cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19 – DARAH YANG BUKAN MILIKKU
Matahari belum tinggi ketika darah kembali tumpah.
Kabut pagi masih menggantung rendah, menempel di semak dan batang pohon. Tanah lembap oleh embun, licin di bawah telapak kaki. Setiap napas terasa berat, bercampur bau besi dan tanah basah—bau yang tidak pernah salah.
Kelompok itu berhenti mendadak.
Bukan karena kelelahan.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena suara langkah.
Duk… duk…
Berat. Terukur. Tidak disembunyikan.
Nenek tua itu mengangkat tangan. Semua berhenti. Ia menoleh cepat, membaca arah suara. Kali ini bukan jebakan kecil. Ini sengaja. Ini tantangan.
Dari balik pepohonan, dua sosok muncul.
Bukan lima. Bukan sembunyi-sembunyi.
Dua orang, berdiri tegak, membawa senjata panjang. Pakaian mereka sederhana, tapi gerak tubuhnya padat, penuh keyakinan. Orang-orang yang tahu persis apa yang akan mereka lakukan.
Raka mundur selangkah tanpa sadar. Dadanya kembali sesak.
Nenek tua itu maju setengah langkah. Tongkat kayunya ditancapkan ke tanah.
“Kalian tidak perlu lanjut,” katanya tenang.
Salah satu dari dua orang itu tersenyum tipis. “Sudah terlalu jauh.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada aba-aba.
Serangan dimulai secepat kedipan mata.
Orang pertama menerjang ke arah nenek tua. Tebasan lurus, kuat, mengincar bahu. Nenek itu memutar tubuh, tongkat kayunya menangkis dari bawah. Benturan keras terdengar, membuat burung-burung beterbangan.
Orang kedua bergerak ke sisi lain, menyasar anggota kelompok yang berdiri paling belakang.
“Jaga Raka!” teriak seseorang.
Terlambat.
Orang itu terlalu cepat. Ia memotong jarak, menyabetkan senjata pendek ke arah Raka. Raka mencoba menghindar, tapi kakinya tergelincir di tanah basah. Ia jatuh terduduk.
Bilah itu turun.
Seseorang meloncat ke depan Raka.
Slrrk.
Suara besi menembus daging terdengar jelas. Terlalu jelas.
Raka membeku.
Orang yang melindunginya tersentak, tubuhnya kaku. Darah menyembur, hangat, membasahi tangan dan wajah Raka. Bau amis itu membuat kepalanya berdenyut.
Penyerang mencabut senjatanya. Tubuh itu roboh di atas Raka, berat, tak bernyawa.
Raka berteriak—teriakan pendek, tercekik.
Di saat yang sama, pertarungan di depan nenek tua mencapai puncaknya.
Lawan itu mengubah pola serangan. Bukan lagi tebasan lebar, melainkan tusukan cepat, berulang, memaksa nenek itu terus mundur. Tongkat kayu beradu dengan besi, memercikkan serpihan kecil.
Nenek tua itu menghentakkan kaki ke tanah.
Tanah bergetar halus. Lawannya kehilangan keseimbangan sesaat—cukup lama.
Tongkat itu menghantam rusuk. Bunyi retak terdengar. Lawan itu terbatuk, darah keluar dari mulutnya, tapi ia masih berdiri.
Ia menggeram, mengangkat senjata tinggi-tinggi, mengerahkan tenaga terakhir.
Tebasan itu turun—liar, penuh amarah.
Nenek tua itu tidak menahan.
Ia melangkah masuk.
Tongkat kayu menancap tepat di tenggorokan.
Bukan tusukan cepat. Ia menekan.
Perlahan.
Mata lawannya membelalak. Tangannya mencakar udara, lalu melemah. Tubuhnya jatuh berlutut, lalu rebah ke tanah.
Sunyi kembali.
Orang kedua mencoba mundur. Terlambat. Salah satu anggota kelompok menerjang dari samping, menghantamkan golok ke punggungnya. Tebasan pertama tidak mematikan. Tebasan kedua memutus perlawanan.
Dua tubuh tergeletak.
Dan satu lagi… di kaki Raka.
Raka mendorong tubuh itu dengan tangan gemetar. Wajah orang itu pucat, matanya terbuka kosong. Darah terus mengalir, menggenang di tanah.
Raka memandang tangannya sendiri. Merah. Lengket.
“Aku…” suaranya hilang.
Nenek tua itu mendekat. Ia berlutut di hadapan Raka, menatap langsung ke matanya.
“Itu bukan darahmu,” katanya pelan.
Raka menggeleng, air mata bercampur darah di wajahnya. “Dia mati karena aku.”
Nenek tua itu tidak menyangkal. Justru itulah yang membuat dadanya terasa lebih sakit.
“Setiap langkahmu ke depan,” lanjut nenek itu, “akan dibayar dengan darah. Entah darahmu, atau darah orang lain.”
Raka menunduk. Bahunya bergetar. Ia ingin berteriak, ingin lari, ingin kembali menjadi orang yang tidak dikenal siapa pun.
Tapi itu tidak mungkin.
Orang-orang mulai membersihkan diri. Luka dibalut seadanya. Tidak ada waktu berkabung lama. Hutan ini tidak memberi kesempatan.
Sebelum pergi, Raka menoleh sekali lagi ke tubuh yang melindunginya.
Ia tidak tahu namanya.
Tidak tahu ceritanya.
Yang ia tahu, hidupnya kini berhutang nyawa.
Saat mereka berjalan kembali, Raka melangkah di belakang nenek tua itu. Jaraknya dekat. Terlalu dekat. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menjauh.
Bukan karena percaya.
Melainkan karena ia sadar—
tanpa nenek itu, darah berikutnya yang tumpah akan benar-benar darahnya sendiri.
Dan di balik pepohonan, jauh dari pandangan, lima bayangan kembali bergerak.
Menilai.
Menunggu.
Menghitung berapa banyak darah lagi yang harus jatuh.