Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta minyak jelantah
Lampu-lampu di lobi NVT Tower mulai dinyalakan satu per satu, menciptakan ilusi kemewahan yang menyilaukan mata. Jam digital di dinding menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit. Akhirnya, jam kerja neraka ini berakhir juga.
Aku melangkah gontai keluar dari pintu kaca otomatis, bergabung dengan ribuan semut pekerja lainnya yang berhamburan keluar gedung. Kakiku rasanya mau copot. Sepatu pantofel murahan yang solnya keras ini sukses bikin tumitku lecet lagi.
"Deteksi kelelahan fisik 78 persen. Kadar gula darah rendah. Lo butuh asupan energi atau gue bakal mati suri karena inang gue pingsan," suara Chrono berdengung malas di kepalaku.
Aku cuma mendengus pelan, menaikkan letak kacamata yang melorot karena keringat. "Berisik. Sabar kenapa sih? Ini juga mau pulang."
Langit Jakarta sore ini berwarna oranye kemerahan, warna polusi yang tercampur sisa matahari terbenam. Udara terasa lengket dan panas. Bunyi klakson sahut-sahutan di jalan Jenderal Sudirman seperti paduan suara orang-orang yang frustrasi.
Aku berjalan menuju halte busway, menyelip di antara bahu-bahu orang yang lebih tegap dan wangi. Di saku rokku, uang sepuluh ribu rupiah tadi pagi masih utuh. Tadi siang aku cuma beli es teh dua ribu, sisanya masih ada delapan ribu.
Cukup. Harus cukup.
Di jembatan penyeberangan, aroma yang sangat menggoda—setidaknya buat hidungku—tercium terbawa angin. Aroma gurih bawang putih, tepung digoreng garing, dan micin.
Gerobak gorengan "Mang Ujang" di bawah jembatan dikerumuni orang. Asap tipis mengepul dari wajan besarnya yang hitam legam berisi minyak mendidih. Minyak itu warnanya sudah pekat, entah sudah dipakai menggoreng berapa kali, tapi bagiku, itulah yang bikin rasanya nendang.
Aku menelan ludah. Perutku berdemo lagi.
Aku merogoh saku, mengeluarkan uang lecek itu. "Mang, beli lima ribu ya. Campur. Bakwan sama tahunya yang banyak."
"Siap, Neng Sifa! Tumben baru pulang?" sapa Mang Ujang ramah sambil cekatan memasukkan gorengan panas ke dalam kantong kertas cokelat yang berminyak. Dia memberikan bonus satu cabai rawit hijau ekstra.
"Iya, Mang. Biasa, kerjaan numpuk," jawabku sambil tersenyum.
Lima ribu rupiah berpindah tangan. Sekarang sisa uangku tinggal tiga ribu untuk ongkos angkot dari terminal nanti. Pulangnya aku harus jalan kaki sedikit lebih jauh supaya hemat, tapi nggak apa-apa.
Yang penting, kantong kertas di tanganku ini terasa hangat. Baunya surgawi. Ini bukan cuma gorengan. Ini "ayam goreng KFC" versi kami. Ini lauk makan malam buat aku dan Ibu.
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya. Di dalam busway yang penuh sesak, aku tergencet di dekat pintu. Hidungku menempel di ketiak bapak-bapak yang bau keringat, sementara punggungku didorong tas ransel anak sekolah.
"Manusia itu spesies yang aneh," komentar Chrono tiba-tiba, seolah dia sedang menonton dokumenter hewan liar. "Kalian punya teknologi buat bikin gedung sampai nembus awan, tapi transportasi umum kalian kayak kaleng sarden dikasih roda. Efisiensi nol besar."
Aku memeluk tas dan bungkusan gorenganku erat-erat di dada, melindunginya agar tidak gepeng tergencet. "Namanya juga hidup, Chrono. Nggak semua orang bisa teleportasi kayak di film sci-fi kamu."
"Gue bisa sih teleportasi. Tapi butuh energi setara reaktor nuklir. Lo punya reaktor nuklir di rumah lo?"
Aku hampir tertawa, tapi kutahan. "Adanya kompor sumbu satu yang minyak tanahnya sering abis."
Sampai di mulut gang rumahku, hari sudah gelap. Lampu jalan yang remang-remang membuat bayanganku terlihat panjang dan kurus di aspal yang becek. Gang Senggol, begitu orang menyebut tempat tinggalku. Jalannya cuma muat satu motor, selokannya mampet, dan rumah-rumahnya berdempetan seperti gigi yang berantakan.
