Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tangisan di Balik Gaun Putih
Lana merangkak mundur hingga kepalanya menabrak sandaran tempat tidur sementara Adrian terus mendekat tanpa suara sedikit pun. Cahaya lampu tidur yang remang memberikan siluet yang sangat mengintimidasi pada tubuh tinggi besar sang Kolonel. Lana menarik selimut hingga menutupi dagunya sambil menatap Adrian dengan mata yang berair karena ketakutan yang luar biasa.
Adrian duduk di tepi tempat tidur yang seketika melesak karena beban tubuhnya yang berat dan berotot. Ia tidak melakukan apa pun selain menatap Lana dengan pandangan yang sangat dalam dan sulit untuk diartikan oleh nalar remaja. Kesunyian di dalam kamar itu terasa sangat mencekam hingga detak jantung Lana terdengar seperti deru mesin yang rusak.
"Apakah Tuan ingin meminta hak Tuan sekarang?" tanya Lana dengan suara yang gemetar hebat.
Adrian mengulurkan tangannya perlahan dan membelai pipi Lana yang terasa sangat dingin seperti es di puncak gunung. Jemarinya yang kasar karena sering memegang senjata kini bergerak sangat lembut seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat mahal. Lana hanya bisa memejamkan mata dan pasrah pada apa pun yang akan dilakukan oleh pria yang telah membelinya itu.
"Saya bukan binatang yang akan menerkam mangsanya yang sedang ketakutan seperti ini," ucap Adrian dengan nada yang sangat rendah.
Lana membuka matanya perlahan dan menemukan wajah Adrian hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya sendiri. Aroma sabun mandi yang segar dan maskulin menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Lana hingga membuatnya sedikit pening. Adrian kemudian menarik sebuah bantal dan meletakkannya di antara posisi mereka berdua sebagai pembatas yang nyata.
"Tidurlah, saya hanya ingin memastikan kamu tidak menangis sepanjang malam dan merusak matamu," tambah Adrian sambil merebahkan diri.
Lana merasa sedikit lega namun rasa sesak di dadanya tetap tidak kunjung hilang karena statusnya yang kini telah berubah total. Ia teringat akan sebuah gaun putih indah yang tergantung di dalam lemari besar sejak sore tadi sebagai perlengkapan pernikahan. Bayangan dirinya mengenakan gaun itu di samping pria dingin ini membuatnya merasa sangat sedih dan terhina.
"Kenapa Tuan harus memilih saya? Ada banyak wanita cantik di luar sana yang lebih pantas untuk Tuan," bisik Lana ke arah langit-langit kamar.
Adrian tidak segera menjawab dan hanya menatap bayangan gorden yang bergoyang pelan tertiup angin malam dari arah balkon. Ia menghela napas panjang seolah ada beban ribuan ton yang sedang menindih pundaknya yang tegap dan perkasa itu. Keheningan kembali merajai ruangan mewah tersebut untuk beberapa saat yang terasa sangat lama bagi Lana.
"Karena hanya saya yang mampu melindungimu dari dosa yang ditinggalkan oleh ayahmu," sahut Adrian dengan suara yang terdengar sangat letih.
Lana membalikkan badannya membelakangi Adrian dan mulai membiarkan tangisannya pecah tanpa suara di balik bantal yang empuk. Ia meratapi nasibnya yang harus terjebak dalam pusaran konflik militer dan perjanjian hitam yang sama sekali tidak ia mengerti. Di balik kemewahan mansion ini, Lana merasa seperti burung kecil yang sayapnya telah dipatahkan secara sengaja oleh sang pemilik sangkar.
Pagi harinya, Lana terbangun karena suara gemerincing gantungan baju yang digeser dengan kasar dari arah ruang ganti. Ia melihat Adrian sudah mengenakan seragam lorengnya kembali dan sedang memasang ikat pinggang kulitnya dengan sangat rapi. Tidak ada sisa kemesraan atau kelembutan dari kejadian semalam di wajah pria yang kini tampak sangat otoriter itu.
"Bangun dan segera pakai gaun putih yang ada di atas meja rias itu sekarang juga," perintah Adrian tanpa menoleh sedikit pun.
Lana menatap sebuah gaun putih berbahan brokat halus yang terlihat sangat elegan namun sangat tertutup layaknya pakaian istri pejabat tinggi. Ia teringat kembali pada ancaman Adrian tentang guru privat yang akan menggantikan seluruh kegiatannya di sekolah mulai hari ini. Rasa amarah kembali membuncah di dalam hati Lana saat ia menyadari bahwa kebebasannya benar-benar telah berakhir.
"Saya ingin sekolah, Tuan! Saya tidak ingin memakai gaun itu dan berdiam diri di rumah ini seperti pajangan!" seru Lana dengan berani.
Adrian menghentikan aktivitasnya dan berbalik dengan tatapan mata yang sangat tajam hingga membuat nyali Lana menciut seketika. Ia berjalan mendekati Lana dengan langkah yang sangat berirama dan penuh dengan ancaman yang sangat nyata bagi gadis itu. Adrian menarik tangan Lana dan menyeretnya menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah gerbang utama mansion.
