NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Karang di Tengah Badai ​Kediaman Keluarga Yusuf.

. Pukul 08.00 WIB.

​Fatih berdiri di ruang tamu rumah mertuanya dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kelelahan. Di sampingnya, Bu Aminah duduk dengan tangan yang masih gemetar, sementara Zalina terus menggenggam tangan ibu mertuanya itu untuk memberikan ketenangan.

​Pak Yusuf baru saja selesai mendengarkan cerita Fatih tentang ancaman orang suruhan Handoko di kampung. Ruangan itu mendadak terasa dingin. Pak Yusuf, yang biasanya tenang dan diplomatis, kini meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang keras.

​"Dia menyentuh Ibu kamu, Fatih?" tanya Pak Yusuf. Suaranya rendah, tanda kemarahan yang tertahan.

​"Betul, Pak. Mereka mengacak-ngacak rumah dan memberikan ancaman verbal. Saya tidak bisa membiarkan Ibu kembali ke kampung dalam waktu dekat," jawab Fatih tegas.

​Pak Yusuf berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap taman. "Handoko itu seperti serigala. Dia tahu dia tidak bisa memakanmu, maka dia menyerang kawananmu. Dia sedang panik karena berita viral itu mulai merusak elektabilitasnya di dapil."

​"Saya butuh akses, Pak," Fatih melangkah maju. "Saya tahu Handoko punya perlindungan di level dinas. Tapi saya juga tahu, Ayah dulu pernah membantu desain renovasi rumah dinas Bapak Gubernur, bukan?"

​Pak Yusuf menoleh, sedikit terkejut dengan ingatan Fatih. "Itu sudah lama sekali, Fatih. Ayah hanya membantu sebagai konsultan teknis."

​"Tapi Bapak Gubernur adalah orang yang sangat menghargai integritas. Jika beliau tahu ada anggotanya yang menggunakan wewenang untuk menindas proyek rumah subsidi rakyat, beliau tidak akan tinggal diam," Fatih mengeluarkan flashdisk dari sakunya. "Saya punya bukti rekaman suaranya. Saya hanya butuh pintu masuk."

​Pak Yusuf menatap menantunya dengan pandangan baru. Ada rasa bangga yang menyelinap. Fatih bukan lagi pemuda yang hanya bersujud di sajadah; dia sekarang adalah petarung yang tahu cara menggunakan tuas kekuasaan untuk keadilan.

​"Baik. Ayah akan hubungi asisten pribadi beliau. Tapi ingat, Fatih... begitu kamu masuk ke gedung sate, kamu resmi menjadi musuh publik nomor satu bagi kelompok Handoko. Tidak ada jalan kembali."

​"Saya sudah tidak punya jalan kembali sejak saya mengucapkan ijab qabul, Pak," jawab Fatih mantap.

​Pukul 13.00 WIB. Kantor "Langit Arsitektur" (Lantai 2 Kedai Tuang).

​Fatih sedang fokus memilah data teknis ketika Zalina masuk dengan langkah gontai. Wajahnya yang pucat karena morning sickness kini ditambah dengan gurat kegelisahan yang aneh.

​"Mas..." panggil Zalina pelan.

​"Iya, Sayang? Mau muntah lagi? Atau mau Mas ambilkan air?" Fatih sigap berdiri.

​Zalina menggeleng. Ia duduk di kursi kerja Fatih, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas... aku pengen sesuatu."

​Fatih langsung waspada. Pengalaman "Bubur Ayam jam 2 Pagi" masih membekas di ingatannya. "Mau makan apa? Sebut aja, nanti Mas belikan."

​"Aku pengen durian," ucap Zalina.

​"Durian? Gampang, di Jalan Ucok atau di pinggir jalan banyak yang jua—"

​"Bukan durian pasar, Mas," potong Zalina. "Aku pengen durian yang dipetik langsung dari pohonnya. Dan aku mau kita yang petik sendiri. Sekarang."

​Fatih tertegun. "Zal, ini jam satu siang. Dan kita di Bandung. Kebun durian yang bisa dipetik langsung itu adanya di daerah perbatasan atau di Subang. Kondisi kamu lagi lemah, Dokter bilang harus bed rest."