Tapi, ini rumah. Tempat di mana aku nggak perlu takut dihakimi karena bajuku jelek atau mukaku berminyak.
"Assalamualaikum," ucapku pelan saat membuka pintu kayu yang engselnya berdecit.
"Waalaikumsalam... Nduk, udah pulang?"
Suara itu. Suara serak yang selalu bikin hatiku hangat sekaligus perih.
Ibu sedang duduk di tikar pandan yang digelar di ruang tengah—yang merangkap ruang tamu dan ruang makan. Di hadapannya, ada piring berisi nasi putih hangat yang masih mengepul. Cuma nasi putih. Tidak ada lauk.
Ibu pasti menungguku. Dia tidak akan makan kalau aku belum pulang.
Aku melihat wajah Ibu yang semakin tyrus. Tulang pipinya menonjol, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tapi begitu melihatku, senyumnya merekah lebar, seolah aku baru saja pulang membawa piala kemenangan, bukan cuma membawa badan yang capek.
"Maaf ya, Bu. Sifa telat. Tadi nunggu busnya lama banget," kataku sambil melepas sepatu dan mencium tangan Ibu.
"Nggak apa-apa, Sifa. Sini, duduk. Ibu udah masakin nasi. Lauknya... aduh, maaf ya Nduk. Ibu tadi mau beli tempe, tapi uangnya Ibu pake beli obat batuk dulu. Nggak apa-apa ya makan nasi garem?"
Hatiku mencelos. Rasanya seperti diremas tangan tak kasat mata. Ibu rela nggak makan enak demi beli obat supaya nggak batuk-batuk di depanku.
Dengan bangga, aku mengangkat kantong kertas cokelat yang kubawa. Minyaknya sudah merembes sampai transparan, tapi bagiku itu tanda kenikmatan.
"Tenang aja, Bu! Liat nih Sifa bawa apa! Kita pesta malam ini!" seruku ceria, berusaha menutupi getar di suaraku.
Mata Ibu berbinar. "Wah, gorengan Mang Ujang ya? Baunya sedap banget."
Kami duduk bersila di atas tikar. Di bawah sinar lampu bohlam kuning 5 watt yang remang-remang, kami membuka bungkusan itu. Lima potong gorengan—tiga bakwan, dua tahu isi—tergeletak pasrah.
Bagi orang lain, ini kolesterol. Bagi kami, ini rezeki.
Aku mengambil satu bakwan, membelahnya jadi dua, lalu menaruhnya di atas piring nasi Ibu. "Ini buat Ibu. Yang anget."
"Lho, kamu makan yang banyak, Fa. Kamu kan kerja seharian, capek. Otakmu dipake mikir terus," tolak Ibu halus, mau memindahkan bakwan itu ke piringku.
"Udah, Bu. Sifa udah kenyang kok tadi di kantor ada... ada syukuran teman ulang tahun. Makan kue banyak banget," aku berbohong lagi. Bohong demi kebaikan. Padahal perutku perih minta diisi.
Kami makan dalam diam yang nyaman. Hanya terdengar suara kunyahan renyah dan sesekali suara jangkrik dari luar.
Nasi putih hangat ditambah potongan bakwan yang gurih, dicocol sedikit sambal sisa kemarin. Ya Tuhan, nikmat mana lagi yang aku dustakan? Rasanya lebih enak daripada steak mahal yang sering dipamerkan Rana di Instagram Story-nya. Karena di sini, di suapan ini, ada rasa cinta Ibu.
"Gue mendeteksi kenaikan hormon dopamin dan oksitosin drastis di otak lo," suara Chrono memecah keheningan di kepalaku. "Padahal lo cuma masukin karbohidrat jenuh minyak ke dalam sistem pencernaan. Aneh. Data gue bilang makanan ini nilai gizinya minus."
Aku tersenyum tipis sambil mengunyah. "Kamu robot, Chrono. Kamu nggak punya hati. Kamu nggak tau rasanya makan bareng orang yang paling kamu sayang sedunia," jawabku dalam hati.
"Hati itu cuma organ pemompa darah. Gue punya prosesor kuantum. Jauh lebih canggih," balasnya ketus, tapi dia tidak berkomentar lagi. Mungkin dia sibuk menganalisis kenapa air mataku tiba-tiba menetes jatuh ke piring nasi.
Cepat-cepat aku mengusapnya sebelum Ibu lihat.