"Lihat ke bawah sana, Lana, lihat siapa yang sedang menunggu di depan gerbang rumah saya!" bentak Adrian dengan suara yang menggelegar.
Lana melihat ke bawah dan mendapati belasan wartawan serta beberapa orang berpakaian hitam yang tampak sangat mencurigakan sedang mengintai di sana. Mereka membawa kamera dengan lensa panjang yang terus diarahkan ke arah jendela kamar tempat Lana sedang berdiri saat ini. Ketakutan Lana kembali muncul saat ia menyadari bahwa identitasnya sebagai istri sang Kolonel kini menjadi incaran publik.
"Identitasmu sudah bocor ke tangan musuh militer saya karena kejadian konyol di sekolahmu kemarin," jelas Adrian dengan nada yang penuh penekanan.
Lana menundukkan kepalanya karena ia merasa bersalah telah memicu keributan besar yang membahayakan dirinya sendiri dan juga nama baik Adrian. Ia tidak menyangka bahwa dunia orang dewasa yang dimasuki oleh Adrian ternyata sangat kejam dan penuh dengan intrik yang berbahaya. Adrian melepaskan tangan Lana dan mengusap wajahnya dengan kasar seolah ia sedang sangat pusing menghadapi situasi ini.
"Pakai gaun itu, kita akan mengadakan konferensi pers singkat untuk meresmikan statusmu agar mereka tidak berani menyentuhmu," titah Adrian.
Lana berjalan menuju meja rias dengan langkah yang sangat lunglai seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi matinya sendiri. Ia mulai mengenakan gaun putih itu dengan bantuan seorang pelayan yang masuk dengan membawa peralatan rias wajah yang sangat lengkap. Cermin besar di hadapannya memperlihatkan sosok Lana yang tampak sangat dewasa namun tatapan matanya terlihat sangat kosong.
Setelah selesai dirias, Lana tampak sangat mempesona seperti seorang putri bangsawan yang baru saja turun dari khayangan yang sangat jauh. Namun bagi Lana, riasan tebal itu hanyalah topeng untuk menyembunyikan kesedihan dan tangisan yang masih tertahan di balik kelopak matanya. Adrian masuk kembali ke dalam kamar dan terpaku sejenak melihat kecantikan alami yang terpancar dari wajah istri kecilnya itu.
"Jangan pernah menunjukkan wajah sedihmu di depan kamera, atau kamu akan membuat saya terlihat sangat lemah," tegur Adrian sambil memberikan buket bunga mawar putih.
Lana menerima bunga itu dengan tangan yang gemetar dan mengikuti langkah Adrian menuju aula utama mansion yang sudah dipenuhi oleh lampu kilat kamera. Suara jepretan kamera terdengar sangat bising dan menyilaukan mata Lana yang belum terbiasa dengan perhatian media yang sebesar ini. Adrian merangkul pinggang Lana dengan sangat posesif seolah ia sedang memamerkan permata paling berharga miliknya.
Para wartawan mulai melontarkan berbagai macam pertanyaan tentang pernikahan mendadak sang perwira tinggi dengan seorang siswi yang masih di bawah umur. Adrian menjawab semua pertanyaan itu dengan sangat diplomatis dan tegas sehingga tidak ada satu pun orang yang berani menyela perkataannya. Lana hanya bisa diam dan tersenyum paksa sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Adrian melalui bisikan pelan.
"Nyonya Lana, apakah benar Anda menikah karena terpaksa oleh hutang keluarga?" tanya seorang wartawan pria dengan nada yang sangat provokatif.
Pertanyaan itu membuat Lana terdiam dan seluruh ruangan mendadak menjadi sangat sunyi menunggu jawaban dari mulut gadis remaja tersebut. Adrian mempererat rangkulannya pada pinggang Lana sebagai tanda agar ia tetap tenang dan mengikuti skenario yang sudah ada. Lana menatap wartawan itu dengan pandangan yang sangat nanar sebelum ia membuka mulutnya untuk memberikan pernyataan resmi.
"Saya menikah karena saya merasa aman berada di bawah perlindungan pria yang paling berkuasa di negeri ini," jawab Lana dengan suara yang terdengar sangat yakin meski hatinya menjerit sakit.
Jawaban itu memicu kegaduhan baru di antara para wartawan sementara Adrian tersenyum puas mendengar pernyataan yang keluar dari mulut istrinya. Setelah acara selesai, Adrian membawa Lana kembali ke dalam kamar utama dan mengunci pintunya dengan sangat rapat dari arah dalam. Ia menatap Lana dengan pandangan yang sangat aneh dan penuh dengan kepuasan yang tidak bisa dijelaskan.
Adrian mendekati Lana dan mulai membuka satu per satu kancing gaun putih yang dikenakan oleh Lana dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat intim.