Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Nadira
Malam itu, aku duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan.
Leonardo mengizinkanku memegangnya. Untuk satu tujuan saja.
Mengirim pesan terakhir pada Arman.
"Kau akan kirim pesan padanya," perintah Leonardo sambil berdiri di sampingku dengan tangan terlipat di dada. "Bilang padanya untuk berhenti. Bilang kau sudah membuat pilihan. Bilang kau tidak butuh diselamatkan."
Aku menatap layar ponsel yang menyala redup. Jari-jariku gemetar di atas keyboard.
Bagaimana aku bisa menulis kata-kata itu?
Bagaimana aku bisa bilang pada satu-satunya orang yang masih peduli padaku untuk berhenti?
Tapi gambar ayah dengan pistol di kepalanya masih terbayang jelas di otakku. Suara tangis ibu masih bergema di telingaku.
Aku tidak punya pilihan.
Dengan tangan yang hampir tidak bisa diam, aku mulai mengetik.
Lambat. Setiap huruf terasa seperti mengkhianati diriku sendiri.
"Arman..."
Aku berhenti. Air mataku jatuh ke layar. Membuat huruf-huruf itu sedikit kabur.
"Lanjutkan," ucap Leonardo dengan nada yang tidak sabaran. "Jangan buat ini lebih susah dari yang seharusnya."
Aku menghapus air mataku dan melanjutkan mengetik.
"Arman, ini aku. Nadira. Aku tahu kau pasti bingung kenapa aku tiba-tiba menghubungi. Tapi aku harus bilang sesuatu yang penting. Kumohon baca sampai habis."
Jari-jariku berhenti lagi. Napas ku tersengal. Dada sesak.
"Aku mau kau berhenti mencari aku," lanjutku menulis. Setiap kata seperti menikam jantungku sendiri. "Berhenti kumpulkan bukti. Berhenti hubungi Interpol. Berhenti apapun yang kau rencanakan untuk 'menyelamatkan' aku."
Leonardo membaca dari belakang bahuku. Dia mengangguk pelan. "Bagus. Teruskan."
Aku menarik napas panjang yang terasa menyakitkan.
"Aku tahu kau mau nolongin aku. Aku tahu kau pikir aku dalam bahaya. Tapi percayalah, aku baik-baik saja. Leonardo... dia suamiku. Dan aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini. Aku tidak butuh diselamatkan."
Bohong. Semua bohong. Tapi aku harus menulisnya.
"Kalau kau terus lakukan ini, kau cuma akan bahayakan dirimu sendiri. Dan aku tidak mau ada yang terluka karenaku. Jadi kumohon, Arman. Berhentilah. Lupakan aku. Hidup mu sendiri. Cari kebahagiaan mu sendiri."
Tanganku berhenti. Aku tidak bisa lanjutkan lagi. Terlalu sakit.
"Tambahkan satu kalimat lagi," bisik Leonardo. "Bilang kau mencintaiku."
Aku menoleh menatapnya dengan mata basah. "Kumohon... jangan paksa aku menulis itu..."
"Tulis," perintahnya dengan nada dingin. "Atau aku telepon Jakarta sekarang."
Aku memejamkan mata. Menahan isak tangis yang mau meledak.
Lalu dengan tangan gemetar, aku menambahkan kalimat terakhir.
"Aku mencintai Leonardo. Dia orang yang kusayangi sekarang. Maafkan aku kalau aku pernah beri kau harapan palsu. Tapi hidupku sekarang di sini. Bersamanya. Selamanya."
Selesai.
Pesan yang penuh kebohongan.
Pesan yang menghancurkan hatiku sendiri untuk ditulis.
Tapi pesan yang harus kukirim kalau aku mau ayah dan ibu selamat.
"Kirim," ucap Leonardo.
Aku menatap tombol kirim. Jari ku melayang di atasnya.
Ini terakhir kalinya aku kontak sama Arman.
Terakhir kalinya ada hubungan antara aku dan dunia luar.
Terakhir kalinya ada harapan walau tipis.
Tapi aku tidak punya pilihan lain.
