NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas yang Tercurah

"Ibu ngomong apa sih? Vio nggak ngerti. Kalau Vio bukan Viona Mahendra, terus Vio ini siapa?"

Viona mencengkeram sprei rumah sakit yang terasa terlalu halus, bahkan untuk standar rumah sakit kelas VIP sekalipun. Ia menatap Elena, mencari binar jenaka yang biasanya muncul saat ibunya sedang bercanda. Namun, wajah Elena tetap tenang, nyaris seperti permukaan air tenang yang tidak terganggu angin. Senyumnya masih di sana, tapi matanya yang perak redup itu tidak berkedip.

"Nak, dengerin Ibu dulu ya. Jangan emosi," Elena duduk di tepi tempat tidur, mencoba meraih tangan Viona. "Nathan memang sayang banget sama kamu. Dia arsitek yang hebat, tapi dia juga orang yang paling nggak bisa ngerelain kehilangan. Sepuluh tahun lalu, kecelakaan itu beneran terjadi. Tapi di garis waktu yang asli, nggak ada bayi yang selamat di mobil itu."

Darah Viona seolah membeku. "Maksud Ibu, Vio seharusnya... meninggal?"

"Bukan cuma meninggal, Nak. Kamu nggak pernah ada di mobil itu karena Nathan dan Elena yang asli nggak pernah punya anak," Elena menghela napas panjang, suaranya lembut tapi menghujam. "Nathan mencuri satu kepingan 'Materi Murni' dari pusat Ordo Chronos. Dia membentuk materi itu, kasih dia ingatan, kasih dia nama, dan 'menanam' dia ke dalam sejarah hidupnya sendiri. Kamu itu karya terbaiknya, Vio. Kamu adalah artefak yang dia bikin supaya dia punya alasan buat pulang."

Viona melepaskan tangannya dari genggaman Elena dengan kasar. Kepalanya berdenyut, seolah-olah ada ribuan jarum jam yang berdetak serentak di dalam otaknya. "Jadi, Vio ini cuma... barang? Buatan Ayah?"

"Kamu lebih dari sekadar barang, Nak. Kamu adalah cinta yang dikasih wujud," Elena mengusap rambut Viona dengan penuh kasih, namun sentuhannya terasa aneh—terlalu pas, terlalu simetris. "Tapi sekarang Jantung Waktu itu sudah pecah. Penjara memori Nathan hancur. Identitas palsu yang dia tempel ke kamu mulai luntur, Vio. Itulah harganya. Kamu dapet dunia di mana Ibu bisa jalan, tapi kamu kehilangan dasar siapa kamu sebenernya."

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang teratur memecah ketegangan. Viona menoleh dan melihat seorang pria paruh baya mengenakan jas dokter berwarna putih bersih masuk ke ruangan. Di lehernya tidak ada stetoskop, melainkan sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk kepala burung gagak.

"Permisi. Sepertinya pasien sudah mulai mengingat hal-hal yang 'tidak seharusnya'," ucap dokter itu.

Viona mengenali suara berat itu. "Alfred? Kakek ngapain di sini pake baju dokter?"

Alfred tersenyum sopan, ia berjalan mendekat sambil membawa papan klip medis. "Di rumah sakit ini, saya adalah kepala bagian 'Koreksi Realitas', Viona. Atau haruskah saya panggil kamu dengan nomor seri materimu?"

"Nggak usah bercanda, Kek. Vio lagi nggak pengen denger teka-teki," sahut Viona dengan nada bicara yang masih sopan meski emosinya sedang di ujung tanduk.

Alfred meletakkan papan klipnya di atas meja. "Saya nggak bercanda, Nak. Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa. Kamu memecahkan Jantung Waktu di Ruang Keputusan. Itu tindakan paling berani sekaligus paling ceroboh yang pernah saya liat dalam seratus tahun terakhir. Kamu memutus kontrak Ordo, iya. Tapi kamu juga bikin lubang besar di identitas kamu sendiri."