​"Tapi bayinya mau itu, Mas..." Zalina mulai terisak. Air matanya jatuh begitu cepat seolah ada saklarnya. "Tadi aku mimpi makan durian di bawah pohonnya, terus rasanya manis banget... Kalau nggak keturutan, nanti bayinya ngiler gimana? Mas tega?"

​Fatih memijat pelipisnya. Inilah "Teror Ngidam" level 2. Di satu sisi, ada mafia tanah yang mengincar nyawanya, di sisi lain ada bayi kembar yang menginginkan petualangan di kebun durian.

​"Oke, oke. Jangan nangis, Sayang. Bahaya buat tensi kamu," Fatih menyerah. "Mas hubungi Bang Baron. Dia orang lapangan, pasti tahu kebun durian yang aman di daerah atas."

​Pukul 16.00 WIB. Sebuah Perkebunan di Lereng Bukit, Ciwidey.

​Kijang Biru "Kereta Kencana" itu menanjak perlahan melewati jalanan berbatu. Bang Baron duduk di depan mendampingi Fatih, sementara Zalina dan Bu Aminah (yang dipaksa ikut demi keamanan) duduk di belakang.

​"Lu beruntung, Tih. Temen gue punya kebun durian montong di sini. Lagi panen raya," kata Baron sambil menghisap rokoknya. "Tapi lu tetep harus waspada. Gue udah sebar anak buah di pintu masuk bawah. Mobil sedan item yang ngikutin kita dari Bandung tadi udah dicegat sama anak-anak."

​"Ada yang ngikutin, Bang?" Fatih mempererat pegangan pada setir.

​"Iya. Tapi tenang aja, udah 'diberesin' secara halus. Mereka nggak bakal berani naik ke sini," jawab Baron santai.

​Sesampainya di kebun, aroma menyengat durian matang langsung menyambut. Zalina seolah mendapat energi tambahan. Ia turun dari mobil dengan wajah ceria, mengabaikan mualnya.

​"Mas! Itu! Yang itu!" Zalina menunjuk sebuah durian besar yang menggantung rendah di pohon yang tidak terlalu tinggi.

​Fatih, dengan bantuan galah dan diawasi pemilik kebun, berhasil menurunkan dua buah durian matang jatuh pohon. Begitu dibelah, isinya kuning mentega, sangat harum.

​Zalina makan dengan lahap. Wajahnya berseri-seri. Melihat istrinya bahagia, rasa lelah Fatih seolah terbayar tunai. Bu Aminah juga ikut mencicipi, suasana tegang beberapa hari ini mencair sesaat di bawah rimbunnya pohon durian.

​Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel Fatih bergetar hebat. Pesan dari Pak Yusuf.

​[PESAN]:

"Fatih, besok jam 09.00 pagi. Bapak Gubernur bersedia menerima kamu secara pribadi di kediamannya. Bawa semua bukti. Ini kesempatan tunggal kita. Hati-hati saat pulang malam ini."

​Fatih terdiam. Besok adalah hari penentuan.

​Pukul 20.00 WIB. Perjalanan Pulang.

​Jalanan menuju Bandung dari arah Ciwidey mulai berkabut. Fatih mengemudikan Kijang-nya dengan sangat hati-hati. Zalina dan Bu Aminah sudah tertidur pulas di kursi belakang, kelelahan setelah "pesta" durian.

​Bang Baron yang sejak tadi terjaga, tiba-tiba menegakkan duduknya.

​"Tih, pelan-pelan," bisik Baron. Matanya menatap spion samping. "Di belakang kita. Ada dua motor gede. Mereka nggak pake lampu utama, cuma lampu senja."

​Fatih melihat spion tengah. Benar. Dua siluet hitam membuntuti mereka di jarak sekitar lima puluh meter.

​"Handoko?" tanya Fatih, suaranya bergetar namun fokus.

​"Kayaknya. Dia tahu lu mau ketemu 'Orang Besar' besok. Dia mau rampas bukti itu malem ini," Baron merogoh sesuatu di bawah jok. Sebuah besi panjang. "Terus jalan, jangan panik. Kalau mereka mepet, gue yang urus."