Aku menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Dan dengan itu, harapan terakhirku menghilang.
Leonardo tersenyum puas. Dia mengambil ponsel dari tanganku dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Bagus," ucapnya sambil duduk di sampingku. "Lihat? Tidak terlalu susah kan?"
Aku tidak menjawab. Hanya duduk di sana sambil menatap kosong ke lantai.
Sekitar sepuluh menit kemudian, ponselku bergetar.
Balasan dari Arman.
Leonardo mengambilnya. Membaca dengan senyum tipis. Lalu menunjukkannya padaku.
"Baca," perintahnya. "Baca apa yang dia tulis."
Aku menatap layar dengan mata kabur.
"Nadira, aku tidak percaya ini kau yang nulis. Atau kalau ini memang kau, pasti ada yang paksa. Apa dia di sampingmu sekarang? Apa dia ancam kau? Jawab aku dengan jujur. Aku tidak akan berhenti sampai kau benar-benar bilang dengan suaramu sendiri bahwa kau baik-baik saja."
Arman tidak percaya.
Tentu saja dia tidak percaya.
Dia kenal aku terlalu baik.
Tapi itu yang membuat ini semakin menyakitkan.
"Balas," perintah Leonardo sambil menyodorkan ponsel padaku. "Bilang ini keputusanmu. Bilang dengan tegas. Akhiri semuanya sekarang."
Aku mengambil ponsel dengan tangan gemetar. Mulai mengetik balasan.
"Arman, ini keputusanku. Tidak ada yang paksa aku. Aku sudah bilang dengan jelas. Berhenti cari aku. Berhenti hubungi aku. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kumohon hargai keputusanku dan biarkan aku hidup dengan pilihanku sendiri."
Aku mengirimnya tanpa membaca ulang. Karena kalau aku baca ulang, aku tidak akan sanggup mengirim.
Beberapa menit kemudian, balasan lagi.
"Nadira, kalau ini benar keputusanmu... kalau kau benar-benar bahagia di sana... kenapa aku merasa ada yang salah? Kenapa aku merasa kau sedang menderita?"
Air mataku jatuh lagi. Membasahi layar.
Karena kau benar, Arman. Kau benar. Aku sedang menderita. Tapi aku tidak bisa bilang itu.
Leonardo merebut ponsel dariku. Dia sendiri yang mengetik balasan kali ini.
"Kau terlalu berlebihan. Aku bahagia. Dan aku mohon untuk terakhir kalinya, jangan hubungi aku lagi. Atau aku akan laporkan kau karena ganggu kehidupan rumah tanggaku. Selamat tinggal, Arman."
Dia mengirimnya. Lalu memblokir nomor Arman dari kontakku.
Selesai.
Semua hubungan terputus.
Leonardo meletakkan ponsel dan menatapku dengan senyum puas.
"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" tanyanya dengan nada lembut.
Aku tidak menjawab.
"Kau baru saja selamatkan tiga nyawa," lanjutnya. "Ayahmu. Ibumu. Dan si bodoh Arman itu. Karena kalau dia terus mengejarmu, aku akan bunuh dia dengan cara yang sangat menyakitkan. Tapi sekarang, dia akan berhenti. Dan dia akan hidup."
Dia mengangkat tangannya. Memberikan isyarat.
Dari luar kamar, Andrey masuk sambil membawa tablet.
Dia menunjukkan sesuatu pada Leonardo. Leonardo membacanya dan mengangguk.
"Keluarga mu sudah dipindahkan," ucap Leonardo sambil menatapku. "Mereka sekarang di apartemen aman di Jakarta Selatan. Tempat bagus. Nyaman. Dengan uang di rekening yang cukup untuk hidup bertahun-tahun tanpa kerja."
Dia berhenti sejenak.
"Dan tidak ada pengawalan lagi," lanjutnya. "Mereka bebas. Asalkan kau tetap patuh."
Ayah dan ibu... bebas.
Setidaknya mereka selamat.
Setidaknya mereka tidak perlu menderita lagi.
Walau aku harus terus menderita di sini.