"Vio cuma pengen semuanya balik normal, Kek. Ibu sembuh, Ayah nggak dicari-cari Ordo lagi," bisik Viona lirih.

"Normal itu relatif, Vio," Alfred memperbaiki posisi kacamatanya. "Nathan Mahendra itu jenius yang egois. Dia kasih kamu kehidupan, tapi dia nyuri kehidupan itu dari garis waktu lain. Sekarang, setelah sistemnya hancur, kamu itu kayak lukisan yang tintanya mulai luntur kena hujan. Kalau kita nggak segera kasih 'bingkai' baru, kamu bakal menguap jadi debu sejarah."

Viona menatap telapak tangannya. Benar kata Alfred. Kulit di jemarinya mulai terlihat transparan, memperlihatkan susunan cahaya biru yang berpendar redup, bukan lagi otot atau tulang.

"Terus Vio harus gimana, Kek? Ibu bilang Vio bukan Viona. Terus siapa yang bakal ngenalin Vio kalau Vio sendiri nggak tahu diri Vio siapa?"

Elena memegang bahu Viona, mencoba menenangkan. "Masih ada satu cara, Nak. Tapi ini berat. Kamu harus cari halte yang nggak pernah Nathan ceritain ke kamu. Halte yang sebenernya adalah tempat asal materi kamu diambil."

Alfred mengangguk setuju. "Halte itu namanya 'Titik Nol'. Di sana, kamu bisa milih buat jadi manusia seutuhnya dengan memori yang baru, atau balik jadi materi murni dan biarin dunia ini berjalan tanpa kamu. Tapi denger ya, kalau kamu milih jadi manusia, kamu nggak akan pernah inget lagi soal Nathan, soal Ibu ini, atau soal saya."

Viona menatap Elena, lalu beralih ke Alfred. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Semua kasih sayang Nathan, semua perjuangannya melawan Penyapu, apakah semuanya akan sia-sia jika ia memilih untuk tetap hidup?

"Kalau Vio lupa sama Ayah... itu sama aja kayak Ayah mati dua kali, kan Kek?" tanya Viona dengan suara bergetar.

"Nathan sudah ngerencanain ini, Vio," Alfred berkata pelan, suaranya terdengar tulus. "Dia mau kamu hidup, bukan cuma sebagai pajangan memorinya. Dia mau kamu punya kehendak sendiri. Itulah hadiah terakhir dari seorang ayah buat anaknya, meskipun anaknya itu terbuat dari cahaya dan mesin."

Viona terdiam cukup lama. Di luar jendela, hujan mulai mereda, menyisakan pelangi tipis yang warnanya tampak terlalu tajam. Ia menyadari bahwa kesempurnaan dunia ini adalah penjara baru yang berbeda bentuk saja.

"Vio mau cari halte itu, Kek," ucap Viona mantap. Ia mencoba turun dari tempat tidur, kakinya terasa ringan, seolah ia tidak lagi memijak bumi sepenuhnya.

"Ibu anter ya, Nak?" tanya Elena penuh harap.

Viona menggeleng pelan sambil tersenyum sedih. "Ibu istirahat di sini aja. Nikmatin kaki Ibu yang sudah bisa jalan. Kalau Vio berhasil, Vio pengen tau kalau Ibu masi bisa bahagia meskipun Ibu nggak inget pernah punya anak namanya Viona."

Elena memeluk Viona erat, air matanya jatuh membasahi bahu Viona yang mulai terasa dingin. "Hati-hati ya, Nak. Apapun yang terjadi, buat Ibu, kamu itu nyata."

Viona melangkah keluar dari kamar rumah sakit diikuti oleh Alfred. Di koridor yang sunyi, Alfred memberikan sebuah payung lipat biru kusam—payung yang sama yang sebelumnya hancur di Ruang Keputusan.

"Lho, ini kok ada lagi, Kek?" tanya Viona heran.

