Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Dari Sang Mantan Tunangan
Di sebuah tempat yang sunyi, Lola duduk sendirian di dalam mobilnya. Jemarinya gemetar saat menscroll layar ponsel. Satu per satu foto muncul Baskara dan Ririn, tersenyum, tertawa, berdiri berdampingan seperti pasangan yang tak tersentuh masalah.
Tangan Lola mengepal masih mengamati foto-foto itu.
“Kalian kelihatan bahagia,” gumam Lola lirih.
Dia memperbesar salah satu foto itu, Senyum Baskara begitu lepas, sesuatu yang tak pernah lagi Lola lihat sejak lama hatinya memanas.
“Kalian sudah mempermalukan aku,” ucapnya dengan suara bergetar, hampir seperti bisikan. “Dan sekarang, kalian masih bisa tertawa seperti itu?”
Lola membanting ponselnya ke jok mobil di sampingnya napasnya tersengal, dadanya naik turun, penuh amarah yang tak lagi bisa dia kendalikan.
“Aku yang punya segalanya, aku yang berusaha jadi yang terbaik, tapi wanita itu yang dia pilih,” katanya sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar retak. “Lucu,”
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk laporan dari orang yang dia bayar untuk memata-matai mereka.
‘Target laki-laki baru memesan tiket pesawat, mereka cuti satu minggu’
Mata Lola menyipit, tanpa ragu, dia menekan sebuah nomor di kontaknya. Panggilan tersambung. Beberapa detik dia terdiam, seolah menimbang batas terakhir nuraninya lalu batas itu runtuh.
“Aku mau kamu melakukan sesuatu,” ucap Lola datar, dingin.
“Hidup atau Mati,"
Suara di seberang terdengar samar.
"Di usahakan tragis, soal hidup atau mati kita lihat saja,” jawab Lola tanpa emosi. “Nama targetnya Baskara dan Ririn,"
Dia menutup telepon itu, lalu menyandarkan kepala ke kursi, air matanya mengalir, tapi bibirnya tersenyum getir.
“Kalau aku nggak bisa miliki kamu,” bisiknya, “Lebih bagus kamu mati saja,”
Di tempat lain, Baskara dan Ririn tengah menikmati hari-hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Baskara meletakkan dua tiket pesawat di atas meja.
“Kita cuti satu minggu,” katanya santai, Ririn tertegun, lalu matanya berbinar.
“Yang bener, Mas?” tanyanya tak percaya, Baskara tersenyum kecil, Ririn tampak bahagia.
“Mas, ini kayak mimpi.”
“Makannya siap-siap,” sahut Baskara sambil berdiri. “Kita berangkat malam ini.”
“Aku sekalian beresin baju kamu ya, Mas,” kata Ririn antusias sambil membuka koper. Baskara menahan tangannya.
“Nggak usah. Aku beresin sendiri. Kamu fokus sama barang kamu aja.”
Ririn menatapnya heran. “Kamu biasanya ribet soal baju.”
“Kali ini aku pengin kamu santai,” jawab Baskara lembut.
Menjelang sore, koper-koper sudah tersusun rapi. Baskara membantu memasukkan koper Ririn ke bagasi mobil.
“Pesawat berangkat jam sepuluh malam,” katanya sambil menutup bagasi. “Masih bisa santai.”
Ririn mengangguk sambil tersenyum.
“Aku seneng banget.”
“Aku juga,” sahut Baskara singkat, tapi matanya hangat menatap Ririn.
Mereka masuk ke mobil, duduk berdampingan, lalu melaju meninggalkan apartemen itu, meraka tak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi dari kejauhan.
Di tengah perjalanan menuju bandara, suasana mobil terasa tenang. Lampu jalan memantul di kaca depan. Ririn bersandar di kursinya.
“Mas… nanti kita ke mana dulu?”
“Ke mana pun kamu mau,” jawab Baskara sambil tersenyum kecil. “Aku ikut.”
Belum sempat Ririn menjawab, dari arah berlawanan terdengar suara klakson keras.
“Mas!” seru Ririn.
Semua terjadi terlalu cepat.Sebuah truk melaju kencang, menghantam mobil mereka dengan keras. Benturan itu membuat mobil berputar, terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dalam keadaan ringsek.
Kegelapan Suara teriakan orang-orang terdengar samar.
“Ya Ampun,”
“Panggil ambulans!”
“Ada orang di dalam!”
Beberapa orang berusaha membuka pintu mobil yang penyok, menarik tubuh Baskara dan Ririn yang tak sadarkan diri.
Tak lama, suara sirene ambulans memecah malam. Tubuh mereka diangkat ke atas tandu, wajah Ririn pucat, Baskara bersimbah darah di pelipisnya.
Pintu ambulans tertutup, dan di kejauhan seseorang tersenyum dalam diam tanpa tahu bahwa tindakannya baru saja mengubah hidup seseorang