​Tiba-tiba, salah satu motor melesat kencang, mencoba menyalip dan memotong jalur Kijang Fatih.

​"ZALINA! PEGANGAN!" teriak Fatih.

​Fatih membanting setir ke kanan, menghalangi motor tersebut. Suara decit ban beradu dengan aspal memecah kesunyian malam. Zalina dan Bu Aminah terbangun dengan teriakan kaget.

​"Mas! Ada apa?!" tanya Zalina panik.

​"Duduk di lantai mobil! Jangan liat ke luar!" perintah Fatih.

​Motor kedua mencoba mendekat dari sisi kiri. Pengendaranya mengeluarkan sebuah botol dengan sumbu menyala. Bom Molotov.

​"MEREKA MAU BAKAR KITA, BANG!" seru Fatih.

​"Banting ke kiri, Tih! Sekarang!" teriak Baron.

​Fatih tidak punya pilihan. Ia menginjak rem dalam-dalam, membuat mobil sedikit melintir, lalu menghantam sisi motor tersebut dengan bagian belakang mobil. Pengendara motor itu terjatuh, botol molotov pecah di aspal, menciptakan lidah api yang menjilat kegelapan.

​Satu motor lagi masih mengejar. Fatih memacu Kijang tuanya sekuat tenaga. Mesin tua itu meraung protes, tapi seolah mengerti nyawa pemiliknya sedang dipertaruhkan, mobil itu tetap melaju kencang.

​"Depan ada pos polisi, Tih! Masuk ke sana!" Baron menunjuk cahaya terang di kejauhan.

​Melihat ada pos polisi, motor pengejar itu berputar balik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan.

​Fatih menghentikan mobil tepat di depan pos polisi. Napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat di atas setir. Ia menoleh ke belakang. Zalina sedang memeluk Bu Aminah, keduanya menangis ketakutan.

​"Kalian nggak apa-apa?" tanya Fatih, suaranya parau.

​"Kami nggak apa-apa, Mas... hiks... takut..." Zalina memegang perutnya.

​Fatih keluar dari mobil, ia melihat bodi mobilnya lecet parah dan ada bekas hantaman benda keras di kaca belakang yang untungnya tidak pecah.

​Baron keluar, meludah ke tanah. "Handoko bener-bener udah gila. Dia berani main terbuka."

​Fatih menatap langit malam. Rasa takutnya kini berganti menjadi keberanian yang dingin. Handoko hampir saja mencelakakan ibu, istri, dan anak kembarnya.

​"Besok," ucap Fatih, suaranya kini tenang namun tajam seperti sembilu. "Besok saya bukan cuma mau lapor. Saya mau pastikan Handoko kehilangan dunianya."

​Pukul 23.00 WIB. Di dalam kamar kontrakan yang dijaga 4 anak buah Baron.

​Fatih sedang duduk di depan laptop, bukan untuk menggambar, tapi untuk memastikan file rekaman itu sudah terenkripsi dan ada salinannya di cloud.

​Zalina mendekat, ia sudah berganti pakaian. Ia duduk di samping Fatih, menyandarkan kepalanya.

​"Mas... apa kita harus terus begini?" bisik Zalina. "Aku takut."

​Fatih menutup laptopnya. Ia memeluk Zalina. "Zal, inget nggak kenapa kita namain biro kita 'Langit Arsitektur'?"

​"Karena kita percaya rezeki datangnya dari langit."

​"Betul. Dan langit itu tinggi. Untuk mencapainya, kita harus ngelewatin badai. Handoko itu badai kita. Kalau kita kalah sekarang, kita nggak akan pernah liat matahari."

​Fatih mengusap perut Zalina. "Mas janji, demi kamu, demi Ibu, dan demi si Kembar... besok adalah akhir dari semua ketakutan ini."

​Zalina mengangguk, mencoba percaya.

​Namun, di tempat lain, Handoko sedang tertawa di dalam ruang kerjanya yang mewah. Di depannya ada seorang pria berseragam yang sedang menerima segepok uang.

​"Besok pagi, pastikan mobil arsitek itu tidak pernah sampai ke rumah dinas Gubernur," perintah Handoko. "Gunakan truk. Bikin kayak kecelakaan biasa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!