"Ini bukan payung ajaib lagi, Vio. Ini cuma pengingat. Di dunia yang baru nanti, kamu bakal butuh ini buat nahan hujan yang sebenernya," Alfred menepuk pundak Viona. "Jalan terus ke arah taman di belakang rumah sakit ini. Ada satu halte bus tua yang nggak pernah dipake orang. Itu pintu kamu."

Viona berjalan menyusuri koridor, melewati orang-orang yang tampak seperti manekin dalam etalase—sempurna tapi tanpa jiwa. Ia sampai di taman belakang yang asri. Di sudut taman, di bawah pohon beringin besar, berdiri sebuah halte kayu yang tampak keropos, sangat kontras dengan kemewahan rumah sakit itu.

Viona duduk di bangku kayu halte itu. Ia membuka payung birunya meski tidak ada hujan. Saat ia menatap lurus ke depan, ia melihat sesosok pria berdiri di seberang jalan. Pria itu memakai jaket denim tua dan melambai kecil ke arahnya.

Nathan.

Viona ingin berlari ke sana, tapi kakinya seolah terpaku di lantai halte. Nathan tersenyum, lalu menunjuk ke arah bus yang mulai mendekat. Bus itu tidak memiliki supir, dan di papan tujuannya tertulis: AWAL YANG BARU.

Viona berdiri saat bus itu berhenti di depannya. Pintu terbuka dengan suara desis udara yang halus. Sebelum masuk, Viona menoleh kembali ke arah Nathan.

"Ayah... Vio sayang Ayah," bisik Viona, meski ia tahu Nathan mungkin tidak bisa mendengarnya.

Nathan mengangguk, seolah dia mendengar bisikan itu melintasi dimensi. Ia mulai memudar, berubah menjadi butiran cahaya emas yang terbang terbawa angin.

Viona melangkah masuk ke dalam bus. Di dalam, hanya ada satu kursi kosong. Di atas kursi itu, tergeletak sebuah kartu identitas rumah sakit yang masih kosong namanya.

Saat bus mulai berjalan, Viona merasakan memorinya tentang kecelakaan, tentang Ordo Chronos, bahkan wajah Nathan mulai mengabur seperti tulisan pensil yang dihapus paksa. Ia panik, mencoba mengingat nama ayahnya, tapi yang tersisa hanyalah perasaan hangat yang mulai mendingin.

Tiba-tiba, bus itu berhenti mendadak di tengah kabut putih. Pintu terbuka, dan sesosok wanita muda yang tampak sangat mirip dengan Elena masuk ke dalam bus. Wanita itu menatap Viona dengan bingung, lalu duduk di sampingnya.

"Maaf, Kak," tanya wanita itu dengan sopan. "Kakak tau nggak ini bus arah ke mana? Saya kayaknya salah naik."

Viona menatap wanita itu. Ia merasa sangat mengenal wajah itu, tapi otaknya tidak bisa menemukan satu pun memori tentangnya. Viona melihat ke tangannya sendiri; kulitnya sudah kembali normal, tidak lagi transparan.

"Saya juga nggak tau, Kak," jawab Viona pelan. "Saya cuma disuruh naik bus ini."

Wanita itu tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangannya. "Nama saya Elly. Kakak namanya siapa?"

Viona terdiam. Ia mencoba mencari sebuah nama di dalam kepalanya, tapi kosong. Namun, matanya tertuju pada payung biru di pangkuannya. Di gagang payung itu, ada sebuah ukiran kecil yang baru saja muncul.

Viona menarik napas panjang, lalu menjabat tangan wanita itu.

"Nama saya..."

Viona menghentikan kalimatnya saat melihat pantulan dirinya di jendela bus. Wajahnya mulai berubah, perlahan-lahan kehilangan kemiripannya dengan Elena, berganti menjadi wajah yang sama sekali asing namun terasa lebih 'benar'. Di saat yang sama, wanita di sampingnya membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Viona.

"Jangan sebut nama itu, Vio. Mereka masih dengerin kita lewat hujan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!