"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Drama di Depan Meja Hijau
Pagi ini, Alana merasa seperti sedang menyiapkan diri untuk masuk ke ring tinju, bukan ke kantor urusan pendaftaran pernikahan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun putih simple tapi elegan yang harganya mungkin bisa melunasi utang seluruh warga di kampungnya itu melekat sempurna di tubuhnya.
Kunci misterius berbentuk burung Phoenix itu ia sembunyikan di dalam belahan gaunnya. Aman, pikirnya.
"Lana, sudah siap? Jangan sampai kita telat cuma karena kamu kelamaan debat sama cermin," suara Arkan terdengar dari balik pintu, masih dengan nada memerintahnya yang menyebalkan.
Alana membuka pintu dengan sentakan kuat. "Sabar dong, Mas! Mas pikir pakai baju kayak gini gampang? Belum lagi masang anting yang kecilnya minta ampun ini. Kalau Mas nggak sabar, nikah aja sana sama jam dinding!"
Arkan tertegun sejenak. Alana hari ini terlihat... sangat berbeda. Lebih bersinar, meski mulutnya tetap tidak bisa dikontrol. Arkan tidak membalas, ia hanya memberikan lengannya untuk digandeng. "Ayo. Mobil sudah di bawah."
Namun, saat mereka baru saja keluar dari lobi apartemen, sebuah mobil butut yang sudah sangat Alana kenali kembali muncul. Bayu keluar dari mobil itu dengan penampilan yang benar-benar berantakan. Rambutnya kacau, matanya merah, dan bajunya kusut.
"Lana! Jangan lakukan ini! Aku mohon!" Bayu mencoba mendekat, namun langsung dihadang oleh dua bodyguard Arkan.
Alana menghela napas panjang. Ia melepaskan gandengannya dari Arkan dan melangkah maju ke depan Bayu. "Bayu, kamu itu hobi banget ya jadi badut pagi-pagi? Mau apalagi sih? Kurang jelas omongan aku semalam?"
"Lana, aku tahu aku salah! Tapi pria ini... Arkan ini... dia cuma mau pakai kamu sebagai alat! Kamu bakal dibuang setelah urusannya selesai! Aku dengar sendiri dari orang perusahaannya, Lana!" Bayu berteriak histeris, membuat beberapa penghuni apartemen lain mulai menoleh.
Alana melipat tangan di dada, kepalanya miring ke samping dengan senyum sinis. "Bayu, dengerin ya. Walaupun Mas Arkan cuma mau pakai aku jadi alat, setidaknya dia 'alat' yang berkelas. Daripada kamu? Kamu pakai aku buat apa? Buat jadi pembantu gratisan sambil kamu main belakang sama anak juragan tanah? Mending kamu pulang deh, urusin calon istrimu yang udah hamil itu. Jangan sampai dia melahirkan di parkiran apartemen orang cuma gara-gara kamu sibuk ngurusin mantan yang udah jauh lebih kaya dari kamu!"
Arkan melangkah maju, merangkul pundak Alana dengan posesif. "Sudah dengar? Sekarang pergi, sebelum saya benar-benar membuatmu tidak bisa melihat matahari besok pagi."
Bayu gemetar ketakutan melihat sorot mata Arkan yang seperti predator. Ia akhirnya mundur, masuk ke mobilnya dengan perasaan malu yang luar biasa.
Di dalam mobil menuju lokasi pendaftaran, Alana terdiam. Ia merasa puas bisa membungkam Bayu, tapi hatinya tetap gelisah. Tangannya meraba kunci Phoenix di balik gaunnya.
"Mas Arkan," panggil Alana pelan saat mobil mulai melaju di jalan protokol.
"Kenapa? Menyesal karena bicara pedas ke mantanmu?" tanya Arkan dingin.
"Dih, menyesal? Malah saya merasa kurang pedas tadi. Harusnya saya siram pakai kopi sekalian," sahut Alana sewot. "Saya cuma mau tanya... kenapa Bayu bisa tahu soal rencana Mas? Katanya dia dapet info dari 'orang dalam'. Mas nggak merasa ada pengkhianat di sekitar Mas?"