"Gimana kerjaanmu hari ini, Nduk? Lancar?" tanya Ibu tiba-tiba, memecah lamunanku.
Aku tersedak sedikit. Ingatan tentang air got, bentakan Pak Burhan, dan hinaan Rana-Rani berputar di kepalaku seperti film horor.
Aku menatap mata Ibu yang penuh harap. Mata yang sudah lelah melihat kerasnya dunia. Aku nggak tega menambah beban di sana.
"Lancar banget, Bu!" jawabku mantap, memasang senyum paling lebar. "Pak Burhan tadi malah muji kerjaan Sifa. Katanya rapi banget. Terus teman-teman juga baik kok."
Ibu mengelus kepalaku lembut. Tangannya kasar, tapi sentuhannya menenangkan badai di dadaku. "Alhamdulillah. Ibu selalu berdoa biar kamu dikelilingi orang baik. Kamu anak jujur, Sifa. Rezekimu pasti nanti ngalir."
Anak jujur...
Kata-kata itu menusukku. Aku baru saja berbohong soal laporan kerjaan yang dikerjakan Chrono. Aku berbohong soal makan siang. Aku berbohong soal teman-teman kantor.
Maafin Sifa, Bu. Sifa bohong biar Ibu senyum.
Setelah makan, aku membereskan piring kotor dan membawanya ke dapur belakang yang sempit. Keran air cuma menetes kecil, jadi aku harus menimba air dari sumur.
Sambil mencuci piring dengan sabun colek, aku menatap jam di tangan kiriku. Di kegelapan dapur, layar Chrono berpendar biru redup, seperti kunang-kunang.
"Chrono," bisikku pelan.
"Apa lagi? Mau minta cuciin piring otomatis? Sorry ye, gue nggak dilengkapi fitur tangan gurita," sahutnya sarkas.
Aku terkekeh pelan. Aneh rasanya punya teman ngobrol, walaupun temannya cuma jam tangan cerewet.
"Nggak. Aku cuma mau bilang... makasih ya buat yang tadi siang. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah dipecat dan malam ini aku sama Ibu nggak bisa makan nasi."
Hening sejenak.
"Simpan terima kasih lo," jawab Chrono akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah, lebih serius. "Gue diprogram untuk melayani User gue. Dan kebetulan, User gue sekarang adalah cewek cengeng yang doyan gorengan. Jadi, tugas gue adalah mastiin lo bertahan hidup."
"Dan satu lagi, Fa," lanjut Chrono. "Gue barusan scan kondisi kesehatan Ibu lo diem-diem pas lo lagi makan."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Sabun colek di tanganku terlepas jatuh ke lantai.
"I-ibu... Ibu sakit apa, Chrono? Batuk biasa kan?" tanyaku panik.
"Paru-parunya lemah karena kelamaan ngehirup udara lembap di rumah ini. Dia butuh pengobatan yang bener, bukan cuma obat warung. Dan dia butuh lingkungan yang lebih layak."
Air mataku jatuh lagi. Kali ini aku biarkan mengalir deras bersama air keran. Aku tahu. Aku tahu Ibu sakit karena kami miskin. Sakit karena rumah ini tidak sehat.
Aku meremas pinggiran bak cuci piring yang berlumut. Rasa tak berdaya itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas membakar di dada. Tekad.
Aku ingin Ibu sembuh. Aku ingin membelikan Ibu rumah yang ada jendelanya besar supaya matahari masuk. Aku ingin membelikan Ibu makanan enak tiap hari, bukan cuma gorengan sisa uang receh.
"Bantu aku, Chrono," bisikku tegas. Kali ini tidak ada keraguan di suaraku. "Bantu aku sukses di NVT. Bantu aku jadi kaya. Aku bakal lakuin apa aja. Asal Ibu bahagia."
Layar jam itu berkedip terang satu kali.
"Permintaan diterima, Nona Sifa. Mode 'Zero to Hero' diaktifkan. Besok pagi, kita mulai permainannya. Siapin mental lo, karena kita bakal guncang gedung pencakar langit itu."
Malam itu, di atas kasur tipis yang digelar di lantai, aku tidur memeluk guling yang apek. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bermimpi buruk dikejar utang atau ddi-bully.
Aku bermimpi terbang. Terbang tinggi meninggalkan gang sempit ini, membawa Ibu ke istana di atas awan. Dan di tanganku, ada jam ajaib yang menuntun jalan.
semangat kakak