Leonardo berdiri. Berjalan ke depanku. Lalu berjongkok sampai matanya sejajar denganku.
"Kau membuat pilihan yang benar," bisiknya sambil mengusap pipiku yang basah. "Pilihan yang sulit. Pilihan yang menyakitkan. Tapi pilihan yang benar."
Tangannya bergerak ke belakang kepalaku. Menarikku dalam pelukannya.
"Aku bangga padamu," bisiknya di telingaku. "Kau memilih melindungi orang yang kau sayangi. Kau memilih pengorbanan dibanding egoisme. Kau memilih... aku."
Pelukannya mengerat.
"Dan sebagai gantinya," lanjutnya. "Aku akan kasih kau kehidupan yang baik. Aku akan perlakukan kau seperti ratu. Aku akan lindungi kau dari segalanya. Asalkan kau tetap di sisiku. Asalkan kau tidak pernah coba tinggalkan aku lagi."
Aku tidak membalas pelukannya. Hanya diam seperti patung di dalam pelukannya yang mencekik.
"Aku tahu kau masih benci aku," bisiknya lagi. "Aku tahu kau masih mau kabur. Tapi lama-lama, kau akan terbiasa. Lama-lama, kau akan paham bahwa ini yang terbaik. Bahwa aku yang terbaik untukmu."
Dia melepaskan pelukannya. Menatapku dengan senyum lembut yang tidak sampai ke matanya.
"Sekarang istirahatlah," ucapnya sambil berdiri. "Besok kita mulai hari yang baru. Hari dimana kau resmi jadi Nyonya Valerio yang sesungguhnya."
Dia berjalan ke pintu bersama Andrey.
Tapi sebelum keluar, dia berbalik.
"Oh ya," ucapnya sambil tersenyum. "Terima kasih sudah memilihku, sayang. Aku janji tidak akan mengecewakan pilihanmu."
Lalu dia keluar. Menutup pintu pelan.
Bunyi klik kunci digital terdengar lagi.
Dan aku ditinggal sendirian di kamar yang terasa makin sempit. Makin pengap. Makin menyesakkan.
Aku menatap ponsel di meja samping.
Nomor Arman sudah diblokir.
Kontak terakhir dengan dunia luar sudah terputus.
Harapan terakhir sudah mati.
Dan aku...
Aku baru saja mengorbankan diriku sendiri untuk menyelamatkan orang lain.
Mengorbankan kebebasanku untuk kebebasan mereka.
Mengorbankan kehidupanku untuk kehidupan mereka.
Apa ini pilihan yang benar?
Apa ini yang seharusnya kulakukan?
Atau aku cuma pengecut yang memilih jalan paling mudah?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu cuma satu hal.
Ayah dan ibu sekarang aman.
Arman akan berhenti dan selamat.
Dan aku...
Aku akan hidup sebagai boneka Leonardo untuk selamanya.
Tanpa harapan kabur.
Tanpa harapan diselamatkan.
Tanpa harapan apapun.
Hanya ada rutinitas. Kepatuhan. Kepura-puraan.
Sampai suatu hari nanti, mungkin aku akan lupa siapa Nadira yang sebenarnya.
Mungkin aku akan benar-benar jadi Nyonya Valerio yang Leonardo inginkan.
Mungkin aku akan terbiasa dengan kehidupan ini sampai tidak ingat lagi bagaimana rasanya bebas.
Dan saat itu terjadi...
Leonardo menang sepenuhnya.
Tidak cuma tubuhku.
Tidak cuma kebebasanku.
Tapi juga jiwaku.
Dan malam ini, di kamar yang dikunci dari luar ini, sambil menatap ponsel yang sudah tidak ada harapan di dalamnya lagi...
Aku merasakan sebagian dari jiwaku mulai mati.
Perlahan.
Menyakitkan.
Tanpa bisa kutahan.
Seperti lilin yang apinya ditiup pelan sampai padam total.
Dan yang tersisa cuma asap.
Asap dari apa yang dulu pernah hidup.
Tapi sekarang sudah mati.
Selamanya.