Arkan terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan mobil secara ritmis. "Saya tahu siapa orangnya. Dan saya sedang membiarkannya merasa menang untuk sementara. Jangan khawatirkan hal itu, fokus saja pada tanda tanganmu nanti."
Mereka tiba di sebuah gedung privat yang sudah disewa Arkan sepenuhnya. Tidak ada kerumunan, hanya ada petugas resmi dan saksi-saksi yang sudah disumpah untuk tutup mulut.
Prosesnya sangat cepat. Alana merasa tangannya sedikit bergetar saat memegang pulpen mahal itu. Di sampingnya, Arkan menandatangani dokumen dengan gerakan mantap tanpa ragu sedikit pun.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Arkananta. Secara hukum, kalian sekarang resmi menjadi suami istri," ucap petugas itu sambil tersenyum formal.
Alana menatap buku nikah di tangannya. Resmi. Aku sekarang istri seorang miliarder yang mungkin mau ngebunuh aku, batinnya miris.
Baru saja mereka berdiri untuk keluar, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Tante Sofia masuk dengan wajah penuh amarah, diikuti oleh Dion yang tangannya masih dibebat perban.
"Arkan! Kamu gila?! Menikahi gadis ini secara sah?! Kamu tahu kan ini akan merusak seluruh struktur pembagian harta?!" teriak Sofia tanpa malu di depan para petugas.
Arkan menarik Alana ke belakang punggungnya. "Tante Sofia, sepertinya Tante lupa sopan santun. Sekarang Lana adalah Nyonya besar di rumah ini. Dan sebagai informasi saja... mulai detik ini, tunjangan bulanan Tante dari perusahaan saya potong lima puluh persen sebagai biaya 'pelatihan etika'."
"Apa?! Kamu nggak berhak—"
"Saya punya hak atas setiap sen di perusahaan itu, Tante. Karena saya suaminya, dan Lana adalah ahli waris kedua saya jika terjadi sesuatu pada saya. Jadi, saya sarankan Tante berdoa agar hidup kami berdua panjang dan bahagia," ucap Arkan dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
Sofia ternganga, sementara Dion hanya bisa mengepalkan tangan dengan geram. Alana yang mendengar itu merasa jantungnya mau copot. Ahli waris kedua? Mas Arkan beneran nekat atau emang lagi mau bikin mereka makin pengen bunuh aku sih?
Dalam perjalanan pulang ke apartemen, suasana di mobil terasa sangat berbeda. Ada ketegangan yang lebih "intim" di antara mereka. Arkan menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya bicara.
"Mulai malam ini, kamu tidak lagi tidur di kamar tamu."
Alana tersedak ludahnya sendiri. "Hah?! Mas, di kontrak kan nggak ada poin soal... soal itu!"
Arkan menyandarkan punggungnya, menatap Alana dengan binar yang sulit diartikan. "Musuh kita ada di mana-mana, Lana. Membiarkanmu di kamar tamu sendirian sama saja dengan memberimu label 'silakan diculik'. Kamu akan tidur di kamar saya. Di bawah pengawasan saya langsung."
Alana menelan ludah. "Tidur... seranjang? Mas, saya ini kalau tidur hobi nendang lho! Nanti kalau Mas jatuh dari kasur jangan salahin saya ya!"
Arkan tersenyum tipis—kali ini senyum yang terasa sedikit nakal. "Silakan coba. Tapi saya jamin, kamu tidak akan punya tenaga untuk nendang setelah melihat apa yang ada di balik pintu rahasia di kamar saya nanti malam."
Alana teringat kunci burung Phoenix di gaunnya. Apakah kunci itu benar-benar membuka pintu rahasia yang dimaksud Arkan? Dan apa yang akan Alana temukan di sana—sebuah bukti cinta, atau bukti bahwa ia benar-benar hanya sebuah 'biaya kerugian' yang tinggal menunggu waktu?