiba-tiba, lalu menuduhku merencanakan pembunuhan? Mana buktinya?”
Gibran menatapnya lurus.“Ada,” jawabnya singkat.
Arya terkesiap kecil, namun segera menutupi kegugupannya dengan senyum sinis.“Kau pikir aku akan percaya ancaman kosong?”
“Aku tidak butuh kepercayaanmu,” sahut Gibran. “Aku hanya menyampaikan kebenaran.”
Nyonya Tina memegangi dadanya, napasnya memburu.“Selama ini…” bisiknya, “selama ini Ibu mengira itu takdir yang kejam.”
Gibran menoleh lembut ke arah ibunya.
“Takdir tidak pernah merencanakan baut rem yang dilepas satu per satu, Bu.”
Arya mengepalkan tangan.
“Kau sudah gila,” katanya dingin. “Atau terlalu ambisius. Menuduhku demi merebut kembali perusahaan.”
“Justru karena aku hampir mati,” balas Gibran tanpa meninggikan suara, “aku belajar satu hal...siapa yang benar-benar ingin aku menghilang."Gibran menghela napas pelan.“Kak Arya,” ujarnya, “kau terlalu percaya diri. Kau kira aku akan kembali tanpa persiapan?”
Tatapan Arya berubah...sesaat saja...namun cukup bagi Nyonya Tina untuk melihatnya. Keraguan menyusup ke matanya.
“Cukup,” kata Nyonya Tina akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. “Aku tidak tahu siapa yang berkata benar malam ini. Tapi satu hal jelas...keluarga ini tidak lagi bisa berdiri di atas kebohongan.”
Ia menatap Arya dengan mata basah.
“Dan jika apa yang Gibran katakan itu benar…maka pengesahan itu, aku pastikan gagal!"
"IBU...!" sentak Arya tak terima, sorot matanya di penuhi amarah.
Sama hal nya dengan Zane, laki-laki itu tidak percaya dengan ucapan Neneknya. "Nek! tidak bisa seperti itu, jelas! hari ini pengesahan itu telah sah menjadi milik Papa."
"Cukup!" sela Nyonya Tina. "Hentikan semua ini...aku tidak mau keluarga Pradikta hancur... hanya karna memperebutkan aset kekayaan."
Gibran tetap berdiri di tempatnya. Wajahnya tenang...terlalu tenang...ia tersenyum, senyum yang seolah mengejek. Suaranya turun satu oktaf, pelan, tapi setiap katanya terasa seperti pisau.“Kau sungguh serakah, Kak?” ucap Gibran tajam. “Setelah menyingkirkanku… siapa korban selanjutnya?”Ia berhenti sejenak, menatap wajah Arya tanpa berkedip.
“Karlina?”Hening.“Atau…” bibirnya melengkung tipis, “Ibu?”
“BADJINGAN!” bentak Arya mendadak.
Dalam sekejap, ia menyentak kerah jas Gibran dan mendorongnya keras. Amarah yang selama ini tertahan akhirnya meledak.“Kurang ajar!” teriaknya. “Jaga ucapanmu sialan!”
Nyonya Tina menjerit pelan.
“Berhenti, Arya! Lepaskan dia!”
Zane refleks maju, mencoba menahan ayahnya.“Pa, cukup!”
Namun Arya sudah kehilangan kendali. Napasnya memburu, matanya merah.
“Kau seharusnya mati!” geramnya ke wajah Gibran. “Kau seharusnya tidak pernah kembali!”
Gibran tidak melawan. Tangannya tetap di sisi tubuhnya, punggungnya tegak. Ia menatap Arya dari jarak sedekat itu...tatapan yang sama sekali tak gentar.
“Lihat dirimu,” katanya lirih, mengancam. “Aku hidup saja sudah cukup membuatmu panik.”
Arya menggertakkan gigi, genggamannya menguat.“Kau datang untuk menghancurkanku,” desisnya.
“Aku datang untuk menghentikanmu,” balas Gibran datar. “Karena keserakahanmu tidak akan berhenti di aku.”
Nyonya Tina melangkah tertatih, air mata mengalir deras.“Arya… lepaskan adikmu,” pintanya gemetar. “Ini rumahku.”
Zane akhirnya memaksa tangan ayahnya turun.“Pa! Cukup! Semua orang melihat!”
Arya melepaskan Gibran dengan kasar. Ia mundur selangkah, dadanya naik turun. Tatapannya beralih ke Nyonya Tina...ada amarah, tapi juga ketakutan yang tak sempat disembunyikan.
Gibran merapikan kerahnya perlahan, tenang seolah tak baru saja diserang.
“Kemarahanmu menjawab segalanya,” katanya pelan. “Orang yang tidak bersalah tidak akan setakut ini.”
Arya tertawa pendek, penuh kebencian.
“Kau pikir ancamanmu membuatku gentar?”
Gibran menatapnya tajam.
“Bukan ancaman,” ujarnya dingin. “Peringatan.”
Ia menoleh ke Nyonya Tina, suaranya melunak sesaat.“Ibu, mulai malam ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarga ini."Kembali ia menatap Arya...kali ini tanpa emosi, tanpa ampun.“Termasuk kau.”
Ruangan itu membeku. Amarah Arya masih menyala, tapi untuk pertama kalinya...ia terlihat goyah. Dan Gibran tahu, satu kalimat barusan telah mengguncang fondasi kebohongan yang dibangun kakaknya selama ini.
bersambung...